Berkah Ramadhan (?)

“Masyaallah ya, banyak yang jualan lontong dan gorengan kalo Ramadhan gini. Tapi semua habis aja tuh”, selorohku pada ibu. “Itulah berkah Ramadhan ka. Rezeki Allah luas udah ditentuin ke setiap orang. Gak perlu saling sikut, berebut rezeki”, ibu menanggapi sambil tetap fokus pada sayuran di tangannya. Aku yang sependapat dengan itu kemudian memikirkan ulang di lain waktu. Apakah iya? Berkah Ramadhan untuk mereka yang baru membuka lapaknya di bulan mulia ini? Ah, mungkin perlu sejenak kita renungkan.

Berkah adalah kebaikan yang terus dan tetap bertambah meski jumlahnya tak melimpah. Itu setidaknya arti berkah untukku. Dan tentu keberkahan itu datangnya dari Allah. Pikiran melayang ketika para sahabat di sekitaran Masjid Quba pada masa Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, mereka bersegera meninggalkan dagangannya ketika terdengar azan. Nah, para penjajak lontong dan gorengan, serta kudapan lain khas Ramadhan itu justru sebaliknya. Mereka rela menunda seruan shalat ketika azan berkumandang demi melayani pembeli yang sudah mengular, mengantri. Lalu, dimana letak barokahnya?

Aku tidak mengatakan para pedagang itu jauh dari barokah, tidak, sama sekali tidak. Hanya menyayangkan jika mereka jadi lalai karena lapaknya. Bukankah Allah yang mendatangkan para pembeli itu? Bukankah Allah yang memberikan rezeki ke para pedagang itu? Justru seharusnya semakin taat, berterima kasih kepada Allah dengan menyambut panggilan sholat penuh suka cita, sesumringah ketika lapaknya kedatangan calon pembeli.

Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat). (Mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas. (QS. An Nuur (24) : 36-37)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, disebutkan bahwa ketika kaum muslimin sedang sibuk berdagang di pasar, pada saat itu mereka mendengar azan, mereka segera mendirikan shalat ke masjid. Maka dari itu, turunlah ayat ini (An Nuur ayat 36-38) sebagai pujian atas sikap mereka.

Itulah yang terkadang kita lupa, mengejar rezeki hanya berorientasi pada dunia dan mengesampingkan urusan akhirat. Seakan lupa bahwa segala kenikmatan yang dirasakan di dunia adalah karunia Allah, maka sudah sepatutnya kita mengingat-Nya, seraya memuji keagungan-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Barang siapa  mengucapkan subhanallah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya) sehari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni walaupun sebanyak buih di lautan” (HR. Bukhari No. 5926)

Tempa

Dalam sebuah tausiyahnya, Abdullah Gymastiar atau yang lebih akrab disapa Aa Gym menganalogikan kehidupan orang-orang beriman dengan perjalanan sebuah kelapa menjadi santan.

Untuk menjadi santan yang putih bersih, kelapa melalui perjalanan panjang. Ditempa agar menghasilkan santan terbaik yang berkualitas. Di awal, untuk mendapatkan kelapa kita perlu memanjat pohon yang tinggi, tertiup angin ketika di atas pohon. Kita harus memastikan bahwa pijakan kita kuat, pegangan kita kokoh agar tak hanyut dalam buai lembut semilir angin di ketinggian. Begitulah seorang muslim, ketika mulai mencicipi hasil dari apa yang diharapkan harus tetap fokus pada tujuan, yaitu memetik keridhoan Allah. Tidak terbawa sanjung puji, tidak tumbang meski dicaci maki.

Setelah kelapa berhasil dipetik, ia tidak dibawa turun dengan pelan. Melainkan dijatuhkan dari ketinggian. Ada yang jatuh di tempat rerumputan yang tebal dan nyaman, ada pula yang jatuh di kubangan sisa air hujan. Belum selesai rasa sakit jatuh dari ketinggian, kelapa harus siap ditebas untuk dikupas. Ditarik serabut kelapa dari batoknya. Srek srek srek. Keras! Agar serabut tercabut bersih dari batok kelapa. Lantas yang sudah dibersihkan serabutnya, mesti dilanjutkan proses yang menyakitkan lagi. Dibelah batoknya, dicungkil kelapanya. Apakah selesai? Tidak, masih harus diparut! Dan kemudian diperas sekuat tenaga agar mengalir dari lapis-lapis parutan air santan yang siap diolah.

