Tenar

عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ »

Dari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Mu’awiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah -Ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasehat untukku dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Menjadi dikenal masyarakat luas, diberi gelar ini dan itu, lalu congkak dan menolak nasehat, apakah itu yang terlahir dari ilmu yang didapat? Bukankah ilmu adalah cahaya? Semestinya menerangi, bukan menjadikan pandangan jadi gulita. Membaca adalah jendela dunia. Kita bisa menjelajah ke seantero bumi, luar angkasa sekalipun. Tapi orang-orang yang beriman, yang menjadikan ilmu adalah jalan mendekat pada Rabb semesta alam, semakin berilmu, semakin merunduk. Takwanya meningkat, hati dan pikirannya pun selamat. Apakah orang-orang beriman itu mencari keridhoan manusia untuk diakui keilmuannya? Tidak, sama sekali tidak.

Karena orang-orang beriman yang menuntut ilmu, semakin ia berilmu, akan semakin sadar betapa dirinya kerdil, kecil di hadapan Allah sebagai Dzat yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Mereka tidak mencari sorak sorai manusia karena menunaikan kewajiban menuntut ilmu dengan bekal iman, menjadikan ilmunya sebagai penerang.

Jika kita temukan orang-orang jumawa yang bangga dengan sokongan manusia padahal ilmunya tidak seberapa, jangan heran ketika pemikirannya mengenaskan, menyesatkan. Yang lebih parah, mereka menutup diri dari segala nasehat kebaikan. Menganggap nasehat-nasehat bijak itu sebagai perlawanan yang melemahkan. Nyatanya, orang-orang yang memberi nasehat inginkan mereka selamat dunia akhirat. Bukankah kita pun ingin ilmu yang kita punya menjadi bekal di kehidupan setelah mati nanti?

Depok, 31 Mei 2017

Hajiah M. Muhammad

Penggugah Jiwa

Dr. Aidh Al Qarni dalam karya-karya emasnya termasuk tulisan penggugah jiwa. Sedikit banyak pemikiran saya pun terbawa gugahan karya beliau yang masyaallah luar biasa. Semakin dibaca, semakin tertegun. Untaian kata demi kata dirangkai mengalir, mengguncang minat pembaca untuk terus melahap tulisannya. Sesekali, bahkan berulang kali kalimat yang ia tuliskan menghujam, jleb dan membuat air mata mengalir tanpa disadari. Jika tulisan seorang berilmu saja begitu menggugah hati dan jiwa, tidakkah Al Qur’an yang amat mulia menyadarkan kita akan banyak hal? Mengingatkan kita bahwa segala karunia Allah tersebar untuk kita renungkan, menjadikan kita semakin tunduk, menjadikan kita semakin takut. Bukan malah menjadikan ngantuk.

**********

“Baru baca lima ayat udah sepet nih mata”, keluhnya. “Kalo baca qur’an, meskipun niat banget tapi mesti deh, belum lama udah keburu ngantuk. Gak kayak baca novel. Sampe selesai satu buku juga gak ada tuh rasa ngantuk”. Begitu kira-kira yang banyak terjadi pada sebagian orang. Itulah godaannya, bisikan syetan yang dituruti. Mengapa sebelum membaca qur’an kita diharuskan membaca ta’awudz? Agar terhindar dari godaan syetan. Membentuk tawakal dan penjagaan dari Allah.

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٩٨ إِنَّهُۥ لَيۡسَ لَهُۥ سُلۡطَٰنٌ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ٩٩ إِنَّمَا سُلۡطَٰنُهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ يَتَوَلَّوۡنَهُۥ وَٱلَّذِينَ هُم بِهِۦ مُشۡرِكُونَ ١٠٠

“Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk. Sungguh syetan itu tidak akan berpengaruh kepada orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah. Pengaruhnya hanya kepada orang yang menjadikan (syetan) pemimpin dan terhadap orang yang menyekutukan Allah” (QS. An Nahl [16] : 98-100)

Perintah tersebut menurut para ulama sifatnya adalah sunnah, bukan wajib. Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far bin Jarir. Membaca ta’awudz dimaksudkan agar ketika membaca Al Qur’an, hati dan pikiran dapat memaknai apa yang dibaca. Sehingga semakin menambah keimanan, meningkatkan ketakwaan. Insyaallah.

