Dalam Doa

Duhai Allah, anugerahkan pada kami kesabaran yang tiada batasan. Lapangkan hati-hati kami menjalani segala ketetapan, lapangkan hati-hati kami melewati segala kepahitan. Duhai Allah, anugerahkan pada kami kesabaran yang tiada batasan. Jadikan hati-hati kami seteguh Ibrohim ‘alayhi sallam, juga setegar Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. 

Duhai Allah, anugerahkan pada kami rahmat dan barokah yang jadi pelepas dahaga menghadapi beragam ujian. Duhai Allah, anugerahkan pada kami kasih sayang, kelembutan dan kebijaksanaan, agar hati-hati kami senantiasa Kau liputi kedamaian, ketenangan serta keteduhan iman.

Jadikan hati-hati kami Ya Rabb, hati yang hanya bersandar kepada-Mu, hati yang hanya berharap kepada-Mu. Tunjukilah hati kami pada segala hal yang Kau ridhoi, agar hati kami senantiasa merasa cukup dengan pemberian-Mu. Jadikan kami Ya Rabb, hamba yang selalu bersyukur, bertafakur. Bimbing hat-hati kami di jalan-Mu. Di jalan orang-orang shalih yang mencintai-Mu, di jalan orang-orang takwa yang senantiasa memuji-Mu.

Duhai Allah, sungguh jika bukan karena rahmaan dan rahiim-Mu, kami termasuk orang-orang yang sengsara di dunia, entah bagaimana di akhirat sana. Maka Ya Rabb, jadikanlah kami hamba yang penuh kasih dan sayang agar hati senantiasa tenang. Jadikanlah kami Ya Rabb, hamba yang penuh kelembutan agar hati senantiasa diliputi kedamaian. Jadikan Ya Rabb, kami sebagai hamba yang pandai bersyukur, senantiasa bersabar dan beristighfar. Kami harapkan ampunan, keberkahan dan keridhoan dari-Mu, selalu.

Depok, 5 Juni 2018
Hajiah M. Muhammad

Advertisements

Kemudian Istiqomah

Don’t be a servant of Ramadhan, be a servant of Allah. Be consistent even after Ramadhan.
#muslimpro

Dari sekian banyak bulan pada tahun Hijriyah, Ramadhan menjadi ruang persiapan bekal perjalanan di bulan-bulan berikutnya. Maka semangat kebaikan dan perbaikan selama Ramadhan seyogyanya dilanjutkan sekalipun Ramadhan telah berakhir. Namun memang, atmosfer keimanan dalam diri seperti mendapat letupan-letupan yang menjadikan semangat beribadah terus berkobar. Itulah kemudian yang menjadi harapan dan cita kita selepas Ramadhan sebab istiqomah, konsistensi dalam beribadah adalah upaya menyempurnakan keimanan.

عَنْ عَمْرٍو وَقِيْلَ أَبِيْ عَمْرَةَسُفْيَانَ بْنِ عَبْدِاللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهَ , قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ , قُلْ لِيْ فِيْ اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً , لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًاغَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ , ثُمَّ اسْتَقِمْ . رواه مسلم
Dari Abu ‘Amr, dan ada yang mengatakan dari Abu ‘Amrah Sufyân bin ‘Abdillâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu, yang berkata : “Aku berkata, ‘Ya Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian istiqâmahlah.’ (HR. Muslim)

Istiqomah menjadi terasa istimewa karena tidak semua orang mampu menjalaninya. Ada beragam ujian kesungguhan, sebab istiqomah artinya kita bersungguh-sungguh dalam keimanaan. Meningkatkan kualitas ibadah, melaksanakan yang wajib, membiasakan yang sunnah. Maka menjadi keniscayaan kita dapat mencapai istiqomah dan tetap bermujahadah, berjuang menjaga keimanan dengan segala daya upaya dengan harapan Allah limpahkan kebaikan yang terus mengalir, keberkahan dan keridhoan-Nya yang tak pernah berakhir.  Jika sudah mendapat kenikmatan sedemikian syahdu, maka apalagi yang membuat kita ragu?

