Cadar Dilarang Beredar (?)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dengan segala hormat, sebelumnya saya hendak sampaikan permohonan maaf jika dalam kesempatan ini akan terkesan seperti orang yang lancang kepada para orang berilmu di UIN Sunan Kalijaga (Suka) Yogyakarta. Semoga Allah membukakan mata hati kita agar dapat melihat lebih terang, agar dapat menyerap hikmah lebih dalam. Pun permohonan maaf saya sampaikan kepada saudari muslimah sekalian yang mengenakan cadar dalam kesehariannya, sungguh, tulisan ini bukan untuk menjatuhkan salah satu pihak atau malah kedua pihak. Tulisan ini dipersembahkan sebagai bahan renungan bagi semua, tak terkecuali saya pribadi.

Sebelum lebih jauh pada pembahasan, hal seperti ini memang sangat disayangkan karena terjadi di kampus yang memakai nama Islam di dalamnya. Namun, kita pun perlu bijak menyikapi promblema ini agar tidak salah langkah atau justru memperkeruh suasana. Maka, ada baiknya kita memperbanyak istighfar, mohon ampun kepada Allah, semoga dengan istighfar itu menjadikan hati dan pikiran lebih tenang.

Saya sempat dikejutkan dengan sebaran informasi yang berisi larangan penggunaan cadar di kampus UIN Suka Yogyakarta, dengan perihal surat mengenai pembinaan kepada mahasiswi yang menggunakan cadar di kampus. Sambil coba mengingat-ingat siapa kawan yang masih berkuliah disana, saya pun mencoba cari kebenaran informasi tersebut dan boom! Beliau membenarkan bahwa ada pembinaan yang akan diberikan kepada mahasiswi bercadar. Dibina seperti apa? Dibina agar mau melepaskan cadarnya di dalam kelas dan jika tidak, terpaksa mahasiswi itu dipecat dan dipersilakan mencari kampus lain yang membolehkan mahasiswinya bercadar. Hal itu sesuai dengan surat rektor dengan nomor B-1031/Un.02/R/AK.00.3/02/2018.

Bagaimana bisa kampus Islam melarang mahasiswinya bercadar? Wakil Rektor UIN Suka, Sahiron Syamsuddin, mengungkapkan, pelarangan cadar tersebut tak terlepas dari alasan pedagogis. Menurut dia, jika mahasiswinya tetap menggunakan cadar di dalam kelas, para dosen tentu tidak bisa membimbingnya dengan baik dan pendidiknya tidak dapat mengenali wajah mahasiswinya. Alasan yang menurut saya sangat lucu karena keluar dari lisan seorang yang berilmu. Dan alasan tersebut adalah alasan yang juga mengundang banyak pro dan kontra.

UIN Suka Yogyakarta memang mengusung Islam moderat dalam prakteknya, akan tetapi apakah alasan pedagogis tersebut bisa dibenarkan? Mengingat, kampus lain seperti UGM, UII dan UMY tidak mempermasalahkan mahasiswi yang bercadar dengan alasan apapun. Di UII, ada salah seorang alumni dari fakultas kedokteran yang mengenakan cadar hingga hari ini. Beliau adalah dr. Ferihana. Beliau adalah sosok muslimah berilmu yang mengenakan cadar dan tetap bisa memberikan maslahat kepada masyarakat sebagai hasil pendidikannya selama kuliah di UII. Beliau adalah pemilik Rumah Sehat Muslim dan Dhuafa Yogyakarta, Dokter Muslimah Beauty Clinic, Mudarrisah di Madrosah Uwais Al Qorniy Yogyakarta.

Maka jika saya ada di pihak berwenang UIN Suka, akan tetap membiarkan mahasiswi bercadar di kelas dan belajar sebagaimana mahasiswa yang lain. Bukankah UIN Suka adalah pencetak cendikiawan Islam yang moderat? Artinya, terbuka dan tidak menjadi masalah jika hanya alasan pedagogis sehingga tidak ada pelarangan cadar di sana.

Jika saya adalah mahasiswi bercadar, saya akan tetap mempertahankan apa yang menjadi pemahaman dan keyakinan. Tidak goyah, tidak pula gentar dengan larangan atau ancaman akan dikeluarkan dari kampus. Jika memang tujuan kuliah adalah menuntut ilmu, maka dimana pun tempat belajarnya, meskipun bukan di kampus Islam seperti UIN, insyaallah akan tetap bisa meraih apa yang dicita-citakan. Insyaallah.

Dan sebagai penutup, besar harapan saya ini hanya terjadi di UIN Suka Yogyakarta, tidak dengan UIN di kota lain atau perguruan tinggi yang lain. Salam.

