Ketinggalan?

Sekitar tahun 2012, tahun dimana saya merasa begitu kehilangan semangat, ingin menyerah dan mengumpat segala hal. Menyalahkan orang lain tidak mungkin, menyalahkan diri sendiri pun terasa menyakitkan. Hingga akhirnya saya memilih untuk diam sesaat, ehm…, tepatnya beberapa saat karena sempat menghilang dari peredaran. Saya menghubungi orang-orang yang sekiranya dapat memberikan motivasi, menyemangati dan sengaja menghubungi orang yang tidak kenal langsung dengan saya. Saya hanya ingin dapat keobjektivitasan orang-orang tersebut tentang suasana hati saya ketika itu. Tapi nihil. Karena memang tak seharusnya saya menghubungi mereka. Pihak pertama yang seharusnya saya hubungi adalah Allah, bukan yang lain. Di saat seperti itulah saya seperti disambar petir. Mengaku tawakal tapi meletakan Allah di belakang. Mengaku beriman tapi menjadikan Allah yang terakhir jadi pilihan. Sebaik-baik tempat bersandar adalah Allah. Dan itu pelajaran paling berharga yang saya dapatkan selama diliputi perasaan lemah tak berdaya ketika itu dan insyaallah terus sampai nanti.
Baru kemudian, satu per satu solusi Allah berikan. Dan di antara satu kisah yang masih saya ingat adalah yang akan saya bagikan disini. Obrolan singkat dengan seseorang yang tetiba melintasi pikiran saya ketika itu. Semoga Allah merahmati dan menjaganya selalu.
Mba, salam kenal. Saya Hajiah. Hmm…, mungkin mba gak kenal dengan saya. Tapi sedikit banyak saya mengenal mba lewat tulisan-tulisan mba. Semoga Allah memberkahi mba dan keluarga selalu. Dan mohon maaf, jika perkenalan saya terkesan menyebalkan dan mengganggu waktunya. Saya mau tanya, gimana menjaga kesyukuran itu tetap ada dalam hati dan menjadikannya motivasi diri? Jazaakallah ahsanal jaza atas kesediaan dan jawabannya 🙂 Semoga Allah memberkahi mba & keluarga senantiasa..baarakallaahufiikum 🙂
“Saya coba membantu ya. Menjaga kesyukuran agar tetap dalam hati adalah mengingat kembali apa tujuan akhir dalam hidup kita. Jika kita akan selalu hidup dan tak pernah mati, wajar saja jika kita tak mau bersyukur. Namun jika kita menyadari bahwa apapun yang kita miliki itu atas pemberian atau kasih sayang Allah kepada kita, maka dengan sendirinya kita akan selalu bersyukur. Lain halnya dengan sesuatu yang kita miliki ataupun keberhasilan yangg kita dapati adalah atas usaha kita sendiri dan merasa tidak ada campur tangan Allah, biasanya orang tersebut akan kufur nikmat. Minder adalah sebuah pilihan dalam hidup. Jika kamu memilih untuk minder maka ambilah seluruh konsekuensi yang akan terjadi, misal selalu dijadikan bahan perbandingan negatif dengan orang-orang sukses. Tapi jika kamu tidak siap menerima konsekuensi yang ada, maka jangan minder. Semoga bisa menjadi renungan bersama, termasuk saya pribadi”
Ya, semoga bisa menjadi renungan bersama, termasuk saya pribadi. Diri sendirilah yang paling berhak menentukan akan kemana kaki dilangkahkan, akan seperti apa masa depan yang ingin dicapai kemudian. Tak peduli dengan berbagai halang rintangan, yakin Allah berikan kemudahan. Jika kita mengaku beriman, usaha dan doa haruslah beriringan. Tak mengapa jika merasa ketinggalan, tapi pastikan ketertinggalan kita tak membuat langkah henti, tak membuat langkah mati. Baarokallaahufiikum, semoga Allah mudahkan segala urusan.
Hajiah M. Muhammad
Depok, 17 Januari 2018
Advertisements

Monolog #3

Sudah lebih tenang? Kau habiskan waktumu untuk apa dan kemana selama mencari ketenangan itu? Baiklah, simpan saja jawaban-jawabanmu dari pertanyaanku. Biarkan aku lanjutkan apa yang hendak aku sampaikan.

Sesekali, menepi dari keseharian tak membuatmu jadi hilang kendali. Justru akan menjadi suntikan energi tuk melanjutkan perjalananmu lagi dan lagi. Maka jangan sungkan untuk menepi sejenak. Rebahkan kepatuhan pada Allah dalam doa-doa panjangmu. Kumpulkan serpih-serpih kekuatan yang terserak, menghampar luas dalam limpahan kasih sayang Rabb-mu. Kau terlalu bersemangat meniti langkah-langkah kecilmu, tapi kau lupa menyertai Allah di tiap langkah-langkah itu.

