Berkah Ramadhan (?)

“Masyaallah ya, banyak yang jualan lontong dan gorengan kalo Ramadhan gini. Tapi semua habis aja tuh”, selorohku pada ibu. “Itulah berkah Ramadhan ka. Rezeki Allah luas udah ditentuin ke setiap orang. Gak perlu saling sikut, berebut rezeki”, ibu menanggapi sambil tetap fokus pada sayuran di tangannya. Aku yang sependapat dengan itu kemudian memikirkan ulang di lain waktu. Apakah iya? Berkah Ramadhan untuk mereka yang baru membuka lapaknya di bulan mulia ini? Ah, mungkin perlu sejenak kita renungkan.

Berkah adalah kebaikan yang terus dan tetap bertambah meski jumlahnya tak melimpah. Itu setidaknya arti berkah untukku. Dan tentu keberkahan itu datangnya dari Allah. Pikiran melayang ketika para sahabat di sekitaran Masjid Quba pada masa Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, mereka bersegera meninggalkan dagangannya ketika terdengar azan. Nah, para penjajak lontong dan gorengan, serta kudapan lain khas Ramadhan itu justru sebaliknya. Mereka rela menunda seruan shalat ketika azan berkumandang demi melayani pembeli yang sudah mengular, mengantri. Lalu, dimana letak barokahnya?

Aku tidak mengatakan para pedagang itu jauh dari barokah, tidak, sama sekali tidak. Hanya menyayangkan jika mereka jadi lalai karena lapaknya. Bukankah Allah yang mendatangkan para pembeli itu? Bukankah Allah yang memberikan rezeki ke para pedagang itu? Justru seharusnya semakin taat, berterima kasih kepada Allah dengan menyambut panggilan sholat penuh suka cita, sesumringah ketika lapaknya kedatangan calon pembeli.

Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat). (Mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas. (QS. An Nuur (24) : 36-37)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, disebutkan bahwa ketika kaum muslimin sedang sibuk berdagang di pasar, pada saat itu mereka mendengar azan, mereka segera mendirikan shalat ke masjid. Maka dari itu, turunlah ayat ini (An Nuur ayat 36-38) sebagai pujian atas sikap mereka.

Itulah yang terkadang kita lupa, mengejar rezeki hanya berorientasi pada dunia dan mengesampingkan urusan akhirat. Seakan lupa bahwa segala kenikmatan yang dirasakan di dunia adalah karunia Allah, maka sudah sepatutnya kita mengingat-Nya, seraya memuji keagungan-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Barang siapa  mengucapkan subhanallah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya) sehari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni walaupun sebanyak buih di lautan” (HR. Bukhari No. 5926)

Tempa

Dalam sebuah tausiyahnya, Abdullah Gymastiar atau yang lebih akrab disapa Aa Gym menganalogikan kehidupan orang-orang beriman dengan perjalanan sebuah kelapa menjadi santan.

Untuk menjadi santan yang putih bersih, kelapa melalui perjalanan panjang. Ditempa agar menghasilkan santan terbaik yang berkualitas. Di awal, untuk mendapatkan kelapa kita perlu memanjat pohon yang tinggi, tertiup angin ketika di atas pohon. Kita harus memastikan bahwa pijakan kita kuat, pegangan kita kokoh agar tak hanyut dalam buai lembut semilir angin di ketinggian. Begitulah seorang muslim, ketika mulai mencicipi hasil dari apa yang diharapkan harus tetap fokus pada tujuan, yaitu memetik keridhoan Allah. Tidak terbawa sanjung puji, tidak tumbang meski dicaci maki.

Setelah kelapa berhasil dipetik, ia tidak dibawa turun dengan pelan. Melainkan dijatuhkan dari ketinggian. Ada yang jatuh di tempat rerumputan yang tebal dan nyaman, ada pula yang jatuh di kubangan sisa air hujan. Belum selesai rasa sakit jatuh dari ketinggian, kelapa harus siap ditebas untuk dikupas. Ditarik serabut kelapa dari batoknya. Srek srek srek. Keras! Agar serabut tercabut bersih dari batok kelapa. Lantas yang sudah dibersihkan serabutnya, mesti dilanjutkan proses yang menyakitkan lagi. Dibelah batoknya, dicungkil kelapanya. Apakah selesai? Tidak, masih harus diparut! Dan kemudian diperas sekuat tenaga agar mengalir dari lapis-lapis parutan air santan yang siap diolah.

