Tak Pandai Meredam

Bolehkah aku rindu? Pada tatap-tatap malu diselingi senyum yang perlahan terlukis di wajahmu, ada sebening doa yang tersimpan. Mengalun, membumbung, mengetuk pintu-pintu langit. Pada bait-bait nasehatmu yang hangat menentramkan. Pada masa kita hanya terdiam dan sibuk dengan masing-masing pikiran hingga kemudian air mata menetes perlahan. Entah air mata bahagia ataukah perih menahan luka.

Rindu tak harus dituntaskan dengan bertemu, tapi tidak melulu begitu. Seperti ungkapan Salim A. Fillah yang pernah kau sampaikan padaku dengan merekomendasikan sebuah judul buku, Dalam Dekapan Ukhuwah.

Ada kalanya kita seperti dua mata, tak pernah berjumpa tapi selalu sejiwa. Kita menatap ke arah yang sama walau tak berjumpa. Mengagumi pemandangan indah dan berucap subhanallah. Kita bergerak bersama walau tak berjumpa. Mencari pandangan yang dihalalkan dan menghindar dari yang diharamkan dan berucap astaghfirullah. Kita menangis bersama walau tak berjumpa dalam kecewa, sedih, ataupun gembira, duka dan bahagia dan tetap berucap alhamdulillah. Kita terpejam bersama walau tak berjumpa. Memberi damai dan rehat sambil berucap laa hawla walaa quwwata illa billah. Tapi kadang kita perlu menjadi dua tangan, berjumpa dalam sedekap shalat berjama’ah menghadap Allah. Tapi kadang kita perlu menjadi dua tangan. berjumpa dalam membersihkan segala kotor dan noda dari badan.

Jangan, jangan paksa aku tuk diam. Aku bukanlah orang yang pandai meredam kerinduan. Semoga kau masih ingat. Aku memang selalu begitu, terdiam menepis tetes-tetes syahdu jika lama tak berjumpa denganmu. Sungguh, aku masih ingat betul bagaimana nasehatmu tajam menghunus meski tanpa kata, meski tanpa suara. Bagaimana bisa? Karena kau melakukannya dengan keteladanan, dengan kesungguhan. Semoga Allah menjagamu selalu kawan.

Udah lama gak nulis ya? I do really miss it! Kata-kata yang kau ucapkan ketika itu. Ketika kau menyatakan kerinduan dari curahan hati yang tertuang lewat tulisan, curhat profesional kau beri sebutan. Hahahah. Kau selalu punya cara menuangkan segala rasa tanpa banyak bicara. Mungkin itu jawaban mengapa Allah menakdirkan kita dipertemukan. Agar aku belajar untuk lebih banyak mendengar, agar aku belajar untuk lebih banyak beramal, agar aku belajar untuk terus belajar. Agar aku belajar bahwa menjadi seorang ilmuwan tak cukup dengan menggantungkan harapan tanpa menambah daftar buku bacaan. Terima kasih bijaksana. Lihat, dengar, dan rasakan tentang hidup. Tunjukan padaku, saat aku lanjut usia pada pagi yang menakjubkan. Di waktu yang tepat, hingga akhir waktu menjadi kisah klasik untuk masa depan.

Hajiah M. Muhammad

Depok, 7 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s