Golongan Manusia Mengendalikan Nafsu

Dalam buku Apa Komitmen Saya Terhadap Islam, Fathi Yakan memaparkan bagaimana kita dapat mengalahkan hawa nafsu. Manusia di golongkan dalam 3 golongan.

Pertama, golongan yang maksum, terjaga dari godaan syetan sampai iblis dan sekutunya kehabisan akal untuk melemahkan keimanan golongan pertama ini.

Kedua, golongan yang menuruti hawa nafsu dengan kerelaan dan kesadaran diri. Mereka ini memudahkan syetan karena tanpa digoda dan dibujuk rayu oleh syetan, manusia kelompok kedua ini sudah lalai dan menikmati kesesatan serta kemaksiatan yang dilakukan karena menuruti nafsunya.

Dan ketiga, yaitu mereka yang ada dalam golongan manusia yang masih tergoda rayuan syetan tapi bersegera memohon ampunan. Mereka sadar melakukan kesalahan dan terpeleset dalam kemaksiatan sehingga tidak berlama dalam menuju ampunan Allah. Mereka menyadari bahwa keimanan masih lemah, masih sering melalaikan perintah Allah dan kadang terbawa nafsu bermaksiat kepada Allah. Namun mereka pun menyadari larut dalam kemaksiatan dan kesenangan dunia hanya fatamorgana sehingga mereka seketika mohon ampunan kepada Allah.

 

Dari ketiga golongan tersebut di atas, keberhasilan mengendalikan nafsu disebabkan oleh dua hal yaitu hati dan akal yang telah Allah titipkan pada setiap manusia. Orang yang hatinya jernih, bersih karena ketaatannya kepada Allah akan mampu membedakan antara yang haq dan bathil. Mampu membedakan antara yang halal dan haram sehingga mereka mampu mengendalikan nafsunya. Hati yang ada dalam dada dijadikan penglihatan sebab pandangan mata seringkali melenakan dan melalaikan. Selain hati, ada akal yang dapat digunakan untuk mengendalikan nafsu. Namun, perlu ditekankan bahwa dalam perkara iman, hati lebih diutamakan bukan akal. Sebab akal seringkali membuat manusia kehilangan kesadaran bahwa kemampuannya berpikir semata karunia dari Allah. Sayangnya, justru akal digunakan untuk mematahkan perintah Allah, akal digunakan untuk memenangkan nafsu daripada keimanan. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya, bukanlah mata itu yang buta. Yang buta adalah hati dalam dada (QS. Al Hajj ayat 46). Mari tanyakan pada hati, ada di golongan manusia yang manakah?
Wallahu a’lam.
Depok, 26 November 2017

Advertisements

Hari Ini dan Kemudian Hari

Jadilah pemuda Islam yang ketika orang lain melihatmu, mereka melihat betapa indahnya Islam”. Kutipan di stiker yang tertempel pada lemari seorang kawan di kosannya itu masih sangat lekat hingga hari ini. Pesannya yang begitu dalam meski rangkaian kalimatnya tak terlalu panjang, membuat saya sudah berulang kali menyampaikannya kepada orang lain. Pun di ruang maya, mungkin ada yang pernah membaca kalimat tersebut di atas? Saya tak ingat siapa nama yang tertulis di stiker itu karena memang tak ada nama penulisnya. Siapapun yang mengungkapkan itu, semoga menjadi amal jariyah yang memberatkan amalan kebaikan di yaumul akhir nanti.

Sebelum lebih jauh, saya ingin kita menyepakati satu hal bahwa di antara identitas keislaman seseorang dapat dikenali dari akhlaknya, ya akhlak. Jika pakaian yang digunakan sebagai penutup aurat dikatakan sebagai identitas keislaman, maka akhlak pun menjadi tak kalah penting dan genting untuk kita kenakan. Maka izinkan saya membuat perumpamaan jika akhlak itu selayaknya keharusan menutup aurat. Hanya yang membedakan, keharusan membentuk akhlak itu tidak terbatas pada laki-laki dan perempuan karena semua mesti memiliki akhlak yang mantap sebagai seorang muslim.