Hajiah M. Muhamad

Depok, 9 Maret 2018

 

Advertisements

#LawanBersama

Kamu muslimah tapi ikut kaum feminisme? Sini yuk duduk bareng. Sambil ngobrol asik di taman kota atau di warung kopi juga boleh. Tapi kamu harus janji untuk kembali. Kembali berpegang teguh pada agama yang Allah ridhoi. Kembali meyakini dan menaati perintah Allah yang menguasai hati.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19)

Duhai yang cantik hati dan parasnya, sebagai seorang muslimah artinya kita punya kedudukan lebih mulia sebab Islam hadir di tengah kehinaan kaum perempuan yang dilecehkan, direndahkan bahkan tak sedikit yang harus meregang nyawa dalam penderitaan. Tetapi Islam dengan kasih sayang Allah yang disampaikan dalam ayat-ayat qur’an menjadi cahaya, petunjuk dan membuka banyak harapan bagi kaum perempuan. Menjadi muslimah adalah keistimewaan tanpa harus menuntut apapun sebagai pembelaan atas pengingkaran terhadap aturan dalam qur’an. Apa yang sebenarnya hendak dicari? Kesetaraan? Kedudukan? Pengakuan? Penghormatan dan kebebasan? Semoga bukan itu yang menjadi tujuan sebab tugas kita sebagai hamba yang beriman adalah beribadah kepada Allah dengan setulus-tulus penghambaan.

Kaum feminisme hadir mencabik-cabik keistimewaan perempuan dalam Islam. Memunculkan keraguan dalam keimanan, menimbulkan keresahan dan ketakutan dari logika yang diputarbalikan. Maka jangan heran jika mereka (kaum feminisme) sering menuntut kesetaraan, pengakuan dan kebebasan. Mereka sebenarnya tak memahami apa yang mereka suarakan. Hanya menampakan kedunguan pikiran yang lahir dari hati yang tak beriman. Mereka tak yakin dengan aturan yang telah Allah tetapkan dalam qur’an sehingga mencari beragam pembelaan seolah Islam mendiskreditkan kaum perempuan, seolah Islam mengesampingkan kedudukan perempuan. Padahal, sama sekali tidak demikian. Maka di ruang yang sangat terbatas ini, izinkan saya sampaikan bagaimana Islam memuliakan perempuan tanpa sedikit pun melepaskan hak-hak sebagai hamba Tuhan.

Sumber penetapan hak adalah syariat, yaitu apa yang ditetapkan Allah dalam ayat-ayat qur’an, dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam juga dari ijma’ ulama. Dengan demikian, penerapan hak semestinya harus sesuai dengan syariat, bukan dari sembarang rekayasa manusia. Jika kita mau cerna lebih jauh, tidak ada syariat Islam yang merugikan salah satu pihak karena baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk jadi hamba yang bertakwa, menjadi hamba yang mendapat ampunan, hamba yang dinaungi kasih sayang Allah jika beriman dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Allah Maha Bijaksana maka takkan berlaku zalim kepada manusia, justru manusialah yang seringkali berbuat zalim terhadap Allah, bahkan terhadap diri mereka sendiri.

Syariat menyamakan hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan, hal ini seperti ayat yang begitu rinci memperhatikan kedudukan muslim dan muslimah dalam Islam.

Sesungguhnya, laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al Ahzab : 35)

Kesetaraan. Dari ayat tersebut di atas, itulah kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam Islam. Allah tidak membedakan apakah dari kaum adam ataukah kaum hawa yang akan mendapat ampunan dan pahala, tetapi Allah memberikan kepada yang menjalankan perintah-perintah-Nya. Pahala diberikan kepada yang sungguh-sungguh beramal dan beribadah kepada-Nya. Tentang kewajiban pun demikian. Baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan untuk taat. Mau cari pembelaan karena belum sepenuhnya taat? Soal menutup aurat misalnya. Apakah menurutmu kewajiban menutup aurat hanya untuk perempuan? Eits, mungkin kamu lupa sama ayat ini.

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. An-Nuur : 30)

Aturan yang Allah perintahkan semata-mata sebagai bentuk kasih sayang, pun kepada perempuan. Bahkan Allah menjaga kaum hawa dari ujung kepala hingga ujung kakinya dengan aturan menutup aurat ini. Tidak lain adalah sebagai bentuk memuliakan perempuan agar tak dipandang rendah, agar tak dianggap hina untuk kemudian dijadikan pemuas nafsu belaka. Lantas, apa yang membuat perempuan merasa tak dianggap dan tak dimuliakan dalam Islam?

