Untukmu, Ji

Memasuki pekan tiga puluh tujuh usia kandungan ketiga, merasa begitu sumringah. Bukan, bukan karena semakin dekat dengan hari perkiraan lahir. Melainkan, pada kehamilan yang sekarang, Allah izinkan saya untuk menjadi bagian dari beragam agenda kebaikan. Innalhamdalillah. 

Dan hari ini, hari pertama di bulan Mei 2018, sengaja mengulang nasyid dari Brothers, Untukmu Teman. Membuka lembar demi lembar kenang perjuangan dari sebelum mengenal Islam hingga hari ini.

Saya mulai hijrah pada usia yang agak telat, yaitu sekitar 18 tahun. Hijrah dalam artian benar-benar memaknai Islam sebagai keyakinan bukan sebatas agama yang dianut. Betul memang, saya terlahir di dalam keluarga yang memeluk Islam dan sangat bersyukur atas hal itu. Tapi lebih jauh, saya lebih bersyukur karena Allah menuntun langkah pencarian ini sampai bisa seperti sekarang yang insyaallah jauh lebih baik jika dulu saya tidak memilih jalan ini.

Jalan cinta para pejuang, jalan cinta orang-orang yang bukan hanya memikirkan dirinya dan orang-orang yang dekat dengannya melainkan juga memikirkan orang-orang yang bahkan tak mengenalnya sebagai siapa. Dan saya, lebih bahagia ketika menjadi seperti mereka. Kebaikan terus dilakukan tanpa menoleh untuk mencari penghargaan, untuk mencari penghormatan. Sebab semua dilakukan sebagai bentuk kecintaan pada agama yang mulia ini.

Meneladani perjuangan Rasulullah shallallahu álayhi wasallam dan para sahabat tentulah melelahkan tapi bukan berarti kita tidak punya pilihan untuk mengambil satu atau dua kebaikan dari mereka untuk dijadikan panutan. Menjadikan semangat perjuangan dari mereka sebagai pecut ketika langkah mulai lemah, ketika melaksanakan amanah terasa begitu menjemukan.

Lelah boleh, menyerah jangan. Itulah yang seringkali saya tekankan ke dalam diri sendiri ketika ingin mundur dan seakan beban terasa begitu memberatkan. Tapi ternyata, di antara sebab perasaan seperti itu hadir adalah karena kurangnya interaksi kita kepada Allah. Adapun shalat dan amalan-amalan yang dilakukan baru sampai diujung lisan sehingga tidak memberikan kekuatan, tidak memberikan kesejukan pada hati yang mungkin gersang.

Advertisements

Curhat Kesekian

Saya tidak tahu sampai kapan dengan “pekerjaan” seperti ini. Meski tak jarang dicaci maki atau dianggap mempermainkan hati, hanya bermohon semoga setiap kekhilafan diri Allah ampuni. Sungguh, apa yang selama ini dijalani adalah bagian dari upaya merancang masa nanti dengan amalan yang seadanya ini. Ya, saya ingin menjadi bagian dari perjalanan orang-orang mendapatkan pasangan hidupnya, menemukan pelengkap separuh agamanya dengan jalan yang semoga Allah ridhoi.

Menjadi perantara tidak ada yang menyuruh, pun tidak ada yang meminta. Saya menjalaninya dengan harapan bahwa ini menjadi amal shalih yang dapat memberatkan timbangan kebaikan di yaumil hisab kelak. Kadang ada perasaan ingin berhenti, berkata dalam hati dan menegaskan pada diri sendiri “Sudah cukup! Berhentilah! Janji ini untuk terakhir kali”. Tapi nyatanya, sampai saat ini masih menikmati perjalanan yang cukup menyita pikiran dan hati *ceileh* >.<

Seperti Apa Dikenang (?)