Akhlak adalah buah dari keimanan, seperti yang disampaikan Fathi Yakan dalam bukunya “Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam?”. Seperti juga yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sabdakan, “Iman bukanlah angan-angan kosong, tetapi sesuatu yang terpatri dalam hati dan dibuktikan oleh perbuatan” (HR. Ad Dailami dalam kitab Musnad). Maka akhlak merupakan implementasi dari ibadah yang kita tunaikan sebagai abdi Allah, bukan sebatas ritual keagamaan yang kemudian tak berbekas, menghilang.

Ada beberapa sifat penting yang perlu dimiliki sebagai seorang yang mengaku beriman agar memiliki akhlak yang mulia, adalah sebagai berikut:

  1. Menjauhi perkara-perkara yang syubhat. Syubhat dapat diartikan sebagai sesuatu yang belum jelas halal atau haramnya, samar. Padahal dalam Islam, tentang halal dan haram dengan terang dan jelas dipaparkan. “Barang siapa yang menjauhi syubhat, maka dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa yang terjerumus dalam syubhat, maka dia telah menjerumuskan dirinya dalam keharaman” (HR. Muttafaq ‘Alayh)
  2. Menjaga Pandangan. Menjaga pandangan dari segala hal yang mendekati pada kemaksiatan, menjaga pandangan dari segala hal yang melalaikan. Dalam sabdanya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menyampaikan bahwa pandangan adalah salah satu anak panah iblis. Maka jika kita mengaku beriman dan meneladani sang Nabi, sudah semestinya kita menjaga pandangan dari hal-hal yang melenakan, dari hal-hal yang membawa kita pada kemaksiatan
  3. Menjaga Ucapan. Iman An Nawawi berkata, “Ketahuilah, setiap orang yang sudah mencapai derajat mukallaf (diwajibkan melaksanakan ibadah-ibadah), harus menjaga lisannya dari segala bentuk ucapan, kecuali ucapan yang cenderung membawa maslahat (kebaikan). Tetapi, jika dampak ucapan itu seimbang antara maslahat dan mudhorot, maka seharusnya ditinggalkan karena ucapan yang mubah biasanya bisa mendorong kepada perkara yang makruh dan haram” 
  4. Malu. “….Rasa malu juga termasuk salah satu cabang iman” (Muttafaq ‘Alayh). Sebagian ulama mendeskripsikan rasa malu dengan ungkapan berikut, “Hakikat malu adalah pembawaan yang mendorong manusia agar meninggalkan segala sesuatu yang buruk dan mencegahnya dari mengabaikan hak orang lain”.
  5. Jujur. Jika diibaratkan barang antik, dewasa ini kejujuran seperti itu. Sudah langka. Kejujuran bukan hanya terhadap orang lain, bukan hanya kepada sesama manusia, melainkan juga kepada Allah ta’ala. Berlaku jujur kepada Allah adalah dengan mempertanggungjawabkan perkataan yang telah diucapkan. Sebagai contoh, kita mengaku hanya berharap kepada Allah, menjadikannya sebagai satu-satunya sandaran. Tapi ketika kita diuji, ketika ditimpa kesulitan, Allah diabaikan dan lebih mendekati makhluk yang lemah. Maka apa arti ucapan jika tidak dibuktikan dengan kesungguhan iman?
  6. Rendah Hati (Tawadhu’). Cukuplah menjadi nasehat bagi kita untuk senantiasa merendahkan hati, menyadari bahwa sepenuhnya tiada daya dan upaya melainkan karena Allah. Maka kita yang lemah tak berdaya ini tak pantas berbangga sebab menghindarkan diri dari kesombongan telah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tegaskan, “Tidak akan masuk surga orang yang pada hatinya tersimpan kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah” (HR. Muslim).
  7. Menghindarkan Prasangka Buruk, Ghibah, dan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain. Dalam surat Al ‘Ashr ayat 3, Allah mengabarkan kepada kita di antara orang-orang yang beruntung adalah mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Maka jika dalam hati dan pikiran kita mendapati keburukan yang ada pada orang lain, bicarakan kepadanya untuk menghindari prasangka, sampaikan kepadanya agar lisan kita terjaga dari ghibah (membicarakan keburukan orang lain). Apalagi, sampai disibukan mencari kesalahan orang lain, na’udzubillahimindzalik. 
  8. Menjadi Teladan Bagi Orang Lain. Saya percaya, setiap kita menyadari betul bahwa teladan terbaik ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam seperti yang telah Allah firmankan dalam surat Al Ahzab ayat 21. Tapi kita pun bisa menjadi teladan bagi yang lain meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa kekurangan dan kesalahan masih kerap kita lakukan. Teladan adalah perintah terbaik, begitu yang pernah disampaikan seseorang dalam tulisannya. Dan saya menyepakatinya. Dengan memberikan teladan, artinya kita mengajak orang lain tanpa kata, tanpa suara dan lebih memungkinkan untuk ditiru dan diikuti. Maka, memiliki akhlak yang mulia adalah juga bagian dari dakwah, mengajak dan menyeru orang lain pada kebaikan. Minimal, di lingkungan rumah sendiri, di lingkungan tempat tinggal, di tempat menuntut ilmu, di tempat bekerja, adalah lahan dakwah menjadi teladan bagi orang sekitar. Dan semoga, Allah baguskan akhlak kita sebagaimana Allah membaguskan penciptaan kita.

