Seni Bersyukur

Jika ada dua orang yang sama-sama memiliki uang di saku sebesar Rp 20.000, salah seorang dari mereka berkata, “Uangku tinggal dua puluh ribu, cuma cukup beli makan siang”. Dan seorang yang lain berkata, “Masih punya dua puluh ribu, masih bisa untuk infak”. Dari kedua orang tersebut, manakah yang lebih bahagia? Mari sepakat untuk memilih orang yang berkata “Masih punya dua puluh ribu” untuk kemudian kita temukan bagaimana seni bersyukur.

Saya memang bukan orang yang bergelut di dunia seni, maka dari itu saya mohon maaf jika apa yang saya sampaikan ini kurang berkenan bagi sebagian orang. Tentang seni, saya memiliki paham bahwa segala sesuatu yang mampu menarik perhatian dengan beragam cara agar dapat dinikmati keindahannya, dapat dipahami maknanya dan mampu menciptakan kesenangan juga ketenangan merasakannya. Itulah yang membuat saya terpikir untuk menyandingkan seni dengan rasa syukur.

Ketika akad nikah pada tahun 2013 lalu, Ustadz Kartomi selaku guru majlis ta’lim di mushollah dekat rumah menyampaikan bahwa dalam membangun pernikahan hendaknya suami dan istri memiliki dua hal yang beriringan, yaitu syukur dan sabar. Saya jadi ingat perkataan ‘Umar bin Khaththab tentang dua hal tersebut. “Jika sabar dan syukur itu 2 kendaraan,” ujar Umar, “Aku tak peduli naik yang mana.” Keduanya berlintasan ridha-Nya; berjurusan surga.

Kita perlu meluaskan kanvas keimanan sehingga apapun yang kita dapat dari peluh keringat bekerja dan tetes air mata berdoa, agar dapat menikmati kesyukuran. Meyakini bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi nikmat, pemberi rizki. Bukankah Allah sudah menjamin rizki setiap hamba-Nya? Mengapa kita risau? Tugas kita adalah berusaha dan berdoa, bukan mendikte Allah untuk memberikan apa yang kita minta. Boleh saja berdoa, bermohon segala sesuatunya sesuai dengan yang diharapkan, tapi ingat bahwa berdoa pun ada adabnya, di antaranya adalah tidak mendikte Allah kapan dan bagaimana rizki itu kita dapatkan. Jangan, sekali-kali jangan. Allah Maha Mengetahui apa yang kita perlukan, kapan, dimana dan bagaimana mengabulkan segala pinta dalam doa. Maka kemudian yang perlu kita lakukan untuk bisa merasakan kenikmatan beryukur adalah dengan bersabar.

Sabar ketika doa yang dipanjatkan belum juga Allah kabulkan. Sabar ketika usaha yang dilakukan belum juga menunjukan keberhasilan. Sabar ketika dalam kesenangan juga sabar dalam kesusahan. Banyak orang yang mampu sabar ketika Allah uji dengan kesusahan tapi hanya sedikit orang yang mampu bersabar ketika Allah uji dengan kesenangan. Mengapa kita juga harus bersabar meskipun dalam kesenangan? Agar Allah tetap bersama kita, bagaimana pun keadaannya. Senang maupun susah.

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ

“Barangsiapa yang suka agar Allah mengabulkan permohonannya saat ia ditimpa kesusahan dan kesulitan, hendaknya ia memperbanyak doa saat senang/ lapang” (HR. At Tirmidzi, dihasankan Syaikh al-Albany dalam as-Shahihah)

Bersyukur karena bertafakur, merenungi kekuasaan dan keagungan Allah. Memberi dan mencukupi segala keperluan hajat hamba-hamba-Nya. Bersabar karena tersadar, siapalah kita tanpa Allah Maha Besar. Saudaraku yang dirahmati Allah, jika hari ini tengah dalam kesenangan tetaplah bersama Allah. Dan jika hari ini dalam kesusahan, teruslah bersama Allah. Karena sebaik-baik penjaga adalah Allah, sebaik-baik sandaran adalah Allah, dan sebaik-baik pemberi adalah Allah. Maka nikmatilah kesyukuran dengan kesabaran dan lapangkanlah kesabaran untuk selalu dalam kesyukuran. Baarokallahufiikum.

Hajiah M. Muhammad

Depok, 19 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s