Aturan Main

Janji Allah, sebesar biji dzarrah pun kebaikan atau keburukan akan diberi balasan.
Aturan mainnya adalah, ketika orang berbuat baik maka kita harus balas dengan kebaikan yang serupa atau kebaikan yang lebih baik dari apa yang sudah orang lain lakukan. Sebaliknya, ketika orang lain berbuat zhalim sama kita, maka kita memaafkan mereka, dan melupakan kezhaliman tersebut. Bukan membalasnya. Lantas, apa yang membedakan kita dengan mereka yang zhalim kalau kita ingin mereka merasakan sakit atau ruginya dizhalimi?

Jika pun rasa sakit dan perih karena kezalimannya membuat kita semakin marah, bersegeralah meredakannya. Jangan sampai kita disibukan oleh hal tak penting seperti itu. Waktu kita sangat berharga, terlalu mahal untuk membayar rintihan sakit karena terluka ulah tangan orang lain. Oh tidak, sejatinya setiap apa yang terjadi terhadap diri ini adalah karena ulah tangan kita sendiri. Orang lain hanya lintasan kita semakin taat atau mendekat pada maksiat.

Jangan sampai menyesal, meratap dan memaki diri yang tersesat. Menangisi kekhilafan boleh saja, tapi tak perlu berlama-lama. Bersegera bangkit, bersegera menapaki jalan selamat. Jangan sampai menyesal, meratap dan memaki diri yang terjatuh. Jatuh itu biasa, karena jalan yang ditempuh berhiaskan ujian untuk pembuktian iman.

Pameran

Bukunya sudah berdebu, agak kotor di tepi lembarannya. Warna putih kertas hanya tampak pada bagian tengah karena sisi samping buku menandakan ia kurang terjaga, oh maaf, lebih tepatnya tidak dijaga oleh saya. Menyebalkan dan mengesalkan memang, tapi siapa suruh tak dijaga? Itu menandakan minat baca baru sekadarnya. Kali ini, biarkan saya mengakuinya.

Buku yang agak usang itu, sarat makna. karya Imam An Nawawi, Riyadhus Shalihin yang sudah diterjemahkan. Satu jilid, maksud saya, jilid satu. Ah ya! Karena baru ini yang dipunya. Saya mohon jangan ada yang menghakimi ya, saya lebih banyak pinjam daripada punya. Mohon maaf T_T

Di dalamnya, ada banyak uraian dalil untuk jadi rujukan amalan. Hanya saja, saya tidak membahas itu disini. Saya sadar betul tak punya kecakapan dan kecukupan ilmu untuk menuliskannya. Maka izinkan saya membuat sepenggal catatan  dari mukadimah buku legenda ini.

Bagi orang-orang yang berpikir tentang kekuasaan dan keagungan Allah, tanda-tanda itu bukan hanya menambah wawasan tetapi juga menambah keimanan mereka. Tahu kenapa? Karena selain mereka sibuk memperhatikan masalah keduniawian, mereka pun sibuk dalam ketaatan. Bagaimana caranya? Menggunakan akal untuk berpikir, hati untuk berzikir serta senantiasa mencari keridhoan Allah. Menjauhi segala hal yang dapat menimbulkan murka Allah.

Riyadhus Shalihin disajikan dengan mencantumkan hadits-hadits shahih, pada tiap babnya, dihadirkan ayat dalam Al Qur’an baru kemudian hadits-hadits shahih disertakan. Masyaallah, begitulah orang-orang berilmu. Sangat berhati-hati dalam menyampaikan agar kita dapat belajar dengan iman. Sehingga, ilmu yang didapat menjadi anak-anak tangga ketakwaan, menghantarkan kita pada keberkahan dan keridhoan.

Tidak lain dan tidak bukan ini adalah satu pameran kebodohan dari saya, maka saya mohon ampun kepada Allah semoga diampuni segala dosa dalam penyampaian. Sungguh kebenaran hanya milik Allah Ar Rahmaan.

Depok, 6 Agustus 2017

Hajiah M. Muhammad

Bolehkah Aku?

