Berkah Ramadhan (?)

“Masyaallah ya, banyak yang jualan lontong dan gorengan kalo Ramadhan gini. Tapi semua habis aja tuh”, selorohku pada ibu. “Itulah berkah Ramadhan ka. Rezeki Allah luas udah ditentuin ke setiap orang. Gak perlu saling sikut, berebut rezeki”, ibu menanggapi sambil tetap fokus pada sayuran di tangannya. Aku yang sependapat dengan itu kemudian memikirkan ulang di lain waktu. Apakah iya? Berkah Ramadhan untuk mereka yang baru membuka lapaknya di bulan mulia ini? Ah, mungkin perlu sejenak kita renungkan.

Berkah adalah kebaikan yang terus dan tetap bertambah meski jumlahnya tak melimpah. Itu setidaknya arti berkah untukku. Dan tentu keberkahan itu datangnya dari Allah. Pikiran melayang ketika para sahabat di sekitaran Masjid Quba pada masa Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, mereka bersegera meninggalkan dagangannya ketika terdengar azan. Nah, para penjajak lontong dan gorengan, serta kudapan lain khas Ramadhan itu justru sebaliknya. Mereka rela menunda seruan shalat ketika azan berkumandang demi melayani pembeli yang sudah mengular, mengantri. Lalu, dimana letak barokahnya?

Aku tidak mengatakan para pedagang itu jauh dari barokah, tidak, sama sekali tidak. Hanya menyayangkan jika mereka jadi lalai karena lapaknya. Bukankah Allah yang mendatangkan para pembeli itu? Bukankah Allah yang memberikan rezeki ke para pedagang itu? Justru seharusnya semakin taat, berterima kasih kepada Allah dengan menyambut panggilan sholat penuh suka cita, sesumringah ketika lapaknya kedatangan calon pembeli.

Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat). (Mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas. (QS. An Nuur (24) : 36-37)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, disebutkan bahwa ketika kaum muslimin sedang sibuk berdagang di pasar, pada saat itu mereka mendengar azan, mereka segera mendirikan shalat ke masjid. Maka dari itu, turunlah ayat ini (An Nuur ayat 36-38) sebagai pujian atas sikap mereka.

Itulah yang terkadang kita lupa, mengejar rezeki hanya berorientasi pada dunia dan mengesampingkan urusan akhirat. Seakan lupa bahwa segala kenikmatan yang dirasakan di dunia adalah karunia Allah, maka sudah sepatutnya kita mengingat-Nya, seraya memuji keagungan-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Barang siapa  mengucapkan subhanallah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya) sehari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni walaupun sebanyak buih di lautan” (HR. Bukhari No. 5926)

Advertisements

Assalamu’alaykum, ya ukhti

Assalamu’alaykum ya ukhti, saudariku yang dirahmati Allah. Semoga hari-harimu indah, penuh cita dan cinta. Semoga hatimu damai, penuh taat yang tersemai. Adik manis yang menawan akhlaknya, yang tertunduk pandangannya, semoga kau berkenan menerima ungkapan sayang dalam tulisan yang agak panjang. Ohya, sebelum jauh menyampaikan, perkenalkan aku adalah Hajiah.

Alhamdulillah sudah menikah, alhamdulillah lagi, menikah tanpa pacaran sebelumnya. Alhamdulillah ketika menikah usiaku menginjak angka 22 tahun, usia yang cukup matang bagi seorang perempuan untuk menyelesaikan studinya di bangku kuliah. Terlalu matang, mungkin. Keinginan menikah di usia yang relatif muda mulai terpikir ketika usiaku 18 tahun. Dan ketika itu aku dikenal sebagai pribadi yang galak, serius, selera humor rendah, dan label menyebalkan lainnya. Tahu kenapa? Karena aku selalu naik pitam ketika mendapati cerita teman yang pacaran, baik pacaran dengan jelas maupun sembunyi karena malu dengan aktivitasnya di kerohanian Islam.

Tahun 2007, aku diminta untuk menulis sebuah artikel. Artikel bebas sebenarnya, hanya sebagai stimulasi agar terbiasa menulis dan mempertanggungjawabkannya di sebuah event pelajar. Entah kenapa aku membuat tulisan tentang alasan kenapa gak pacaran. Tapi hari ini, aku takkan mengulangnya. Jika ingin membacanya bisa mampir ke tulisan saya di blog ini. Sebagian orang yang mengenalku sejak pertama kali hijrah mungkin pun masih ingat betapa garangnya seorang Hajiah. Tapi itu dulu, sebelum banyak belajar, sebelum banyak mendengar. Maka hari ini, perkenankan aku ungkapkan kecintaan padamu saudariku.