Tidak ada alasan untuk menunda kebaikan, maka menyegerakannya adalah keharusan. Pun dengan keistiqomahan. Meski berat, meski terasa melelahkan, apakah tidak cukup menjadi penyemangat segala kenikmatan dan kepastian janji Ar Rahman bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam menghambakan diri pada-Nya?

Nasihat ini sejatinya adalah untuk pengingat diri sendiri, berharap ada kebaikan yang bisa dibagi melalui tulisan nan sahaja ini.

Depok, 4 Juni 2018
Hajiah M. Muhammad

Ketiga

Bismillaahirrahmaanirrahiim

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur (QS. An Nahl (16) ayat 78)

Bertemu dengan dr. Mima (dr. Andi Fatimah, Sp.OG.), -beliau praktek di RSIA Aulia Jagakarsa dan BWCC (Bintaro Women and Children Clinic) Jagakarsa-, baru bertemu beliau pada kehamilan ketiga ini. Sebenarnya masih ingin berkonsultasi dengan dr. Dian (dr. Dian Indah Purnama, Sp.OG.) seperti anak pertama dan kedua. Qadarullah, beliau pun sedang hamil, ditambah antrian pasien yang masyaallah saya selalu kehabisan slot ahahah. Alhasil, memutuskan untuk konsultasi ke dr. Mima di BWCC.

Saya tidak akan membandingkan keduanya, hanya membuat sedikit review dan semoga membantu yang membacanya. Kenapa keukeuh mau ke dr. Dian? Pertama, karena merasa sudah klop sejak kehamilan sebelumnya. Kedua, rumah beliau dekat dengan klinik, ya meskipun mungkin ketika lahiran bisa saja berjodoh atau tidak dengan beliau. Mengingat, beliau praktek di RS. Bunda Margonda dan RSIA Andhika Ciganjur. Saya pun tahu BWCC dari beliau melalui akun Facebook-nya. Ketiga, bagi orang yang pernah konsultasi dengan beliau mungkin pun sepakat bahwa keramahan dan ke-khas-an sapaannya kepada pasien yang super welcome, ngebuat saya merasa mendapat perhatian dari dokter meskipun dokternya dicari banyak orang.

Kenapa beralih ke dr. Mima? Saya agak malu mengungkapkannya, tapi melihat tempat praktek beliau yang tidak jauh dari rumah pun membuat kami akhirnya memutuskan untuk konsultasi ke beliau. Alasan berikutnya, beliau pun ramah meskipun memang pembawaannya lebih serius. Tetapi, jika kita mengajukan pertanyaan, baik secara tatap muka maupun by text (lewat WhatsApp), jawabannya mudah dipahami dan tidak menghakimi jika kita menyampaikan keluhan. Komunikatif dan kita sebagai pasien sebaiknya pro aktif agar waktu yang dipakai untuk mengantri tidak terlalu membosankan karena terbayar dengan durasi konsultasi yang lumayan lama. Berikutnya, jadwal prakteknya cukup banyak jadi kita lebih fleksibel untuk menyesuaikan dengan waktu luang kita.

_______________________________

Pada kehamilan ketiga ini saya lebih sering cek kandungan ke dr. Mima tapi partus dibantu sama dr. Dian. Hahaha. Itu pun keputusan diambil pagi hari di saat kontraksi sudah semakin teratur dan bidan jaga bilang sudah pembukaan 5! Kontraksi teratur berjarak 10-15 menit sekali dengan lama sekitar 1-2 menit setiap kontraksi, mulai saya rasakan sejak pukul 00.30 dini hari. Mencoba untuk memejamkan mata karena rasa kantuk pun kalah dengan nyeri-nyeri sedap yang masyaallah. Akhirnya memutuskan untuk shalat dan tilawah beberapa lembar. Alhamdulillah, jadi lebih tenang meskipun rasa sakit semakin tak tertahankan. Pukul 02.30 keluarlah cairan lendir berwarna agak merah muda, dan saya ingat, itu artinya memang sudah ada pembukaan jalan lahir tapi saya gak tau pembukaan berapa. Sedikit bingung apakah akan berangkat ke klinik sesaat setelah keluar lendir itu atau menundanya sampai beberapa jam ke depan. Tapi akhirnya, saya baru memberitahukan ke suami untuk berangkat ke klinik setelah shalat shubuh.