Sedikit banyak begitulah perjuangan menjadi seorang muslim yang kuat. Ditempa sesuai kadar kemampuannya, diuji dan dibersihkan dosa dengan peluh dan lelah payahnya. Masyaallah, begitu sayang Allah kepada orang-orang yang beriman. Disajikan ujian untuk mendapat peningkatan kualitas iman, peningkatan kualitas takwa. Semoga kita selalu menghadirkan Allah di setiap waktu, di setiap hirup napas kehidupan. Terima kasih Allah, segala ujian yang Kau berikan akan kujadikan jalan meniti keimanan.

Depok, 20 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad

Baper #3

Satu hari nanti, saat banyak orang larut dalam haru kebahagiaan, akulah orang yang tetap dalam diam. Memerhatikan sekitar dengan pandangan menerawang. Melepaskan pandang dan meninggikannya menuju langit. Mencegah bendungan air mata tumpah. Sebab aku tak pandai menyembunyikannya meski dalam keramaian.

Satu hari nanti, saat banyak orang larut dalam syahdu khidmat sebuah akad, akulah orang yang tetap dalam tunduk. Merenung, mengingat betapa segala perjuangan dan pengorbanan Allah beri ganjaran jauh lebih baik dari yang diharapkan.

Kegagalan bukanlah keberhasilan yang tertunda. Sebab berhasil yang sesungguhnya adalah ketika tetap berjuang meski orang lain melemahkan, sebab berhasil yang sesungguhnya adalah ketika tetap berjalan meski orang lain mematahkan. Kehidupan seorang muslim bukanlah seperti air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, yang mengikuti sifat ruangnya. Menjadi muslim punya tuntunan, punya aturan. Ada ketentuan yang mesti dilakukan, ada larangan yang harus ditinggalkan.

Depok, 7 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad

 

Memulai Perjalanan

Dari manakah kita sebaiknya memulai perjalanan? Ada baiknya kita mengingat kembali sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berikut:

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. (HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits berkenaan dengan niat ini sebagian ulama mengatakan telah mencakup sepertiga ajaran Islam karena niat menjadi kesatuan gerak antara hati, lisan dan anggota badan manusia. Dengan niat, seseorang yang memiliki keinginan dalam hati akan mengucapkannya dan mewujudkannya dengan anggota tubuhnya. Misalkan, seseorang yang ingin makan. Ia memiliki niat untuk makan, lisannya berucap dan tangannya mengambil makanan kemudian mengunyah dan menelannya.

Niat adalah yang membedakan apakah kebaikan bernilai ibadah ataukah sebatas kebiasaan. “Boleh jadi amalan yang sepele, menjadi besar pahalanya disebabkan karena niat. Dan boleh jadi amalan yang besar, menjadi kecil pahalanya karena niat. ” Abdullah bin Mubarak rahimahullah.

Dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, diriwayatkan dari Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ

Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kejelekan dan kebaikan lalu Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan kebaikan lantas tidak bisa terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bertekad lantas bisa ia penuhi dengan melakukannya, maka Allah mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipatnya sampai lipatan yang banyak.” (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 130).

Masyaallah,  niat berbuat baik saja sudah mendapat nilai satu kebaikan di hadapan Allah, maka melaksanakan niat adalah penyempurnanya agar mendapat kebaikan dan kebaikan yang terus bertambah dari Allah sebagai balasan, dan sungguh Allah adalah sebaik-baik pemberi balasan. Inilah yang perlu kita perhatikan untuk melakukan perjalanan, baik jarak jauh ataukah dekat. Jika diibaratkan perbekalan, niat lebih dari sekadar bekal perjalanan karena ia perlu semangat dan kesungguhan bukan hanya angan-angan.

