Terima Kasih Masa Lalu

Assalamu’alaykum. Iyang, apa kabar? Sekarang udah berapa anak lo?

Sapaan yang khas darinya, dari seseorang yang dulu begitu dekat. Telinga yang selalu siap sedia kapan pun cerita duka dan suka saya utarakan. Sangat menyayanginya, mencintainya karena Allah. Karena ia adalah salah seorang yang mengajak saya pada kebaikan, pada masa kebingungan mencari arah kehidupan. Shaum sunnahnya rajin, “Itung-itung gue ngurusin badan”, begitu jawabannya ketika saya tanya apa alasan ia sering puasa tiap Senin dan Kamis. Bacaan qur’annya pun baik, ia selalu lebih unggul soal amalan harian. Dzikir al-ma’tsurat tidak ketinggalan, tiap pagi setelah shalat Shubuh dan petang setelah Maghrib. Ia juara. Juara lari meskipun postur tubuhnya tidak ringan, gendut. Tapi tinggi badannya lebih tinggi sekian centimeter dari saya, jadi tidak terlalu tampak kegemukannya. Ah! Saya jadi semakin rindu. Kangen!

***********

Segala cerita bersamanya, mulai dari tatapan penuh penasaran sampai rintihan kekesalan dan ratap kesedihan, sangat berarti. Sangat membekas dalam hati.Tapi mungkin takkan kembali lagi, takkan terjadi lagi. Sejak ada yang merusak persaudaraan kami. Sampai saat ini, saya tidak tahu dan tidak mau cari tahu kenapa sampai sekacau itu, dulu. Hingga akhirnya kami memilih untuk menutup cerita, melupakan semuanya, jika bisa tak tersisa. Mungkin ia bisa, tapi tidak dengan saya. Saya masih mendoakannya, masih berharap jika di kemudian hari Allah persatukan kami dalam hangat dekap doa rabithah. Dalam hangat dekap kasih sayang Allah.

Sapaannya hari itu, beberapa hari yang lalu. Mengingatkanku bahwa Allah menjaganya. Menjaganya dalam perlindungan yang tiada perlindungan selain perlindungan-Nya. Allah sangat menyayanginya, karena ia pun sangat menyayangi Allah. Canda tawanya yang khas, bersanding dengan keharuan tunduk patuh menghamba pada Allah. Ia pernah jatuh, tersungkur dan kemudian bangkit lagi. Merapikan hati dan harinya yang tercemar polusi keimanan. Ia kembali dan saya merasakan semangatnya seperti dulu. Seperti ketika ia begitu semangat menyemangati. Masyaallah, Allah begitu baik, terlalu baik dan memang Maha Baik.

Terima kasih masa lalu, semangat untuk saat ini, dan selamat datang masa depan. Kita melangkah lagi beriringan, dalam lantunan doa pengikat iman.

Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu, berhimpun dalam naungan cinta-Mu. Bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan. Menegakan syariat dalam kehidupan. Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya. Terangilah dengan cahaya-Mu yang tiada pernah padam. Ya Rabbi, bimbinglah kami. Lapangkanlah dada kami dengan karunia iman dan indahnya tawakal pada-Mu, hidupkan dengan ma’rifat-Mu, matikan syahid di jalan-Mu. Engkau-lah pelindung dan pembela.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s