Saudariku yang dirahmati Allah, tahukah betapa berharganya dirimu? Dengan segala karunia Allah yang diberikan padamu, dengan segala penjagaan Allah terhadap makhluk-Nya yang wanita? Saudariku sayang, dirimu sungguh bernilai dengan ilmu dan keindahan akhlak yang jadi perhiasanmu. Maka jangan rusak itu dengan segores rasa kagum dan takjub pada seorang yang melenakanmu. Melenakanmu dalam bujuk rayu berbalut ilmu, dalam nasehat yang katanya untuk menjaga keistiqomahanmu. Saudariku sayang, sungguh ketika itu telah berlaku, bersegeralah basahi lisan dengan dzikirmu, dengan lantunan merdu tilawahmu. Atau hal paling ringan yang mungkin bisa segera dilakukan adalah basuh dengan air wudhu, semoga tergugur maksiat yang mulai mengganggu.

Saudariku yang kusayangi karena Allah, ketika bisik-bisik syetan terasa begitu menggelayut pada hati yang mulai terpaut, bersegeralah mohon ampun pada Allah yang menguasai qalbu. Jangan biarkan keterpautan itu bersemayam tanpa ikatan yang disyariatkan. Jangan biarkan keterpautan itu bertandang lebih lama lalu kau mati terbunuh perasaan sedangkan ijab qabul belum dilaksanakan.

Saudariku yang dirahmati Allah, ketika hati mulai tak tentu arah, jadi gelisah dan pikiran pun kacau menambah masalah. Bersegeralah mengingat betapa kasih sayang Allah jauh lebih menentramkan, menenangkan. Allah tanamkan cinta dalam hati kita untuk menambah pundi pahala dengan taat, bukan mencicil dosa dengan maksiat. Meski tak seorang pun melihat, ingatlah bahwa Allah maha menyaksikan, para malaikat pun tak pernah alpa membuat catatan. Maka biarkanlah berlalu jika ada seseorang tak halal yang memberi perhatian, abaikan segala kebaikannya, jangan sampai kau terbawa pesona hingga kau lupa dan semakin terlena.

Sungguh saudariku sayang, jerat-jerat syetan begitu halus mempermainkan hati manusia. Terlebih mereka yang jauh dari ketaatan terhadap Allah. Maka jika hati mulai goyah dan mudah bersandar kepada selain Allah, semoga kita termasuk orang-orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga segala yang dilakukan hanya yang Allah ridhoi, hanya yang Allah sukai.

Saudariku yang dirahmati Allah, menikah adalah ibadah. Memulai perjalanannya adalah separuh agama. Tidakkah kau ingin meneguk segarnya dengan jalan yang penuh barokah? Tentu bukan dengan bermesra dengan lawan jenis, bukan dengan saling melempar sapa dan doa kepada ia yang bukan pasangan halalmu. Maafkan aku harus sampaikan, jangan kau umbar cintamu yang suci itu kepada orang yang mengaku mencintaimu tapi tak menikahimu. Ia adalah pengecut, ia adalah pembual. Jemputlah kenikmatan dan karunia Allah dalam pernikahan dengan jalan yang disyariatkan, ataukah kau mau jodohmu Allah lempar penuh kemurkaan?

Mohon maafkan segala yang telah kutuliskan, semoga Allah berkahi setiap upaya penjagaan bagi mereka yang bersabar menuju jenjang pernikahan tanpa pacaran. Baarokallaahufiikum.

Depok, 19 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad

 

Adab, Ilmu dan Amal

Banyak orang berilmu tapi tak beradab, tak beramal. Ada yang beramal tanpa ilmu, pun tak beradab. Ada yang beradab, punya ilmu tapi tak beramal. Ada pula yang berilmu dan beramal tapi tak beradab. Kita ada di mana? Menyeimbangkan ketiganya dalam langkah menjadi keharusan. Maka akan tumbuh para ‘alim yang tawadhu, kata-katanya penuh nasehat, tindakannya penuh hikmah.