Sedikit banyak begitulah perjuangan menjadi seorang muslim yang kuat. Ditempa sesuai kadar kemampuannya, diuji dan dibersihkan dosa dengan peluh dan lelah payahnya. Masyaallah, begitu sayang Allah kepada orang-orang yang beriman. Disajikan ujian untuk mendapat peningkatan kualitas iman, peningkatan kualitas takwa. Semoga kita selalu menghadirkan Allah di setiap waktu, di setiap hirup napas kehidupan. Terima kasih Allah, segala ujian yang Kau berikan akan kujadikan jalan meniti keimanan.

Depok, 20 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad

Assalamu’alaykum, ya ukhti

Assalamu’alaykum ya ukhti, saudariku yang dirahmati Allah. Semoga hari-harimu indah, penuh cita dan cinta. Semoga hatimu damai, penuh taat yang tersemai. Adik manis yang menawan akhlaknya, yang tertunduk pandangannya, semoga kau berkenan menerima ungkapan sayang dalam tulisan yang agak panjang. Ohya, sebelum jauh menyampaikan, perkenalkan aku adalah Hajiah.

Alhamdulillah sudah menikah, alhamdulillah lagi, menikah tanpa pacaran sebelumnya. Alhamdulillah ketika menikah usiaku menginjak angka 22 tahun, usia yang cukup matang bagi seorang perempuan untuk menyelesaikan studinya di bangku kuliah. Terlalu matang, mungkin. Keinginan menikah di usia yang relatif muda mulai terpikir ketika usiaku 18 tahun. Dan ketika itu aku dikenal sebagai pribadi yang galak, serius, selera humor rendah, dan label menyebalkan lainnya. Tahu kenapa? Karena aku selalu naik pitam ketika mendapati cerita teman yang pacaran, baik pacaran dengan jelas maupun sembunyi karena malu dengan aktivitasnya di kerohanian Islam.

Tahun 2007, aku diminta untuk menulis sebuah artikel. Artikel bebas sebenarnya, hanya sebagai stimulasi agar terbiasa menulis dan mempertanggungjawabkannya di sebuah event pelajar. Entah kenapa aku membuat tulisan tentang alasan kenapa gak pacaran. Tapi hari ini, aku takkan mengulangnya. Jika ingin membacanya bisa mampir ke tulisan saya di blog ini. Sebagian orang yang mengenalku sejak pertama kali hijrah mungkin pun masih ingat betapa garangnya seorang Hajiah. Tapi itu dulu, sebelum banyak belajar, sebelum banyak mendengar. Maka hari ini, perkenankan aku ungkapkan kecintaan padamu saudariku.

Saudariku yang dirahmati Allah, tahukah betapa berharganya dirimu? Dengan segala karunia Allah yang diberikan padamu, dengan segala penjagaan Allah terhadap makhluk-Nya yang wanita? Saudariku sayang, dirimu sungguh bernilai dengan ilmu dan keindahan akhlak yang jadi perhiasanmu. Maka jangan rusak itu dengan segores rasa kagum dan takjub pada seorang yang melenakanmu. Melenakanmu dalam bujuk rayu berbalut ilmu, dalam nasehat yang katanya untuk menjaga keistiqomahanmu. Saudariku sayang, sungguh ketika itu telah berlaku, bersegeralah basahi lisan dengan dzikirmu, dengan lantunan merdu tilawahmu. Atau hal paling ringan yang mungkin bisa segera dilakukan adalah basuh dengan air wudhu, semoga tergugur maksiat yang mulai mengganggu.