Itulah di antara sifat penting yang perlu kita miliki agar membentuk akhlak yang mulia sebagai komitmen sebagai seorang muslim, sebagai pertanggungjawaban sebagai seorang yang mengaku beriman. Kita berharap, akhlak-akhlak ini menjadi penghias hati dan diri untuk menghadap Allah kelak, sehingga kita layak memenuhi panggilan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dalam keadaan penuh kesyukuran, ummati …. ummati… ummati.

Wallahu a’lam.

Hajiah M. Muhammad.

Depok, 20 November 2017

Sisi Lain

Berterima kasih kepada mereka yang membencimu, karena tanpa diminta, mereka begitu semangat menyampaikan keburukan yang ada dalam dirimu. Tidak semua orang mau melakukan itu sekalipun orang yang menyayangimu. Tapi sesungguhnya, ketika seseorang menyayangi yang lain, maka hanya kebaikan yang diharapkan ada pada masing-masing orang. Seperti halnya ketika kita menyayangi seseorang maka kita tentu berharap dapat menjadikannya lebih baik bersama, bukan saling menyalahkan apalagi saling menjatuhkan.

Yang menarik dari mereka yang membenci diri kita adalah karena besarnya perhatian mereka. Meluangkan waktu, pikiran, tenaga bahkan tak jarang menghabiskan uang untuk meluapkan kebenciannya. Mulai dari keburukan yang memang benar ada dalam diri, hingga keburukan yang kita sendiri tak menyadari jika memilikinya. Lucu tapi layak direnungkan. Boleh jadi, ungkapan kebencian mereka itu adalah cara lain menyayangi dan memberikan kasih sayangnya.

Sangat disayangkan jika kita adalah mereka yang membenci itu. Hari-hari disibukan mencari cela orang lain, sedangkan cela dalam diri yang nyaris busuk tak ditengok sama sekali. Sangat disayangkan jika kita adalah mereka yang membenci itu. Waktu yang dilalui habis percuma karena diisi dengan hati yang cemas lagi gundah. Sangat disayangkan jika kita adalah mereka yang membenci itu. Tenaga terkuras, hati mengeras. Sedangkan orang yang dibenci tak menoleh meski hanya sekilas. Sekalipun ada kebencian dalam diri terhadap orang lain, jangan sampai membutakan mata hati. Jangan sampai hati terkotori.