Sa’id Hawwa menuturkan bahwa selama seorang guru tidak menumbuhkan ketaatan, yang utuh dari murid, membiasakannya beribadah dan merealisasikan ketakwaan muridnya, maka sesungguhnya sang guru belum melakukan sesuatu. Titik awal hal tersebut terletak pada ihtirom (penghormatan) dan tsiqoh (kepercayaan) dari murid kepada gurunya. Maka dalam konsep tazkiyatun nafs yang disusun oleh Sa’id Hawwaa dari intisari Ihya’ Ulumuddin dibuka dengan kajian tentang adab murid dan guru. Mari kita susuri pemaparan Al Ghazali mengenai hal tersebut.

  1. Mendahulukan kesucian jiwa daripada keburukan akhlak dan sifat. Ilmu adalah ibadahnya hati, sholatnya jiwa, dan peribadatan batin kepada Allah. Menjaga jiwa dari segala bentuk maksiat, sekuat jiwa untuk melakukan ketaatan dan menjauhi larangan Allah. Kemudian berpegang teguh pada agama Allah agar tergolong orang-orang selamat yang menjaga kebaikan akhlak, dan menjauhkan diri dari segala sifat ahli maksiat.
  2. Mengurangi keterikatan hati dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukan dan memalingkan. Fokus! Kata itulah yang sering disampaikan agar setiap murid mampu mencerna ilmu secara menyeluruh. Al Ghazali mengutip perkataan, “Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu menyerahkan kepadanya seluruh jiwamu. Jika kamu telah memberikan seluruh jiwamu kepadanya tetapi ia baru memberikan sebagiannya kepadamu  maka kamu berarti dalam bahaya”. Imam Ghazali menambahkan, pikiran yang terpencar pada berbagai hal yang berserakan seperti sungai kecil yang airnya berpencar kemudian sebagiannya diserap tanah dan sebagian yang lain dihisap udara sehingga tidak ada yang terkumpul.
  3. Bersikap rendah hati kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang kepada mereka. Asy Sya’bi berkata, “Zaid bin Tsabit menshalatkan jenazah, lalu baghalnya didekatkan kepadanya untuk ditunggangi, kemudian Ibnu Abbas segela mengambil kendali baghal itu dan menuntunnya. Maka Zaid berkata, “Lepaskanlah wahai anak paman Rasulullah!” Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diperintahkan untuk bersikap kepada ulama dan tokoh”. Kemudian Zaid bin Tsabit mencium tangannya seraya berkata, “Beginilah kami diperintahkan untuk berlaku kepada kerabat Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam”. (HR. Tabrani, al Hakim, Baihaqi dalam al Makhdal. Al Hakim berkata, shahih sanadnya berdasarkan syarat Muslim). Oleh karena itu, penuntut ilmu tidak boleh bersikap sombong terhadap guru. Di antara bentuk kesombongan adalah sikap tidak mau mengambil pelajaran selain dari guru yang besar dan terkenal, padahal sesungguhnya sikap itu adalah merupaakan kebodohan. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Diantara hak seorang guru adalah tidak memegangi kainnya ketika ia bangkit, tidak menyebarkan rahasianya, tidak mencari-cari kesalahannya; jika ia tergelincir maka kamu terima alasannya. Kamu juga harus menghormatinya dan memuliakannya karena Allah selama ia tetap menjaga perintah Allah, dan tidak duduk di hadapannya sekalipun kamu ingin mendahului orang dalam berkhidmat memenuhi keperluannya”.
  4. Orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara manusia, baik apa yang ditekuninya itu termasuk ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Karena hal tersebut akan membingungkannya, membuatnya putus asa dari melakukan pengkajian dan telaah lebih mendalam. Bahkan, pertama kali ia harus menguasai satu jalan yang terpuji baru kemudian mendengarkan berbagai pendapat (mazhab).
  5. Seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya. Jika cukup kesempatan yang dimilikinya, maka ia harus berusaha mendalami berbagai cabang ilmu, tetapi jika harus menekuni yang paling penting di antara cabang ilmu tersebut, maka itu pun dibolehkan. Karena satu cabang ilmu dengan ilmu lain saling mendukung dan terkait satu sama lain.
  6. Tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus tetapi dengan menjaga susunannya agar sesuai dengan maslahat yang akan didapatkan dari ilmu tersebut. Ilmu yang dimaksudkan Imam Ghazali adalah suatu bentuk keyakinan yang merupakanhasil cahaya yang Allah hujamkan ke dalam hati seorang hamba yang telah menyucikan jiwanya melalui mujahadah (perjuangan).
  7. Hendaklah tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu yang ditempuh sebelumnya. Ilmu merupakan jalan bagi sebagian yang lain. Hendaklah tujuan dalam setiap ilmu yang dicari adalah peningkatan kepada apa yang berada di atasnya. Sehingga tidak mudah menghakimi ketika seorang yang lebih berilmu melakukan penyimpangan di kalangan orang-orang yang menekuninya, atau karena kesalahan beberapa orang dalam ilmu tersebut, menganggap kebatilan yang fatal.
  8. Hendaklah mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia. Kemuliaan yang dimaksud adalah kemuliaan hasil dan kekokohan dalil. Hal ini mencakup berbagai cabang ilmu, terutama ilmu agama.
  9. Hendaklah tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan memperindah batinnya dengan keutamaan, dan di akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin). Dengan demikian, diharapkan para penuntut ilmu berusaha menjaga ilmunya bukan hanya untuk menghasilkan kekuasaan, harta, jabatan atau membodohi orang dan membanggakannya kepada sesama orang yang berilmu. Melainkan, ilmu yang dimilikinya menjadi jalan menuju pertemuan dengan Allah dan orang-orang sholih di akhirat kelak.
  10. Hendaklah mengetahui kaitan ilmu dengan tujuan mempelajarinya. Sebaik-baik ilmu yang dipelajari adalah yang mampu menjadikan kita pribadi yang mampu menghimpun antara kesenangan dunia dan kenikmatan akhirat maka kita berharap semoga ilmu yang dipelajari bukan hanya memberikan maslahat ketika hidup di dunia, tetapi juga mendatangkan rahmat di akhirat yang berkekalan.

