Merealisasikan Amal

Dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, diriwayatkan dari Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ

Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kejelekan dan kebaikan lalu Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan kebaikan lantas tidak bisa terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bertekad lantas bisa ia penuhi dengan melakukannya, maka Allah mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipatnya sampai lipatan yang banyak.” (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 130)

Ibnu Rajab Al Hambali berkata, “Yang dimaksud ‘hamm’ (bertekad) dalam hadits di atas adalah bertekad kuat yaitu bersemangat ingin melakukan amalan tersebut. Jadi niatan tersebut bukan hanya angan-angan yang jadi pudar tanpa ada tekad dan semangat.”(Jaami’ul Ulum wal Hikam, 2: 319)

*****

Salah satu tanda kasih sayang Allah kepada hamba-hamba beriman adalah menghitung niat baik meskipun belum bisa terlaksana. Dengan catatan, niat kebaikan itu sungguh-sungguh untuk dilaksanakan. Contohnya, kita punya harapan ingin menunaikan shaum sunnah pada setiap Senin dan Kamis. Sedangkan pada dua hari itu, ternyata jatuh sakit dan tidak memungkinkan untuk berpuasa. Insyaallah itu sudah mendapat satu kebaikan di sisi Allah. Maka jika kita ingin menyempurnakan kebaikan tersebut, laksanakan dengan kesungguhan dan kepasrahan sebagai hamba yang beriman.

Semoga Allah mudahkan segala upaya kita menunaikan kebaikan agar ia menjadi pemberat amalan di yaumil akhir nanti, menjadikan kita layak berdekatan dengan para shalih dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam.

Advertisements

Bolehkah Aku?

Allah, bolehkah aku bersandar lebih lama? Menenggelamkan sujud dalam-dalam, membenamkan tangis berbalut doa panjang. Beginikah kebanyakan manusia atau aku saja? Mendekati-Mu saat dirundung masalah, perlahan menjauh saat segalanya berjalan sesuai rencana. Padahal kami selalu mengulangi kalimat bahwa Engkau sebaik-baik sutradara, mengatur cerita tanpa cela. Segala ketentuan-Mu adalah yang terindah. Tapi hati ini tak melulu yakin begitu. Seakan meragukan-Mu dengan segala keagungan-Mu. Hati ini tak begitu. Terbaring kaku, membisu. Mendekat pada-Mu, aku malu. Terlebih jauh dari-Mu, aku tak mampu.

Maka Ya Allah, jadikan hati ini hanya terpaut pada-Mu. Hanya menyandarkan segala harap dan asa pada-Mu. Rabb, tetapkan hati kami dalam keimanan, dalam ketaatan, dalam penghambaan yang utuh menyeluruh, hanya untuk-Mu.

Hajiah

Depok, 24 Juli 2017

Pilu.

Jangankan Dirimu

Jangankan dirimu, orang-orang sholih itu pun seperti dihujani peluru. Dikatakan begini dan begitu. Jika benar arah hidupmu hanyalah untuk Allah, mengapa risau dengan perkataan yang melemahkanmu? Urus saja amalmu, perbaiki segala compang-camping keimananmu. Sesekali tengok kembali hatimu, periksa adakah ia berdebu ataukah malah telah hitam tersebab kelalaianmu?

Jangan, jangan sibuk pada amalan orang lain. Sibuk saja dengan amalanmu, amal apa yang akan kau bawa menghadap Rabb-mu? Amalan apa yang kau yakin mendapat tempat di sisi Rabb yang menggenggam hati dan jiwamu?

Boleh saja kau melihat amalan orang lain, bercermin apakah amalanmu sudah sebaik amalan mereka? Bukan malah mencaci, menghina amalannya yang kau anggap menyelisihi agama. Setiap orang berproses dalam perjalanan hijrahnya, tak hadir seketika seolah sihir yang mengelabuhi pandangan mata. Bukan, bukan tak boleh kau mengajak pada yang haq, hanya saja ada adabnya agar mereka bisa tersentuh hatinya.

Jika kau sudah bisa asyik berkhusyuk menyimak nasehat dalam majelis ilmu, jangan patahkan semangat mereka yang mulai mencintai Islam dari tempat yang jauh dari tempat dudukmu mendengarkan nasehat guru. Biarkan mereka mengenal Islam perlahan, dalam rangkulan tali persaudaraan. Bukankah selama hayat di kandung badan masih terbuka pintu ampunan? Maka biarkan mereka, dan aku berjalan pelan dalam penghambaan, meniti langkah-langkah kecil meneguhkan iman.