Saudariku yang kusayangi karena Allah, ketika bisik-bisik syetan terasa begitu menggelayut pada hati yang mulai terpaut, bersegeralah mohon ampun pada Allah yang menguasai qalbu. Jangan biarkan keterpautan itu bersemayam tanpa ikatan yang disyariatkan. Jangan biarkan keterpautan itu bertandang lebih lama lalu kau mati terbunuh perasaan sedangkan ijab qabul belum dilaksanakan.

Saudariku yang dirahmati Allah, ketika hati mulai tak tentu arah, jadi gelisah dan pikiran pun kacau menambah masalah. Bersegeralah mengingat betapa kasih sayang Allah jauh lebih menentramkan, menenangkan. Allah tanamkan cinta dalam hati kita untuk menambah pundi pahala dengan taat, bukan mencicil dosa dengan maksiat. Meski tak seorang pun melihat, ingatlah bahwa Allah maha menyaksikan, para malaikat pun tak pernah alpa membuat catatan. Maka biarkanlah berlalu jika ada seseorang tak halal yang memberi perhatian, abaikan segala kebaikannya, jangan sampai kau terbawa pesona hingga kau lupa dan semakin terlena.

Sungguh saudariku sayang, jerat-jerat syetan begitu halus mempermainkan hati manusia. Terlebih mereka yang jauh dari ketaatan terhadap Allah. Maka jika hati mulai goyah dan mudah bersandar kepada selain Allah, semoga kita termasuk orang-orang yang selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga segala yang dilakukan hanya yang Allah ridhoi, hanya yang Allah sukai.

Saudariku yang dirahmati Allah, menikah adalah ibadah. Memulai perjalanannya adalah separuh agama. Tidakkah kau ingin meneguk segarnya dengan jalan yang penuh barokah? Tentu bukan dengan bermesra dengan lawan jenis, bukan dengan saling melempar sapa dan doa kepada ia yang bukan pasangan halalmu. Maafkan aku harus sampaikan, jangan kau umbar cintamu yang suci itu kepada orang yang mengaku mencintaimu tapi tak menikahimu. Ia adalah pengecut, ia adalah pembual. Jemputlah kenikmatan dan karunia Allah dalam pernikahan dengan jalan yang disyariatkan, ataukah kau mau jodohmu Allah lempar penuh kemurkaan?

Mohon maafkan segala yang telah kutuliskan, semoga Allah berkahi setiap upaya penjagaan bagi mereka yang bersabar menuju jenjang pernikahan tanpa pacaran. Baarokallaahufiikum.

Depok, 19 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad

 

Perantara

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ketika memutuskan untuk menjadi perantara, saya berjanji kepada Allah untuk selalu menjaga hati. Bukan hanya hati sendiri, tapi juga hati-hati yang terlibat dalam sebuah proses. Hati ikhwan, hati akhwat, termasuk hati orang tua dan guru mengajinya. Komitmen itu insyaallah masih saya genggam kuat hingga detik ini. Menjaga hati tetap tenang, tetap bergantung hanya kepada Allah. Maka hampir setiap kali dilibatkan atau sengaja melibatkan diri dalam sebuah proses, saya katakan bahwa saya hanya membantu semampunya. Tidak bisa menjanjikan apa-apa, agar hati kita hanya bersandar kepada Allah, agar segala harap hanya tertuju pada Allah. Jangan desak saya untuk mengatakan hal-hal yang memang saya simpan, hanya karena ingin menjaga semua tetap mendapat percik-percik berkah meski proses yang dijalani tak sampai menikah. Ya, proses yang saya maksudkan adalah ta’aruf. 

Saudaraku, ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah, kepada para guru berilmu, kepada orang tua yang kepadanya rasa takzimku. Saya hanya orang yang mengais berkah dengan menjadi perantara. Tidak ada yang meminta, tak ada yang memaksa. Maka mari jaga bersama hati kita untuk berbaik sangka, untuk menjadikan Allah tujuan utama segala niat baik yang ingin dilaksana.

