Tersambar Petir

“Kamu belum layak mengaku telah berjuang mengejar impian jika kau belum berjuang bangun di sepertiga malam. Bermunajat dalam pengharapan yang dalam. Mengiba, meminta kekuatan dari Pemilik alam raya. Memohon kucuran berkah dan keridhoan dari Dzat Maha Kuasa atas segalanya”

Waktu pagi beberapa hari yang lalu. Merenungi kalimat petir yang menyambar meski hujan tak memberikan kabar. Petir yang menggelegar, membangunkan keterpurukan, membangkitkan kelesuan perjuangan. Kalimat dari siapa itu? Dari seorang fakir yang dhoif, Hajiah. Loh kok bisa? Iya bisa. Kamu pun bisa menyemangati diri sendiri. Kenapa? Karena ketika kita kembali kepada Allah, menyerahkan segala keluh kesah kepada-Nya, insyaallah tanpa dicari, tanpa dikejar. Semangat itu begitu menyulutkan api semangat berkobar. Percayalah, yakinilah. Sebab, jika dengan Allah saja kita tak yakin, bagaimana mungkin bisa menaruh kepercayaan kepada selain Allah? Lemah tanpa daya selain dari-Nya.

Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. (HR. Muslim)

Hajiah M. Muhammad

Depok, 26 Januari 2018

Advertisements

Pelipur Lara

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman [QS. Yunus (10):57]

Membuka tulisan sederhana dengan ayat pelipur lara. Sebaik-baik bacaan, sebaik-baik teman perjalanan, ialah Al Qur’an. Sejujurnya, saya sangat malu menuliskannya disini, tapi semoga rahmat dan ampunan Allah terlimpah kepada saya.

Saya bersaksi bahwa Al Qur’an adalah penawar segala penyakit yang bersarang dalam hati. Segala sakit yang muncul karena ulah tangan perbuatan manusia itu sendiri. Dalam hati-hati yang lalai, dalam hati-hati yang terluka karena kezaliman yang dilakukan oleh orang itu sendiri.

Maka ketika ada yang mengeluhkan kehidupannya, saya tekankan agar lebih dulu mendekatkan diri kembali pada Allah. Tilawah, tadabbur sedalam-dalam penghayatan. Sampai hati merasa kembali tenang. Jika sudah tilawah dan tadabbur tapi masih merasa kesakitan, artinya kita belum sepenuhnya berniat mengobati luka dalam hati. Ada ketentraman yang begitu menyejukan, ada kebahagiaan yang begitu meneduhkan ketika kita memaknai ayat-ayat dengan ketulusan, dengan ketunduk-patuhan kepada Ar Rahman. Seakan dibelai, dipeluk erat hingga kita merasa begitu dekat meski mata tak mampu melihat Dzat Yang Maha Melihat.

Masyaallah, semoga kecintaan kepada qur’an, interaksi kita dengan huruf-hurufnya menjadikan syafaat dari qur’an kelak didapatkan. Allahummarhamna bil qur’an. 

Mematahkan Logika

Bagaimana mungkin muslimah yang dijaga dan sangat dilindungi dalam Islam dengan sengaja menjatuhkan kehormatannya? Hari ini, kita hidup di zaman yang serba canggih dengan teknologi dan beragam perangkat yang memudahkan kegiatan manusia. Hanya saja, pemikiran yang tak diimbangi dengan penghayatan nilai-nilai keislaman seperti kuda pacuan yang lepas dari ikatan. Berlari sesuka hati, menjadi lepas kendali. Pun demikian dengan manusia yang telah Allah karuniakan akal. Tapi tidak untuk menentang Allah dan Rasul-Nya, bukan juga untuk membuat ragu orang banyak agar mengikuti kesesatan pikiran mereka. Siapa yang hendak kita diskusikan?

Saya tidak tahu persis apa sebutan dan gelar yang layak untuk orang yang meragukan kemuliaan Al-Qur’an dan mengkampanyekan bahwa Al-Qur’an tidak lagi seperti pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang masih murni dan suci. Al-Qur’an perlu direvisi, ditinjau ulang kebenaran dan keabsahannya. Padahal, Al-Qur’an bukanlah naskah buku yang akan diterbitkan kemudian diedit ulang, bukan pula skripsi mahasiswa yang berulang kali revisi sebelum akhirnya dibukukan. Bukan. Jelas Al-Qur’an terjaga dari dulu hingga nanti. Allah yang menjamin, adakah jaminan yang lebih menjaga selain jaminan dari Allah?

