Mengelola Prasangka

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daing saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang. (QS. Al Hujurat [49]:12)

Diriwayatkan dari Ibnu Juraij bahwa ayat tersebut di atas turun berkaitan dengan Salman Al Farisi yang makan, kemudian tidur lalu mendengkur. Orang-orang membicarakannya. Maka dari itu, turunlah ayat ini yang melarang umat muslim menggunjing dan mengumpat.

Berapa banyak orang yang sakit hati hanya karena mengikuti prasangka? Mungkin kita pun pernah berlaku demikian. Maka ketika ada hasrat untuk berprasangka yang mendatangkan mudhorot, kita perlu untuk bersegera menghadirkan jutaan kebaikan dari orang lain.

*********

Dalam cerita keseharian Upin dan Ipin, dimana ketika itu berkisah tentang pemberantasan korupsi yang di Malaysia sana dilakukan oleh SPRM (Suruhanjaya Pemberantasan Rasuah Malaysia). Kakak beradik kembar itu melihat dari kejauhan Paman Ah Tong bertransaksi dengan seorang pemuda yang membawa cukup banyak kaleng minyak. Melihat itu, tanpa melakukan konfirmasi kepada Paman Ah Tong, mereka melaporkan hal tersebut kepada Tok Dalang. Melaporkan bahwa Paman Ah Tong melakukan tindak korupsi, tertangkap tangan!

Untungnya, Tok Dalang tidak mengikuti prasangka dua budak bijak itu. Tok Dalang mengkritisi betul isi laporan mereka. Sampai ketika Paman Ah Tong datang ke rumah Tok Dalang, mereka membahas laporan Upin dan Ipin. Mereka menyangka jika Paman Ah Tong melakukan korupsi. Nasib baik ia tak marah karena prasangka itu. Tak ayal, Tok Dalang jadi menasehati Upin Ipin agar tidak asal tuduh tanpa bukti yang jelas. Dari cerita sederhana itu, saya jadi ingat bahwa kita memang dilarang mengikuti prasangka buruk kepada orang lain.

Maka, jika kita temukan hal yang tidak sesuai dengan kebenaran, hal yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa prasangka yang ditujukan kepada orang lain sudah bisa dipastikan agar tidak menjadi fitnah. Dan, ketika sudah memastikan itu bukanlah fitnah, jangan sampai kita menyebarkannya dalam bentuk ghibah, membicarakan atau menggunjing keburukan yang dimiliki orang lain. Hal tersebut juga termasuk yang dilarang dalam syariat Islam.

Lantas, bagaimana seorang muslim mengelola prasangkanya?

  1. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:

    فالواجب على المسلم أن لا يسيء الظن بأخيه المسلم إلا بدليل، فلا يجوز له أن يتشكك في أخيه و يسيء به الظن إلا إذا رأى على أمارات تدل على سوء الظن فلا حرج

    “Maka yang menjadi kewajiban seorang Muslim adalah hendaknya tidak berprasangka buruk kepada saudaranya sesama Muslim kecuali dengan bukti. Tidak boleh meragukan kebaikan saudaranya atau berprasangka buruk kepada saudaranya kecuali jika ia melihat pertanda-pertanda yang menguatkan prasangka buruk tersebut, jika demikian maka tidak mengapa”

  2. Adapun mu’min yang tidak dikenal dengan kemaksiatan dan kefasikan, maka haram dinodai kehormatannya dan haram bersu’uzhan kepadanya. Dan inilah hukum asal seorang mu’min. Terutama orang-orang Mu’min yang dikenal dengan kebaikan, maka hendaknya mencari lebih banyak alasan untuk berprasangka baik kepadanya. Bahkan, jika ia salah, hendaknya kita maafkan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Maafkanlah ketergelinciran orang-orang yang baik(HR. Ibnu Hibban:94)
  3. seorang Mukmin hendaknya menjauhkan diri dari hal yang dapat menimbulkan tuduhan dan prasangka. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tinggalkanlah hal-hal yang membuatmu perlu meminta udzur setelahnya” (HR. Dhiya Al Maqdisi dalam Ahadits Al Mukhtarah, 1/131; Ar Ruyani dalam Al Musnad, 2/504; Ad Dulabi dalam Al Kuna Wal Asma’; Dihasankan oleh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah, 1/689)

 

Masyaallah, betapa damainya Islam. Persatuan umat, kekokohan persaudaraan sesama dijaga dengan begitu erat, bahkan mulai dari pengelolaan prasangka agar terhindar dari yang merusak. Sufyan As Sauri telah meriwayatkan dari Rasyid ibnu Sa’ad, dari Muawiyah radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa ia pernah mendengar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Sesungguhnya jika kamu menelurusi aurat (hal yang semestinya tidak tampak) dari orang lain, berarti kamu rusak mereka atau kamu buat mereka hampir rusak”.

Depok, 26 April 2017

Hajiah M. Muhammad

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s