Bangunan Keislaman #2

Seperti yang saya bayangkan, tulisan ini mungkin akan jadi tulisan yang cukup panjang. Tak mengapa, mumpung semangat bacanya masih menyala.

************

Setelah tertunda menyelesaikan tulisan pertamainsyaallah malam ini akan saya rampunngkan.

Syahadat kita anggap sebagai pondasi, sholat sebagai tiang, dan puasa adalah pelindung, atau dinding dari bangunan keislaman. Puasa adalah perisai, pelindung dari godaan syetan karena dari puasa kita dididik untuk mengendalikan hawa nafsu, mengendalikan diri dari segala yang membatalkannya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al Baqarah ayat 183)

Di antara keagungan puasa adalah sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, sebagai bentuk kepatuhan hamba atas titah Rabb-nya. Dr. Ali bin Sa’id Al Ghamidi menyebutkan dalam karyanya, kewajiban seorang muslimah terhadap Rabb-nya adalah beribadah kepada-Nya. Menyembahnya dengan sebaik-baik penghambaan, dan beribadah kepada-Nya sesuai dengan yang telah disyariatkan.

Maka puasa adalah bagian dari kewajiban hamba terhadap Pencipta-nya. Menunaikan puasa artinya membangun pertahanan iman, melatih imunitas tubuh dan menjaga kesehatan badan, serta mendidik pribadi yang berjiwa sosial. Selayaknya dinding dalam sebuah rumah, maka puasa adalah benteng pertahanan agar pondasi dan tiang yang sudah dibangun tidak rapuh, tidak mudah roboh karena memiliki dinding yang kuat. Itulah diantara hikmah berpuasa. Jumhur ulama menyepakati bahwa puasa di bulan Ramadhan adalah bagian dari rukun Islam, maka bagi yang menunaikannya telah melaksanakan rukun Islam. Tidak lupa juga untuk menunaikan puasa sunnah untuk melengkapi ibadah wajib puasa Ramadhan. Ibadah wajib yang kita lakukan, seringkali hanya sebatas penggugur kewajiban maka ibadah-ibadah sunnah menjadi amalan lain untuk melengkapi ibadah wajib.

Dan selanjutnya, untuk membentuk bangunan keislaman yang kokoh, kita memerlukan jendela atau ventilasi udara agar tercukupi kebutuhan dasar manusia untuk bernafas. Ventilasi udara itu adalah zakat. Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam memerintahkan Muadz pergi ke Yaman untuk menyampaikan tauhid, sholat dan zakat kepada kaumnya serta memerintahkan kepadanya untuk mengambil zakat dari mereka dan memelihara kemuliaan harta mereka. (Muttafaq ‘Alayh, dan Al Lu’lu wal Marjaan I/5, 11).

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At Taubah ayat 103).

Bagi muslim yang taat, kewajiban membayar zakat dikerjakan untuk membersihkan hartanya, menjaga kemuliaan hartanya. Dan yang tidak kalah penting, zakat juga mampu mendatangkan rezeki dan mencukupi kebutuhan manusia. Seperti halnya ventilasi udara, zakat merupakan celah-celah rezeki yang Allah berikan kepada para muzaki (orang yang mengeluarkan zakat). Sama seperti sholat dan puasa, dalam penunaian zakat juga ada dasar perhitungan agar diterima zakatnya. Tapi saya tidak akan membahasnya kali ini, insyaallah akan ada tulisan khusus mengenai ibadah mulai dari sholat, puasa, zakat dan haji sebagai bagian dari rukun Islam.

Tapi, semoga berkenan membaca sedikit ulasan mengenai zakat fitrah yang merupakan kewajiban individu, tidak dapat diwakilkan. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan seberat 1 sha’*  atau 1 sha’ gandum. Dibagikan kepada hamba sahaya dan yang merdeka, laki-laki dan wanita, serta anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam memerintahkannya agar dilaksanakan sebelum orang-orang keluar untuk shalat (Idul Fitri). (HR. Bukhari No. 1503) *1 sha’ menurut mazhab Hanafi seberat 3.261,5 gram, sedangkan menurut selain mazhab Hanafi seberat 2.172 gram

Tentang pelaksanaan zakat fitrah, jumhur ulama membolehkan zakat fitrah dikeluarkan sebelum hari Idul Fitri selama bulan Ramadhan. Sebagaimana hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu  yang diriwayatkan oleh Bukhari, beliau mengatakan bahwa para sahabat biasa memberikannya (zakat fitrah) satu atau dua hari sebelum Idul Fitri. (HR. Bukhari No. 1511).