Orang yang meragukan atau bahkan memperolok ayat-ayat Allah sudah ada sejak masa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Maka tidak heran jika dewasa ini kita dapati orang-orang seperti itu. “Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang senantiasa mereka perolok-olokkan”. [QS. Al-Mukmin (40):83]. Ayat yang sedemikian tegas yang Allah sampaikan akan sulit diterima oleh mereka yang hatinya tertutup, mereka yang hatinya gelap dan sulit menemukan cahaya kebaikan yang Allah sampaikan dalam firman-firman-Nya.

“Dan tidak mungkin  Al-Qur’an ini dibuat-buat oleh selain Allah; tetapi (Al-Qur’an) membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya. Tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam” [QS. Yunus (10):37]. Tidak ada keraguan di dalam Al-Qur’an, tidak sama sekali. Tapi mereka, meniupkan pikiran-pikiran jahiliyah agar umat kebingungan dan mengikuti apa yang mereka sebarkan baik lewat ucapan maupun tulisan. Ini yang kemudian menjadi renungan bagi kita yang mengaku beriman dan punya keberanian untuk menyatakan bahwa yang haq adalah haq dan bathil adalah bathil. Dr. Yusuf Al Qardhawi dalam Totalitas Islam yang dikutip oleh Solikhin Abu Izzudin dalam Tarbiyah Dzatiyah menyebutkan diantara keutamaan menuntut ilmu bagi orang beriman adalah sebagai sarana untuk membedakan antara yang haq dan bathil. Maka tidak cukup bagi seseorang berilmu tanpa didasari keimanan. Apalagi jika kita merujuk pada bagaimana akhlak seorang muslim ketika menuntut ilmu adalah juga diawali dengan adab sehingga ilmu yang didapat menjadi cahaya, menjadikan pemiliknya semakin dekat dengan Allah. Bukan sebaliknya, karena sering dijumpai orang berilmu yang tak beradab, mereka menjadikan ilmu sebagai senjata untuk merusak Islam dari dalam. Dan tidak menyadari sindiran Allah tentang mereka di dalam Al-Qur’an.

“Orang-orang munafik itu takut jika diturunkan suatu surah yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah (kepada mereka), “Teruskanlah berolok-olok (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan  mengungkapkan apa yang kamu takutkan itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah, “Mengapa kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena bertaubat), niscaya Kami akan mengazab sebagian golongan yang lain, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa”. {QS. At-Taubah (9):64-66].

Mengapa kita perlu mematahkan logika orang-orang yang demikian Allah sebut sebagai golongan munafik? Karena kita punya amanah besar untuk menjaga risalah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam tetap lurus, tidak tergerus perkembangan zaman. Muhammad bin Hasan Aqil Musa Syarif -dalam karyanya Shaleh Tapi Tak Berdaya Guna-, mengatakan bahwa diantara kemunduran peradaban Islam hari ini karena orang-orang sholeh dan dan cerdas berdiam diri. Asyik dengan kesibukannya dan membiarkan umat terombang-ambing keyakinannya terhadap ayat-ayat Allah yang dipermainkan kaum munafik dan kafir. Ketidakberdayaan, Muhammad bin Hasan menyebutkannya, bukan hanya kelemahan daya juang orang sholeh nan cerdas, tapi karena mereka tidak mengoptimalkan potensi yang dimiliki untuk kemaslahatan umat. Sehingga musuh-musuh Islam bisa dengan mudah menyerang pemikiran umat dari berbagai aspek kehidupan.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mematahkan logika kaum munafik? Pertama, meningkatkan kapasitas keilmuan dan keimanan agar memiliki senjata untuk melawan jika memang harus berperang. Dan jangan salah, perang kita dengan mereka hari ini bukan lagi mengangkat pedang, karena anak-anak panah bisa kita lesatkan dari tulisan, dari karya-karya yang gemilang. Imam Nawawi rahimallahu ‘anhu, adalah contoh pemuda Islam yang memiliki senjata keilmuan sehingga ia mampu menghasilkan tulisan-tulisan yang hingga hari ini masih dapat kita baca dan pelajari. Tutup usia pada angka relatif muda yaitu sekitar 45 tahun (Fawatul-Wafiyat :4/264-268). Karnyanya menyebar ke segenap penjuru dunia dan membawa maslahat bagi umat. Kedua, menjaga diri dalam ketaatan dan menjauhkan dari kemaksiatan. Pemuda Islam pada masa-masa terdahulu begitu giat dan semangat memenuhi panggilan jihad. Berlomba-lomba ada di barisan terdepan membela agama Allah, menjaga kemuliaan Islam dan membuat musuh Islam lari ketakutan. Karena apa? Mereka dekat dengan Allah, menjaga hati dan jiwanya agar selalu memiliki kekuatan untuk melawan kaum kuffar. Mereka memiliki pertahanan yang kuat, tidak mudah dikalahkan. Pelindung yang mereka miliki adalah sebaik-baik Pelindung, Penjaga mereka adalah sebaik-baik Penjaga, Allah. Apakah kita telah meneladani mereka hari ini? Jika tidak, jangankan mematahkan logika kaum munafik, justru malah kita yang terbawa dan kalah oleh mereka.