Setiap orang berhak menentukan kemana langkah kakinya berjalan, kemana arah pikiran dan hatinya dimuarakan, tapi semoga kita adalah mereka yang digolongkan orang-orang yang meninggalkan jejak kebaikan sehingga hanya kebaikan dan kebaikan yang dikenang setelah kita berpulang. Maka menjadi keharusan bahwa setiap kita akan pulang dengan atau tanpa kebaikan. Dan itulah yang akan membedakan setelah tiada. Atau, sebelum ketiadaan itu datang pun kita dapat menakar bagaimana orang lain akan mengenang diri ini. Selayaknya bertanya kepada nurani, apakah yang hendak ditinggalkan dan layak menjadi kenangan? Tentu, kenangan yang meneduhkan, menyisakan kebaikan yang tak berkesudahan.

 

Golongan Manusia Mengendalikan Nafsu

Dalam buku Apa Komitmen Saya Terhadap Islam, Fathi Yakan memaparkan bagaimana kita dapat mengalahkan hawa nafsu. Manusia di golongkan dalam 3 golongan.

Pertama, golongan yang maksum, terjaga dari godaan syetan sampai iblis dan sekutunya kehabisan akal untuk melemahkan keimanan golongan pertama ini.

Kedua, golongan yang menuruti hawa nafsu dengan kerelaan dan kesadaran diri. Mereka ini memudahkan syetan karena tanpa digoda dan dibujuk rayu oleh syetan, manusia kelompok kedua ini sudah lalai dan menikmati kesesatan serta kemaksiatan yang dilakukan karena menuruti nafsunya.

Dan ketiga, yaitu mereka yang ada dalam golongan manusia yang masih tergoda rayuan syetan tapi bersegera memohon ampunan. Mereka sadar melakukan kesalahan dan terpeleset dalam kemaksiatan sehingga tidak berlama dalam menuju ampunan Allah. Mereka menyadari bahwa keimanan masih lemah, masih sering melalaikan perintah Allah dan kadang terbawa nafsu bermaksiat kepada Allah. Namun mereka pun menyadari larut dalam kemaksiatan dan kesenangan dunia hanya fatamorgana sehingga mereka seketika mohon ampunan kepada Allah.

 

Dari ketiga golongan tersebut di atas, keberhasilan mengendalikan nafsu disebabkan oleh dua hal yaitu hati dan akal yang telah Allah titipkan pada setiap manusia. Orang yang hatinya jernih, bersih karena ketaatannya kepada Allah akan mampu membedakan antara yang haq dan bathil. Mampu membedakan antara yang halal dan haram sehingga mereka mampu mengendalikan nafsunya. Hati yang ada dalam dada dijadikan penglihatan sebab pandangan mata seringkali melenakan dan melalaikan. Selain hati, ada akal yang dapat digunakan untuk mengendalikan nafsu. Namun, perlu ditekankan bahwa dalam perkara iman, hati lebih diutamakan bukan akal. Sebab akal seringkali membuat manusia kehilangan kesadaran bahwa kemampuannya berpikir semata karunia dari Allah. Sayangnya, justru akal digunakan untuk mematahkan perintah Allah, akal digunakan untuk memenangkan nafsu daripada keimanan. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya, bukanlah mata itu yang buta. Yang buta adalah hati dalam dada (QS. Al Hajj ayat 46). Mari tanyakan pada hati, ada di golongan manusia yang manakah?
Wallahu a’lam.
Depok, 26 November 2017

Komentator

Ada sebuah ungkapan yang entah siapa yang pertama kali mencetuskan: Hidup itu Allah yang atur, kita jalani dan orang lain komentari. Barangkali ada benarnya, tapi tak untuk kita perdebatkan ya. Sudah cukup banyak sajian di ranah maya yang mengundang perdebatan, sampai kadang pengen nyiram air ke lini masa hahahah. 

Tadi malam, beliau menghubungi saya tanpa basa-basi. Isi dari percakapan kecil itu berkisah tentang kesedihannya atas komentar negatif dari orang-orang di sekelilingnya. Tentang apa? Saya tak akan menyebutkannya disini. Kepadanya, saya tanya,

“Dibandingkan komentar negatif itu dengan yang berikan aura positif, lebih banyak mana?”.