Pukul 05.10 kami berangkat ke klinik, membawa perlengkapan persalinan yang sudah saya siapkan jauh hari sebelum HPL (Hari Perkiraan Lahir ya, bukan Hari Pasti Lahiran :D). Sesampainya di klinik, langsung diarahkan ke ruang bersalin dan cek tensi darah, ditanya tentang kontraksi dan tanda-tanda persalinan lainnya. Saya pun menjawab dengan kronologi sampai akhirnya memutuskan untuk berangkat ke klinik. Dan ternyata setelah periksa dalam, sudah pembukaan 5.

Kalau tidak salah ingat, jarak dari pembukaan 5 ke pembukaan selanjutnya sekitar 1 jam dan pukul 07.30 masuk pembukaan 7. Tidak sampai 15 menit setelahnya, terasa air hangat mengalir didahului dorongan dari dalam. Sejak saat itu, tidak sampai pukul 08.00, masuk pembukaan 9 disertai dengan kontraksi yang semakin aduhai. Diminta untuk tetap tidak mengejan karena pembukaan belum lengkap, tapi rasanya janin mendorong dengan sangat kuat. Dengan tetap mengikuti instruksi bidan jaga untuk mengatur napas, pembukaan lengkap dan bayi keluar dibantu dokter dan beberapa orang bidan, alhamdulillah suara tangis bayi melenyapkan sakit yang sedari tadi mengiringi persalinan.  Untungnya, melahirkan itu sakit! Sakit yang dirindukan, eh 😀

Ahad pagi, 27 Mei 2018, pukul 08.06 lahirlah bayi laki-laki. Dengan berat 4.075 gram dan panjang 50 cm, lahir lewat 2 hari dari HPL-nya. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain menambah rasa syukur dan tafakur dengan setiap peristiwa dalam episode kehidupan. Audley Arsy Binaardi, adalah nama yang kami sematkan padanya, semoga ia tumbuh menjadi orang terhormat yang memiliki kedudukan dalam singgasana takwa, dalam keberkahan dan keridhaan Allah ta’ala.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih sempurna.”
[HR. Ibnu Majah]

 

Depok, 31 Mei 2018
Hajiah M. Muhammad
Penuh kesyukuran

Untukmu, Ji

Memasuki pekan tiga puluh tujuh usia kandungan ketiga, merasa begitu sumringah. Bukan, bukan karena semakin dekat dengan hari perkiraan lahir. Melainkan, pada kehamilan yang sekarang, Allah izinkan saya untuk menjadi bagian dari beragam agenda kebaikan. Innalhamdalillah. 

Dan hari ini, hari pertama di bulan Mei 2018, sengaja mengulang nasyid dari Brothers, Untukmu Teman. Membuka lembar demi lembar kenang perjuangan dari sebelum mengenal Islam hingga hari ini.

Saya mulai hijrah pada usia yang agak telat, yaitu sekitar 18 tahun. Hijrah dalam artian benar-benar memaknai Islam sebagai keyakinan bukan sebatas agama yang dianut. Betul memang, saya terlahir di dalam keluarga yang memeluk Islam dan sangat bersyukur atas hal itu. Tapi lebih jauh, saya lebih bersyukur karena Allah menuntun langkah pencarian ini sampai bisa seperti sekarang yang insyaallah jauh lebih baik jika dulu saya tidak memilih jalan ini.

