Adab, Ilmu dan Amal

Banyak orang berilmu tapi tak beradab, tak beramal. Ada yang beramal tanpa ilmu, pun tak beradab. Ada yang beradab, punya ilmu tapi tak beramal. Ada pula yang berilmu dan beramal tapi tak beradab. Kita ada di mana? Menyeimbangkan ketiganya dalam langkah menjadi keharusan. Maka akan tumbuh para ‘alim yang tawadhu, kata-katanya penuh nasehat, tindakannya penuh hikmah.

Sa’id Hawwa menuturkan bahwa selama seorang guru tidak menumbuhkan ketaatan, yang utuh dari murid, membiasakannya beribadah dan merealisasikan ketakwaan muridnya, maka sesungguhnya sang guru belum melakukan sesuatu. Titik awal hal tersebut terletak pada ihtirom (penghormatan) dan tsiqoh (kepercayaan) dari murid kepada gurunya. Maka dalam konsep tazkiyatun nafs yang disusun oleh Sa’id Hawwaa dari intisari Ihya’ Ulumuddin dibuka dengan kajian tentang adab murid dan guru. Mari kita susuri pemaparan Al Ghazali mengenai hal tersebut.

  1. Mendahulukan kesucian jiwa daripada keburukan akhlak dan sifat. Ilmu adalah ibadahnya hati, sholatnya jiwa, dan peribadatan batin kepada Allah. Menjaga jiwa dari segala bentuk maksiat, sekuat jiwa untuk melakukan ketaatan dan menjauhi larangan Allah. Kemudian berpegang teguh pada agama Allah agar tergolong orang-orang selamat yang menjaga kebaikan akhlak, dan menjauhkan diri dari segala sifat ahli maksiat.
  2. Mengurangi keterikatan hati dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukan dan memalingkan. Fokus! Kata itulah yang sering disampaikan agar setiap murid mampu mencerna ilmu secara menyeluruh. Al Ghazali mengutip perkataan, “Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu menyerahkan kepadanya seluruh jiwamu. Jika kamu telah memberikan seluruh jiwamu kepadanya tetapi ia baru memberikan sebagiannya kepadamu  maka kamu berarti dalam bahaya”. Imam Ghazali menambahkan, pikiran yang terpencar pada berbagai hal yang berserakan seperti sungai kecil yang airnya berpencar kemudian sebagiannya diserap tanah dan sebagian yang lain dihisap udara sehingga tidak ada yang terkumpul.
  3. Bersikap rendah hati kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang kepada mereka. Asy Sya’bi berkata, “Zaid bin Tsabit menshalatkan jenazah, lalu baghalnya didekatkan kepadanya untuk ditunggangi, kemudian Ibnu Abbas segela mengambil kendali baghal itu dan menuntunnya. Maka Zaid berkata, “Lepaskanlah wahai anak paman Rasulullah!” Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diperintahkan untuk bersikap kepada ulama dan tokoh”. Kemudian Zaid bin Tsabit mencium tangannya seraya berkata, “Beginilah kami diperintahkan untuk berlaku kepada kerabat Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam”. (HR. Tabrani, al Hakim, Baihaqi dalam al Makhdal. Al Hakim berkata, shahih sanadnya berdasarkan syarat Muslim). Oleh karena itu, penuntut ilmu tidak boleh bersikap sombong terhadap guru. Di antara bentuk kesombongan adalah sikap tidak mau mengambil pelajaran selain dari guru yang besar dan terkenal, padahal sesungguhnya sikap itu adalah merupaakan kebodohan. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Diantara hak seorang guru adalah tidak memegangi kainnya ketika ia bangkit, tidak menyebarkan rahasianya, tidak mencari-cari kesalahannya; jika ia tergelincir maka kamu terima alasannya. Kamu juga harus menghormatinya dan memuliakannya karena Allah selama ia tetap menjaga perintah Allah, dan tidak duduk di hadapannya sekalipun kamu ingin mendahului orang dalam berkhidmat memenuhi keperluannya”.
  4. Orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara manusia, baik apa yang ditekuninya itu termasuk ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Karena hal tersebut akan membingungkannya, membuatnya putus asa dari melakukan pengkajian dan telaah lebih mendalam. Bahkan, pertama kali ia harus menguasai satu jalan yang terpuji baru kemudian mendengarkan berbagai pendapat (mazhab).
  5. Seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya. Jika cukup kesempatan yang dimilikinya, maka ia harus berusaha mendalami berbagai cabang ilmu, tetapi jika harus menekuni yang paling penting di antara cabang ilmu tersebut, maka itu pun dibolehkan. Karena satu cabang ilmu dengan ilmu lain saling mendukung dan terkait satu sama lain.
  6. Tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus tetapi dengan menjaga susunannya agar sesuai dengan maslahat yang akan didapatkan dari ilmu tersebut. Ilmu yang dimaksudkan Imam Ghazali adalah suatu bentuk keyakinan yang merupakanhasil cahaya yang Allah hujamkan ke dalam hati seorang hamba yang telah menyucikan jiwanya melalui mujahadah (perjuangan).
  7. Hendaklah tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu yang ditempuh sebelumnya. Ilmu merupakan jalan bagi sebagian yang lain. Hendaklah tujuan dalam setiap ilmu yang dicari adalah peningkatan kepada apa yang berada di atasnya. Sehingga tidak mudah menghakimi ketika seorang yang lebih berilmu melakukan penyimpangan di kalangan orang-orang yang menekuninya, atau karena kesalahan beberapa orang dalam ilmu tersebut, menganggap kebatilan yang fatal.
  8. Hendaklah mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia. Kemuliaan yang dimaksud adalah kemuliaan hasil dan kekokohan dalil. Hal ini mencakup berbagai cabang ilmu, terutama ilmu agama.
  9. Hendaklah tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan memperindah batinnya dengan keutamaan, dan di akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin). Dengan demikian, diharapkan para penuntut ilmu berusaha menjaga ilmunya bukan hanya untuk menghasilkan kekuasaan, harta, jabatan atau membodohi orang dan membanggakannya kepada sesama orang yang berilmu. Melainkan, ilmu yang dimilikinya menjadi jalan menuju pertemuan dengan Allah dan orang-orang sholih di akhirat kelak.
  10. Hendaklah mengetahui kaitan ilmu dengan tujuan mempelajarinya. Sebaik-baik ilmu yang dipelajari adalah yang mampu menjadikan kita pribadi yang mampu menghimpun antara kesenangan dunia dan kenikmatan akhirat maka kita berharap semoga ilmu yang dipelajari bukan hanya memberikan maslahat ketika hidup di dunia, tetapi juga mendatangkan rahmat di akhirat yang berkekalan.

Saudaraku yang dirahmati Allah, dari uraian singkat tersebut di atas, semoga kita dapat memetik hikmahnya sehingga menambah barokah di tiap usaha kita menuntut ilmu. Sungguh beruntung orang-orang yang memadukan adab, ilmu dan amal dalam kesehariannya, menjadikannya pribadi yang berakhlak terpuji, ilmunya mumpuni, amalnya diberkahi, insyaallah.

Depok, 13 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s