Perantara

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ketika memutuskan untuk menjadi perantara, saya berjanji kepada Allah untuk selalu menjaga hati. Bukan hanya hati sendiri, tapi juga hati-hati yang terlibat dalam sebuah proses. Hati ikhwan, hati akhwat, termasuk hati orang tua dan guru mengajinya. Komitmen itu insyaallah masih saya genggam kuat hingga detik ini. Menjaga hati tetap tenang, tetap bergantung hanya kepada Allah. Maka hampir setiap kali dilibatkan atau sengaja melibatkan diri dalam sebuah proses, saya katakan bahwa saya hanya membantu semampunya. Tidak bisa menjanjikan apa-apa, agar hati kita hanya bersandar kepada Allah, agar segala harap hanya tertuju pada Allah. Jangan desak saya untuk mengatakan hal-hal yang memang saya simpan, hanya karena ingin menjaga semua tetap mendapat percik-percik berkah meski proses yang dijalani tak sampai menikah. Ya, proses yang saya maksudkan adalah ta’aruf. 

Saudaraku, ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah, kepada para guru berilmu, kepada orang tua yang kepadanya rasa takzimku. Saya hanya orang yang mengais berkah dengan menjadi perantara. Tidak ada yang meminta, tak ada yang memaksa. Maka mari jaga bersama hati kita untuk berbaik sangka, untuk menjadikan Allah tujuan utama segala niat baik yang ingin dilaksana.

Ketika sebuah proses berjalan kemudian berakhir, biasanya saya katakan kepada para ikhwan dan akhwat untuk tidak menanyakan alasan dari masing-masing pihak. Maksud hati agar tidak melukai, maksud hati agar alasan yang terkadang dan cukup sering menyakitkan itu biar saya simpan sendiri. Bagaimana saya menyampaikannya? “Bismillah, setelah istikhoroh dan diskusi dengan orang tua, pihak ikhwan tidak jadi melanjutkan prosesnya. Semoga Allah berkahi setiap kebaikan yang sudah diniatkan dan telah diikhtiarkan”, atau, “Bismillah, shalihah yang dirahmati Allah, prosesnya dicukupkan ya. Ikhwannya memutuskan untuk menghentikan proses. Semoga Allah mudahkan segala urusan kita”. Kemudian biasanya akan ditanya oleh mereka, “Boleh tau alasannya?”, “Mohon maaf, saya gak bisa sampaikan alasannya. Insyaallah untuk menjaga hati”. Kalau tetap dipaksa, bahkan sampai menelepon, maka saya pastikan dulu ia telah menyiapkan hati agar tidak terluka. Setelah itu, saya sampaikan alasannya. Tapi biasanya saya memilih untuk tidak menyampaikan.

Saudaraku yang dirahmati Allah, ketika kita mengikhtiarkan kebaikan, Allah menguji kesabaran, kesungguhan, ketundukpatuhan. Jalannya tak selalu menyenangkan. Jalannya tak melulu meneduhkan. Ada yang berlubang, ada yang masih perlu diperbaiki untuk bisa dilalui. Maka sabar, gigih dan tawakal menjadi keharusan bekal yang terus dibawa hingga akhir perjalanan. Semoga Allah karuniakan kita kesabaran yang lapang, kesungguhan yang kokoh dan ketawakalan yang tak berkesudahan.

Baarokallaahufiikum.

Depok. 19 Juni 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s