Penyakit Juru Dakwah

Siang tadi berkesempatan diskusi singkat dengan salah seorang adik tingkat di kampus. Cerita yang ia sampaikan seketika mengingatkan saya pada sebuah nasihat dari seorang Sa’id Hawwa. Iya, saya masih membaca intisari Ihya’ Ulumuddin yang Sa’id Hawwa susun dari karya Imam Ghazali. Tidak lain sebagai pengingat bahwa apa yang telah saya baca semoga melekat erat dalam ingatan dan mendatangkan barokah serta manfaat, terkhusus bagi pribadi yang fakir ilmu ini.

Adik tingkat tersebut menyampaikan kurang lebih begini, “Wah ka, kok jadi ingat ada kejadian serupa ya. Jadi ada kajian kemuslimahan, pembicaranya bukan dari kalangan orang yang liqo tarbiyah. Dan koordinator keputriaannya ditegur sama senior, diminta untuk membatalkan kajian tersebut. Padahal, pembicaranya hafidzah ka, udah selesai 30 juz dengan mutqin. Beliau sering ngisi kajian fiqh muslimah dan shiroh di ta’lim umum”. Sebelum ia bercerita, saya baru saja mengungkapkan kesedihan karena ada segelintir orang yang memberikan label kepada ulama, sehingga ulama yang lain diragukan keilmuannya. Mendengar cerita itu, seketika saya berujar, “Sombong banget seniornya, ngerasa lebih baik dari ibu yang sudah jadi hafidzhoh dan berani memutus kerja sama hanya karena beliau gak ngaji tarbiyah? Penyakit itu! Penyakit dakwah”.

Iya, saya katakan itu adalah penyakit dakwah. Oh bukan, itu bukan penyakit dakwah, tapi penyakit da’inya. Dan dakwah akan rapuh jika kita terbelenggu pada satu kelompok. Fanatisme golongan seakan menjadi hal lumrah yang biasa terjadi, tapi tidak semestinya begitu. Lantas, bagaimana seharusnya dengan berbagai perbedaan dari masing-masing golongan? Setidaknya ada hal sederhana yang bisa saya simpulkan dan sudah saya yakini sejak beberapa tahun terakhir.

Menerima segala kebaikan dan pelajaran yang disampaikan oleh guru, sekalipun berbeda golongan. Dengan catatan, guru tersebut memiliki aqidah yang lurus, dalil-dalil yang kokoh, akhlak yang terpuji sehingga bisa menjadi teladan bagi murid. Karena salah satu tanda orang yang sombong adalah menolak kebenaran. Mungkin juga kita perlu ingat salah satu adab murid kepada gurunya adalah tidak bersikap sombong (tidak mengambil hikmah/ilmu) dari selain gurunya. Bukankah kebenaran bisa datang dari siapa saja?

Saudaraku yang dirahmati Allah, kita berhak memilih dengan siapa kita belajar. Tapi kita pun harus ingat bahwa sebagai murid, ketika ada orang berilmu dengan kerelaan hati membagikan ilmunya, maka hendaklah kita menghormatinya. Jika pun kita tak sepakat dengan apa yang disampaikannya, jangan halangi orang-orang untuk mengambil ibroh dan ilmu dari pengajarannya. Baarokallahufiikum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s