Tenar

عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ »

Dari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Mu’awiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah -Ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasehat untukku dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Menjadi dikenal masyarakat luas, diberi gelar ini dan itu, lalu congkak dan menolak nasehat, apakah itu yang terlahir dari ilmu yang didapat? Bukankah ilmu adalah cahaya? Semestinya menerangi, bukan menjadikan pandangan jadi gulita. Membaca adalah jendela dunia. Kita bisa menjelajah ke seantero bumi, luar angkasa sekalipun. Tapi orang-orang yang beriman, yang menjadikan ilmu adalah jalan mendekat pada Rabb semesta alam, semakin berilmu, semakin merunduk. Takwanya meningkat, hati dan pikirannya pun selamat. Apakah orang-orang beriman itu mencari keridhoan manusia untuk diakui keilmuannya? Tidak, sama sekali tidak.

Karena orang-orang beriman yang menuntut ilmu, semakin ia berilmu, akan semakin sadar betapa dirinya kerdil, kecil di hadapan Allah sebagai Dzat yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Mereka tidak mencari sorak sorai manusia karena menunaikan kewajiban menuntut ilmu dengan bekal iman, menjadikan ilmunya sebagai penerang.

Jika kita temukan orang-orang jumawa yang bangga dengan sokongan manusia padahal ilmunya tidak seberapa, jangan heran ketika pemikirannya mengenaskan, menyesatkan. Yang lebih parah, mereka menutup diri dari segala nasehat kebaikan. Menganggap nasehat-nasehat bijak itu sebagai perlawanan yang melemahkan. Nyatanya, orang-orang yang memberi nasehat inginkan mereka selamat dunia akhirat. Bukankah kita pun ingin ilmu yang kita punya menjadi bekal di kehidupan setelah mati nanti?

Depok, 31 Mei 2017

Hajiah M. Muhammad

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s