Kenapa ketika membacanya masih ngantuk, padahal sudah membaca ta’awudz? 

  1. Ta’awudz dibaca belum sepenuh hati. Masih sekadar seremonial sebelum membaca Al Qur’an. Baru sampai di lisan, belum penuh pengharapan agar terhindar dari godaan syetan.
  2. Berdasarkan dari ayat tersebut di atas, bisikan syetan masih masuk ke dalam diri kita karena hati ini masih kotor. Masih banyak penyakitnya, masih banyak maksiatnya. Lebih mengikuti bisikan syetan daripada bisikan malaikat. “Loh? Memang malaikat juga berbisik sama manusia?”. Iya. Seperti yang Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam sampaikan dalam haditsnya: “Sesungguhnya syetan memiliki bisikan was-was kepada anak cucu Adam dan malaikat pun memiliki bisikan. Adapun bisikan syetan selalu menjanjikan kejahatan dan mendustakan kebenaran, sedangkan bisikan para malaikat menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran. Barangsiapa mendapatkan demikian (bisikan malaikat), maka ketahuilah sesungguhnya itu dari Allah dan memujilah kepada Allah. Akan tetapi, barangsiapa yang mendapatkan bisikan syetan, berlindunglah kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk” (HR. Tirmidzi No. 2914)

Sebenarnya, membaca Al Qur’an itu menyenangkan, menentramkan, jauh dari rasa bosan. Karena kita akan dibawa menyelami keindahan susunan kata yang penuh hikmah. Al Qur’an tidak akan bosan kita baca sampai kita yang bosan membacanya. Semoga Allah mudahkan niat-niat baik kita untuk terus dekat dengan Al Qur’an, semoga ia menjadi syafa’at di akhirat kelak. Baarokallahufiikum.

Depok, 31 Mei 2017

Hajiah M. Muhammad

 

Hanya Sekejap

Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda; “Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, tidaklah perumpamaan dunia kecuali seperti seorang pengembara yang lewat pada suatu hari yang panas. Lantas ia berteduh di bawah pohhon untuk beberapa saat dari terik siang hari. Kemudian, panas itu hilang dan dia pun meninggalkannya”. (HR. Ahmad danal Musnad-nya 1/301, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, 14/365).

Dalam sebuah perjalanan pulang dari bagian timur Pulau Jawa, setelah menghadiri pernikahan salah seorang kawan di akhir tahun 2012 silam. Kekaguman saya pada sebuah keluarganya semakin mengarah pada satu simpul, apa itu? Keluarganya menjadikan orientasi kehidupan pada akhirat. Ah lebay! Mungkin, tapi kalaupun berlebihan semoga tidak membuat saya menjadikan mereka thoghut. 

Abah dan Ummi mendidik anak-anaknya untuk dekat dengan Al Qur’an. Ummi tak pernah lupa untuk muroja’ah hapalannya ketika sedang menyusui. Ketika hamil, Ummi rajin membacakan ayat-ayat cinta sambil sesekali mengusap lembut perutnya. Abah? Sama, Abah juga begitu. Di tengah beragam kegiatannya melayani umat, Abah juga menyempatkan untuk tilawah qur’an sambil mengelus perut Ummi yang semakin membesar.

Memasuki usia anak sekolah, Abah bertekad untuk semakin mendekatkan anak-anaknya dengan qur’an. Menyekolahkan mereka sampai jenjang SLTP untuk seterusnya mengenyam pendidikan pesantren, dengan harapan setelah lulus dari pondok, anak-anaknya menjadi pribadi yang lebih matang dalam beragama. Bekal sebelum ke pondok, tentunya adalah kemesraan mereka dengan qur’an yang didapat dari Abah dan Ummi.

Mereka ada tujuh bersaudara, anak pertama hingga kelima adalah laki-laki, dua terakhir adalah perempuan. Dan kesemuanya hingga kini punya hapalan qur’an yang baik. Kalau tidak salah, di pertengahan tahun 2016, putra kelima sudah menyelesaikan hapalan 30 juz pada usia relatif muda, sekitar 16 tahun.

