Pameran

Bukunya sudah berdebu, agak kotor di tepi lembarannya. Warna putih kertas hanya tampak pada bagian tengah karena sisi samping buku menandakan ia kurang terjaga, oh maaf, lebih tepatnya tidak dijaga oleh saya. Menyebalkan dan mengesalkan memang, tapi siapa suruh tak dijaga? Itu menandakan minat baca baru sekadarnya. Kali ini, biarkan saya mengakuinya.

Buku yang agak usang itu, sarat makna. karya Imam An Nawawi, Riyadhus Shalihin yang sudah diterjemahkan. Satu jilid, maksud saya, jilid satu. Ah ya! Karena baru ini yang dipunya. Saya mohon jangan ada yang menghakimi ya, saya lebih banyak pinjam daripada punya. Mohon maaf T_T

Di dalamnya, ada banyak uraian dalil untuk jadi rujukan amalan. Hanya saja, saya tidak membahas itu disini. Saya sadar betul tak punya kecakapan dan kecukupan ilmu untuk menuliskannya. Maka izinkan saya membuat sepenggal catatan  dari mukadimah buku legenda ini.

Bagi orang-orang yang berpikir tentang kekuasaan dan keagungan Allah, tanda-tanda itu bukan hanya menambah wawasan tetapi juga menambah keimanan mereka. Tahu kenapa? Karena selain mereka sibuk memperhatikan masalah keduniawian, mereka pun sibuk dalam ketaatan. Bagaimana caranya? Menggunakan akal untuk berpikir, hati untuk berzikir serta senantiasa mencari keridhoan Allah. Menjauhi segala hal yang dapat menimbulkan murka Allah.

Riyadhus Shalihin disajikan dengan mencantumkan hadits-hadits shahih, pada tiap babnya, dihadirkan ayat dalam Al Qur’an baru kemudian hadits-hadits shahih disertakan. Masyaallah, begitulah orang-orang berilmu. Sangat berhati-hati dalam menyampaikan agar kita dapat belajar dengan iman. Sehingga, ilmu yang didapat menjadi anak-anak tangga ketakwaan, menghantarkan kita pada keberkahan dan keridhoan.

Tidak lain dan tidak bukan ini adalah satu pameran kebodohan dari saya, maka saya mohon ampun kepada Allah semoga diampuni segala dosa dalam penyampaian. Sungguh kebenaran hanya milik Allah Ar Rahmaan.

Depok, 6 Agustus 2017

Hajiah M. Muhammad

Sudah Kukatakan

Mau apa kau? Sudah kukatakan, menyandarkan harap itu pada Allah saja. Agar kecewa tak kau rasa, agar perih sesak tak mengiris hati dan meninggalkan luka. Tidak banyak yang tahu tentang dirimu kecuali dirimu sendiri. Maka jangan harap orang lain mau mengerti tentangmu.