“Lebih banyak yang positif sih, Kak”. 

“Nah, kamu fokus ke hal-hal positif aja kalo gitu. Yang negatif jangan diambil pusing. Kalaupun mau dipikirin (yang negatif itu), jadikan batu loncatan. Jadikan pemicu semangat untuk lebih baik lagi” 

Ia sepertinya meng-iya-kan karena emoticon balasannya menunjukkan demikian. Kalaupun tak sepaham, setidaknya ia tak lagi berkutat dengan komentar negatif yang ia terima.

Terkadang, kita sudah tahu apa yang harus dilakukan, apa yang semestinya dilaksanakan. Hanya saja butuh penguatan, butuh keyakinan. Atau sebenarnya hanya butuh didengarkan. Saya jadi ingat, ketika itu seseorang yang saya kagumi karena keshalihah-annya, beliau sampaikan Jiah, kalau kamu curhat dan kakak diam, bukan karena kakak gak mau dengar. Tapi ada Dzat yang lebih layak jadi tempat kamu berkeluh kesah. Ada Dzat yang sangat senang kalau kamu menangis, Dzat yang senang ketika kamu menjadikannya sandaran. Dzat itu adalah Allah. Maka sebelum kamu cerita tentang kesedihan atau kesenangan dalam hidup, pastikan Allah adalah yang pertama jadi tempat berbagi cerita. Jangan sampai Ia cemburu”

Ketika itu, saya menolak. Pengen protes gitu rasanya. Tapi lambat laun, seiring perjalanan yang mendewasakan – ceileh -, saya paham. Dan kadang, ingin menyampaikan ulang ke orang-orang yang menyampaikan keluh kesahnya kepada saya. Tak banyak memang, tapi cukup membuat berkerut kening dan sedikit banyak mengusik pikiran. Tapi di lain sisi, saya merasa beruntung karena bisa belajar di universitas kehidupan dan memetik hikmah yang berserakan.

Semoga Allah mudahkan segala urusan, dan menjadikan hati-hati kita dalam iman, dalam ketakwaan.

Baarokallahufiikum.

Aturan Main

Janji Allah, sebesar biji dzarrah pun kebaikan atau keburukan akan diberi balasan.
Aturan mainnya adalah, ketika orang berbuat baik maka kita harus balas dengan kebaikan yang serupa atau kebaikan yang lebih baik dari apa yang sudah orang lain lakukan. Sebaliknya, ketika orang lain berbuat zhalim sama kita, maka kita memaafkan mereka, dan melupakan kezhaliman tersebut. Bukan membalasnya. Lantas, apa yang membedakan kita dengan mereka yang zhalim kalau kita ingin mereka merasakan sakit atau ruginya dizhalimi?

Jika pun rasa sakit dan perih karena kezalimannya membuat kita semakin marah, bersegeralah meredakannya. Jangan sampai kita disibukan oleh hal tak penting seperti itu. Waktu kita sangat berharga, terlalu mahal untuk membayar rintihan sakit karena terluka ulah tangan orang lain. Oh tidak, sejatinya setiap apa yang terjadi terhadap diri ini adalah karena ulah tangan kita sendiri. Orang lain hanya lintasan kita semakin taat atau mendekat pada maksiat.

Jangan sampai menyesal, meratap dan memaki diri yang tersesat. Menangisi kekhilafan boleh saja, tapi tak perlu berlama-lama. Bersegera bangkit, bersegera menapaki jalan selamat. Jangan sampai menyesal, meratap dan memaki diri yang terjatuh. Jatuh itu biasa, karena jalan yang ditempuh berhiaskan ujian untuk pembuktian iman.

Sudah Kukatakan

Mau apa kau? Sudah kukatakan, menyandarkan harap itu pada Allah saja. Agar kecewa tak kau rasa, agar perih sesak tak mengiris hati dan meninggalkan luka. Tidak banyak yang tahu tentang dirimu kecuali dirimu sendiri. Maka jangan harap orang lain mau mengerti tentangmu.