Hal menarik dari keluarga inspiratif tersebut lainnya adalah semangat belajar dan mengajar yang luar biasa. Abah dan Ummi membiasakan anak-anaknya untuk belajar, memberikan kebebasan kepada mereka untuk menuntut ilmu meskipun harus jauh dari pandangan. Orang tua tentu rindu jika tak bertemu, tapi kerinduan itu akan berujung manis dengan kecintaan anak-anak dengan ilmu. Biarlah kita berjauhan (dengan anak) asalkan mereka semakin dekat dengan qur’an. Itu adalah pesan Abah kepada Ummi ketika melepas anak-anaknya untuk menuntut ilmu.

Dan hari ini, saya menjadi saksi bahwa apa yang telah Abah dan Ummi lakukan untuk membangun rumah tangga yang berorientasi ukhrowi, membuahkan hasil yang luar biasa. Benarlah apa yang Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam sabdakan: “Siapa yang akhirat menjadi tujuan, Allah akan mengumpulkan dunia di hadapannya dan memberikan kecukupan dalam hatinya. Dunia mendatanginya, sedangkan ia enggan. Siapa yang dunia menjadi tujuan, Allah akan memisahkan urusannya. Allah menjadikan kefakiran ada di depan mata. Dia tidak mendatangi dunia kecuali yang telah ditetapkan baginya” (HR. At Tabrani dalam Al Kabir, 11/66).

Keluarga Abah tergolong ekonomi menengah. Anak-anaknya mendapat kecukupan rezeki karena kecintaannya terhadap qur’an dan ilmu serta menjadikan keduanya bekal untuk menjadi sebaik-baik manusia yang belajar al qur’an dan mengajarkannya. Dan tentu, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka gigih berikhtiar menjemput rezeki yang halal. Semua dilakukan karena mengharap keberkahan, bukan sebatas rupiah yang bertumpuk, berhamburan. Masyaallah. Semoga keluarga Abah selalu dalam limpahan keberkahan dan kasih sayang Allah. Dan semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari kehidupannya. Insyaallah.

Depok, 30 Mei 2017

Hajiah M. Muhammad

Bangunan Keislaman #2

Seperti yang saya bayangkan, tulisan ini mungkin akan jadi tulisan yang cukup panjang. Tak mengapa, mumpung semangat bacanya masih menyala.

************

Setelah tertunda menyelesaikan tulisan pertamainsyaallah malam ini akan saya rampunngkan.

Syahadat kita anggap sebagai pondasi, sholat sebagai tiang, dan puasa adalah pelindung, atau dinding dari bangunan keislaman. Puasa adalah perisai, pelindung dari godaan syetan karena dari puasa kita dididik untuk mengendalikan hawa nafsu, mengendalikan diri dari segala yang membatalkannya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al Baqarah ayat 183)

Di antara keagungan puasa adalah sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, sebagai bentuk kepatuhan hamba atas titah Rabb-nya. Dr. Ali bin Sa’id Al Ghamidi menyebutkan dalam karyanya, kewajiban seorang muslimah terhadap Rabb-nya adalah beribadah kepada-Nya. Menyembahnya dengan sebaik-baik penghambaan, dan beribadah kepada-Nya sesuai dengan yang telah disyariatkan.

Maka puasa adalah bagian dari kewajiban hamba terhadap Pencipta-nya. Menunaikan puasa artinya membangun pertahanan iman, melatih imunitas tubuh dan menjaga kesehatan badan, serta mendidik pribadi yang berjiwa sosial. Selayaknya dinding dalam sebuah rumah, maka puasa adalah benteng pertahanan agar pondasi dan tiang yang sudah dibangun tidak rapuh, tidak mudah roboh karena memiliki dinding yang kuat. Itulah diantara hikmah berpuasa. Jumhur ulama menyepakati bahwa puasa di bulan Ramadhan adalah bagian dari rukun Islam, maka bagi yang menunaikannya telah melaksanakan rukun Islam. Tidak lupa juga untuk menunaikan puasa sunnah untuk melengkapi ibadah wajib puasa Ramadhan. Ibadah wajib yang kita lakukan, seringkali hanya sebatas penggugur kewajiban maka ibadah-ibadah sunnah menjadi amalan lain untuk melengkapi ibadah wajib.