Allah, bolehkah aku bersandar lebih lama? Menenggelamkan sujud dalam-dalam, membenamkan tangis berbalut doa panjang. Beginikah kebanyakan manusia atau aku saja? Mendekati-Mu saat dirundung masalah, perlahan menjauh saat segalanya berjalan sesuai rencana. Padahal kami selalu mengulangi kalimat bahwa Engkau sebaik-baik sutradara, mengatur cerita tanpa cela. Segala ketentuan-Mu adalah yang terindah. Tapi hati ini tak melulu yakin begitu. Seakan meragukan-Mu dengan segala keagungan-Mu. Hati ini tak begitu. Terbaring kaku, membisu. Mendekat pada-Mu, aku malu. Terlebih jauh dari-Mu, aku tak mampu.

Maka Ya Allah, jadikan hati ini hanya terpaut pada-Mu. Hanya menyandarkan segala harap dan asa pada-Mu. Rabb, tetapkan hati kami dalam keimanan, dalam ketaatan, dalam penghambaan yang utuh menyeluruh, hanya untuk-Mu.

Hajiah

Depok, 24 Juli 2017

Pilu.

Jangankan Dirimu

Jangankan dirimu, orang-orang sholih itu pun seperti dihujani peluru. Dikatakan begini dan begitu. Jika benar arah hidupmu hanyalah untuk Allah, mengapa risau dengan perkataan yang melemahkanmu? Urus saja amalmu, perbaiki segala compang-camping keimananmu. Sesekali tengok kembali hatimu, periksa adakah ia berdebu ataukah malah telah hitam tersebab kelalaianmu?

Jangan, jangan sibuk pada amalan orang lain. Sibuk saja dengan amalanmu, amal apa yang akan kau bawa menghadap Rabb-mu? Amalan apa yang kau yakin mendapat tempat di sisi Rabb yang menggenggam hati dan jiwamu?

Boleh saja kau melihat amalan orang lain, bercermin apakah amalanmu sudah sebaik amalan mereka? Bukan malah mencaci, menghina amalannya yang kau anggap menyelisihi agama. Setiap orang berproses dalam perjalanan hijrahnya, tak hadir seketika seolah sihir yang mengelabuhi pandangan mata. Bukan, bukan tak boleh kau mengajak pada yang haq, hanya saja ada adabnya agar mereka bisa tersentuh hatinya.

Jika kau sudah bisa asyik berkhusyuk menyimak nasehat dalam majelis ilmu, jangan patahkan semangat mereka yang mulai mencintai Islam dari tempat yang jauh dari tempat dudukmu mendengarkan nasehat guru. Biarkan mereka mengenal Islam perlahan, dalam rangkulan tali persaudaraan. Bukankah selama hayat di kandung badan masih terbuka pintu ampunan? Maka biarkan mereka, dan aku berjalan pelan dalam penghambaan, meniti langkah-langkah kecil meneguhkan iman.

Semoga Allah istiqomahkan langkah kami menjadi hamba beriman, dengan adab, ilmu dan amal menjaga kemuliaan Islam. Baarokallahufiikum

Al Faqir, Hajiah.

Depok, 18 Juli 2017

ChitChat #1

“Ummi cuma gak mau di awal jalan aja udah nolak berkah dengan hal-hal yang dianggap sepele sama orang lain, sedangkan itu penting banget buat ummi. Ummi mau meminimalisir itu Mba. Biar berkah dari awal sampai akhirnya nanti”. Seorang shalihah menuturkan kalimat agak panjang pertama kali sejak pertama bertemu. Dia memang tak banyak cakap sepertiku. Ketika menyampaikan hal itu, matanya penuh harap dan sesekali memandang langit-langit yang berwarna agak gelap di temaram lampu dalam sangkar burung khas dekorasi shabby chic.

Dalam batinku,  berbisik pelan “Kamu harus konsisten menjadikan segala kebaikan sebagai pengundang barokah, jangan sampai Allah marah”. Terlibat di agenda sakral nan khidmat sebuah akad dan resepsi pernikahan menjadi ladang amal baru bagiku. Ketika awal 2016 lalu menerima ajakan kawan merintis usaha wedding organizer, tekadku hanya satu yang kami jadikan tagline, Mudahkan Sunnah Menikah. Dengan harapan, Allah memberkahi setiap kebaikan yang coba kami tanam.

