Menata Hati

Kita yang perlu menata hati, bukan orang lain. Sebab apa yang terjadi dalam episode kehidupan adalah ulah tangan perbuatan diri sendiri. Kita yang perlu menata hati, bukan orang lain. Sebab kebaikan atau keburukan akan berbalik pada diri, pun balasan yang akan Allah berikan, pasti setimpal dengan yang kita kerjakan.

Kita yang perlu menata hati, bukan orang lain. Sebab kecewa hadir bukan karena tindakan orang lain, melainkan kecewa itu muncul karena kita berharap pada selain Allah. Kita yang perlu menata hati, bukan orang lain. Sebab yang perlu dilawan pertama kali bukanlah orang lain, melainkan hawa nafsu dalam diri (mujahadah lii nafsi).

Kita yang perlu menata hati, bukan orang lain. Sebab lisan lebih banyak berujar daripada telinga yang mendengar, sehingga lebih banyak kemungkinan khilaf karena lisan banyak berucap. Kita yang perlu menata hati, bukan orang lain. Sebab segala sesuatunya akan diminta pertanggungjawaban dari masing-masing pribadi. Kita yang perlu menata hati, bukan orang lain. Sebab yang dapat dikendalikan adalah hati masing-masing agar terjaga dalam ketaatan, terarah dalam tuntunan, dan terpelihara dalam pakaian keimanan.

Baarokallaahufiikum.
Hajiah M. Muhammad
Depok, 8 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s