Dengki adalah bagian dari penyakit hati dari mereka yang membenci. Aib orang lain ditelusuri, aib sendiri tak peduli. Padahal, hanya ada dua kedengkian yang diperbolehkan seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam sabdakan.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.”

Dalam hadits lain, dari Abu Salim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Tidak boleh dengki kecuali kepada dua hal yaitu (pertama) kepada seorang yang telaj diberi Allah hapalan al qur’an sehingga ia membacanya siang dan malam; kedua, kepada seorang yang dikaruniai Allah harta kekayaan lalu membelanjakan harta tersebut siang dan malam (di jalan Allah)” (HR. Bukhari No. 6975 dan Muslim No. 1350)

al haqqu min rabbik fala takuunanna minal mumtariin. 

Hajiah M. Muhammad

Depok, 5 November 2017

 

Berkah Ramadhan (?)

“Masyaallah ya, banyak yang jualan lontong dan gorengan kalo Ramadhan gini. Tapi semua habis aja tuh”, selorohku pada ibu. “Itulah berkah Ramadhan ka. Rezeki Allah luas udah ditentuin ke setiap orang. Gak perlu saling sikut, berebut rezeki”, ibu menanggapi sambil tetap fokus pada sayuran di tangannya. Aku yang sependapat dengan itu kemudian memikirkan ulang di lain waktu. Apakah iya? Berkah Ramadhan untuk mereka yang baru membuka lapaknya di bulan mulia ini? Ah, mungkin perlu sejenak kita renungkan.

Berkah adalah kebaikan yang terus dan tetap bertambah meski jumlahnya tak melimpah. Itu setidaknya arti berkah untukku. Dan tentu keberkahan itu datangnya dari Allah. Pikiran melayang ketika para sahabat di sekitaran Masjid Quba pada masa Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, mereka bersegera meninggalkan dagangannya ketika terdengar azan. Nah, para penjajak lontong dan gorengan, serta kudapan lain khas Ramadhan itu justru sebaliknya. Mereka rela menunda seruan shalat ketika azan berkumandang demi melayani pembeli yang sudah mengular, mengantri. Lalu, dimana letak barokahnya?

Aku tidak mengatakan para pedagang itu jauh dari barokah, tidak, sama sekali tidak. Hanya menyayangkan jika mereka jadi lalai karena lapaknya. Bukankah Allah yang mendatangkan para pembeli itu? Bukankah Allah yang memberikan rezeki ke para pedagang itu? Justru seharusnya semakin taat, berterima kasih kepada Allah dengan menyambut panggilan sholat penuh suka cita, sesumringah ketika lapaknya kedatangan calon pembeli.

Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat). (Mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas. (QS. An Nuur (24) : 36-37)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, disebutkan bahwa ketika kaum muslimin sedang sibuk berdagang di pasar, pada saat itu mereka mendengar azan, mereka segera mendirikan shalat ke masjid. Maka dari itu, turunlah ayat ini (An Nuur ayat 36-38) sebagai pujian atas sikap mereka.

Itulah yang terkadang kita lupa, mengejar rezeki hanya berorientasi pada dunia dan mengesampingkan urusan akhirat. Seakan lupa bahwa segala kenikmatan yang dirasakan di dunia adalah karunia Allah, maka sudah sepatutnya kita mengingat-Nya, seraya memuji keagungan-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Barang siapa  mengucapkan subhanallah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya) sehari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni walaupun sebanyak buih di lautan” (HR. Bukhari No. 5926)

Assalamu’alaykum, ya ukhti

Assalamu’alaykum ya ukhti, saudariku yang dirahmati Allah. Semoga hari-harimu indah, penuh cita dan cinta. Semoga hatimu damai, penuh taat yang tersemai. Adik manis yang menawan akhlaknya, yang tertunduk pandangannya, semoga kau berkenan menerima ungkapan sayang dalam tulisan yang agak panjang. Ohya, sebelum jauh menyampaikan, perkenalkan aku adalah Hajiah.