Semoga Allah istiqomahkan langkah kami menjadi hamba beriman, dengan adab, ilmu dan amal menjaga kemuliaan Islam. Baarokallahufiikum

Al Faqir, Hajiah.

Depok, 18 Juli 2017

ChitChat #1

“Ummi cuma gak mau di awal jalan aja udah nolak berkah dengan hal-hal yang dianggap sepele sama orang lain, sedangkan itu penting banget buat ummi. Ummi mau meminimalisir itu Mba. Biar berkah dari awal sampai akhirnya nanti”. Seorang shalihah menuturkan kalimat agak panjang pertama kali sejak pertama bertemu. Dia memang tak banyak cakap sepertiku. Ketika menyampaikan hal itu, matanya penuh harap dan sesekali memandang langit-langit yang berwarna agak gelap di temaram lampu dalam sangkar burung khas dekorasi shabby chic.

Dalam batinku,  berbisik pelan “Kamu harus konsisten menjadikan segala kebaikan sebagai pengundang barokah, jangan sampai Allah marah”. Terlibat di agenda sakral nan khidmat sebuah akad dan resepsi pernikahan menjadi ladang amal baru bagiku. Ketika awal 2016 lalu menerima ajakan kawan merintis usaha wedding organizer, tekadku hanya satu yang kami jadikan tagline, Mudahkan Sunnah Menikah. Dengan harapan, Allah memberkahi setiap kebaikan yang coba kami tanam.

Dan siang itu, seperti sedang diuji. Diuji kesungguhan untuk menjaga agar barokah itu tetap Allah limpahkan. Masyaallah, terima kasih shalihah, semoga Allah mudahkan segala urusan kita dan menjadikan kita golongan orang yang istiqomah menjaga ketaatan kepada-Nya. Tak silau kenikmatan dunia, tak lena fatamorgananya.

Baarokallahufiikum.

Depok, 6 Juli 2017

Hajiah M. Muhammad

Hmm.

Selain skripsi dan beberapa karya tulis ilmiah yang pernah ditulis, bisa diselesaikan meski dengan durasi yang tak sebentar. Tapi saya ingat, pernah menulis tugas kuliah bisa selesai dalam sepekan karena dosennya termasuk yang menyeramkan. Kata seorang kawan, “Kita itu sebenarnya kreatif, tapi sayang harus dipecut dulu. Nah seharusnya, setiap orang punya pecut sendiri biar gak nunggu dipecut”. Saya pun meng-iya-kan tanda sepaham.

Sedikit banyak kawan tersebut memang mempengaruhi paradigma saya tentang semangat. Tentang harapan-harapan yang seakan mustahil diwujudkan. Tentang hati yang harus lebih kuat meski diterpa berbagai ujian. Termasuk juga tentang mengelola humor. Tapi untuk bagian kelola humor, saya masih jauh di bawah tingkatnya. Dia selalu punya bahan candaan ketika berjumpa, sedangkan saya masih identik dengan citra serius dan mengerutkan dahi.

Hmm.

Batas Waktu

“…..Setiap yang bernyawa akan merasakan mati…” (QS. Ali Imran [3]:185)

Hanya saja, tak seorang pun tahu batas waktu hidupnya untuk kemudian mati dan dihidupkan kembali pada keadaan yang kekal di hari akhir nanti.

Sesekali saat merenung, saya terpikir bagaimana kondisi ketika jiwa ini mengakhiri masa berlakunya di dunia. Dan ketika itu, yang ada di pikiran adalah bagaimana kehidupan anak-anak tanpa saya? Bagaimana suami mengurus dan mendidik mereka tanpa saya? Seketika itu pula saya terhentak. Adalah diri ini yang lebih patut dipikirkan, bagaimana kehidupan setelah kematian di dunia ketika sampai pada batas waktunya? Apa yang bisa dibawa sebagai bekal? Apa yang sudah dipersiapkan agar kelak tak gelap dalam kubur? Dan banyak lagi pertanyaan lain yang menggelayuti pikiran, membuat persendian cekot-cekot, itu baru membayangkan, bagaimana jika memang sudah harus berpulang Ya Rabb, faghfirli, faghfirli Ya rabbi…