Saudaraku yang dirahmati Allah, dari uraian singkat tersebut di atas, semoga kita dapat memetik hikmahnya sehingga menambah barokah di tiap usaha kita menuntut ilmu. Sungguh beruntung orang-orang yang memadukan adab, ilmu dan amal dalam kesehariannya, menjadikannya pribadi yang berakhlak terpuji, ilmunya mumpuni, amalnya diberkahi, insyaallah.

Depok, 13 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad

Baper #2

Jika melakukan kebaikan, lupakanlah. Tugasmu hanya melaksanakan niat baik tetap dalam kebaikan dan bermohon dapat mendatangkan kebaikan-kebaikan yang lain. Biarkan kebaikan itu berlalu, mengikuti hempasan angin dan tak perlu lagi kau cari. Semoga kebaikan itu terbawa ke angkasa, menemui Rabb Sang Pencipta. Sedangkan kau, teruslah mengumpulkan bekal untuk perjalanan pulang agar dapat memetik bibit-bibit kebaikan yang telah ditanam.

Imam Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri berkata: “Tidaklah aku berusaha memperbaiki sesuatu (dalam diriku) yang lebih sulit bagiku daripada (memperbaiki) niatku (supaya ikhlas)”. Kita belajar bahwa menjaga niat baik itu sejak awal, tengah, hingga akhir perjalanan. Ujiannya seringkali bukan ketika di awal perjalanan, melaikan di pertengahan dan kita tidak pernah tahu bagaimana kesudahannya. Apakah ikhlas itu masih terjaga ataukah sudah tercemar ujub dalam jiwa.

Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin dirinya bisa selamat dari sifat berbangga diri. Mereka mungkin bisa menjaga amalnya dari riya’ tapi belum tentu bisa menahan diri untuk tidak membanggakan amal dalam jiwanya.

Ibnu Taimiyyah rahimallahu menjelaskan bahwa ujub berarti menyandingkan dengan jiwa yang lemah. Ujub ini adalah keadaan orang-orang yang sombong. Maka saya mengambil pelajaran bahwa para pelaku ujub adalah orang-orang yang membanggakan amalannya dalam jiwa dan hati sehingga menyandingkan amalannya dengan amalan orang lain. Terlampau bangga sampai menjadi sombong dalam artian meremehkan orang lain dan menolak kebenaran. Padahal semestinya, ketika kita menyandingkan amalan diri dengan amalan orang lain adalah untuk berlomba dalam kebaikan, saling mengingatkan, saling mendoakan, bukan meremehkan amalan orang lain. Belum tentu amalan yang kita lakukan lebih baik dari amalan orang lain, kan?