Alhamdulillah sudah menikah, alhamdulillah lagi, menikah tanpa pacaran sebelumnya. Alhamdulillah ketika menikah usiaku menginjak angka 22 tahun, usia yang cukup matang bagi seorang perempuan untuk menyelesaikan studinya di bangku kuliah. Terlalu matang, mungkin. Keinginan menikah di usia yang relatif muda mulai terpikir ketika usiaku 18 tahun. Dan ketika itu aku dikenal sebagai pribadi yang galak, serius, selera humor rendah, dan label menyebalkan lainnya. Tahu kenapa? Karena aku selalu naik pitam ketika mendapati cerita teman yang pacaran, baik pacaran dengan jelas maupun sembunyi karena malu dengan aktivitasnya di kerohanian Islam.

Tahun 2007, aku diminta untuk menulis sebuah artikel. Artikel bebas sebenarnya, hanya sebagai stimulasi agar terbiasa menulis dan mempertanggungjawabkannya di sebuah event pelajar. Entah kenapa aku membuat tulisan tentang alasan kenapa gak pacaran. Tapi hari ini, aku takkan mengulangnya. Jika ingin membacanya bisa mampir ke tulisan saya di blog ini. Sebagian orang yang mengenalku sejak pertama kali hijrah mungkin pun masih ingat betapa garangnya seorang Hajiah. Tapi itu dulu, sebelum banyak belajar, sebelum banyak mendengar. Maka hari ini, perkenankan aku ungkapkan kecintaan padamu saudariku.

Saudariku yang dirahmati Allah, tahukah betapa berharganya dirimu? Dengan segala karunia Allah yang diberikan padamu, dengan segala penjagaan Allah terhadap makhluk-Nya yang wanita? Saudariku sayang, dirimu sungguh bernilai dengan ilmu dan keindahan akhlak yang jadi perhiasanmu. Maka jangan rusak itu dengan segores rasa kagum dan takjub pada seorang yang melenakanmu. Melenakanmu dalam bujuk rayu berbalut ilmu, dalam nasehat yang katanya untuk menjaga keistiqomahanmu. Saudariku sayang, sungguh ketika itu telah berlaku, bersegeralah basahi lisan dengan dzikirmu, dengan lantunan merdu tilawahmu. Atau hal paling ringan yang mungkin bisa segera dilakukan adalah basuh dengan air wudhu, semoga tergugur maksiat yang mulai mengganggu.

Saudariku yang kusayangi karena Allah, ketika bisik-bisik syetan terasa begitu menggelayut pada hati yang mulai terpaut, bersegeralah mohon ampun pada Allah yang menguasai qalbu. Jangan biarkan keterpautan itu bersemayam tanpa ikatan yang disyariatkan. Jangan biarkan keterpautan itu bertandang lebih lama lalu kau mati terbunuh perasaan sedangkan ijab qabul belum dilaksanakan.

Saudariku yang dirahmati Allah, ketika hati mulai tak tentu arah, jadi gelisah dan pikiran pun kacau menambah masalah. Bersegeralah mengingat betapa kasih sayang Allah jauh lebih menentramkan, menenangkan. Allah tanamkan cinta dalam hati kita untuk menambah pundi pahala dengan taat, bukan mencicil dosa dengan maksiat. Meski tak seorang pun melihat, ingatlah bahwa Allah maha menyaksikan, para malaikat pun tak pernah alpa membuat catatan. Maka biarkanlah berlalu jika ada seseorang tak halal yang memberi perhatian, abaikan segala kebaikannya, jangan sampai kau terbawa pesona hingga kau lupa dan semakin terlena.

Sungguh saudariku sayang, jerat-jerat syetan begitu halus mempermainkan hati manusia. Terlebih mereka yang jauh dari ketaatan terhadap Allah. Maka jika hati mulai goyah dan mudah bersandar kepada selain Allah, semoga kita termasuk orang-orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga segala yang dilakukan hanya yang Allah ridhoi, hanya yang Allah sukai.

