Rindu Tak Berujung

Hal terberat dari proses ini adalah rindu tak berujung. Sepenggal ungkapan dari seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya. Oh bukan, karena anak itu bukan miliknya. Bukankah segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya? Allahu T_T. Usia anaknya belum genap satu tahun, baru menginjak bulan ke-sepuluh. Jangan tanya apa sebab kepergian anak tersebut karena saya pun tidak mencari tahu. Menjaga agar ibu itu tidak semakin terbawa kesedihan pasca anaknya meninggal dunia, ya, meninggal dunia di usia kurang lebih sepuluh bulan.

Saya tidak sanggup membayangkan, karena sebelum membayangkannya saja mata ini rasanya selalu menahan bendungan air mata. Sungguh Allah sangat mencintaimu, Kak! Allah sangat mencintai buah hati yang tengah asyik menikmati tiap sajian MPASI yang kau masak sendiri. Yang kemudian membuat saya semakin mengagumi ketabahan beliau adalah semangatnya untuk segera bangkit dari role coaster kehidupan yang baru saja ia alami. H+2 pemakaman anaknya, ia sudah kembali menawarkan diri untuk mendongeng, aktivitas yang ia lakoni sebelum menikah dan mempunyai anak. Ia katakan bahwa ia harus bangkit untuk melanjutkan hidup sampai nanti Allah kumpulkan lagi dengan anaknya, dengan orang-orang yang ia cintai karena Allah.

Mencintai karena Allah, maka ini menjadi kesadaran sepenuh hati, setulus penghambaan bahwa Allah adalah yang menguasai segalanya, termasuk hal-hal yang kita cintai. Mencintai karena Allah, maka kita harus selalu siap mengembalikan segala titipan yang telah Allah amanahkan. Sungguh, menuliskan ini hati saya berkecamuk. Merasakan betul betapa hati ini sungguh payah, lemah tanpa Allah. Bukankah rasa cinta kepada anak, pasangan, orang tua dan lainnya adalah karena Allah izinkan kita mengecap cinta untuk kemudian menambah ketaatan kita pada-Nya?

Maka Ya Allah, jadikan kecintaan kami kepada segala bentuk pemberian dari-Mu adalah yang menghantarkan hati dan jiwa semakin dekat, semakin taat kepada-Mu. Innalillahi wa inna ilayhi raaji’uun. Allahumma innanas aluka ridhoka wal jannah wa na’udzubika min sakhotika wannaar.

Depok, 2 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s