Dan hari ini, saya coba bagikan bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga dirinya dari sifat ujub. Semoga Allah ridho.

  1. Menyadari sepenuh hati bahwa setiap orang punya potensi kebaikan dan hatinya cenderung pada kebaikan, dengan harapan diri ini sadar bahwa amal baik yang dilakukan adalah upaya berlomba menjemput keridhoan dan keberkahan Allah. Bukan untuk dibanggakan, sekalipun dalam diri sendiri.
  2. Sadar betul, betul-betul sadar jika diri kita yang masih banyak cela dan dosanya ini masih jauh dari derajat sholih, apalagi takwa. Kita selalu sedang menuju itu, belum sampai karena kita tidak tahu bagaimana akhir hayat kita. Insyaallah dengan begitu, kita akan selalu mengingat mati sehingga menjaga akhlak tetap dalam sifat yang Allah ridhoi.
  3. Bersegera menuju ampunan Allah, seraya beristighfar, memohon ampun jika tiba-tiba terbersit rasa ujub meski hanya sebesar biji sawi. Semoga Allah limpahkan ampunan-Nya dan menjaga amalan-amalan kita dalam keridhoan Allah.

Menjadi muslim yang patuh lagi taat memang tidak mudah. Perlu diperjuangkan, ada pengorbanan, ada pengharapan, serta ujiannya. Maka sudah seharusnya kita melibatkan Allah di setiap amalan. Semoga Allah ridho dengan apa yang kita lakukan. Aamiin.

Depok, 3 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad

Tenar

عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ »

Dari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Mu’awiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah -Ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasehat untukku dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Menjadi dikenal masyarakat luas, diberi gelar ini dan itu, lalu congkak dan menolak nasehat, apakah itu yang terlahir dari ilmu yang didapat? Bukankah ilmu adalah cahaya? Semestinya menerangi, bukan menjadikan pandangan jadi gulita. Membaca adalah jendela dunia. Kita bisa menjelajah ke seantero bumi, luar angkasa sekalipun. Tapi orang-orang yang beriman, yang menjadikan ilmu adalah jalan mendekat pada Rabb semesta alam, semakin berilmu, semakin merunduk. Takwanya meningkat, hati dan pikirannya pun selamat. Apakah orang-orang beriman itu mencari keridhoan manusia untuk diakui keilmuannya? Tidak, sama sekali tidak.

Karena orang-orang beriman yang menuntut ilmu, semakin ia berilmu, akan semakin sadar betapa dirinya kerdil, kecil di hadapan Allah sebagai Dzat yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Mereka tidak mencari sorak sorai manusia karena menunaikan kewajiban menuntut ilmu dengan bekal iman, menjadikan ilmunya sebagai penerang.

Jika kita temukan orang-orang jumawa yang bangga dengan sokongan manusia padahal ilmunya tidak seberapa, jangan heran ketika pemikirannya mengenaskan, menyesatkan. Yang lebih parah, mereka menutup diri dari segala nasehat kebaikan. Menganggap nasehat-nasehat bijak itu sebagai perlawanan yang melemahkan. Nyatanya, orang-orang yang memberi nasehat inginkan mereka selamat dunia akhirat. Bukankah kita pun ingin ilmu yang kita punya menjadi bekal di kehidupan setelah mati nanti?

Depok, 31 Mei 2017

Hajiah M. Muhammad

Penggugah Jiwa

Dr. Aidh Al Qarni dalam karya-karya emasnya termasuk tulisan penggugah jiwa. Sedikit banyak pemikiran saya pun terbawa gugahan karya beliau yang masyaallah luar biasa. Semakin dibaca, semakin tertegun. Untaian kata demi kata dirangkai mengalir, mengguncang minat pembaca untuk terus melahap tulisannya. Sesekali, bahkan berulang kali kalimat yang ia tuliskan menghujam, jleb dan membuat air mata mengalir tanpa disadari. Jika tulisan seorang berilmu saja begitu menggugah hati dan jiwa, tidakkah Al Qur’an yang amat mulia menyadarkan kita akan banyak hal? Mengingatkan kita bahwa segala karunia Allah tersebar untuk kita renungkan, menjadikan kita semakin tunduk, menjadikan kita semakin takut. Bukan malah menjadikan ngantuk.