Saudariku yang dirahmati Allah, menikah adalah ibadah. Memulai perjalanannya adalah separuh agama. Tidakkah kau ingin meneguk segarnya dengan jalan yang penuh barokah? Tentu bukan dengan bermesra dengan lawan jenis, bukan dengan saling melempar sapa dan doa kepada ia yang bukan pasangan halalmu. Maafkan aku harus sampaikan, jangan kau umbar cintamu yang suci itu kepada orang yang mengaku mencintaimu tapi tak menikahimu. Ia adalah pengecut, ia adalah pembual. Jemputlah kenikmatan dan karunia Allah dalam pernikahan dengan jalan yang disyariatkan, ataukah kau mau jodohmu Allah lempar penuh kemurkaan?

Mohon maafkan segala yang telah kutuliskan, semoga Allah berkahi setiap upaya penjagaan bagi mereka yang bersabar menuju jenjang pernikahan tanpa pacaran. Baarokallaahufiikum.

Depok, 19 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad

 

Adab, Ilmu dan Amal

Banyak orang berilmu tapi tak beradab, tak beramal. Ada yang beramal tanpa ilmu, pun tak beradab. Ada yang beradab, punya ilmu tapi tak beramal. Ada pula yang berilmu dan beramal tapi tak beradab. Kita ada di mana? Menyeimbangkan ketiganya dalam langkah menjadi keharusan. Maka akan tumbuh para ‘alim yang tawadhu, kata-katanya penuh nasehat, tindakannya penuh hikmah.

Sa’id Hawwa menuturkan bahwa selama seorang guru tidak menumbuhkan ketaatan, yang utuh dari murid, membiasakannya beribadah dan merealisasikan ketakwaan muridnya, maka sesungguhnya sang guru belum melakukan sesuatu. Titik awal hal tersebut terletak pada ihtirom (penghormatan) dan tsiqoh (kepercayaan) dari murid kepada gurunya. Maka dalam konsep tazkiyatun nafs yang disusun oleh Sa’id Hawwaa dari intisari Ihya’ Ulumuddin dibuka dengan kajian tentang adab murid dan guru. Mari kita susuri pemaparan Al Ghazali mengenai hal tersebut.