Memulai perjalanan artinya memantapkan niat, membulatkan tekad, menyiapkan semangat sejak awal, tengah hingga akhir perjalanan. Bagaimana kita menjaga niat agar mendapat keridhoan dan keberkahan dari Allah? Niatkan segala sesuatu yang kita hendak lakukan hanya untuk Allah, hanya berharap penglihatan dan balasan dari Allah. Bukan pujian dari manusia karena itu melenakan, bukan pula penghargaan dari manusia karena itu memperdaya.

Hal pertama yang perlu dilakukan untuk menjaga niat agar hanya tertuju pada Allah adalah dengan bermohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan karena tidak ada perlindungan yang lebih menjaga daripada perlindungan Allah.

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ

“Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingat Allah Yang Maha penyayang, Kami jadikan baginya setan (yang menyesatkan). Maka, setan itu menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya para setan itu benarbenar menghalangi mereka dari jalan yang benar, dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”. (QS. Az-Zukhruf:35-36)

Kedua, agar niat hanya untuk Allah adalah dengan menyegerakan kebaikan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118).

Dan hal ketiga adalah memperbanyak istighfar, memohon ampun kepada Allah.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)

Menjadi baik adalah proses. Maka menjaga niat baik agar selalu baik adalah perjuangan. Perjuangan untuk mencapai keridhoan dan keberkahan dari Allah, dan pencapaian tertinggi yang menjadi akhir perjalanan segala niat baik kita adalah saat berjumpa dengan Allah di akhirat kelak. Dalam limpahan kasih sayang-Nya. Allahumma aamiin.

Seni Bersyukur

Jika ada dua orang yang sama-sama memiliki uang di saku sebesar Rp 20.000, salah seorang dari mereka berkata, “Uangku tinggal dua puluh ribu, cuma cukup beli makan siang”. Dan seorang yang lain berkata, “Masih punya dua puluh ribu, masih bisa untuk infak”. Dari kedua orang tersebut, manakah yang lebih bahagia? Mari sepakat untuk memilih orang yang berkata “Masih punya dua puluh ribu” untuk kemudian kita temukan bagaimana seni bersyukur.

Saya memang bukan orang yang bergelut di dunia seni, maka dari itu saya mohon maaf jika apa yang saya sampaikan ini kurang berkenan bagi sebagian orang. Tentang seni, saya memiliki paham bahwa segala sesuatu yang mampu menarik perhatian dengan beragam cara agar dapat dinikmati keindahannya, dapat dipahami maknanya dan mampu menciptakan kesenangan juga ketenangan merasakannya. Itulah yang membuat saya terpikir untuk menyandingkan seni dengan rasa syukur.

Ketika akad nikah pada tahun 2013 lalu, Ustadz Kartomi selaku guru majlis ta’lim di mushollah dekat rumah menyampaikan bahwa dalam membangun pernikahan hendaknya suami dan istri memiliki dua hal yang beriringan, yaitu syukur dan sabar. Saya jadi ingat perkataan ‘Umar bin Khaththab tentang dua hal tersebut. “Jika sabar dan syukur itu 2 kendaraan,” ujar Umar, “Aku tak peduli naik yang mana.” Keduanya berlintasan ridha-Nya; berjurusan surga.

Kita perlu meluaskan kanvas keimanan sehingga apapun yang kita dapat dari peluh keringat bekerja dan tetes air mata berdoa, agar dapat menikmati kesyukuran. Meyakini bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi nikmat, pemberi rizki. Bukankah Allah sudah menjamin rizki setiap hamba-Nya? Mengapa kita risau? Tugas kita adalah berusaha dan berdoa, bukan mendikte Allah untuk memberikan apa yang kita minta. Boleh saja berdoa, bermohon segala sesuatunya sesuai dengan yang diharapkan, tapi ingat bahwa berdoa pun ada adabnya, di antaranya adalah tidak mendikte Allah kapan dan bagaimana rizki itu kita dapatkan. Jangan, sekali-kali jangan. Allah Maha Mengetahui apa yang kita perlukan, kapan, dimana dan bagaimana mengabulkan segala pinta dalam doa. Maka kemudian yang perlu kita lakukan untuk bisa merasakan kenikmatan beryukur adalah dengan bersabar.