Maka jangan heran jika kau rasakan lesu, tak tau arah yang dituju. Sujud sembah pun terasa tak lagi khusyu. Jawabannya hanya satu, kau abaikan Allah yang sebenarnya selalu memperhatikanmu, yang tak luput memberikan kenikmatan padamu meski maksiat kau lakukan tak tau malu.

Melangkahlah pelan, tetap teguh dalam iman. Menepi silakan, berhenti jangan. Bukankah kau punya sederet impian yang hendak diwujudkan? Mohonlah kekuatan bukan diringankan beban. Sebab Allah sangat tahu bagaimana menakar kesanggupan. Bersabarlah dengan sebaik-baik kesabaran. Teguhlah dengan sebaik-baik keteguhan. Allahu akbar!

Hajiah M. Muhammad
Depok, 25 Oktober 2017

Monolog #2

Bisakah sejenak kau duduk tenang? Seperti hal yang menjadi kebiasaanmu di masa silam, menundukan hati dalam perenungan. Menyandarkan lelahmu dalam sujud yang dalam. Maka kembalilah, kembalilah mengulang kebiasaanmu itu. Hingga kau tak perlu menggerutu, menyesali kesalahanmu lalu mengulangnya di kemudian hari dengan atau tanpa kesadaranmu. Bukankah kau telah berjanji? Janji pada dirimu sendiri, yang pasti Allah pun mengetahui?

Sadarlah wahai diri, waktumu tak lama lagi. Kapan pun ajal bisa datang menghampiri. Mengapa masih berpuas hati dengan amalanmu yang baru seujung jari? Pun seperti itu belum tentu keridhaan Allah kau dapati. Lantas, apa yang membuatmu menyombongkan diri? Iman tak seberapa, ilmu pun entah bagaimana. Amalan? Apa yang akan kau jadikan bekal pulang?

Sadarlah wahai diri, waktumu tak lama lagi. Sikap dan ucapmu akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat nanti. Berjalanlah terus jangan berhenti. Fokus tujuanmu keridhoan Ilahi. Jangan kalah, jangan menyerah!

Hajiah M. Muhammad

Carilah Kawan

Hati ini pernah begitu sakit ketika mengikuti prasangka orang lain. Entah itu prasangka yang baik, terlebih prasangka yang buruk. Padahal, saya meyakini bahwa ketika orang lain berprasangka buruk tentang saya, artinya saya harus bermuhasabah. Barangkali sangkaan mereka adalah nasehat untuk kebaikan diri ini. Pun ketika orang berprasangka baik terhadap diri, tidak lain ialah menjadi pecut untuk merendahkan hati, meningkatkan kualitas diri sehingga sangkaan baik mereka menjadi doa, menjadi harap bagi saya. Maka ketika saya mengikuti segala sangkaan itu, saya seperti tidak mengenali diri. Seperti asing dan aneh dengan sikap yang saya perbuat.

Hal yang tak kalah menyebalkan adalah jika sangkaan baik dari orang lain membuat saya jumawa, merasa “gue gitu loh!”. Padahal, hanya karena Allah menutup rapat aib dalam diri, sehingga yang tampak di pandangan orang hanyalah yang baik. Padahal, hanya karena Allah melindungi diri ini dari segala fitnah maka lisan orang lain terjaga dari membicarakan keburukan yang saya miliki. Hanya karena Allah, ya, hanya karena Allah. Jika ada kebaikan yang kalian temukan dalam diri ini, sungguh kebaikan itu milik Allah. Segala kebenaran bersumber dari-Nya. Dan jika kalian temui keburukan dalam diri ini, maka sepenuhnya adalah milik saya.

Sekarang ini, -setelah rasa sakit yang begitu dalam karena terbawa prasangka -, saya lebih senang untuk mengatakan dan menegaskan ke dalam diri sendiri. Apa yang ditegaskan? Carilah kawan yang mau menunjukan kekeliruan dan kesalahanmu karena terkadang disegani banyak orang mendekati kehinaan. Mereka bersikap seolah dirimu baik-baik saja, tanpa cela. Menutup matanya dari kealpaanmu hingga kau sendiri mendapati mereka menemukan kesalahanmu tapi segan menasehatimu.

Benarlah nasehat dari khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu, “Di antara orang yang paling aku cintai adalah mereka yang menunjukan kesalahanku”. Jika hari ini di antara kita ada orang-orang yang begitu tulus menasehati, tanpa diminta, tanpa dipaksa. Pertahankan! Jaga mereka dalam doa, panjatkan segala kebaikan cita untuk keberkahan hidup di dunia dan akhiratnya. Jangan takut, karena kebaikan itu akan kembali padamu. Pada yang mendoakan. Baarokallahufiikum.