  1. Mendahulukan kesucian jiwa daripada keburukan akhlak dan sifat. Ilmu adalah ibadahnya hati, sholatnya jiwa, dan peribadatan batin kepada Allah. Menjaga jiwa dari segala bentuk maksiat, sekuat jiwa untuk melakukan ketaatan dan menjauhi larangan Allah. Kemudian berpegang teguh pada agama Allah agar tergolong orang-orang selamat yang menjaga kebaikan akhlak, dan menjauhkan diri dari segala sifat ahli maksiat.
  2. Mengurangi keterikatan hati dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukan dan memalingkan. Fokus! Kata itulah yang sering disampaikan agar setiap murid mampu mencerna ilmu secara menyeluruh. Al Ghazali mengutip perkataan, “Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu menyerahkan kepadanya seluruh jiwamu. Jika kamu telah memberikan seluruh jiwamu kepadanya tetapi ia baru memberikan sebagiannya kepadamu  maka kamu berarti dalam bahaya”. Imam Ghazali menambahkan, pikiran yang terpencar pada berbagai hal yang berserakan seperti sungai kecil yang airnya berpencar kemudian sebagiannya diserap tanah dan sebagian yang lain dihisap udara sehingga tidak ada yang terkumpul.
  3. Bersikap rendah hati kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang kepada mereka. Asy Sya’bi berkata, “Zaid bin Tsabit menshalatkan jenazah, lalu baghalnya didekatkan kepadanya untuk ditunggangi, kemudian Ibnu Abbas segela mengambil kendali baghal itu dan menuntunnya. Maka Zaid berkata, “Lepaskanlah wahai anak paman Rasulullah!” Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diperintahkan untuk bersikap kepada ulama dan tokoh”. Kemudian Zaid bin Tsabit mencium tangannya seraya berkata, “Beginilah kami diperintahkan untuk berlaku kepada kerabat Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam”. (HR. Tabrani, al Hakim, Baihaqi dalam al Makhdal. Al Hakim berkata, shahih sanadnya berdasarkan syarat Muslim). Oleh karena itu, penuntut ilmu tidak boleh bersikap sombong terhadap guru. Di antara bentuk kesombongan adalah sikap tidak mau mengambil pelajaran selain dari guru yang besar dan terkenal, padahal sesungguhnya sikap itu adalah merupaakan kebodohan. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Diantara hak seorang guru adalah tidak memegangi kainnya ketika ia bangkit, tidak menyebarkan rahasianya, tidak mencari-cari kesalahannya; jika ia tergelincir maka kamu terima alasannya. Kamu juga harus menghormatinya dan memuliakannya karena Allah selama ia tetap menjaga perintah Allah, dan tidak duduk di hadapannya sekalipun kamu ingin mendahului orang dalam berkhidmat memenuhi keperluannya”.
  4. Orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara manusia, baik apa yang ditekuninya itu termasuk ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Karena hal tersebut akan membingungkannya, membuatnya putus asa dari melakukan pengkajian dan telaah lebih mendalam. Bahkan, pertama kali ia harus menguasai satu jalan yang terpuji baru kemudian mendengarkan berbagai pendapat (mazhab).
  5. Seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya. Jika cukup kesempatan yang dimilikinya, maka ia harus berusaha mendalami berbagai cabang ilmu, tetapi jika harus menekuni yang paling penting di antara cabang ilmu tersebut, maka itu pun dibolehkan. Karena satu cabang ilmu dengan ilmu lain saling mendukung dan terkait satu sama lain.
  6. Tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus tetapi dengan menjaga susunannya agar sesuai dengan maslahat yang akan didapatkan dari ilmu tersebut. Ilmu yang dimaksudkan Imam Ghazali adalah suatu bentuk keyakinan yang merupakanhasil cahaya yang Allah hujamkan ke dalam hati seorang hamba yang telah menyucikan jiwanya melalui mujahadah (perjuangan).
  7. Hendaklah tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu yang ditempuh sebelumnya. Ilmu merupakan jalan bagi sebagian yang lain. Hendaklah tujuan dalam setiap ilmu yang dicari adalah peningkatan kepada apa yang berada di atasnya. Sehingga tidak mudah menghakimi ketika seorang yang lebih berilmu melakukan penyimpangan di kalangan orang-orang yang menekuninya, atau karena kesalahan beberapa orang dalam ilmu tersebut, menganggap kebatilan yang fatal.
  8. Hendaklah mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia. Kemuliaan yang dimaksud adalah kemuliaan hasil dan kekokohan dalil. Hal ini mencakup berbagai cabang ilmu, terutama ilmu agama.
  9. Hendaklah tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan memperindah batinnya dengan keutamaan, dan di akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin). Dengan demikian, diharapkan para penuntut ilmu berusaha menjaga ilmunya bukan hanya untuk menghasilkan kekuasaan, harta, jabatan atau membodohi orang dan membanggakannya kepada sesama orang yang berilmu. Melainkan, ilmu yang dimilikinya menjadi jalan menuju pertemuan dengan Allah dan orang-orang sholih di akhirat kelak.
  10. Hendaklah mengetahui kaitan ilmu dengan tujuan mempelajarinya. Sebaik-baik ilmu yang dipelajari adalah yang mampu menjadikan kita pribadi yang mampu menghimpun antara kesenangan dunia dan kenikmatan akhirat maka kita berharap semoga ilmu yang dipelajari bukan hanya memberikan maslahat ketika hidup di dunia, tetapi juga mendatangkan rahmat di akhirat yang berkekalan.