Jalan cinta para pejuang, jalan cinta orang-orang yang bukan hanya memikirkan dirinya dan orang-orang yang dekat dengannya melainkan juga memikirkan orang-orang yang bahkan tak mengenalnya sebagai siapa. Dan saya, lebih bahagia ketika menjadi seperti mereka. Kebaikan terus dilakukan tanpa menoleh untuk mencari penghargaan, untuk mencari penghormatan. Sebab semua dilakukan sebagai bentuk kecintaan pada agama yang mulia ini.

Meneladani perjuangan Rasulullah shallallahu álayhi wasallam dan para sahabat tentulah melelahkan tapi bukan berarti kita tidak punya pilihan untuk mengambil satu atau dua kebaikan dari mereka untuk dijadikan panutan. Menjadikan semangat perjuangan dari mereka sebagai pecut ketika langkah mulai lemah, ketika melaksanakan amanah terasa begitu menjemukan.

Lelah boleh, menyerah jangan. Itulah yang seringkali saya tekankan ke dalam diri sendiri ketika ingin mundur dan seakan beban terasa begitu memberatkan. Tapi ternyata, di antara sebab perasaan seperti itu hadir adalah karena kurangnya interaksi kita kepada Allah. Adapun shalat dan amalan-amalan yang dilakukan baru sampai diujung lisan sehingga tidak memberikan kekuatan, tidak memberikan kesejukan pada hati yang mungkin gersang.

Monolog #3

Menikmati dengan segala dinamika menjadi seperti ini. Saya tidak tahu amalan unggulan apa yang akan dijadikan pemberat amal di hari perhitungan, maka sekecil apapun kebaikan yang dapat dilakukan, sebaik-baiknya ditunaikan. Sungguh, ada kebahagiaan yang tak dapat dijelaskan, tak dapat dijawantahkan dalam kata. Semua terasa begitu menyejukan meski terkadang ada rasa ingin berhenti dan mundur perlahan. Tapi kemudian melangkah lagi meskipun pelan, tertatih dan mencari kekuatan. Dan kekuatan itu bersandar pada Allah sebaik-baik sandaran.

Tidak ada yang mampu menghentikanmu hingga Allah mencukupkan waktumu. Memanggilmu pulang dalam berbagai keadaan, dalam ketundukan sebagai hamba ataukah dalam keingkaran.

Tetaplah berprasangka baik pada Allah, teruslah memberikan yang terbaik sebagai hamba-Nya. Sejatinya, perjalanan hari ini dan kemarin adalah apa yang bisa kita nikmati di akhirat nanti.

Ungkapan Rindu

Bismillahirrahmaanirrahiim

Ahad itu tampak mendung seperti melukiskan keadaan hati yang tampak murung. Kepada hati, ku berbisik pelan, “Niatkan perjalanan hari ini untuk kebaikan”. Perjalanan yang sebenarnya menuju ke resepsi pernikahan kawan lama dan salah seorang yang berjasa di perjalanan hidup seorang Hajiah.

Pukul sepuluh kurang lima belas menit, merapikan keping-keping hati sebelum akhirnya memulai perjalanan, menghadiri resepsi pernikahan seorang yang pernah melukai hati dan juga pernah saya sakiti. Sampai sekitar tahun 2012 kami bertemu kembali seperti tidak pernah ada luka di hati. Saling rangkul, saling mendekap, larut dalam haru kerinduan setelah terakhir bertemu tahun 2005 dengan luka yang masih begitu terasa. Tapi tidak ketika kami bertemu kembali di tahun 2012.

Segala luka seakan menguap, seiring perjalanan yang membuat kami lebih dewasa menyikapi segala masalah. Lega sekali rasanya, saling melempar senyum dengan hati yang tak kalah sumringahnya. Manis dan terasa sangat menyejukan. Sampai disini, saya tak tahu kosa kata apa yang harus diketik untuk mendeskripsikan perasaan hati yang begitu bahagia. Innalhamdalillah, sungguh segala pujian hanya bagi Allah.