**********

“Baru baca lima ayat udah sepet nih mata”, keluhnya. “Kalo baca qur’an, meskipun niat banget tapi mesti deh, belum lama udah keburu ngantuk. Gak kayak baca novel. Sampe selesai satu buku juga gak ada tuh rasa ngantuk”. Begitu kira-kira yang banyak terjadi pada sebagian orang. Itulah godaannya, bisikan syetan yang dituruti. Mengapa sebelum membaca qur’an kita diharuskan membaca ta’awudz? Agar terhindar dari godaan syetan. Membentuk tawakal dan penjagaan dari Allah.

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٩٨ إِنَّهُۥ لَيۡسَ لَهُۥ سُلۡطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ٩٩ إِنَّمَا سُلۡطَٰنُهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ يَتَوَلَّوۡنَهُۥ وَٱلَّذِينَ هُم بِهِۦ مُشۡرِكُونَ ١٠٠

“Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk. Sungguh syetan itu tidak akan berpengaruh kepada orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah. Pengaruhnya hanya kepada orang yang menjadikan (syetan) pemimpin dan terhadap orang yang menyekutukan Allah” (QS. An Nahl [16] : 98-100)

Perintah tersebut menurut para ulama sifatnya adalah sunnah, bukan wajib. Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far bin Jarir. Membaca ta’awudz dimaksudkan agar ketika membaca Al Qur’an, hati dan pikiran dapat memaknai apa yang dibaca. Sehingga semakin menambah keimanan, meningkatkan ketakwaan. Insyaallah.

Kenapa ketika membacanya masih ngantuk, padahal sudah membaca ta’awudz? 

  1. Ta’awudz dibaca belum sepenuh hati. Masih sekadar seremonial sebelum membaca Al Qur’an. Baru sampai di lisan, belum penuh pengharapan agar terhindar dari godaan syetan.
  2. Berdasarkan dari ayat tersebut di atas, bisikan syetan masih masuk ke dalam diri kita karena hati ini masih kotor. Masih banyak penyakitnya, masih banyak maksiatnya. Lebih mengikuti bisikan syetan daripada bisikan malaikat. “Loh? Memang malaikat juga berbisik sama manusia?”. Iya. Seperti yang Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam sampaikan dalam haditsnya: “Sesungguhnya syetan memiliki bisikan was-was kepada anak cucu Adam dan malaikat pun memiliki bisikan. Adapun bisikan syetan selalu menjanjikan kejahatan dan mendustakan kebenaran, sedangkan bisikan para malaikat menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran. Barangsiapa mendapatkan demikian (bisikan malaikat), maka ketahuilah sesungguhnya itu dari Allah dan memujilah kepada Allah. Akan tetapi, barangsiapa yang mendapatkan bisikan syetan, berlindunglah kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk” (HR. Tirmidzi No. 2914)

Sebenarnya, membaca Al Qur’an itu menyenangkan, menentramkan, jauh dari rasa bosan. Karena kita akan dibawa menyelami keindahan susunan kata yang penuh hikmah. Al Qur’an tidak akan bosan kita baca sampai kita yang bosan membacanya. Semoga Allah mudahkan niat-niat baik kita untuk terus dekat dengan Al Qur’an, semoga ia menjadi syafa’at di akhirat kelak. Baarokallahufiikum.

Depok, 31 Mei 2017

Hajiah M. Muhammad

 

Bangunan Keislaman #2

Seperti yang saya bayangkan, tulisan ini mungkin akan jadi tulisan yang cukup panjang. Tak mengapa, mumpung semangat bacanya masih menyala.

************

Setelah tertunda menyelesaikan tulisan pertamainsyaallah malam ini akan saya rampunngkan.