Sabar ketika doa yang dipanjatkan belum juga Allah kabulkan. Sabar ketika usaha yang dilakukan belum juga menunjukan keberhasilan. Sabar ketika dalam kesenangan juga sabar dalam kesusahan. Banyak orang yang mampu sabar ketika Allah uji dengan kesusahan tapi hanya sedikit orang yang mampu bersabar ketika Allah uji dengan kesenangan. Mengapa kita juga harus bersabar meskipun dalam kesenangan? Agar Allah tetap bersama kita, bagaimana pun keadaannya. Senang maupun susah.

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ

“Barangsiapa yang suka agar Allah mengabulkan permohonannya saat ia ditimpa kesusahan dan kesulitan, hendaknya ia memperbanyak doa saat senang/ lapang” (HR. At Tirmidzi, dihasankan Syaikh al-Albany dalam as-Shahihah)

Bersyukur karena bertafakur, merenungi kekuasaan dan keagungan Allah. Memberi dan mencukupi segala keperluan hajat hamba-hamba-Nya. Bersabar karena tersadar, siapalah kita tanpa Allah Maha Besar. Saudaraku yang dirahmati Allah, jika hari ini tengah dalam kesenangan tetaplah bersama Allah. Dan jika hari ini dalam kesusahan, teruslah bersama Allah. Karena sebaik-baik penjaga adalah Allah, sebaik-baik sandaran adalah Allah, dan sebaik-baik pemberi adalah Allah. Maka nikmatilah kesyukuran dengan kesabaran dan lapangkanlah kesabaran untuk selalu dalam kesyukuran. Baarokallahufiikum.

Hajiah M. Muhammad

Depok, 19 Maret 2017

Nasehat Terbaik

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imron [3]: 185.)

Adakah di antara kita yang begitu gigih mengejar kenikmatan dunia hingga lalai dari mengingat kehidupan di akhirat yang berkekalan, abadi selamanya? Jika yang demikian adalah diri kita sendiri, patutlah menangis. Mengiba kasih, mengharap ampunan Allah agar Ia curahkan kasih sayang dan ampunan-Nya untuk kita. Untuk orang-orang yang kita cintai. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan memberikan kita tempat yang nyaman di akhirat kelak.

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kematian seperti apakah yang akan kita lalui? Dalam maksiat yang membuat rugi ataukah dalam taat yang menenangkan hati? Saudaraku yang dirahmati Allah. Sungguh kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya. Memperdaya kita hingga lupa bahwa ada kesenangan yang lebih layak untuk dikejar, untuk diperjuangkan. Agar di akhirat kelak, kita mendapat kesenangan yang tidak berkesudahan.

Dalam sebuah kesempatan berbagi dengan rekan-rekan mahasiswa di kampus, saya menyampaikan sebuah renungan yang sebenarnya sebagai nasehat untuk diri sendiri. Menjadi baik adalah proses, sehingga ia bukanlah pencapaian. Karena pencapaian kita adalah ketika mendapat keridhoan dan keberkahan dari Allah, serta dapat berjumpa dengan-Nya di akhirat kelak. Sepenggal kalimat yang kemudian kembali saya renungkan bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan hari ini Allah melihatnya dan malaikat mencatatnya. Baik dan buruk, dalam ketaatan ataukah kemaksiatan?