Kebebasan. Di antara poin yang sering digaungkan kaum liberal adalah tentang kebebasan. Kebebasan berpendapat, kebebasan berkeyakinan, kebebasan hak asasi manusia dan lain sebagainya yang merupakan bentukan dari pikiran rancu yang ragu terhadap ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Dalam Islam, Allah membebaskan hamba-Nya dengan memenuhi hak-hak sebagai ciptaan Tuhan. Diberi rezeki, diberi waktu luang, diberi berbagai kenikmatan yang dapat diperoleh dengan mudah meskipun juga ada yang perlu diraih dengan susah payah. Tapi sekalipun Allah tidak pernah berlaku zalim kepada manusia. Allah memberikan kebebasan untuk berpikir tapi tetap dalam keimanan, Allah membebaskan hamba-Nya untuk bertebaran di muka bumi tapi tetap dalam ketakwaannya. Maka Allah firmankan agar kebebasan kita tidak melampaui batas, agar kebebasan kita tidak melanggar syariat Islam.

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu. Tetapi jangan melampaui batas. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al Baqarah : 190)

Kebebasan untuk melindungi hak-hak pribadi juga masyarakat diperbolehkan. Kita bahkan dipersilakan jika ingin melakukan perlawanan kepada orang-orang yang memerangi kita. Kita diperbolehkan melakukan perlawanan jika hak-hak sebagai seorang muslimah dihinakan. Kita diperbolehkan melakukan perlawanan jika hak-hak sebagai perempuan dilecehkan. Maka tidak ada alasan untuk menuntut kebebasan yang lain. Betul memang, adalah hak setiap orang untuk bebas sesuai syariat atau bebas kebablasan, semua akan menanggung apa yang dilakukannya. Tapi perlulah kita saling mengingatkan agar kita tidak menjadi golongan yang melampaui batas. Larangan Allah dianggap penjara dan merasa merdeka dengan pemikiran-pemikiran yang tak tentu arahnya.

Adapun kebebasan berpendapat, ini pun diatur dalam Islam. Tidak ada paksaan dalam Islam, setiap orang diberi kebebasan meyakini atau mengingkari. Tetapi Islam memberi batasan dan pedoman bagi yang beriman dan berpegang teguh pada aqidah yang lurus, memberi peringatan bagi yang lalai dan ancaman bagi yang mengingkarinya, serta tidak membenci orang-orang yang berbuat zalim terhadap umat Islam. Seorang muslimah dituntut untuk menunaikan kewajiban dan akan mendapatkan hak-haknya, tanpa terkecuali dalam mengemukakan pendapat.

Pada suatu ketika, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu sedang berkhutbah. Dia berkata, “Ingatlah! Janganlah kalian berlebihan dalam memberi mahar kepada wanita”. Kemudian salah seorang wanita berdiri dan berkata, “Wahai Umar! Allah telah memberikannya kepada kami dan kau mengharamkannya? Bukankah Allah telah berfirman, “….Sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak maka janganlah kamu mengambil kempadi daripadanya barang sedikit pun” (QS. An Nisa’ :20). Umar lantas berkata, “Wanita ini benar dan Umar salah” (Ali bin Sa’id bin Ali Al Ghamidi, Daliilul Mar’atil Muslimah, hal. 177)

Jika pun berbeda  pendapat dan pemahaman terhadap sesuatu hal, itu tidak dilarang selama masih diiringi sikap saling menghormati dan menghargai. Namun, sebagai seorang muslimah harus tetap berhati-hati agar pendapat yang disampaikan tidak menyulut permusuhan, tidak mengundang pertikaian, dan sebaiknya disampaikan dengan ilmu bukan sebatas luapan emosi karena merasa pendapatnya diabaikan.

Dan di antara manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab yang memberi penerangan. Sambil memalingkan lambungnya (dengan congkak) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Dia mendapat kehinaan di dunia, dan pada hari kiamat Kami berikan kepadanya rasa azab neraka yang membakar. (Akan dikatakan kepadanya), “Itu karena perbuatan yang dilakukan dahulu olehmu dan Allah sekali-kali tidak menzalimi hamba-Nya” (QS. Al Hajj : 8-10)

Secara khusus, Dr. Ali Al Ghamidi dalam bukunya memberikan sebuah pesan agar kaum muslimah mempelajari berbagai cabang ilmu dengan tetap memperhatikan kesesuaian antara kemampuan dan kondisi perempuan. Maka perempuan pun bisa tetap menjadi seorang ahli di berbagai bidang yang memang memberi kemaslahatan khusus bagi kaum perempuan.