Ada catatan tambahan mengenai zakat fitrah. Zakat fitrah telah ditentukan bentuk dan jumlahnya meskipun kita diberi kebebasan untuk memilih dan tidak ada ketetapan mengenai nilai harganya. Maka sebaiknya zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk gandum atau makanan pokok pada sebuah wilayah dan tidak menggantinya dengan sejumlah uang meskipun seharga barang yang akan dikeluarkan zakatnya. Tetapi, tidak ada larangan bagi muzaki jika ingin membayar amil zakat untuk mendistribusikan zakatnya kepada mustahik zakat di berbagai wilayah seperti yang dilakukan lembaga-lembaga zakat sebagai penyalur hasil zakat dari muzaki kepada mustahik. Wallahu a’lam.

Terakhir, bangunan keislaman yang terakhir adalah haji.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wanita wajib jihad?”, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Ya, bagi mereka ada kewajiban jihad yang tidak ada pertempuran di dalamnya, yaitu haji dan umroh”. (HR. Ahmad No. 26064, dishahihkan oleh AlBani dalam Mukhtashar Iraaul Ghalil I/189).

Masyaallah, terkhusus kaum hawa ibadah haji dan umroh adalah bentuk kewajiban berjihad.

Ulama sepakat bahwa haji adalah bagian dari rukun Islam, menjadi kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat, dan cukup satu kali seumur hidup. Sedangkan umroh boleh dilakukan lebih dari satu kali. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Umroh satu dengan umroh berikutnya bisa menghapuskan dosa yang ada di antara keduanya. Dan tidak ada balasan bagi haji yang mabrur selain surga” (HR. Bukhari No. 3006 dan Muslim No. 1349).

Maka kita perlu memperhatikan syarat-syarat haji dan umroh, sebagai berikut:

  1. Islam
  2. Berakal
  3. Baligh, jika anak-anak yang belum baligh ikut haji atau umroh, maka ketika mereka baligh, tetap ada keharusan untuk haji dan umroh
  4. Merdeka secara sempurna
  5. Mampu. Kondisinya memungkinkan untuk melakukan perjalanan. Haji dan umroh adalah ibadah fisik yang membutuhkan tenaga. Mampu juga termasuk tentang pembiayaan. Jumhur ulama dalam menafsirkan syarat mampu ini menyebutkan dengan memiliki perbekalan untuk melakukan perjalanan haji dan umroh. Adapun pendapat lain mengenai kemampuan dari keumuman dalil adalah aman selama perjalanan.
  6. Wanita wajb bersama mahromnya. Berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Wanita tidak boleh bepergian, kecuali bersama mahromnya dan tidak boleh ditemui seorang laki-laki, kecuali bersama mahromnya” (HR. Baihaqi No. 5204 dishahihkan oleh Albani dalam Mukhtashar Irwaaul Ghaliil : I/192)
  7. Terkhusus kepada muslimah, tidak boleh melakukan ibadah haji atau umroh pada pasa iddah karena kematian suaminya. Hal ini disebabkan dia sedang berduka dan supaya tidak mengabaikan hak suaminya

Hal lain tentang haji yang perlu diperhatikan adalah mengenai hukum mewakilkan haji dan umroh. Kedua ibadah tersebut adalah termasuk yang boleh diwakilkan. Sebagaimana hadits Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam. Suatu hari Al Khats’ bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam, “Sesungguhnya, ayahku telah tua untuk melaksanakan ibadah haji, dan dia tidak mampu menempuh perjalanannya. Apakah aku boleh menghajikannya?”, Rasulullah menjawab, “Hajikanlah untuknya” (HR. Bukhari No. 1513).

Orang yang hendak menghajikan orang lain disyaratkan telah lebih dulu menunaikan ibadah haji untuk dirinya sendiri. “Hajilah terlebih dahulu untukmu kemudian hajikanlah untuh Syubrumah” (HR. Abu Dawud No. 1811 dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abi Dawud: IV/211)

Jika seseorang telah meninggal sebelum menunaikan haji, maka kerabatnya boleh menghajikannya. Jika tidak, ambillah peninggalannya sebelum pembagian waris, sesuai biaya orang naik haji. Mengapa demikian? Karena haji termasuk hutang dan sebagai hak-hak yang berhubungan dengan harga benda peninggalan orang yang meninggal.

Alhamdulillah, tuntas sudah yang ingin disarikan mengenai rukun Islam dari buku Fiqh Wanita karya Dr. Ali bin Sa’id Al Ghamidi. Semoga Allah curahkan barokah untuk kita dan menambah tsaqofah serta pemahaman yang semakin mendekatkan kita dengan Allah. Aamiin.

Depok, 29 Mei 2017

Hajiah M. Muhammad

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s