Dan kemarin, pada hari pernikahannya. Haru biru itu begitu terasa. Dengan balutan gaun putih khas pengantin, dengan mahkota kecil dan senyuman serta sapaan khas darinya yang tumpah bersama tetes-tetes sejuk di mata. Kami kembali melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu. Memanfaatkan waktu yang tak lama itu untuk mendekapnya lebih erat, mendoakan semoga barokah dan barokah senantiasa Allah limpahkan untuknya, untuk keluarga yang akan ia mulai dan juga untuk segala kebaikan yang ia lakukan.

Ia pernah begitu melukai hati, tapi lebih banyak kebaikan yang ia beri. Ia pernah begitu mengesalkan, tapi lebih banyak saya tersenyum juga melepas berbagai kegundahan. Manis pahit kisah kami menjadi pelajaran yang hingga kini, bagi kami seperti bentuk kasih sayang Allah yang tak berkesudahan. Sungguh, saya masih rindu. Dan ingin sekali mendekapnya lebih erat dari hari Ahad yang lalu. Semoga Allah memberkahi ia selalu.

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim).

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imron (3) : 133-134)

**********

Depok, 23 April 2018

Hajiah M. Muhammad

Alasan Kedatangan

Ada sebuah riwayat tentang salah seorang sahabat yang sudah tidak muda namun memiliki semangat menuntut ilmu yang begitu menggebu. Sahabat itu adalah Qubaishah bin Al Makhariq radhiyallahu ‘anhu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya, dikisahkan perjumpaan Qubaishah dengan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dalam sebuah majelis ilmu.

Qubaishah radhiyallahu ‘anhu ditanya oleh baginda shallallahu ‘alayhi wasallam, “Wahai Qubaishah, apa yang menyebabkan engkau datang?”. Qubaishah menjawab, “Usiaku telah tua, tulangku juga telah lemah, aku mendatangimu (wahai Rasulullah) agar engkau ajarkan aku sesuatu yang Allah ta’ala berikan manfaatnya bagiku”. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Wahai Qubaishah, tidaklah engkau melewati batu, pohon ataupun lembah melainkan semuanya beristighfar (memohonkan ampunan) untukmu. Wahai Qubaishah, jika engkau telah melaksanakan shalat shubuh maka bacalah subhanallahil ‘azhiim wa bi hamdih (Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan segala pujian bagi-Nya), niscaya engkau akan terhindar dari kebutaan (rabun), lepra, dan kelumpuhan.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam melanjutkan sabdanya, “Wahai Qubaishah, bacalah doa ini, 

اللهم انى اسالك مما عندك فأفض على من فضلك, وانسر على رحمتك, وانزل على من بركا تك

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon apa yang ada di sisi-Mu, limpahkanlah karunia-Mu kepadaku, tebarkanlah rahmat-Mu kepadaku, curahkanlah keberkahan-Mu kepadaku” (HR. Ahmad dalam Musnadnya)

*********

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” (HR. At Tirmidzi no: 3895)

Hadits tersebut disampaikan sebagai pembuka bahasan siraman ruh siang itu, sebagai prolog dari materi yang kemudian lebih banyak menyinggung bagaimana suami dan istri agar memiliki akhlak yang baik, sekalipun hadits tersebut lebih ditekankan kepada kaum adam sebagai suami.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sebagai teladan terbaik bagi umat Islam, memiliki akhlak yang begitu mulia baik di dalam maupun di luar rumahnya. Salah seorang sahabat yang bernama Aswad bin Yazid mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam tidak segan melayani keluarganya sekalipun ia adalah seorang pemimpin bahkan seorang utusan Allah. Beliau menambahkan bahwa tidak ada beda sikap antara Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam ketika di luar atau di dalam rumahnya. Akhlaknya tetap menawan seperti al-qur’an berjalan.