Kepemilikan. Istri Abdullah bin Mas’ud, Zainab, ikut suaminya bekerja di tempat pemintalan benang karena ingin mengeluarkan zakat maal dan menyambung silaturahim kepada suami dan yatim yang diasuh olehnya. Zainab memiliki pekerjaan, penghasilan dan menyalurkannya sebagai zakat. Ini adalah contoh hak kepemilikan wanita yang bisa diteladani. Ketika seorang muslimah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, sejatinya itu memang menjadi milik ia sepenuhnya. Dan bernilai ibadah jika disedekahkan atau disalurkan sebagai zakat. Inilah yang sepatutnya juga dilakukan muslimah hari ini, jadi ketika memiliki penghasilan, bukan untuk dihamburkan apalagi untuk menyaingi penghasilan yang dimiliki suami. Kaum feminis mengkampanyekan isu kepemilikan dari aturan Islam tentang hukum waris. Perempuan dianggap terbelakang karena hanya mendapat sedikit bagian. Padahal, jika mau dicermati lebih dalam, hak waris lebih besar diberikan kepada laki-laki karena laki-laki memiliki tanggungan. Tidak seperti muslimah, karena muslimah berada dalam tanggungan. Jika masih gadis dan ada ayah, maka muslimah menjadi tanggungan ayahnya. Jika ayahnya sudah tidak ada, maka saudara laki-laki mukallaf yang bertanggung jawab terhadapnya. Jika sudah menikah, maka muslimah menjadi tanggungan suaminya. Seperti itulah, sehingga tidak ada pembelaan untuk membenarkan kepemilikan perempuan disamaratakan dengan kepemilikan laki-laki. Dalam Islam, muslimah diberi hak penuh atas penghasilan yang ia dapat dari pekerjaan atau usaha yang ditekuni, diberi hak penuh atas warisan yang didapatkan, diberi hak penuh untuk mengatur harta yang dimilikinya tanpa kewajiban menanggung orang lain seperti laki-laki. Maka, sudah sepatutnya muslimah menerima dengan lapang tanpa menuntut hak kepemilikan agar disetarakan dengan kaum adam.

Terakhir tapi bukan paling akhir, kedudukan muslimah dalam pernikahan. Adakah perempuan dirugikan dan menjadi objek kekerasan? Itu oknum, bukan Islam. Islam itu sempurna, tapi penganutnya tidak. Ungkapan itulah yang kemudian seperti menjadi kalimat penutup untuk membungkam dan mengakhiri perselisihan dengan kaum liberal. Perempuan dalam pernikahan memiliki kedudukan yang istimewa. Mereka menjadi tanggungan suami, mereka tidak diberi kewajiban memberi nafkah, bahkan bisa masuk surga dari pintu manapun seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam,  

“إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.

“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).

Tentunya, taat dalam kebaikan karena tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan. Setelah menikah, perempuan punya istana yaitu rumahnya. Setiap suami dan istri yang memahami kewajiban masing-masing, insyaallah akan Allah jaga pernikahannya dalam kebaikan yang berlipat ganda. Maka hak-hak di antara keduanya otomatis terpenuhi tanpa ada pihak-pihak yang dizalimi. Kaum feminis seakan tidak kenal bosan untuk membuat perempuan kebingungan akan identitas yang sesuai dengan fitrahnya. Maka sebagai seorang muslimah, kita pun punya kesempatan untuk memberi edukasi bahwa menjadi muslimah yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya sudah lebih dari cukup istimewa sehingga tidak perlu lagi menuntut apapun dari orang lain.

Hak dan kewajiban seorang muslimah sudah diatur sedemikian rapi dan penuh kasih sayang dalam Islam, maka seyogyanya kita pun mematuhi aturan itu dengan ketulusan, dengan kerelaan sebagai tanda iman. Mereka yang memusuhi Islam, baik secara sembunyi maupun terang-terangan, jadikan pemicu semangat beriman dan meningkatkan ketakwaaan agar kita tak ikut pemikiran yang menyesatkan. Jika mereka punya jutaan cara untuk menimbulkan kekacauan dan kebingungan, kita cukup berpegang teguh pada nilai-nilai kebaikan dalam Al Qur’an. Semoga Allah menjaga kita selalu dalam sebaik-baik penjagaan, dalam balutan iman, dalam keteguhan hati berislam. Baarokallahufiikum.

Hajiah M. Muhammad

Depok, 5 Maret 2018

Tersambar Petir

“Kamu belum layak mengaku telah berjuang mengejar impian jika kau belum berjuang bangun di sepertiga malam. Bermunajat dalam pengharapan yang dalam. Mengiba, meminta kekuatan dari Pemilik alam raya. Memohon kucuran berkah dan keridhoan dari Dzat Maha Kuasa atas segalanya”

Waktu pagi beberapa hari yang lalu. Merenungi kalimat petir yang menyambar meski hujan tak memberikan kabar. Petir yang menggelegar, membangunkan keterpurukan, membangkitkan kelesuan perjuangan. Kalimat dari siapa itu? Dari seorang fakir yang dhoif, Hajiah. Loh kok bisa? Iya bisa. Kamu pun bisa menyemangati diri sendiri. Kenapa? Karena ketika kita kembali kepada Allah, menyerahkan segala keluh kesah kepada-Nya, insyaallah tanpa dicari, tanpa dikejar. Semangat itu begitu menyulutkan api semangat berkobar. Percayalah, yakinilah. Sebab, jika dengan Allah saja kita tak yakin, bagaimana mungkin bisa menaruh kepercayaan kepada selain Allah? Lemah tanpa daya selain dari-Nya.

Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. (HR. Muslim)

Hajiah M. Muhammad

Depok, 26 Januari 2018

Pelipur Lara

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman [QS. Yunus (10):57]

Membuka tulisan sederhana dengan ayat pelipur lara. Sebaik-baik bacaan, sebaik-baik teman perjalanan, ialah Al Qur’an. Sejujurnya, saya sangat malu menuliskannya disini, tapi semoga rahmat dan ampunan Allah terlimpah kepada saya.

Saya bersaksi bahwa Al Qur’an adalah penawar segala penyakit yang bersarang dalam hati. Segala sakit yang muncul karena ulah tangan perbuatan manusia itu sendiri. Dalam hati-hati yang lalai, dalam hati-hati yang terluka karena kezaliman yang dilakukan oleh orang itu sendiri.

Maka ketika ada yang mengeluhkan kehidupannya, saya tekankan agar lebih dulu mendekatkan diri kembali pada Allah. Tilawah, tadabbur sedalam-dalam penghayatan. Sampai hati merasa kembali tenang. Jika sudah tilawah dan tadabbur tapi masih merasa kesakitan, artinya kita belum sepenuhnya berniat mengobati luka dalam hati. Ada ketentraman yang begitu menyejukan, ada kebahagiaan yang begitu meneduhkan ketika kita memaknai ayat-ayat dengan ketulusan, dengan ketunduk-patuhan kepada Ar Rahman. Seakan dibelai, dipeluk erat hingga kita merasa begitu dekat meski mata tak mampu melihat Dzat Yang Maha Melihat.

Masyaallah, semoga kecintaan kepada qur’an, interaksi kita dengan huruf-hurufnya menjadikan syafaat dari qur’an kelak didapatkan. Allahummarhamna bil qur’an. 

Mematahkan Logika

Bagaimana mungkin muslimah yang dijaga dan sangat dilindungi dalam Islam dengan sengaja menjatuhkan kehormatannya? Hari ini, kita hidup di zaman yang serba canggih dengan teknologi dan beragam perangkat yang memudahkan kegiatan manusia. Hanya saja, pemikiran yang tak diimbangi dengan penghayatan nilai-nilai keislaman seperti kuda pacuan yang lepas dari ikatan. Berlari sesuka hati, menjadi lepas kendali. Pun demikian dengan manusia yang telah Allah karuniakan akal. Tapi tidak untuk menentang Allah dan Rasul-Nya, bukan juga untuk membuat ragu orang banyak agar mengikuti kesesatan pikiran mereka. Siapa yang hendak kita diskusikan?

Saya tidak tahu persis apa sebutan dan gelar yang layak untuk orang yang meragukan kemuliaan Al-Qur’an dan mengkampanyekan bahwa Al-Qur’an tidak lagi seperti pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang masih murni dan suci. Al-Qur’an perlu direvisi, ditinjau ulang kebenaran dan keabsahannya. Padahal, Al-Qur’an bukanlah naskah buku yang akan diterbitkan kemudian diedit ulang, bukan pula skripsi mahasiswa yang berulang kali revisi sebelum akhirnya dibukukan. Bukan. Jelas Al-Qur’an terjaga dari dulu hingga nanti. Allah yang menjamin, adakah jaminan yang lebih menjaga selain jaminan dari Allah?

Orang yang meragukan atau bahkan memperolok ayat-ayat Allah sudah ada sejak masa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Maka tidak heran jika dewasa ini kita dapati orang-orang seperti itu. “Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang senantiasa mereka perolok-olokkan”. [QS. Al-Mukmin (40):83]. Ayat yang sedemikian tegas yang Allah sampaikan akan sulit diterima oleh mereka yang hatinya tertutup, mereka yang hatinya gelap dan sulit menemukan cahaya kebaikan yang Allah sampaikan dalam firman-firman-Nya.

“Dan tidak mungkin  Al-Qur’an ini dibuat-buat oleh selain Allah; tetapi (Al-Qur’an) membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya. Tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Rabb semesta alam” [QS. Yunus (10):37]. Tidak ada keraguan di dalam Al-Qur’an, tidak sama sekali. Tapi mereka, meniupkan pikiran-pikiran jahiliyah agar umat kebingungan dan mengikuti apa yang mereka sebarkan baik lewat ucapan maupun tulisan. Ini yang kemudian menjadi renungan bagi kita yang mengaku beriman dan punya keberanian untuk menyatakan bahwa yang haq adalah haq dan bathil adalah bathil. Dr. Yusuf Al Qardhawi dalam Totalitas Islam yang dikutip oleh Solikhin Abu Izzudin dalam Tarbiyah Dzatiyah menyebutkan diantara keutamaan menuntut ilmu bagi orang beriman adalah sebagai sarana untuk membedakan antara yang haq dan bathil. Maka tidak cukup bagi seseorang berilmu tanpa didasari keimanan. Apalagi jika kita merujuk pada bagaimana akhlak seorang muslim ketika menuntut ilmu adalah juga diawali dengan adab sehingga ilmu yang didapat menjadi cahaya, menjadikan pemiliknya semakin dekat dengan Allah. Bukan sebaliknya, karena sering dijumpai orang berilmu yang tak beradab, mereka menjadikan ilmu sebagai senjata untuk merusak Islam dari dalam. Dan tidak menyadari sindiran Allah tentang mereka di dalam Al-Qur’an.

“Orang-orang munafik itu takut jika diturunkan suatu surah yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah (kepada mereka), “Teruskanlah berolok-olok (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan  mengungkapkan apa yang kamu takutkan itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah, “Mengapa kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena bertaubat), niscaya Kami akan mengazab sebagian golongan yang lain, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa”. {QS. At-Taubah (9):64-66].

Mengapa kita perlu mematahkan logika orang-orang yang demikian Allah sebut sebagai golongan munafik? Karena kita punya amanah besar untuk menjaga risalah Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam tetap lurus, tidak tergerus perkembangan zaman. Muhammad bin Hasan Aqil Musa Syarif -dalam karyanya Shaleh Tapi Tak Berdaya Guna-, mengatakan bahwa diantara kemunduran peradaban Islam hari ini karena orang-orang sholeh dan dan cerdas berdiam diri. Asyik dengan kesibukannya dan membiarkan umat terombang-ambing keyakinannya terhadap ayat-ayat Allah yang dipermainkan kaum munafik dan kafir. Ketidakberdayaan, Muhammad bin Hasan menyebutkannya, bukan hanya kelemahan daya juang orang sholeh nan cerdas, tapi karena mereka tidak mengoptimalkan potensi yang dimiliki untuk kemaslahatan umat. Sehingga musuh-musuh Islam bisa dengan mudah menyerang pemikiran umat dari berbagai aspek kehidupan.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mematahkan logika kaum munafik? Pertama, meningkatkan kapasitas keilmuan dan keimanan agar memiliki senjata untuk melawan jika memang harus berperang. Dan jangan salah, perang kita dengan mereka hari ini bukan lagi mengangkat pedang, karena anak-anak panah bisa kita lesatkan dari tulisan, dari karya-karya yang gemilang. Imam Nawawi rahimallahu ‘anhu, adalah contoh pemuda Islam yang memiliki senjata keilmuan sehingga ia mampu menghasilkan tulisan-tulisan yang hingga hari ini masih dapat kita baca dan pelajari. Tutup usia pada angka relatif muda yaitu sekitar 45 tahun (Fawatul-Wafiyat :4/264-268). Karnyanya menyebar ke segenap penjuru dunia dan membawa maslahat bagi umat. Kedua, menjaga diri dalam ketaatan dan menjauhkan dari kemaksiatan. Pemuda Islam pada masa-masa terdahulu begitu giat dan semangat memenuhi panggilan jihad. Berlomba-lomba ada di barisan terdepan membela agama Allah, menjaga kemuliaan Islam dan membuat musuh Islam lari ketakutan. Karena apa? Mereka dekat dengan Allah, menjaga hati dan jiwanya agar selalu memiliki kekuatan untuk melawan kaum kuffar. Mereka memiliki pertahanan yang kuat, tidak mudah dikalahkan. Pelindung yang mereka miliki adalah sebaik-baik Pelindung, Penjaga mereka adalah sebaik-baik Penjaga, Allah. Apakah kita telah meneladani mereka hari ini? Jika tidak, jangankan mematahkan logika kaum munafik, justru malah kita yang terbawa dan kalah oleh mereka.

Dan terakhir, hal yang bisa kita lakukan untuk melawan musuh-musuh Islam adalah tetap berpegang teguh pada agama Allah yang lurus, meneladani Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam di berbagai lini kehidupan. Selalu ingat bahwa Islam adalah sebaik-baik kapal yang bisa kita gunakan untuk berlayar mengarungi kehidupan dunia dan akhirat. Jangan kalah dengan bujuk rayu syetan berwujud manusia munafik kaum liberal. Mereka telah menggadaikan aqidahnya demi kesenangan dunia yang melenakan, menjual agama demi kenikmatan dunia yang tak berkekalan. Maka selisihilah mereka dengan iman yang kokoh, dengan takwa yang sebenar-benar takwa, tidak ada keraguan sedikitpun agar segala yang ada dalam diri kita dapat dipersembahkan kepada Allah untuk memeluk Islam hingga ajal menjelang.

Hajiah M. Muhammad

Depok, 12 Januari 2018

 

Golongan Manusia Mengendalikan Nafsu

Dalam buku Apa Komitmen Saya Terhadap Islam, Fathi Yakan memaparkan bagaimana kita dapat mengalahkan hawa nafsu. Manusia di golongkan dalam 3 golongan.

