Allah Menyayangimu

Duduk terpaku, menatap tak tentu arah. Menanyakan ke dalam hati terdalam, Adakah ketulusan jika masih mengharap pengakuan dan penghargaan? Kau tidak sedang dalam sebuah perlombaan. Jadi, untuk apa mengharapkan penghargaan? Jika menang atau kalah bagimu adalah saat kau melepaskan segala kegundahanmu di hamparan sajadah.

Terkadang, kau harus tersandung atau bahkan terjatuh untuk menyadari kesalahan. Terkadang, kau harus terinjak atau bahkan ditinggalkan untuk menyadari kelalaian. Ya, terkadang. Tidak selalu. Tenang saja, kau tak perlu membela diri karena kau tidak sedang dihakimi. Aku hanya ingin menyampaikan padamu bahwa kau perlu dinasehati sesekali. Ah tidak! Mungkin aku yang paling layak dinasehati.

Wahai jiwa yang mengaku beriman, adakah kau lupa pernah berkata dengan semangat membara, “Iman perlu pembuktian. Maka Allah akan menagih kesungguhan iman. Entah saat ini ataukah nanti”? Satu hari nanti, saat tangan ini tak lagi mampu menarikan jemari, mungkin akan semakin sulit bagiku untuk menasehati. Kita akan semakin sulit untuk saling memberi. Seperti yang selalu kau ulang, “Perjalanan hidup adalah pelajaran tentang memberi tanpa berharap pamrih, apalagi mengharap belas kasih. Cukup Allah sebagai pelipur lara di hati. Cukup Allah sebaik-baik yang menepati janji”.

Kita sedang dihadapkan pada keadaan yang menguji kejujuran iman. Dimana kesabaran dan kesungguhan, juga keteguhan menjadi kawan perjalanan. Jangan, jangan sesekali menyesali langkah yang telah kita pilih. Sungguh tak pernah ada yang memaksa kita memilih jalan ini. Tak pernah ada seorang pun yang memaksa kita untuk terus melangkah di sini. Tersenyumlah, tersenyumlah untuk perjalanan kita sampai pada titik ini. Tersenyumlah untuk langkah-langkah kecil kita sampai pada hari ini. Bersyukurlah karena Allah masih menjaga dalam limpahan pertolongan dan kasih sayang-Nya. Ingat kawan, tujuan kita hanya satu, keridhoan Allah. Maka bersabarlah saat ada yang melemahkanmu. Bersabarlah saat ada yang berusaha menggoyahkan pijakan langkahmu. Bertahanlah dengan sebenar-benar iman, berdiri tegaplah dengan sekokoh-kokoh keyakinan terhadap janji Ar Rahman. Melangkahlah, sampai kita dapati masa Allah menghentikan langkah. Saat jiwa ini kembali pada Pemilik-nya, saat dapat mengecap manis taman firdausi. Allah menyayangimu, lebih dari yang kau tahu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s