Syahadat kita anggap sebagai pondasi, sholat sebagai tiang, dan puasa adalah pelindung, atau dinding dari bangunan keislaman. Puasa adalah perisai, pelindung dari godaan syetan karena dari puasa kita dididik untuk mengendalikan hawa nafsu, mengendalikan diri dari segala yang membatalkannya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al Baqarah ayat 183)

Di antara keagungan puasa adalah sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, sebagai bentuk kepatuhan hamba atas titah Rabb-nya. Dr. Ali bin Sa’id Al Ghamidi menyebutkan dalam karyanya, kewajiban seorang muslimah terhadap Rabb-nya adalah beribadah kepada-Nya. Menyembahnya dengan sebaik-baik penghambaan, dan beribadah kepada-Nya sesuai dengan yang telah disyariatkan.

Maka puasa adalah bagian dari kewajiban hamba terhadap Pencipta-nya. Menunaikan puasa artinya membangun pertahanan iman, melatih imunitas tubuh dan menjaga kesehatan badan, serta mendidik pribadi yang berjiwa sosial. Selayaknya dinding dalam sebuah rumah, maka puasa adalah benteng pertahanan agar pondasi dan tiang yang sudah dibangun tidak rapuh, tidak mudah roboh karena memiliki dinding yang kuat. Itulah diantara hikmah berpuasa. Jumhur ulama menyepakati bahwa puasa di bulan Ramadhan adalah bagian dari rukun Islam, maka bagi yang menunaikannya telah melaksanakan rukun Islam. Tidak lupa juga untuk menunaikan puasa sunnah untuk melengkapi ibadah wajib puasa Ramadhan. Ibadah wajib yang kita lakukan, seringkali hanya sebatas penggugur kewajiban maka ibadah-ibadah sunnah menjadi amalan lain untuk melengkapi ibadah wajib.

Dan selanjutnya, untuk membentuk bangunan keislaman yang kokoh, kita memerlukan jendela atau ventilasi udara agar tercukupi kebutuhan dasar manusia untuk bernafas. Ventilasi udara itu adalah zakat. Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam memerintahkan Muadz pergi ke Yaman untuk menyampaikan tauhid, sholat dan zakat kepada kaumnya serta memerintahkan kepadanya untuk mengambil zakat dari mereka dan memelihara kemuliaan harta mereka. (Muttafaq ‘Alayh, dan Al Lu’lu wal Marjaan I/5, 11).

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At Taubah ayat 103).

Bagi muslim yang taat, kewajiban membayar zakat dikerjakan untuk membersihkan hartanya, menjaga kemuliaan hartanya. Dan yang tidak kalah penting, zakat juga mampu mendatangkan rezeki dan mencukupi kebutuhan manusia. Seperti halnya ventilasi udara, zakat merupakan celah-celah rezeki yang Allah berikan kepada para muzaki (orang yang mengeluarkan zakat). Sama seperti sholat dan puasa, dalam penunaian zakat juga ada dasar perhitungan agar diterima zakatnya. Tapi saya tidak akan membahasnya kali ini, insyaallah akan ada tulisan khusus mengenai ibadah mulai dari sholat, puasa, zakat dan haji sebagai bagian dari rukun Islam.

Tapi, semoga berkenan membaca sedikit ulasan mengenai zakat fitrah yang merupakan kewajiban individu, tidak dapat diwakilkan. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan seberat 1 sha’*  atau 1 sha’ gandum. Dibagikan kepada hamba sahaya dan yang merdeka, laki-laki dan wanita, serta anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam memerintahkannya agar dilaksanakan sebelum orang-orang keluar untuk shalat (Idul Fitri). (HR. Bukhari No. 1503) *1 sha’ menurut mazhab Hanafi seberat 3.261,5 gram, sedangkan menurut selain mazhab Hanafi seberat 2.172 gram

Tentang pelaksanaan zakat fitrah, jumhur ulama membolehkan zakat fitrah dikeluarkan sebelum hari Idul Fitri selama bulan Ramadhan. Sebagaimana hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu  yang diriwayatkan oleh Bukhari, beliau mengatakan bahwa para sahabat biasa memberikannya (zakat fitrah) satu atau dua hari sebelum Idul Fitri. (HR. Bukhari No. 1511).

Ada catatan tambahan mengenai zakat fitrah. Zakat fitrah telah ditentukan bentuk dan jumlahnya meskipun kita diberi kebebasan untuk memilih dan tidak ada ketetapan mengenai nilai harganya. Maka sebaiknya zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk gandum atau makanan pokok pada sebuah wilayah dan tidak menggantinya dengan sejumlah uang meskipun seharga barang yang akan dikeluarkan zakatnya. Tetapi, tidak ada larangan bagi muzaki jika ingin membayar amil zakat untuk mendistribusikan zakatnya kepada mustahik zakat di berbagai wilayah seperti yang dilakukan lembaga-lembaga zakat sebagai penyalur hasil zakat dari muzaki kepada mustahik. Wallahu a’lam.