Kematian seperti apa yang ingin kita lalui? Rancanglah! Bagaimana bisa merancang kematian? Tentu sangat bisa. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

“Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya” (HR Muslim no 2878)

Berkata Al-Munaawi, أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ “Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang biasa ia jalani dan ia dibangkitkan di atas hal itu” (At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami’ As-Shogiir 2/859) – Ustadz Firanda

Kita dapat merancang kematian seperti apa yang kita inginkan dari kebiasaan yang kita lakukan. Pernah mendengar kematian seorang ahli ibadah yang meninggal saat sujud di tengah sholat? Atau seseorang yang meninggal saat menikmati tilawah qur’annya dengan mushaf masih ia genggam? Itulah kebiasaan yang dilakukan semasa hidup sehingga akhir hayat mereka dalam ketaatan, dalam keadaan yang insyaallah mendapat limpahan kasih sayang Allah ar rahmaan. 

Maka saudaraku, jika hari ini kita masih lalai, mari bersegera mengingat Allah dan memohon ampunan serta petunjuk agar selalu dalam keimanan dan ketaatan pada-Nya. Jika hari ini kita masih mengejar kesenangan dunia dan tak peduli dengan kehidupan akhirat, mari bersegera tersadar bahwa kesenangan dunia hanyalah sementara dan memperdaya sedangkan akhirat, kenikmatan yang ada akan kekal selamanya. Rasakan kenikmatan dunia secukupnya, tetap ingat ada kehidupan akhirat yang akan kita hadapi cepat atau lambat. Kita tak pernah tahu. Maka semoga kita tergolong orang-orang yang selalu menjaga keimanan dan ketaatan kepada Allah sehingga ketika sudah masanya ajal datang, kita termasuk orang-orang yang selamat dan mati dalam keadaan husnul khatimah. Insyaallah. Aamiin.

Hajiah M. Muhammad.

Depok, 17 Maret 2017

 

Rindu Tak Berujung

Hal terberat dari proses ini adalah rindu tak berujung. Sepenggal ungkapan dari seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya. Oh bukan, karena anak itu bukan miliknya. Bukankah segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya? Allahu T_T. Usia anaknya belum genap satu tahun, baru menginjak bulan ke-sepuluh. Jangan tanya apa sebab kepergian anak tersebut karena saya pun tidak mencari tahu. Menjaga agar ibu itu tidak semakin terbawa kesedihan pasca anaknya meninggal dunia, ya, meninggal dunia di usia kurang lebih sepuluh bulan.

Saya tidak sanggup membayangkan, karena sebelum membayangkannya saja mata ini rasanya selalu menahan bendungan air mata. Sungguh Allah sangat mencintaimu, Kak! Allah sangat mencintai buah hati yang tengah asyik menikmati tiap sajian MPASI yang kau masak sendiri. Yang kemudian membuat saya semakin mengagumi ketabahan beliau adalah semangatnya untuk segera bangkit dari role coaster kehidupan yang baru saja ia alami. H+2 pemakaman anaknya, ia sudah kembali menawarkan diri untuk mendongeng, aktivitas yang ia lakoni sebelum menikah dan mempunyai anak. Ia katakan bahwa ia harus bangkit untuk melanjutkan hidup sampai nanti Allah kumpulkan lagi dengan anaknya, dengan orang-orang yang ia cintai karena Allah.

Mencintai karena Allah, maka ini menjadi kesadaran sepenuh hati, setulus penghambaan bahwa Allah adalah yang menguasai segalanya, termasuk hal-hal yang kita cintai. Mencintai karena Allah, maka kita harus selalu siap mengembalikan segala titipan yang telah Allah amanahkan. Sungguh, menuliskan ini hati saya berkecamuk. Merasakan betul betapa hati ini sungguh payah, lemah tanpa Allah. Bukankah rasa cinta kepada anak, pasangan, orang tua dan lainnya adalah karena Allah izinkan kita mengecap cinta untuk kemudian menambah ketaatan kita pada-Nya?

Maka Ya Allah, jadikan kecintaan kami kepada segala bentuk pemberian dari-Mu adalah yang menghantarkan hati dan jiwa semakin dekat, semakin taat kepada-Mu. Innalillahi wa inna ilayhi raaji’uun. Allahumma innanas aluka ridhoka wal jannah wa na’udzubika min sakhotika wannaar.

Depok, 2 Maret 2017