Dan terakhir, hal yang bisa kita lakukan untuk melawan musuh-musuh Islam adalah tetap berpegang teguh pada agama Allah yang lurus, meneladani Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam di berbagai lini kehidupan. Selalu ingat bahwa Islam adalah sebaik-baik kapal yang bisa kita gunakan untuk berlayar mengarungi kehidupan dunia dan akhirat. Jangan kalah dengan bujuk rayu syetan berwujud manusia munafik kaum liberal. Mereka telah menggadaikan aqidahnya demi kesenangan dunia yang melenakan, menjual agama demi kenikmatan dunia yang tak berkekalan. Maka selisihilah mereka dengan iman yang kokoh, dengan takwa yang sebenar-benar takwa, tidak ada keraguan sedikitpun agar segala yang ada dalam diri kita dapat dipersembahkan kepada Allah untuk memeluk Islam hingga ajal menjelang.

Hajiah M. Muhammad

Depok, 12 Januari 2018

 

Golongan Manusia Mengendalikan Nafsu

Dalam buku Apa Komitmen Saya Terhadap Islam, Fathi Yakan memaparkan bagaimana kita dapat mengalahkan hawa nafsu. Manusia di golongkan dalam 3 golongan.

Pertama, golongan yang maksum, terjaga dari godaan syetan sampai iblis dan sekutunya kehabisan akal untuk melemahkan keimanan golongan pertama ini.

Kedua, golongan yang menuruti hawa nafsu dengan kerelaan dan kesadaran diri. Mereka ini memudahkan syetan karena tanpa digoda dan dibujuk rayu oleh syetan, manusia kelompok kedua ini sudah lalai dan menikmati kesesatan serta kemaksiatan yang dilakukan karena menuruti nafsunya.

Dan ketiga, yaitu mereka yang ada dalam golongan manusia yang masih tergoda rayuan syetan tapi bersegera memohon ampunan. Mereka sadar melakukan kesalahan dan terpeleset dalam kemaksiatan sehingga tidak berlama dalam menuju ampunan Allah. Mereka menyadari bahwa keimanan masih lemah, masih sering melalaikan perintah Allah dan kadang terbawa nafsu bermaksiat kepada Allah. Namun mereka pun menyadari larut dalam kemaksiatan dan kesenangan dunia hanya fatamorgana sehingga mereka seketika mohon ampunan kepada Allah.

 

Dari ketiga golongan tersebut di atas, keberhasilan mengendalikan nafsu disebabkan oleh dua hal yaitu hati dan akal yang telah Allah titipkan pada setiap manusia. Orang yang hatinya jernih, bersih karena ketaatannya kepada Allah akan mampu membedakan antara yang haq dan bathil. Mampu membedakan antara yang halal dan haram sehingga mereka mampu mengendalikan nafsunya. Hati yang ada dalam dada dijadikan penglihatan sebab pandangan mata seringkali melenakan dan melalaikan. Selain hati, ada akal yang dapat digunakan untuk mengendalikan nafsu. Namun, perlu ditekankan bahwa dalam perkara iman, hati lebih diutamakan bukan akal. Sebab akal seringkali membuat manusia kehilangan kesadaran bahwa kemampuannya berpikir semata karunia dari Allah. Sayangnya, justru akal digunakan untuk mematahkan perintah Allah, akal digunakan untuk memenangkan nafsu daripada keimanan. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya, bukanlah mata itu yang buta. Yang buta adalah hati dalam dada (QS. Al Hajj ayat 46). Mari tanyakan pada hati, ada di golongan manusia yang manakah?
Wallahu a’lam.
Depok, 26 November 2017