Terakhir, bangunan keislaman yang terakhir adalah haji.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wanita wajib jihad?”, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Ya, bagi mereka ada kewajiban jihad yang tidak ada pertempuran di dalamnya, yaitu haji dan umroh”. (HR. Ahmad No. 26064, dishahihkan oleh AlBani dalam Mukhtashar Iraaul Ghalil I/189).

Masyaallah, terkhusus kaum hawa ibadah haji dan umroh adalah bentuk kewajiban berjihad.

Ulama sepakat bahwa haji adalah bagian dari rukun Islam, menjadi kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat, dan cukup satu kali seumur hidup. Sedangkan umroh boleh dilakukan lebih dari satu kali. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Umroh satu dengan umroh berikutnya bisa menghapuskan dosa yang ada di antara keduanya. Dan tidak ada balasan bagi haji yang mabrur selain surga” (HR. Bukhari No. 3006 dan Muslim No. 1349).

Maka kita perlu memperhatikan syarat-syarat haji dan umroh, sebagai berikut:

  1. Islam
  2. Berakal
  3. Baligh, jika anak-anak yang belum baligh ikut haji atau umroh, maka ketika mereka baligh, tetap ada keharusan untuk haji dan umroh
  4. Merdeka secara sempurna
  5. Mampu. Kondisinya memungkinkan untuk melakukan perjalanan. Haji dan umroh adalah ibadah fisik yang membutuhkan tenaga. Mampu juga termasuk tentang pembiayaan. Jumhur ulama dalam menafsirkan syarat mampu ini menyebutkan dengan memiliki perbekalan untuk melakukan perjalanan haji dan umroh. Adapun pendapat lain mengenai kemampuan dari keumuman dalil adalah aman selama perjalanan.
  6. Wanita wajb bersama mahromnya. Berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Wanita tidak boleh bepergian, kecuali bersama mahromnya dan tidak boleh ditemui seorang laki-laki, kecuali bersama mahromnya” (HR. Baihaqi No. 5204 dishahihkan oleh Albani dalam Mukhtashar Irwaaul Ghaliil : I/192)
  7. Terkhusus kepada muslimah, tidak boleh melakukan ibadah haji atau umroh pada pasa iddah karena kematian suaminya. Hal ini disebabkan dia sedang berduka dan supaya tidak mengabaikan hak suaminya

Hal lain tentang haji yang perlu diperhatikan adalah mengenai hukum mewakilkan haji dan umroh. Kedua ibadah tersebut adalah termasuk yang boleh diwakilkan. Sebagaimana hadits Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam. Suatu hari Al Khats’ bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam, “Sesungguhnya, ayahku telah tua untuk melaksanakan ibadah haji, dan dia tidak mampu menempuh perjalanannya. Apakah aku boleh menghajikannya?”, Rasulullah menjawab, “Hajikanlah untuknya” (HR. Bukhari No. 1513).

Orang yang hendak menghajikan orang lain disyaratkan telah lebih dulu menunaikan ibadah haji untuk dirinya sendiri. “Hajilah terlebih dahulu untukmu kemudian hajikanlah untuh Syubrumah” (HR. Abu Dawud No. 1811 dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abi Dawud: IV/211)

Jika seseorang telah meninggal sebelum menunaikan haji, maka kerabatnya boleh menghajikannya. Jika tidak, ambillah peninggalannya sebelum pembagian waris, sesuai biaya orang naik haji. Mengapa demikian? Karena haji termasuk hutang dan sebagai hak-hak yang berhubungan dengan harga benda peninggalan orang yang meninggal.

Alhamdulillah, tuntas sudah yang ingin disarikan mengenai rukun Islam dari buku Fiqh Wanita karya Dr. Ali bin Sa’id Al Ghamidi. Semoga Allah curahkan barokah untuk kita dan menambah tsaqofah serta pemahaman yang semakin mendekatkan kita dengan Allah. Aamiin.

Depok, 29 Mei 2017

Hajiah M. Muhammad