Ketika sebuah proses berjalan kemudian berakhir, biasanya saya katakan kepada para ikhwan dan akhwat untuk tidak menanyakan alasan dari masing-masing pihak. Maksud hati agar tidak melukai, maksud hati agar alasan yang terkadang dan cukup sering menyakitkan itu biar saya simpan sendiri. Bagaimana saya menyampaikannya? “Bismillah, setelah istikhoroh dan diskusi dengan orang tua, pihak ikhwan tidak jadi melanjutkan prosesnya. Semoga Allah berkahi setiap kebaikan yang sudah diniatkan dan telah diikhtiarkan”, atau, “Bismillah, shalihah yang dirahmati Allah, prosesnya dicukupkan ya. Ikhwannya memutuskan untuk menghentikan proses. Semoga Allah mudahkan segala urusan kita”. Kemudian biasanya akan ditanya oleh mereka, “Boleh tau alasannya?”, “Mohon maaf, saya gak bisa sampaikan alasannya. Insyaallah untuk menjaga hati”. Kalau tetap dipaksa, bahkan sampai menelepon, maka saya pastikan dulu ia telah menyiapkan hati agar tidak terluka. Setelah itu, saya sampaikan alasannya. Tapi biasanya saya memilih untuk tidak menyampaikan.

Saudaraku yang dirahmati Allah, ketika kita mengikhtiarkan kebaikan, Allah menguji kesabaran, kesungguhan, ketundukpatuhan. Jalannya tak selalu menyenangkan. Jalannya tak melulu meneduhkan. Ada yang berlubang, ada yang masih perlu diperbaiki untuk bisa dilalui. Maka sabar, gigih dan tawakal menjadi keharusan bekal yang terus dibawa hingga akhir perjalanan. Semoga Allah karuniakan kita kesabaran yang lapang, kesungguhan yang kokoh dan ketawakalan yang tak berkesudahan.

Baarokallaahufiikum.

Depok. 19 Juni 2017

Penyakit Juru Dakwah

Siang tadi berkesempatan diskusi singkat dengan salah seorang adik tingkat di kampus. Cerita yang ia sampaikan seketika mengingatkan saya pada sebuah nasihat dari seorang Sa’id Hawwa. Iya, saya masih membaca intisari Ihya’ Ulumuddin yang Sa’id Hawwa susun dari karya Imam Ghazali. Tidak lain sebagai pengingat bahwa apa yang telah saya baca semoga melekat erat dalam ingatan dan mendatangkan barokah serta manfaat, terkhusus bagi pribadi yang fakir ilmu ini.

Adik tingkat tersebut menyampaikan kurang lebih begini, “Wah ka, kok jadi ingat ada kejadian serupa ya. Jadi ada kajian kemuslimahan, pembicaranya bukan dari kalangan orang yang liqo tarbiyah. Dan koordinator keputriaannya ditegur sama senior, diminta untuk membatalkan kajian tersebut. Padahal, pembicaranya hafidzah ka, udah selesai 30 juz dengan mutqin. Beliau sering ngisi kajian fiqh muslimah dan shiroh di ta’lim umum”. Sebelum ia bercerita, saya baru saja mengungkapkan kesedihan karena ada segelintir orang yang memberikan label kepada ulama, sehingga ulama yang lain diragukan keilmuannya. Mendengar cerita itu, seketika saya berujar, “Sombong banget seniornya, ngerasa lebih baik dari ibu yang sudah jadi hafidzhoh dan berani memutus kerja sama hanya karena beliau gak ngaji tarbiyah? Penyakit itu! Penyakit dakwah”.

Iya, saya katakan itu adalah penyakit dakwah. Oh bukan, itu bukan penyakit dakwah, tapi penyakit da’inya. Dan dakwah akan rapuh jika kita terbelenggu pada satu kelompok. Fanatisme golongan seakan menjadi hal lumrah yang biasa terjadi, tapi tidak semestinya begitu. Lantas, bagaimana seharusnya dengan berbagai perbedaan dari masing-masing golongan? Setidaknya ada hal sederhana yang bisa saya simpulkan dan sudah saya yakini sejak beberapa tahun terakhir.