Dan selanjutnya, untuk membentuk bangunan keislaman yang kokoh, kita memerlukan jendela atau ventilasi udara agar tercukupi kebutuhan dasar manusia untuk bernafas. Ventilasi udara itu adalah zakat. Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam memerintahkan Muadz pergi ke Yaman untuk menyampaikan tauhid, sholat dan zakat kepada kaumnya serta memerintahkan kepadanya untuk mengambil zakat dari mereka dan memelihara kemuliaan harta mereka. (Muttafaq ‘Alayh, dan Al Lu’lu wal Marjaan I/5, 11).

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At Taubah ayat 103).

Bagi muslim yang taat, kewajiban membayar zakat dikerjakan untuk membersihkan hartanya, menjaga kemuliaan hartanya. Dan yang tidak kalah penting, zakat juga mampu mendatangkan rezeki dan mencukupi kebutuhan manusia. Seperti halnya ventilasi udara, zakat merupakan celah-celah rezeki yang Allah berikan kepada para muzaki (orang yang mengeluarkan zakat). Sama seperti sholat dan puasa, dalam penunaian zakat juga ada dasar perhitungan agar diterima zakatnya. Tapi saya tidak akan membahasnya kali ini, insyaallah akan ada tulisan khusus mengenai ibadah mulai dari sholat, puasa, zakat dan haji sebagai bagian dari rukun Islam.

Tapi, semoga berkenan membaca sedikit ulasan mengenai zakat fitrah yang merupakan kewajiban individu, tidak dapat diwakilkan. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan seberat 1 sha’*  atau 1 sha’ gandum. Dibagikan kepada hamba sahaya dan yang merdeka, laki-laki dan wanita, serta anak kecil dan orang dewasa dari kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam memerintahkannya agar dilaksanakan sebelum orang-orang keluar untuk shalat (Idul Fitri). (HR. Bukhari No. 1503) *1 sha’ menurut mazhab Hanafi seberat 3.261,5 gram, sedangkan menurut selain mazhab Hanafi seberat 2.172 gram

Tentang pelaksanaan zakat fitrah, jumhur ulama membolehkan zakat fitrah dikeluarkan sebelum hari Idul Fitri selama bulan Ramadhan. Sebagaimana hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu  yang diriwayatkan oleh Bukhari, beliau mengatakan bahwa para sahabat biasa memberikannya (zakat fitrah) satu atau dua hari sebelum Idul Fitri. (HR. Bukhari No. 1511).

Ada catatan tambahan mengenai zakat fitrah. Zakat fitrah telah ditentukan bentuk dan jumlahnya meskipun kita diberi kebebasan untuk memilih dan tidak ada ketetapan mengenai nilai harganya. Maka sebaiknya zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk gandum atau makanan pokok pada sebuah wilayah dan tidak menggantinya dengan sejumlah uang meskipun seharga barang yang akan dikeluarkan zakatnya. Tetapi, tidak ada larangan bagi muzaki jika ingin membayar amil zakat untuk mendistribusikan zakatnya kepada mustahik zakat di berbagai wilayah seperti yang dilakukan lembaga-lembaga zakat sebagai penyalur hasil zakat dari muzaki kepada mustahik. Wallahu a’lam.

Terakhir, bangunan keislaman yang terakhir adalah haji.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wanita wajib jihad?”, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Ya, bagi mereka ada kewajiban jihad yang tidak ada pertempuran di dalamnya, yaitu haji dan umroh”. (HR. Ahmad No. 26064, dishahihkan oleh AlBani dalam Mukhtashar Iraaul Ghalil I/189).

Masyaallah, terkhusus kaum hawa ibadah haji dan umroh adalah bentuk kewajiban berjihad.

Ulama sepakat bahwa haji adalah bagian dari rukun Islam, menjadi kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat, dan cukup satu kali seumur hidup. Sedangkan umroh boleh dilakukan lebih dari satu kali. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Umroh satu dengan umroh berikutnya bisa menghapuskan dosa yang ada di antara keduanya. Dan tidak ada balasan bagi haji yang mabrur selain surga” (HR. Bukhari No. 3006 dan Muslim No. 1349).