Pertama, golongan yang maksum, terjaga dari godaan syetan sampai iblis dan sekutunya kehabisan akal untuk melemahkan keimanan golongan pertama ini.

Kedua, golongan yang menuruti hawa nafsu dengan kerelaan dan kesadaran diri. Mereka ini memudahkan syetan karena tanpa digoda dan dibujuk rayu oleh syetan, manusia kelompok kedua ini sudah lalai dan menikmati kesesatan serta kemaksiatan yang dilakukan karena menuruti nafsunya.

Dan ketiga, yaitu mereka yang ada dalam golongan manusia yang masih tergoda rayuan syetan tapi bersegera memohon ampunan. Mereka sadar melakukan kesalahan dan terpeleset dalam kemaksiatan sehingga tidak berlama dalam menuju ampunan Allah. Mereka menyadari bahwa keimanan masih lemah, masih sering melalaikan perintah Allah dan kadang terbawa nafsu bermaksiat kepada Allah. Namun mereka pun menyadari larut dalam kemaksiatan dan kesenangan dunia hanya fatamorgana sehingga mereka seketika mohon ampunan kepada Allah.

 

Dari ketiga golongan tersebut di atas, keberhasilan mengendalikan nafsu disebabkan oleh dua hal yaitu hati dan akal yang telah Allah titipkan pada setiap manusia. Orang yang hatinya jernih, bersih karena ketaatannya kepada Allah akan mampu membedakan antara yang haq dan bathil. Mampu membedakan antara yang halal dan haram sehingga mereka mampu mengendalikan nafsunya. Hati yang ada dalam dada dijadikan penglihatan sebab pandangan mata seringkali melenakan dan melalaikan. Selain hati, ada akal yang dapat digunakan untuk mengendalikan nafsu. Namun, perlu ditekankan bahwa dalam perkara iman, hati lebih diutamakan bukan akal. Sebab akal seringkali membuat manusia kehilangan kesadaran bahwa kemampuannya berpikir semata karunia dari Allah. Sayangnya, justru akal digunakan untuk mematahkan perintah Allah, akal digunakan untuk memenangkan nafsu daripada keimanan. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya, bukanlah mata itu yang buta. Yang buta adalah hati dalam dada (QS. Al Hajj ayat 46). Mari tanyakan pada hati, ada di golongan manusia yang manakah?
Wallahu a’lam.
Depok, 26 November 2017

Hari Ini dan Kemudian Hari

Jadilah pemuda Islam yang ketika orang lain melihatmu, mereka melihat betapa indahnya Islam”. Kutipan di stiker yang tertempel pada lemari seorang kawan di kosannya itu masih sangat lekat hingga hari ini. Pesannya yang begitu dalam meski rangkaian kalimatnya tak terlalu panjang, membuat saya sudah berulang kali menyampaikannya kepada orang lain. Pun di ruang maya, mungkin ada yang pernah membaca kalimat tersebut di atas? Saya tak ingat siapa nama yang tertulis di stiker itu karena memang tak ada nama penulisnya. Siapapun yang mengungkapkan itu, semoga menjadi amal jariyah yang memberatkan amalan kebaikan di yaumul akhir nanti.

Sebelum lebih jauh, saya ingin kita menyepakati satu hal bahwa di antara identitas keislaman seseorang dapat dikenali dari akhlaknya, ya akhlak. Jika pakaian yang digunakan sebagai penutup aurat dikatakan sebagai identitas keislaman, maka akhlak pun menjadi tak kalah penting dan genting untuk kita kenakan. Maka izinkan saya membuat perumpamaan jika akhlak itu selayaknya keharusan menutup aurat. Hanya yang membedakan, keharusan membentuk akhlak itu tidak terbatas pada laki-laki dan perempuan karena semua mesti memiliki akhlak yang mantap sebagai seorang muslim.

Akhlak adalah buah dari keimanan, seperti yang disampaikan Fathi Yakan dalam bukunya “Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam?”. Seperti juga yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sabdakan, “Iman bukanlah angan-angan kosong, tetapi sesuatu yang terpatri dalam hati dan dibuktikan oleh perbuatan” (HR. Ad Dailami dalam kitab Musnad). Maka akhlak merupakan implementasi dari ibadah yang kita tunaikan sebagai abdi Allah, bukan sebatas ritual keagamaan yang kemudian tak berbekas, menghilang.