Dan siang itu, seperti sedang diuji. Diuji kesungguhan untuk menjaga agar barokah itu tetap Allah limpahkan. Masyaallah, terima kasih shalihah, semoga Allah mudahkan segala urusan kita dan menjadikan kita golongan orang yang istiqomah menjaga ketaatan kepada-Nya. Tak silau kenikmatan dunia, tak lena fatamorgananya.

Baarokallahufiikum.

Depok, 6 Juli 2017

Hajiah M. Muhammad

Batas Waktu

“…..Setiap yang bernyawa akan merasakan mati…” (QS. Ali Imran [3]:185)

Hanya saja, tak seorang pun tahu batas waktu hidupnya untuk kemudian mati dan dihidupkan kembali pada keadaan yang kekal di hari akhir nanti.

Sesekali saat merenung, saya terpikir bagaimana kondisi ketika jiwa ini mengakhiri masa berlakunya di dunia. Dan ketika itu, yang ada di pikiran adalah bagaimana kehidupan anak-anak tanpa saya? Bagaimana suami mengurus dan mendidik mereka tanpa saya? Seketika itu pula saya terhentak. Adalah diri ini yang lebih patut dipikirkan, bagaimana kehidupan setelah kematian di dunia ketika sampai pada batas waktunya? Apa yang bisa dibawa sebagai bekal? Apa yang sudah dipersiapkan agar kelak tak gelap dalam kubur? Dan banyak lagi pertanyaan lain yang menggelayuti pikiran, membuat persendian cekot-cekot, itu baru membayangkan, bagaimana jika memang sudah harus berpulang Ya Rabb, faghfirli, faghfirli Ya rabbi…

Berkah Ramadhan (?)

“Masyaallah ya, banyak yang jualan lontong dan gorengan kalo Ramadhan gini. Tapi semua habis aja tuh”, selorohku pada ibu. “Itulah berkah Ramadhan ka. Rezeki Allah luas udah ditentuin ke setiap orang. Gak perlu saling sikut, berebut rezeki”, ibu menanggapi sambil tetap fokus pada sayuran di tangannya. Aku yang sependapat dengan itu kemudian memikirkan ulang di lain waktu. Apakah iya? Berkah Ramadhan untuk mereka yang baru membuka lapaknya di bulan mulia ini? Ah, mungkin perlu sejenak kita renungkan.

Berkah adalah kebaikan yang terus dan tetap bertambah meski jumlahnya tak melimpah. Itu setidaknya arti berkah untukku. Dan tentu keberkahan itu datangnya dari Allah. Pikiran melayang ketika para sahabat di sekitaran Masjid Quba pada masa Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, mereka bersegera meninggalkan dagangannya ketika terdengar azan. Nah, para penjajak lontong dan gorengan, serta kudapan lain khas Ramadhan itu justru sebaliknya. Mereka rela menunda seruan shalat ketika azan berkumandang demi melayani pembeli yang sudah mengular, mengantri. Lalu, dimana letak barokahnya?

Aku tidak mengatakan para pedagang itu jauh dari barokah, tidak, sama sekali tidak. Hanya menyayangkan jika mereka jadi lalai karena lapaknya. Bukankah Allah yang mendatangkan para pembeli itu? Bukankah Allah yang memberikan rezeki ke para pedagang itu? Justru seharusnya semakin taat, berterima kasih kepada Allah dengan menyambut panggilan sholat penuh suka cita, sesumringah ketika lapaknya kedatangan calon pembeli.

Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat). (Mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas. (QS. An Nuur (24) : 36-37)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, disebutkan bahwa ketika kaum muslimin sedang sibuk berdagang di pasar, pada saat itu mereka mendengar azan, mereka segera mendirikan shalat ke masjid. Maka dari itu, turunlah ayat ini (An Nuur ayat 36-38) sebagai pujian atas sikap mereka.

Itulah yang terkadang kita lupa, mengejar rezeki hanya berorientasi pada dunia dan mengesampingkan urusan akhirat. Seakan lupa bahwa segala kenikmatan yang dirasakan di dunia adalah karunia Allah, maka sudah sepatutnya kita mengingat-Nya, seraya memuji keagungan-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Barang siapa  mengucapkan subhanallah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya) sehari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni walaupun sebanyak buih di lautan” (HR. Bukhari No. 5926)