Hari Ini dan Kemudian Hari

Jadilah pemuda Islam yang ketika orang lain melihatmu, mereka melihat betapa indahnya Islam”. Kutipan di stiker yang tertempel pada lemari seorang kawan di kosannya itu masih sangat lekat hingga hari ini. Pesannya yang begitu dalam meski rangkaian kalimatnya tak terlalu panjang, membuat saya sudah berulang kali menyampaikannya kepada orang lain. Pun di ruang maya, mungkin ada yang pernah membaca kalimat tersebut di atas? Saya tak ingat siapa nama yang tertulis di stiker itu karena memang tak ada nama penulisnya. Siapapun yang mengungkapkan itu, semoga menjadi amal jariyah yang memberatkan amalan kebaikan di yaumul akhir nanti.

Sebelum lebih jauh, saya ingin kita menyepakati satu hal bahwa di antara identitas keislaman seseorang dapat dikenali dari akhlaknya, ya akhlak. Jika pakaian yang digunakan sebagai penutup aurat dikatakan sebagai identitas keislaman, maka akhlak pun menjadi tak kalah penting dan genting untuk kita kenakan. Maka izinkan saya membuat perumpamaan jika akhlak itu selayaknya keharusan menutup aurat. Hanya yang membedakan, keharusan membentuk akhlak itu tidak terbatas pada laki-laki dan perempuan karena semua mesti memiliki akhlak yang mantap sebagai seorang muslim.

Akhlak adalah buah dari keimanan, seperti yang disampaikan Fathi Yakan dalam bukunya “Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam?”. Seperti juga yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sabdakan, “Iman bukanlah angan-angan kosong, tetapi sesuatu yang terpatri dalam hati dan dibuktikan oleh perbuatan” (HR. Ad Dailami dalam kitab Musnad). Maka akhlak merupakan implementasi dari ibadah yang kita tunaikan sebagai abdi Allah, bukan sebatas ritual keagamaan yang kemudian tak berbekas, menghilang.

Ada beberapa sifat penting yang perlu dimiliki sebagai seorang yang mengaku beriman agar memiliki akhlak yang mulia, adalah sebagai berikut:

  1. Menjauhi perkara-perkara yang syubhat. Syubhat dapat diartikan sebagai sesuatu yang belum jelas halal atau haramnya, samar. Padahal dalam Islam, tentang halal dan haram dengan terang dan jelas dipaparkan. “Barang siapa yang menjauhi syubhat, maka dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa yang terjerumus dalam syubhat, maka dia telah menjerumuskan dirinya dalam keharaman” (HR. Muttafaq ‘Alayh)
  2. Menjaga Pandangan. Menjaga pandangan dari segala hal yang mendekati pada kemaksiatan, menjaga pandangan dari segala hal yang melalaikan. Dalam sabdanya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menyampaikan bahwa pandangan adalah salah satu anak panah iblis. Maka jika kita mengaku beriman dan meneladani sang Nabi, sudah semestinya kita menjaga pandangan dari hal-hal yang melenakan, dari hal-hal yang membawa kita pada kemaksiatan
  3. Menjaga Ucapan. Iman An Nawawi berkata, “Ketahuilah, setiap orang yang sudah mencapai derajat mukallaf (diwajibkan melaksanakan ibadah-ibadah), harus menjaga lisannya dari segala bentuk ucapan, kecuali ucapan yang cenderung membawa maslahat (kebaikan). Tetapi, jika dampak ucapan itu seimbang antara maslahat dan mudhorot, maka seharusnya ditinggalkan karena ucapan yang mubah biasanya bisa mendorong kepada perkara yang makruh dan haram” 
  4. Malu. “….Rasa malu juga termasuk salah satu cabang iman” (Muttafaq ‘Alayh). Sebagian ulama mendeskripsikan rasa malu dengan ungkapan berikut, “Hakikat malu adalah pembawaan yang mendorong manusia agar meninggalkan segala sesuatu yang buruk dan mencegahnya dari mengabaikan hak orang lain”.
  5. Jujur. Jika diibaratkan barang antik, dewasa ini kejujuran seperti itu. Sudah langka. Kejujuran bukan hanya terhadap orang lain, bukan hanya kepada sesama manusia, melainkan juga kepada Allah ta’ala. Berlaku jujur kepada Allah adalah dengan mempertanggungjawabkan perkataan yang telah diucapkan. Sebagai contoh, kita mengaku hanya berharap kepada Allah, menjadikannya sebagai satu-satunya sandaran. Tapi ketika kita diuji, ketika ditimpa kesulitan, Allah diabaikan dan lebih mendekati makhluk yang lemah. Maka apa arti ucapan jika tidak dibuktikan dengan kesungguhan iman?
  6. Rendah Hati (Tawadhu’). Cukuplah menjadi nasehat bagi kita untuk senantiasa merendahkan hati, menyadari bahwa sepenuhnya tiada daya dan upaya melainkan karena Allah. Maka kita yang lemah tak berdaya ini tak pantas berbangga sebab menghindarkan diri dari kesombongan telah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tegaskan, “Tidak akan masuk surga orang yang pada hatinya tersimpan kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah” (HR. Muslim).
  7. Menghindarkan Prasangka Buruk, Ghibah, dan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain. Dalam surat Al ‘Ashr ayat 3, Allah mengabarkan kepada kita di antara orang-orang yang beruntung adalah mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Maka jika dalam hati dan pikiran kita mendapati keburukan yang ada pada orang lain, bicarakan kepadanya untuk menghindari prasangka, sampaikan kepadanya agar lisan kita terjaga dari ghibah (membicarakan keburukan orang lain). Apalagi, sampai disibukan mencari kesalahan orang lain, na’udzubillahimindzalik. 
  8. Menjadi Teladan Bagi Orang Lain. Saya percaya, setiap kita menyadari betul bahwa teladan terbaik ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam seperti yang telah Allah firmankan dalam surat Al Ahzab ayat 21. Tapi kita pun bisa menjadi teladan bagi yang lain meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa kekurangan dan kesalahan masih kerap kita lakukan. Teladan adalah perintah terbaik, begitu yang pernah disampaikan seseorang dalam tulisannya. Dan saya menyepakatinya. Dengan memberikan teladan, artinya kita mengajak orang lain tanpa kata, tanpa suara dan lebih memungkinkan untuk ditiru dan diikuti. Maka, memiliki akhlak yang mulia adalah juga bagian dari dakwah, mengajak dan menyeru orang lain pada kebaikan. Minimal, di lingkungan rumah sendiri, di lingkungan tempat tinggal, di tempat menuntut ilmu, di tempat bekerja, adalah lahan dakwah menjadi teladan bagi orang sekitar. Dan semoga, Allah baguskan akhlak kita sebagaimana Allah membaguskan penciptaan kita.

Itulah di antara sifat penting yang perlu kita miliki agar membentuk akhlak yang mulia sebagai komitmen sebagai seorang muslim, sebagai pertanggungjawaban sebagai seorang yang mengaku beriman. Kita berharap, akhlak-akhlak ini menjadi penghias hati dan diri untuk menghadap Allah kelak, sehingga kita layak memenuhi panggilan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dalam keadaan penuh kesyukuran, ummati …. ummati… ummati.

Wallahu a’lam.

Hajiah M. Muhammad.

Depok, 20 November 2017

Sisi Lain

Berterima kasih kepada mereka yang membencimu, karena tanpa diminta, mereka begitu semangat menyampaikan keburukan yang ada dalam dirimu. Tidak semua orang mau melakukan itu sekalipun orang yang menyayangimu. Tapi sesungguhnya, ketika seseorang menyayangi yang lain, maka hanya kebaikan yang diharapkan ada pada masing-masing orang. Seperti halnya ketika kita menyayangi seseorang maka kita tentu berharap dapat menjadikannya lebih baik bersama, bukan saling menyalahkan apalagi saling menjatuhkan.

Yang menarik dari mereka yang membenci diri kita adalah karena besarnya perhatian mereka. Meluangkan waktu, pikiran, tenaga bahkan tak jarang menghabiskan uang untuk meluapkan kebenciannya. Mulai dari keburukan yang memang benar ada dalam diri, hingga keburukan yang kita sendiri tak menyadari jika memilikinya. Lucu tapi layak direnungkan. Boleh jadi, ungkapan kebencian mereka itu adalah cara lain menyayangi dan memberikan kasih sayangnya.