Menerima segala kebaikan dan pelajaran yang disampaikan oleh guru, sekalipun berbeda golongan. Dengan catatan, guru tersebut memiliki aqidah yang lurus, dalil-dalil yang kokoh, akhlak yang terpuji sehingga bisa menjadi teladan bagi murid. Karena salah satu tanda orang yang sombong adalah menolak kebenaran. Mungkin juga kita perlu ingat salah satu adab murid kepada gurunya adalah tidak bersikap sombong (tidak mengambil hikmah/ilmu) dari selain gurunya. Bukankah kebenaran bisa datang dari siapa saja?

Saudaraku yang dirahmati Allah, kita berhak memilih dengan siapa kita belajar. Tapi kita pun harus ingat bahwa sebagai murid, ketika ada orang berilmu dengan kerelaan hati membagikan ilmunya, maka hendaklah kita menghormatinya. Jika pun kita tak sepakat dengan apa yang disampaikannya, jangan halangi orang-orang untuk mengambil ibroh dan ilmu dari pengajarannya. Baarokallahufiikum.

Hanya Sekejap

Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda; “Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, tidaklah perumpamaan dunia kecuali seperti seorang pengembara yang lewat pada suatu hari yang panas. Lantas ia berteduh di bawah pohhon untuk beberapa saat dari terik siang hari. Kemudian, panas itu hilang dan dia pun meninggalkannya”. (HR. Ahmad danal Musnad-nya 1/301, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, 14/365).

Dalam sebuah perjalanan pulang dari bagian timur Pulau Jawa, setelah menghadiri pernikahan salah seorang kawan di akhir tahun 2012 silam. Kekaguman saya pada sebuah keluarganya semakin mengarah pada satu simpul, apa itu? Keluarganya menjadikan orientasi kehidupan pada akhirat. Ah lebay! Mungkin, tapi kalaupun berlebihan semoga tidak membuat saya menjadikan mereka thoghut. 

Abah dan Ummi mendidik anak-anaknya untuk dekat dengan Al Qur’an. Ummi tak pernah lupa untuk muroja’ah hapalannya ketika sedang menyusui. Ketika hamil, Ummi rajin membacakan ayat-ayat cinta sambil sesekali mengusap lembut perutnya. Abah? Sama, Abah juga begitu. Di tengah beragam kegiatannya melayani umat, Abah juga menyempatkan untuk tilawah qur’an sambil mengelus perut Ummi yang semakin membesar.

Memasuki usia anak sekolah, Abah bertekad untuk semakin mendekatkan anak-anaknya dengan qur’an. Menyekolahkan mereka sampai jenjang SLTP untuk seterusnya mengenyam pendidikan pesantren, dengan harapan setelah lulus dari pondok, anak-anaknya menjadi pribadi yang lebih matang dalam beragama. Bekal sebelum ke pondok, tentunya adalah kemesraan mereka dengan qur’an yang didapat dari Abah dan Ummi.

Mereka ada tujuh bersaudara, anak pertama hingga kelima adalah laki-laki, dua terakhir adalah perempuan. Dan kesemuanya hingga kini punya hapalan qur’an yang baik. Kalau tidak salah, di pertengahan tahun 2016, putra kelima sudah menyelesaikan hapalan 30 juz pada usia relatif muda, sekitar 16 tahun.

Hal menarik dari keluarga inspiratif tersebut lainnya adalah semangat belajar dan mengajar yang luar biasa. Abah dan Ummi membiasakan anak-anaknya untuk belajar, memberikan kebebasan kepada mereka untuk menuntut ilmu meskipun harus jauh dari pandangan. Orang tua tentu rindu jika tak bertemu, tapi kerinduan itu akan berujung manis dengan kecintaan anak-anak dengan ilmu. Biarlah kita berjauhan (dengan anak) asalkan mereka semakin dekat dengan qur’an. Itu adalah pesan Abah kepada Ummi ketika melepas anak-anaknya untuk menuntut ilmu.