Maka kita perlu memperhatikan syarat-syarat haji dan umroh, sebagai berikut:

  1. Islam
  2. Berakal
  3. Baligh, jika anak-anak yang belum baligh ikut haji atau umroh, maka ketika mereka baligh, tetap ada keharusan untuk haji dan umroh
  4. Merdeka secara sempurna
  5. Mampu. Kondisinya memungkinkan untuk melakukan perjalanan. Haji dan umroh adalah ibadah fisik yang membutuhkan tenaga. Mampu juga termasuk tentang pembiayaan. Jumhur ulama dalam menafsirkan syarat mampu ini menyebutkan dengan memiliki perbekalan untuk melakukan perjalanan haji dan umroh. Adapun pendapat lain mengenai kemampuan dari keumuman dalil adalah aman selama perjalanan.
  6. Wanita wajb bersama mahromnya. Berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Wanita tidak boleh bepergian, kecuali bersama mahromnya dan tidak boleh ditemui seorang laki-laki, kecuali bersama mahromnya” (HR. Baihaqi No. 5204 dishahihkan oleh Albani dalam Mukhtashar Irwaaul Ghaliil : I/192)
  7. Terkhusus kepada muslimah, tidak boleh melakukan ibadah haji atau umroh pada pasa iddah karena kematian suaminya. Hal ini disebabkan dia sedang berduka dan supaya tidak mengabaikan hak suaminya

Hal lain tentang haji yang perlu diperhatikan adalah mengenai hukum mewakilkan haji dan umroh. Kedua ibadah tersebut adalah termasuk yang boleh diwakilkan. Sebagaimana hadits Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam. Suatu hari Al Khats’ bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam, “Sesungguhnya, ayahku telah tua untuk melaksanakan ibadah haji, dan dia tidak mampu menempuh perjalanannya. Apakah aku boleh menghajikannya?”, Rasulullah menjawab, “Hajikanlah untuknya” (HR. Bukhari No. 1513).

Orang yang hendak menghajikan orang lain disyaratkan telah lebih dulu menunaikan ibadah haji untuk dirinya sendiri. “Hajilah terlebih dahulu untukmu kemudian hajikanlah untuh Syubrumah” (HR. Abu Dawud No. 1811 dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abi Dawud: IV/211)

Jika seseorang telah meninggal sebelum menunaikan haji, maka kerabatnya boleh menghajikannya. Jika tidak, ambillah peninggalannya sebelum pembagian waris, sesuai biaya orang naik haji. Mengapa demikian? Karena haji termasuk hutang dan sebagai hak-hak yang berhubungan dengan harga benda peninggalan orang yang meninggal.

Alhamdulillah, tuntas sudah yang ingin disarikan mengenai rukun Islam dari buku Fiqh Wanita karya Dr. Ali bin Sa’id Al Ghamidi. Semoga Allah curahkan barokah untuk kita dan menambah tsaqofah serta pemahaman yang semakin mendekatkan kita dengan Allah. Aamiin.

Depok, 29 Mei 2017

Hajiah M. Muhammad

Bangunan Keislaman #1

Jika diibaratkan sebuah rumah, kita tentu berharap rumah yang disinggahi memberikan kenyamanan. Rasa damai dan aman berada di dalamnya. Dengan pondasi yang kuat menghujam, dengan tiang penyangga yang kokoh, jendela dan ventilasi udara yang menyegarkan dan menyejukkan, dinding yang gagah tak goyah, serta atap yang membuat terlindung dari terik matahari dan tetes-tetes hujan. Maka rukun Islam adalah sebaik-baik bangunan.

Kamu tahu, apa yang membuat bangunan keislaman kita kokoh tanpa keraguan, tanpa kebimbangan? Mari diskusikan.

  1. Menjaga kelurusan aqidah.Aqidah yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidka tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan (Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari). Aqidah yang lurus adalah aqidah islamiyah. Akal berpikir tentang keesaan Allah, berpikir tentang teladan terbaik yang ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, dan hati yang senantiasa berzikir memohon petunjuk jalan keselamatan yang diridhoi Allah. Kita melangkah sebagai seorang muslim, ada rambu yang telah Allah atur dalam al-qur’an dan tuntunan Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wa sallam. Dr. Ali bin Sa’id Al-Ghamidi menuturkan dalam kitab Daliilul Maratul Muslimah, aqidah yang lurus akan menentukan sah atau tidaknya amal perbuatan seorang muslim. Jika aqidahnya lurus, apapun perkara -kebaikan- yang dikerjakan insyaallah akan benar. Namun sebaliknya, apabila aqidahnya batil, segala perkara yang bercabang darinya pun akan batil.Barang siapa yang ingin ibadah dan amal perbuatannya mendapat nilai di sisi Allah, maka sudah semestinya memiliki aqidah yang selamat. Mengesakan Allah dengan sepenuh keyakinan, beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benar keimanan.
  2. Menjaga dan meningkatkan ibadah. Jika rukun iman adalah perkara hati karena tak tampak mata, maka rukun Islam adalah perwujudan dari keimanan. Maka dalam aqidah islamiyah, ada tiga hal yang juga perlu kita pahami, yaitu Islam, iman, dan ihsan. Hal tersebut seperti termaktub dalam hadits berikut:Dari Umar radhiyallahu ‘anhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu ’alayhi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu ’alayhi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ’alayhi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (Riwayat Muslim)