Sangat disayangkan jika kita adalah mereka yang membenci itu. Hari-hari disibukan mencari cela orang lain, sedangkan cela dalam diri yang nyaris busuk tak ditengok sama sekali. Sangat disayangkan jika kita adalah mereka yang membenci itu. Waktu yang dilalui habis percuma karena diisi dengan hati yang cemas lagi gundah. Sangat disayangkan jika kita adalah mereka yang membenci itu. Tenaga terkuras, hati mengeras. Sedangkan orang yang dibenci tak menoleh meski hanya sekilas. Sekalipun ada kebencian dalam diri terhadap orang lain, jangan sampai membutakan mata hati. Jangan sampai hati terkotori.

Dengki adalah bagian dari penyakit hati dari mereka yang membenci. Aib orang lain ditelusuri, aib sendiri tak peduli. Padahal, hanya ada dua kedengkian yang diperbolehkan seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sabdakan.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.”

Dalam hadits lain, dari Abu Salim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Tidak boleh dengki kecuali kepada dua hal yaitu (pertama) kepada seorang yang telaj diberi Allah hapalan al qur’an sehingga ia membacanya siang dan malam; kedua, kepada seorang yang dikaruniai Allah harta kekayaan lalu membelanjakan harta tersebut siang dan malam (di jalan Allah)” (HR. Bukhari No. 6975 dan Muslim No. 1350)

al haqqu min rabbik fala takuunanna minal mumtariin. 

Hajiah M. Muhammad

Depok, 5 November 2017

 

Berkah Ramadhan (?)

“Masyaallah ya, banyak yang jualan lontong dan gorengan kalo Ramadhan gini. Tapi semua habis aja tuh”, selorohku pada ibu. “Itulah berkah Ramadhan ka. Rezeki Allah luas udah ditentuin ke setiap orang. Gak perlu saling sikut, berebut rezeki”, ibu menanggapi sambil tetap fokus pada sayuran di tangannya. Aku yang sependapat dengan itu kemudian memikirkan ulang di lain waktu. Apakah iya? Berkah Ramadhan untuk mereka yang baru membuka lapaknya di bulan mulia ini? Ah, mungkin perlu sejenak kita renungkan.

Berkah adalah kebaikan yang terus dan tetap bertambah meski jumlahnya tak melimpah. Itu setidaknya arti berkah untukku. Dan tentu keberkahan itu datangnya dari Allah. Pikiran melayang ketika para sahabat di sekitaran Masjid Quba pada masa Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, mereka bersegera meninggalkan dagangannya ketika terdengar azan. Nah, para penjajak lontong dan gorengan, serta kudapan lain khas Ramadhan itu justru sebaliknya. Mereka rela menunda seruan shalat ketika azan berkumandang demi melayani pembeli yang sudah mengular, mengantri. Lalu, dimana letak barokahnya?

Aku tidak mengatakan para pedagang itu jauh dari barokah, tidak, sama sekali tidak. Hanya menyayangkan jika mereka jadi lalai karena lapaknya. Bukankah Allah yang mendatangkan para pembeli itu? Bukankah Allah yang memberikan rezeki ke para pedagang itu? Justru seharusnya semakin taat, berterima kasih kepada Allah dengan menyambut panggilan sholat penuh suka cita, sesumringah ketika lapaknya kedatangan calon pembeli.

Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat). (Mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas. (QS. An Nuur (24) : 36-37)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, disebutkan bahwa ketika kaum muslimin sedang sibuk berdagang di pasar, pada saat itu mereka mendengar azan, mereka segera mendirikan shalat ke masjid. Maka dari itu, turunlah ayat ini (An Nuur ayat 36-38) sebagai pujian atas sikap mereka.

Itulah yang terkadang kita lupa, mengejar rezeki hanya berorientasi pada dunia dan mengesampingkan urusan akhirat. Seakan lupa bahwa segala kenikmatan yang dirasakan di dunia adalah karunia Allah, maka sudah sepatutnya kita mengingat-Nya, seraya memuji keagungan-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Barang siapa  mengucapkan subhanallah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya) sehari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni walaupun sebanyak buih di lautan” (HR. Bukhari No. 5926)