Dan hari ini, saya menjadi saksi bahwa apa yang telah Abah dan Ummi lakukan untuk membangun rumah tangga yang berorientasi ukhrowi, membuahkan hasil yang luar biasa. Benarlah apa yang Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam sabdakan: “Siapa yang akhirat menjadi tujuan, Allah akan mengumpulkan dunia di hadapannya dan memberikan kecukupan dalam hatinya. Dunia mendatanginya, sedangkan ia enggan. Siapa yang dunia menjadi tujuan, Allah akan memisahkan urusannya. Allah menjadikan kefakiran ada di depan mata. Dia tidak mendatangi dunia kecuali yang telah ditetapkan baginya” (HR. At Tabrani dalam Al Kabir, 11/66).

Keluarga Abah tergolong ekonomi menengah. Anak-anaknya mendapat kecukupan rezeki karena kecintaannya terhadap qur’an dan ilmu serta menjadikan keduanya bekal untuk menjadi sebaik-baik manusia yang belajar al qur’an dan mengajarkannya. Dan tentu, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka gigih berikhtiar menjemput rezeki yang halal. Semua dilakukan karena mengharap keberkahan, bukan sebatas rupiah yang bertumpuk, berhamburan. Masyaallah. Semoga keluarga Abah selalu dalam limpahan keberkahan dan kasih sayang Allah. Dan semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari kehidupannya. Insyaallah.

Depok, 30 Mei 2017

Hajiah M. Muhammad

Siapa Kamu?

Manusia ada di antara ketaatan malaikat dan kebiadaban syetan. Bisa menjadi lebih taat dari malaikat, tapi juga bisa jadi lebih biadab dari syetan. Apa yang membuat manusia bisa selamat? Tentu dengan berada dalam ketaatan, dalam keimanan.

Dalam setiap manusia ada tiga unsur kehidupan, yaitu ruh (jiwa), hati, dan jasad. Dalam surat Asy Syams ayat 9, Allah berfirman: Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya. Inilah jawaban agar kita termasuk orang yang selamat. Menjaga kesucian jiwa. Orang yang jiwanya jernih, hatinya akan tenang, kehidupannya pun akan tentram. Dari mana ketentraman itu datang? Dari Allah, Pemilik segala yang ada di langit dan bumi.

Kamu adalah apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu katakan, dan apa yang kamu lakkukan. Maka berpikirlah yang baik, bertuturlah yang baik, dan berperilaku yang baik. Syaikhut tarbiyah Indonesia, Ustadz Rahmat Abdullah rahimallahu berpesan kepada kita. Ingatlah dua hal, keburukan diri sendiri dan kebaikan orang lain. Lupakanlah dua hal, kebaikan diri sendiri dan keburukan orang lain. 

Jangan dibalik! Itu agar kita semakin mengenal siapa diri ini. Semakin memahami apa yang semestinya kita lakukan di dunia yang sementara ini. Kita mengingat keburukan diri sendiri agar selalu ingat bahwa menjadi seorang muslim adalah proses panjang yang selalu dalam jalan menjadi baik, tanpa pernah merasa sudah baik. Kita mengingat kebaikan orang lain agar selalu sadar bahwa pencapaian kita hari ini juga berkat kebaikan yang orang lain lakukan, dan tentu atas kasih sayang Allah. Kita melupakan kebaikan diri sendiri agar tidak larut dalam sanjung puji, tidak lena dalam euphoria sorak sorai dari orang lain. Terlebih, kita jadi berhati-hati dari penyakit ujub yang menjadi titik awal syirik, menyekutukan Allah. Kita melupakan keburukan orang lain agar selalu ingat bahwa memaafkan lebih mulia daripada balas dendam, bersabar ketika dizolimi jauh lebih baik daripada melakukan balasan kezoliman. Agar kita selalu melapangkan hati agar keburukan orang lain tak menjadi incaran prasangka yang membuat hati tak tenang.

Semoga Allah mampukan kita mengenal diri ini, untuk lebih memahami bahwa kehidupan ini mestilah memberi arti.

Depok, 23 Mei 2017

Hajiah M. Muhammad