    Oleh karena itu, untuk menunaikan rukun Islam kita memiliki kewajiban untuk menjaga dua kalimat syahadat, menegakkan sholat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan berhaji ke Baitullah. Dalam kalimat syahadat ada dua bagian, bagian pertama adalah tentang mengesakan Allah -sudah kita bahas di poin pertama- dan bagian kedua adalah kesaksian bahwa Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam adalah utusan Allah. Pada bagian kedua ini maknanya terangkum dalam beberapa hal: 1. Menaati segala perintah Rasulullah; 2. Membenarkan apa yang beliau kabarkan; 3. Menjauhi segala larangan Rasulullah.

    Jika syahadat adalah pondasi keislaman maka sholat adalah tiangnya. Sa’id Hawwa dalam Al-Islam mengatakan bahwa shalat adalah landasan pokok hubungan manusia dan merupakan aktualisasi makna iman yang bersemayam dalam qalbu. Dengan sholat, Sa’id Hawwa melanjutkan, seseorang dapat mengingat Allah, mengingat hari akhir, mengingat Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam, dan dengan sholat dapat mengingat al-qur’an dan jalan yang menunjukkan kepada ridho Allah. Sholat merupakan bukti keimanan karena meninggalkan sholat artinya kita mendekatkan diri pada kekufuran. Meningkatkan ibadah dengan menegakkan sholat dapat diartikan kita sedang menegakkan tiang bangunan. Jika ingin bangunan yang kokoh maka tiang penyangganya mestilah berdiri tegak. Keimanan yang lurus akan membuat ibadah kita lebih bernilai, mendapat perhatian dari Allah. Maka dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan yang disyariatkan, sesuai dengan tuntunan Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam. Seorang yang memiliki aqidah menyimpang maka akan menyimpang pula pelaksanaan ibadahnya. Kemantapan aqidah pada jiwa seseorang dan dinamika iman ada dalam hatinya yang akan menentukan kualitas keistiqomahannya memeluk ajaran Islam. Dengan sholat, aqidah jadi lebih hidup sehingga dapat menjaga keyakinan terhadap Allah. Sholat adalah cerminan pengenalan seorang muslim kepada Allah dan pelaksanaan tauhid uluhiyah –mengesakan Allah dengan beribadah kepada-Nya-. Tahu kenapa? Dengan sholat kita mengakui dan meyakini serta berterima kasih kepada Allah sebagai Rabb yang esa, tidak ada sesembahan selain-Nya. Menegakkan sholat dapat menghapuskan dosa sebagaimana hadits Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam; Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: ‘Ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam berada di masjid duduk bersama kami tiba-tiba seseorang datang kepadanya lalu berkata; Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya telah melakukan kejahatan, maka hukumlah aku!’. Rasulullah diam dan ia mengulangi kembali pernyataannya. Rasulullah tetap diam tidak menjawab. Sedangkan qamat untuk sholat telah diserukan. Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam selesai shalat dan keluar, orang itu mengikutinya dan aku (Abu Umamah) pun mengikutinya dan menunggu jawaban Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam kepadanya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda kepadanya: ‘Bukankah ketika keluar dari rumah, kamu berwudhu dengan baik?’ Ia menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah’. Kemudian Rasulullah bertanya, ‘Kemudian kamu shalat bersama kami?’. Ia menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah’. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosamu’ (HR. Muslim. Adapun hadits serupa dari Anas diriwayatkan oleh Bukhori dan Abu Dawud).

    *bersambung

 

Njomplang

Adik sholih dan sholihah, yang baik hatinya. Lihatlah, di usia senjanya mereka masih susah payah mencari nafkah halal berharap barokah. Sedangkan anak-anaknya gegap gempita karena banyak gaya. Benarlah memang, rezeki Allah takkan pernah cukup untuk memenuhi gaya hidup. Maka adik manis, jika belum mampu membalas segala jasa orang tua, ringankanlah perjuangan mereka dengan tidak menuntutnya memenuhi keinginanmu untuk bergaya.

Kamu tahu apa yang membuat hidup tertekan? Ya karena kebanyakan gaya, karena tidak mengukur baju di badan. Kasarnya, tak tahu diri! Jadi njomplang!

Hidup terasa berat bukan karena ujian yang Allah berikan, karena ujian dari Allah sudah sesuai kadar kemampuan manusia. Beratnya kehidupan karena ulah tangan perbuatan manusia itu sendiri. Bagaimana tidak berat? Jika lalai terhadap sholat, gemar maksiat. Ada juga yang sholat terus, tapi maksiat juga gak ketinggalan. Selain itu, hal lain yang menjadikan kehidupan terasa berat adalah karena lebih sering mengeluh daripada bersyukur, lebih sering menggerutu daripada bertafakur. Maka jangan heran jika kehidupan yang dijalani terasa seperti beban.

Sungguh beruntung orang-orang beriman, dalam keadaan lapang ataupun sempit hatinya selalu lapang. Hatinya tentram, kesulitannya Allah mudahkan, kekurangannya Allah cukupkan. Masyaallah. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang beriman. Aamiin.

Depok, 24 Mei 2017

Hajiah M. Muhammad

Siapa Kamu?

Manusia ada di antara ketaatan malaikat dan kebiadaban syetan. Bisa menjadi lebih taat dari malaikat, tapi juga bisa jadi lebih biadab dari syetan. Apa yang membuat manusia bisa selamat? Tentu dengan berada dalam ketaatan, dalam keimanan.

Dalam setiap manusia ada tiga unsur kehidupan, yaitu ruh (jiwa), hati, dan jasad. Dalam surat Asy Syams ayat 9, Allah berfirman: Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya. Inilah jawaban agar kita termasuk orang yang selamat. Menjaga kesucian jiwa. Orang yang jiwanya jernih, hatinya akan tenang, kehidupannya pun akan tentram. Dari mana ketentraman itu datang? Dari Allah, Pemilik segala yang ada di langit dan bumi.

Kamu adalah apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu katakan, dan apa yang kamu lakkukan. Maka berpikirlah yang baik, bertuturlah yang baik, dan berperilaku yang baik. Syaikhut tarbiyah Indonesia, Ustadz Rahmat Abdullah rahimallahu berpesan kepada kita. Ingatlah dua hal, keburukan diri sendiri dan kebaikan orang lain. Lupakanlah dua hal, kebaikan diri sendiri dan keburukan orang lain. 

Jangan dibalik! Itu agar kita semakin mengenal siapa diri ini. Semakin memahami apa yang semestinya kita lakukan di dunia yang sementara ini. Kita mengingat keburukan diri sendiri agar selalu ingat bahwa menjadi seorang muslim adalah proses panjang yang selalu dalam jalan menjadi baik, tanpa pernah merasa sudah baik. Kita mengingat kebaikan orang lain agar selalu sadar bahwa pencapaian kita hari ini juga berkat kebaikan yang orang lain lakukan, dan tentu atas kasih sayang Allah. Kita melupakan kebaikan diri sendiri agar tidak larut dalam sanjung puji, tidak lena dalam euphoria sorak sorai dari orang lain. Terlebih, kita jadi berhati-hati dari penyakit ujub yang menjadi titik awal syirik, menyekutukan Allah. Kita melupakan keburukan orang lain agar selalu ingat bahwa memaafkan lebih mulia daripada balas dendam, bersabar ketika dizolimi jauh lebih baik daripada melakukan balasan kezoliman. Agar kita selalu melapangkan hati agar keburukan orang lain tak menjadi incaran prasangka yang membuat hati tak tenang.

Semoga Allah mampukan kita mengenal diri ini, untuk lebih memahami bahwa kehidupan ini mestilah memberi arti.

Depok, 23 Mei 2017

Hajiah M. Muhammad