Baper #2

Jika melakukan kebaikan, lupakanlah. Tugasmu hanya melaksanakan niat baik tetap dalam kebaikan dan bermohon dapat mendatangkan kebaikan-kebaikan yang lain. Biarkan kebaikan itu berlalu, mengikuti hempasan angin dan tak perlu lagi kau cari. Semoga kebaikan itu terbawa ke angkasa, menemui Rabb Sang Pencipta. Sedangkan kau, teruslah mengumpulkan bekal untuk perjalanan pulang agar dapat memetik bibit-bibit kebaikan yang telah ditanam.

Imam Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri berkata: “Tidaklah aku berusaha memperbaiki sesuatu (dalam diriku) yang lebih sulit bagiku daripada (memperbaiki) niatku (supaya ikhlas)”. Kita belajar bahwa menjaga niat baik itu sejak awal, tengah, hingga akhir perjalanan. Ujiannya seringkali bukan ketika di awal perjalanan, melaikan di pertengahan dan kita tidak pernah tahu bagaimana kesudahannya. Apakah ikhlas itu masih terjaga ataukah sudah tercemar ujub dalam jiwa.

Tidak ada seorang pun yang bisa menjamin dirinya bisa selamat dari sifat berbangga diri. Mereka mungkin bisa menjaga amalnya dari riya’ tapi belum tentu bisa menahan diri untuk tidak membanggakan amal dalam jiwanya.

Ibnu Taimiyyah rahimallahu menjelaskan bahwa ujub berarti menyandingkan dengan jiwa yang lemah. Ujub ini adalah keadaan orang-orang yang sombong. Maka saya mengambil pelajaran bahwa para pelaku ujub adalah orang-orang yang membanggakan amalannya dalam jiwa dan hati sehingga menyandingkan amalannya dengan amalan orang lain. Terlampau bangga sampai menjadi sombong dalam artian meremehkan orang lain dan menolak kebenaran. Padahal semestinya, ketika kita menyandingkan amalan diri dengan amalan orang lain adalah untuk berlomba dalam kebaikan, saling mengingatkan, saling mendoakan, bukan meremehkan amalan orang lain. Belum tentu amalan yang kita lakukan lebih baik dari amalan orang lain, kan?

Dan hari ini, saya coba bagikan bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga dirinya dari sifat ujub. Semoga Allah ridho.

  1. Menyadari sepenuh hati bahwa setiap orang punya potensi kebaikan dan hatinya cenderung pada kebaikan, dengan harapan diri ini sadar bahwa amal baik yang dilakukan adalah upaya berlomba menjemput keridhoan dan keberkahan Allah. Bukan untuk dibanggakan, sekalipun dalam diri sendiri.
  2. Sadar betul, betul-betul sadar jika diri kita yang masih banyak cela dan dosanya ini masih jauh dari derajat sholih, apalagi takwa. Kita selalu sedang menuju itu, belum sampai karena kita tidak tahu bagaimana akhir hayat kita. Insyaallah dengan begitu, kita akan selalu mengingat mati sehingga menjaga akhlak tetap dalam sifat yang Allah ridhoi.
  3. Bersegera menuju ampunan Allah, seraya beristighfar, memohon ampun jika tiba-tiba terbersit rasa ujub meski hanya sebesar biji sawi. Semoga Allah limpahkan ampunan-Nya dan menjaga amalan-amalan kita dalam keridhoan Allah.

Menjadi muslim yang patuh lagi taat memang tidak mudah. Perlu diperjuangkan, ada pengorbanan, ada pengharapan, serta ujiannya. Maka sudah seharusnya kita melibatkan Allah di setiap amalan. Semoga Allah ridho dengan apa yang kita lakukan. Aamiin.

Depok, 3 Juni 2017

Hajiah M. Muhammad

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s