Ada beberapa sifat penting yang perlu dimiliki sebagai seorang yang mengaku beriman agar memiliki akhlak yang mulia, adalah sebagai berikut:

  1. Menjauhi perkara-perkara yang syubhat. Syubhat dapat diartikan sebagai sesuatu yang belum jelas halal atau haramnya, samar. Padahal dalam Islam, tentang halal dan haram dengan terang dan jelas dipaparkan. “Barang siapa yang menjauhi syubhat, maka dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa yang terjerumus dalam syubhat, maka dia telah menjerumuskan dirinya dalam keharaman” (HR. Muttafaq ‘Alayh)
  2. Menjaga Pandangan. Menjaga pandangan dari segala hal yang mendekati pada kemaksiatan, menjaga pandangan dari segala hal yang melalaikan. Dalam sabdanya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menyampaikan bahwa pandangan adalah salah satu anak panah iblis. Maka jika kita mengaku beriman dan meneladani sang Nabi, sudah semestinya kita menjaga pandangan dari hal-hal yang melenakan, dari hal-hal yang membawa kita pada kemaksiatan
  3. Menjaga Ucapan. Iman An Nawawi berkata, “Ketahuilah, setiap orang yang sudah mencapai derajat mukallaf (diwajibkan melaksanakan ibadah-ibadah), harus menjaga lisannya dari segala bentuk ucapan, kecuali ucapan yang cenderung membawa maslahat (kebaikan). Tetapi, jika dampak ucapan itu seimbang antara maslahat dan mudhorot, maka seharusnya ditinggalkan karena ucapan yang mubah biasanya bisa mendorong kepada perkara yang makruh dan haram” 
  4. Malu. “….Rasa malu juga termasuk salah satu cabang iman” (Muttafaq ‘Alayh). Sebagian ulama mendeskripsikan rasa malu dengan ungkapan berikut, “Hakikat malu adalah pembawaan yang mendorong manusia agar meninggalkan segala sesuatu yang buruk dan mencegahnya dari mengabaikan hak orang lain”.
  5. Jujur. Jika diibaratkan barang antik, dewasa ini kejujuran seperti itu. Sudah langka. Kejujuran bukan hanya terhadap orang lain, bukan hanya kepada sesama manusia, melainkan juga kepada Allah ta’ala. Berlaku jujur kepada Allah adalah dengan mempertanggungjawabkan perkataan yang telah diucapkan. Sebagai contoh, kita mengaku hanya berharap kepada Allah, menjadikannya sebagai satu-satunya sandaran. Tapi ketika kita diuji, ketika ditimpa kesulitan, Allah diabaikan dan lebih mendekati makhluk yang lemah. Maka apa arti ucapan jika tidak dibuktikan dengan kesungguhan iman?
  6. Rendah Hati (Tawadhu’). Cukuplah menjadi nasehat bagi kita untuk senantiasa merendahkan hati, menyadari bahwa sepenuhnya tiada daya dan upaya melainkan karena Allah. Maka kita yang lemah tak berdaya ini tak pantas berbangga sebab menghindarkan diri dari kesombongan telah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tegaskan, “Tidak akan masuk surga orang yang pada hatinya tersimpan kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah” (HR. Muslim).
  7. Menghindarkan Prasangka Buruk, Ghibah, dan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain. Dalam surat Al ‘Ashr ayat 3, Allah mengabarkan kepada kita di antara orang-orang yang beruntung adalah mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Maka jika dalam hati dan pikiran kita mendapati keburukan yang ada pada orang lain, bicarakan kepadanya untuk menghindari prasangka, sampaikan kepadanya agar lisan kita terjaga dari ghibah (membicarakan keburukan orang lain). Apalagi, sampai disibukan mencari kesalahan orang lain, na’udzubillahimindzalik. 
  8. Menjadi Teladan Bagi Orang Lain. Saya percaya, setiap kita menyadari betul bahwa teladan terbaik ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam seperti yang telah Allah firmankan dalam surat Al Ahzab ayat 21. Tapi kita pun bisa menjadi teladan bagi yang lain meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa kekurangan dan kesalahan masih kerap kita lakukan. Teladan adalah perintah terbaik, begitu yang pernah disampaikan seseorang dalam tulisannya. Dan saya menyepakatinya. Dengan memberikan teladan, artinya kita mengajak orang lain tanpa kata, tanpa suara dan lebih memungkinkan untuk ditiru dan diikuti. Maka, memiliki akhlak yang mulia adalah juga bagian dari dakwah, mengajak dan menyeru orang lain pada kebaikan. Minimal, di lingkungan rumah sendiri, di lingkungan tempat tinggal, di tempat menuntut ilmu, di tempat bekerja, adalah lahan dakwah menjadi teladan bagi orang sekitar. Dan semoga, Allah baguskan akhlak kita sebagaimana Allah membaguskan penciptaan kita.

Itulah di antara sifat penting yang perlu kita miliki agar membentuk akhlak yang mulia sebagai komitmen sebagai seorang muslim, sebagai pertanggungjawaban sebagai seorang yang mengaku beriman. Kita berharap, akhlak-akhlak ini menjadi penghias hati dan diri untuk menghadap Allah kelak, sehingga kita layak memenuhi panggilan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dalam keadaan penuh kesyukuran, ummati …. ummati… ummati.

Wallahu a’lam.

Hajiah M. Muhammad.

Depok, 20 November 2017