Aturan Main

Janji Allah, sebesar biji dzarrah pun kebaikan atau keburukan akan diberi balasan.
Aturan mainnya adalah, ketika orang berbuat baik maka kita harus balas dengan kebaikan yang serupa atau kebaikan yang lebih baik dari apa yang sudah orang lain lakukan. Sebaliknya, ketika orang lain berbuat zhalim sama kita, maka kita memaafkan mereka, dan melupakan kezhaliman tersebut. Bukan membalasnya. Lantas, apa yang membedakan kita dengan mereka yang zhalim kalau kita ingin mereka merasakan sakit atau ruginya dizhalimi?

Jika pun rasa sakit dan perih karena kezalimannya membuat kita semakin marah, bersegeralah meredakannya. Jangan sampai kita disibukan oleh hal tak penting seperti itu. Waktu kita sangat berharga, terlalu mahal untuk membayar rintihan sakit karena terluka ulah tangan orang lain. Oh tidak, sejatinya setiap apa yang terjadi terhadap diri ini adalah karena ulah tangan kita sendiri. Orang lain hanya lintasan kita semakin taat atau mendekat pada maksiat.

Jangan sampai menyesal, meratap dan memaki diri yang tersesat. Menangisi kekhilafan boleh saja, tapi tak perlu berlama-lama. Bersegera bangkit, bersegera menapaki jalan selamat. Jangan sampai menyesal, meratap dan memaki diri yang terjatuh. Jatuh itu biasa, karena jalan yang ditempuh berhiaskan ujian untuk pembuktian iman.

Pameran

Bukunya sudah berdebu, agak kotor di tepi lembarannya. Warna putih kertas hanya tampak pada bagian tengah karena sisi samping buku menandakan ia kurang terjaga, oh maaf, lebih tepatnya tidak dijaga oleh saya. Menyebalkan dan mengesalkan memang, tapi siapa suruh tak dijaga? Itu menandakan minat baca baru sekadarnya. Kali ini, biarkan saya mengakuinya.

Buku yang agak usang itu, sarat makna. karya Imam An Nawawi, Riyadhus Shalihin yang sudah diterjemahkan. Satu jilid, maksud saya, jilid satu. Ah ya! Karena baru ini yang dipunya. Saya mohon jangan ada yang menghakimi ya, saya lebih banyak pinjam daripada punya. Mohon maaf T_T

Di dalamnya, ada banyak uraian dalil untuk jadi rujukan amalan. Hanya saja, saya tidak membahas itu disini. Saya sadar betul tak punya kecakapan dan kecukupan ilmu untuk menuliskannya. Maka izinkan saya membuat sepenggal catatan  dari mukadimah buku legenda ini.

Bagi orang-orang yang berpikir tentang kekuasaan dan keagungan Allah, tanda-tanda itu bukan hanya menambah wawasan tetapi juga menambah keimanan mereka. Tahu kenapa? Karena selain mereka sibuk memperhatikan masalah keduniawian, mereka pun sibuk dalam ketaatan. Bagaimana caranya? Menggunakan akal untuk berpikir, hati untuk berzikir serta senantiasa mencari keridhoan Allah. Menjauhi segala hal yang dapat menimbulkan murka Allah.

Riyadhus Shalihin disajikan dengan mencantumkan hadits-hadits shahih, pada tiap babnya, dihadirkan ayat dalam Al Qur’an baru kemudian hadits-hadits shahih disertakan. Masyaallah, begitulah orang-orang berilmu. Sangat berhati-hati dalam menyampaikan agar kita dapat belajar dengan iman. Sehingga, ilmu yang didapat menjadi anak-anak tangga ketakwaan, menghantarkan kita pada keberkahan dan keridhoan.

Tidak lain dan tidak bukan ini adalah satu pameran kebodohan dari saya, maka saya mohon ampun kepada Allah semoga diampuni segala dosa dalam penyampaian. Sungguh kebenaran hanya milik Allah Ar Rahmaan.

Depok, 6 Agustus 2017

Hajiah M. Muhammad

Bolehkah Aku?

Allah, bolehkah aku bersandar lebih lama? Menenggelamkan sujud dalam-dalam, membenamkan tangis berbalut doa panjang. Beginikah kebanyakan manusia atau aku saja? Mendekati-Mu saat dirundung masalah, perlahan menjauh saat segalanya berjalan sesuai rencana. Padahal kami selalu mengulangi kalimat bahwa Engkau sebaik-baik sutradara, mengatur cerita tanpa cela. Segala ketentuan-Mu adalah yang terindah. Tapi hati ini tak melulu yakin begitu. Seakan meragukan-Mu dengan segala keagungan-Mu. Hati ini tak begitu. Terbaring kaku, membisu. Mendekat pada-Mu, aku malu. Terlebih jauh dari-Mu, aku tak mampu.

Maka Ya Allah, jadikan hati ini hanya terpaut pada-Mu. Hanya menyandarkan segala harap dan asa pada-Mu. Rabb, tetapkan hati kami dalam keimanan, dalam ketaatan, dalam penghambaan yang utuh menyeluruh, hanya untuk-Mu.

Hajiah

Depok, 24 Juli 2017

Pilu.