Saudaraku yang dirahmati Allah, dari uraian singkat tersebut di atas, semoga kita dapat memetik hikmahnya sehingga menambah barokah di tiap usaha kita menuntut ilmu. Sungguh beruntung orang-orang yang memadukan adab, ilmu dan amal dalam kesehariannya, menjadikannya pribadi yang berakhlak terpuji, ilmunya mumpuni, amalnya diberkahi, insyaallah.

Depok, 13 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad

Baper #2

Jika melakukan kebaikan, lupakanlah. Tugasmu hanya melaksanakan niat baik tetap dalam kebaikan dan bermohon dapat mendatangkan kebaikan-kebaikan yang lain. Biarkan kebaikan itu berlalu, mengikuti hempasan angin dan tak perlu lagi kau cari. Semoga kebaikan itu terbawa ke angkasa, menemui Rabb Sang Pencipta. Sedangkan kau, teruslah mengumpulkan bekal untuk perjalanan pulang agar dapat memetik bibit-bibit kebaikan yang telah ditanam.

Imam Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri berkata: “Tidaklah aku berusaha memperbaiki sesuatu (dalam diriku) yang lebih sulit bagiku daripada (memperbaiki) niatku (supaya ikhlas)”. Kita belajar bahwa menjaga niat baik itu sejak awal, tengah, hingga akhir perjalanan. Ujiannya seringkali bukan ketika di awal perjalanan, melaikan di pertengahan dan kita tidak pernah tahu bagaimana kesudahannya. Apakah ikhlas itu masih terjaga ataukah sudah tercemar ujub dalam jiwa.

Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin dirinya bisa selamat dari sifat berbangga diri. Mereka mungkin bisa menjaga amalnya dari riya’ tapi belum tentu bisa menahan diri untuk tidak membanggakan amal dalam jiwanya.

Ibnu Taimiyyah rahimallahu menjelaskan bahwa ujub berarti menyandingkan dengan jiwa yang lemah. Ujub ini adalah keadaan orang-orang yang sombong. Maka saya mengambil pelajaran bahwa para pelaku ujub adalah orang-orang yang membanggakan amalannya dalam jiwa dan hati sehingga menyandingkan amalannya dengan amalan orang lain. Terlampau bangga sampai menjadi sombong dalam artian meremehkan orang lain dan menolak kebenaran. Padahal semestinya, ketika kita menyandingkan amalan diri dengan amalan orang lain adalah untuk berlomba dalam kebaikan, saling mengingatkan, saling mendoakan, bukan meremehkan amalan orang lain. Belum tentu amalan yang kita lakukan lebih baik dari amalan orang lain, kan?

Dan hari ini, saya coba bagikan bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga dirinya dari sifat ujub. Semoga Allah ridho.

  1. Menyadari sepenuh hati bahwa setiap orang punya potensi kebaikan dan hatinya cenderung pada kebaikan, dengan harapan diri ini sadar bahwa amal baik yang dilakukan adalah upaya berlomba menjemput keridhoan dan keberkahan Allah. Bukan untuk dibanggakan, sekalipun dalam diri sendiri.
  2. Sadar betul, betul-betul sadar jika diri kita yang masih banyak cela dan dosanya ini masih jauh dari derajat sholih, apalagi takwa. Kita selalu sedang menuju itu, belum sampai karena kita tidak tahu bagaimana akhir hayat kita. Insyaallah dengan begitu, kita akan selalu mengingat mati sehingga menjaga akhlak tetap dalam sifat yang Allah ridhoi.
  3. Bersegera menuju ampunan Allah, seraya beristighfar, memohon ampun jika tiba-tiba terbersit rasa ujub meski hanya sebesar biji sawi. Semoga Allah limpahkan ampunan-Nya dan menjaga amalan-amalan kita dalam keridhoan Allah.

Menjadi muslim yang patuh lagi taat memang tidak mudah. Perlu diperjuangkan, ada pengorbanan, ada pengharapan, serta ujiannya. Maka sudah seharusnya kita melibatkan Allah di setiap amalan. Semoga Allah ridho dengan apa yang kita lakukan. Aamiin.

Depok, 3 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad