Memulai Perjalanan

Dari manakah kita sebaiknya memulai perjalanan? Ada baiknya kita mengingat kembali sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berikut:

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. (HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits berkenaan dengan niat ini sebagian ulama mengatakan telah mencakup sepertiga ajaran Islam karena niat menjadi kesatuan gerak antara hati, lisan dan anggota badan manusia. Dengan niat, seseorang yang memiliki keinginan dalam hati akan mengucapkannya dan mewujudkannya dengan anggota tubuhnya. Misalkan, seseorang yang ingin makan. Ia memiliki niat untuk makan, lisannya berucap dan tangannya mengambil makanan kemudian mengunyah dan menelannya.

Niat adalah yang membedakan apakah kebaikan bernilai ibadah ataukah sebatas kebiasaan. “Boleh jadi amalan yang sepele, menjadi besar pahalanya disebabkan karena niat. Dan boleh jadi amalan yang besar, menjadi kecil pahalanya karena niat. ” Abdullah bin Mubarak rahimahullah.

Dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, diriwayatkan dari Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ

Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kejelekan dan kebaikan lalu Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan kebaikan lantas tidak bisa terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bertekad lantas bisa ia penuhi dengan melakukannya, maka Allah mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipatnya sampai lipatan yang banyak.” (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 130).

Masyaallah,  niat berbuat baik saja sudah mendapat nilai satu kebaikan di hadapan Allah, maka melaksanakan niat adalah penyempurnanya agar mendapat kebaikan dan kebaikan yang terus bertambah dari Allah sebagai balasan, dan sungguh Allah adalah sebaik-baik pemberi balasan. Inilah yang perlu kita perhatikan untuk melakukan perjalanan, baik jarak jauh ataukah dekat. Jika diibaratkan perbekalan, niat lebih dari sekadar bekal perjalanan karena ia perlu semangat dan kesungguhan bukan hanya angan-angan.

Memulai perjalanan artinya memantapkan niat, membulatkan tekad, menyiapkan semangat sejak awal, tengah hingga akhir perjalanan. Bagaimana kita menjaga niat agar mendapat keridhoan dan keberkahan dari Allah? Niatkan segala sesuatu yang kita hendak lakukan hanya untuk Allah, hanya berharap penglihatan dan balasan dari Allah. Bukan pujian dari manusia karena itu melenakan, bukan pula penghargaan dari manusia karena itu memperdaya.

Hal pertama yang perlu dilakukan untuk menjaga niat agar hanya tertuju pada Allah adalah dengan bermohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan karena tidak ada perlindungan yang lebih menjaga daripada perlindungan Allah.

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ

“Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingat Allah Yang Maha penyayang, Kami jadikan baginya setan (yang menyesatkan). Maka, setan itu menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya para setan itu benarbenar menghalangi mereka dari jalan yang benar, dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk”. (QS. Az-Zukhruf:35-36)

Kedua, agar niat hanya untuk Allah adalah dengan menyegerakan kebaikan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim no. 118).

Dan hal ketiga adalah memperbanyak istighfar, memohon ampun kepada Allah.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)

Menjadi baik adalah proses. Maka menjaga niat baik agar selalu baik adalah perjuangan. Perjuangan untuk mencapai keridhoan dan keberkahan dari Allah, dan pencapaian tertinggi yang menjadi akhir perjalanan segala niat baik kita adalah saat berjumpa dengan Allah di akhirat kelak. Dalam limpahan kasih sayang-Nya. Allahumma aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s