Kebanyakan orang, bisa menjaga akhlaknya ketika di luar rumah bersosialisasi dengan masyarakat luas, tetapi menjadi hilang kendali ketika sudah sampai rumah dan berhadapan dengan keluarganya. Inilah contoh munafik ijtima’i atau munafik sosial. Maka untuk mengetahui kesungguhan akhlak yang dimiliki seseorang dapat kita lihat pada dua hal yang menurut jumhur ulama, dari dua hal tersebut akan terlihat baik-buruknya akhlak yang dimiliki seseorang. Pertama, ketika sedang marah dan kedua ketika seorang diri.

Bagi suami dan istri, sudah pasti dapat melihat bagaimana sikap pasangannya ketika sedang marah. Apakah akhlaknya tetap baik ataukah sebaliknya. Maka yang perlu dilakukan adalah senantiasa berzikir.

وَعَنْ كَعْبٍ بْنِ عُجْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ :(( مُعَقِّباتٌ لاَ يَخِيبُ قَائِلُهُنَّ – أَوْ فَاعِلُهُنَّ – دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ: ثَلاثٌ وَثَلاثونَ تَسْبِيحَةً. وَثَلاثٌ وثَلاَثونَ تَحْمِيدَةً ، وَأرْبَعٌ وَثَلاَثونَ تَكْبِيرَةً )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada beberapa kalimat pengikut yang tidak akan merugikan orang yang mengucapkannya—atau melakukannya—di akhir setiap shalat wajib (yaitu), tiga puluh tiga kali tasbih, tiga puluh tiga kali tahmid, dan tiga puluh empat kali takbir.” (HR. Muslim) (HR. Muslim, No. 597).

Hadits tersebut di atas merupakan salah satu dalil yang merupakan keistimewaan zikir. Dalam melakukan aktivitas harian sebagai ibu rumah tangga misalnya, kita bisa melafazkan zikir dan insyaallah akan meredam amarah. Entah amarah kepada suami atau istri, atau dari orang tua ke anak.

Ada kisah menarik dari Ummul Mukminiin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu ketika beliau cemburu kepada istri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam yang bernama Shafiyah binti Huyay bin Akhtab. Dari Aisyah, dia berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang pandai masak seperti halnya Shafiyah. Suatu hari dia membuatkan makanan bagi Rasulullah SAW, yang ketika itu beliau di rumahku. Seketika itu badanku gemetar kerena rasa cemburu yang menggelegak. Lalu aku memecahkan bejana Shafiyah. Aku pun menjadi menyesal sendiri. Aku berkata,”Wahai Rasulullah, apa tebusan atas apa yang aku lakukan ini?”. Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam  menjawab, “Bejana harus diganti dengan bejana yang sama, makanan harus diganti dengan makanan yang sama”, (ditakhrij dari Abu Daud dan An-Nasa’i).

Di antara hal yang mampu meredam amarah kepada pasangan adalah juga dengan memberikan panggilan kecintaan sehingga ketika amarah mulai muncul, panggil suami atau istri dengan penuh kelembutan. Jangan sampai syetan tertawa menyaksikan kita kalah mengendalikan amarah.

**********

Anak-anak di masa yang akan datang adalah bagaimana orang tua mendidiknya di masa sekarang. Berikut merupakan upaya yang bisa kita lakukan sebagai orang tua dalam mendidik.

  1. Memperdengarkan ayat-ayat qur’an.

    هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ


    Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS. Al Jumu’ah ayat 2)

  2.  Menanamkan keimanan.

    آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ


    Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”. (QS. Al Baqarah ayat 285)

  3.  Memperdengarkan hal-hal yang membawa kebaikan.

     لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ


    Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. Yunus ayat 26)

**********

Demikian resume dari taujih yang disampaikan Ustadz Ahmad Fikri, Lc., pada kesempatan silaturahim kami di Pabrik Peradaban. Sekilas tentang Pabrik Peradaban, ini adalah ruang maya di platform WhatsApp yang kami dirikan sekitar tahun 2013 dan alhamdulillah masih bertahan dengan segala dinamikanya hingga hari ini.

 

Depok, 16 April 2018

Hajiah M. Muhammad