Kenalan #1

Tidak ada aturan baku dalam perjalanan ke jenjang pernikahan. Ta’aruf, khitbah, dan nikah. Tidak selalu begitu meskipun memang banyak cerita demikian adanya. Mengapa? Kita tidak sedang membahas rukun ibadah yang jika ada salah satu terlewat artinya membatalkan pelaksanaannya, seperti shalat misalkan. Takbiratul ihram adalah permulaan shalat, dilanjutkan membaca Al Fatihah berurut sampai salam dan tertib seluruh rukun shalat. Jika takbiratul ihram terlewat, maka shalat menjadi gugur, tidak sah. Berbeda dengan proses ta’aruf, khitbah, dan nikah. Ketiganya bukan rukun menikah sehingga tidak menjadi penggugur pernikahan jika salah satunya tidak dilaksanakan.

Ta’aruf, berkenalan, dilakukan untuk mengenal calon pasangan. Bisa melalui perantara guru mengaji atau orang lain terpercaya yang sudah menikah. Mengapa? Perantara sebaiknya adalah orang yang sudah menikah untuk menghilangkan fitnah dan hal lain di luar kendali manusia. Kalau pun perantara ta’aruf belum menikah, keterlibatannya cukup sampai proses membantu carikan calon pendamping, bukan mendampingi proses ta’aruf. Sebelum menikah, saya beberapa kali melakukannya. Membantu teman yang sedang cari calon pasangan sehidup sesurga dan ketika sudah mendapatkan yang sesuai kriteria maka segera saya serahkan ke guru mengaji atau orang lain terpercaya yang sudah menikah.

Bagaimana bisa mengenal calon pasangan yang sama sekali belum dikenal? Dengan orang yang sudah dikenal pun sebaiknya tahap ta’aruf tetap dilaksanakan karena ada hal-hal tak tampak yang perlu kita ketahui, tentang riwayat penyakit misalnya. Bisa juga tentang kondisi keluarganya. Lalu bagaimana? Semoga apa yang akan saya uraikan berikut bisa membantu rekan sekalian untuk mengenal calon pasangan.

  1. Shalat.

    إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

    Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45).

    Shalat merupakan tiang agama, merupakan amalan yang pertama dihisab di akhirat kelak. Shalat dapat menjadi referensi utama untuk mengetahui baik atau buruk kepribadian seseorang karena shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar seperti yang tersebut dalam ayat di atas. Terutama bagi perempuan, sangat penting untuk mengetahui bagaimana shalat dari calon imamnya kelak. Shalat shubuh dan isya’ adalah barometer untuk mengetahui kesungguhan iman seseorang, seperti yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Orang munafik itu shalat dalam keadaan riya’ dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar orang lain). Di masa silam shala Shubuh dan shalat ‘Isya’ tersebut dilakukan dalam keadaan gelap sehingga mereka -orang munafik- tidak menghadirinya. Mereka enggan menghadiri kedua shalat tersebut. Namun untuk shalat lainnya, yaitu shalat Zhuhur, ‘Ashar dan Maghrib, mereka tetap hadir karena jama’ah yang lain melihat mereka. Dan mereka kala itu cari muka dengan amalan shalat mereka tersebut. Mereka hanyalah sedikit berdzikir kepada Allah. Di masa silam belum ada lampu listrik seperti saat ini. Sehingga menghadiri dua shalat itu terasa berat karena mereka tidak bisa memamerkan amalan mereka. Alasan lainnya karena shalat ‘Isya itu waktu istirahat, sedangkan shalat Shubuh waktu lelapnya tidur.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 5: 82).

  2. Bacaan qur’an.

    “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahamensyukuri.” (QS. Faathir/35 : 29-30)

    Masyaallah, siapakah yang lebih menepati janji selain Allah? Jika membacanya saja mendapat karunia sedemikian membahagiakan, tentu lebih banyak lagi karunia-Nya jika membaca al-qur’an dengan tartil.

    At-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ الَم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلاَمٌ حَرْفٌ، وَمِيْمٌ حَرْفٌ.”

    “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur-an, maka baginya satu kebajikan, dan satu kebajikan tersebut dilipat-gandakan menjadi 10 kali lipatnya, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (V/175) Kitaab Fadhaa-ilil Qur-aan bab Maa Jaa-a fii Man Qara-a Harfan minal Qur-aan Maa Lahu minal Ajr).

    Orang-orang yang terbiasa melantunkan firman-firman Allah, lisannya terjaga dari kata yang kotor, hatinya bersih dari hal-hal yang menyakitkan. Sehingga jika mereka berhadapan dengan orang lain, tutur katanya santun karena mereka terjaga dari kata-kata yang menyakiti orang lain. Dan jika kita kaitkan dengan pendamping hidup, tentu berharap dapat bersanding dengan seseorang yang dekat dengan qur’an, yang dengannya terasa ketentraman dan kedamaian. Dengan demikian, terbangun keluarga yang senantiasa dirahmati Allah, seperti yang termaktub dalam doa khotmul qur’an. Allahummarhamna bil qur’an, Ya Allah sayangilah kami dengan al qur’an.

  3. Hubungan dengan keluarga. “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (HR. Tirmidzi). Hubungan baik seseorang dengan keluarganya dapat dijadikan barometer akhlak sehingga kita dapat mengenalnya dengan jelas, bukan sebatas katanya-katanya. Mengapa? Keluarga adalah bagian penting dalam kehidupan seseorang dan bersama keluargalah seseorang biasa menghabiskan waktu dan dengan jujur menampakan kebiasaannya, entah baik ataupun sebaliknya. Untuk mengenal calon pasangan, kita perlu mengetahui bagaimana hubungannya dengan anggota keluarga yang lain, terutama bagaimana mereka bersikap di hadapan orang tua. Menikah bukan sebatas menyatukan dua insan tetapi juga dua keluarga dengan latar belakang dan kebiasaan berbeda. Dari hal ini pula dapat kita ketahui bagaimana nanti ia ketika sudah memiliki keluarga sendiri dan membangunnya bersama, bersama pasangan hidupnya.
  4. Hubungan dengan masyarakat. Kehidupan rumah tangga yang akan kita bangun akan bersinggungan dengan masyarakat dimana kita tinggal. Oleh karena itu, perlu juga mengenali bagaimana hubungan calon pasangan di lingkungan sekitarnya, baik di lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, ataupun di lingkungan organisasi jika ia adalah seorang yang terlibat di organisasi. Lingkungan tempat tinggal calon pasangan perlu dikenali untuk melihat bagaimana masyarakat mengenal sosok yang akan menjadi pendamping hidup kita, memahami kultur sosial masyarakatnya agar kita dapat berbaur dan atau mengantisipasi jika ada hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Hubungan calon pasangan dengan masyarakat di sekitarnya menjadi ukuran untuk mengenal karena juga mempengaruhi bagaimana kita  membuat grand design rumah tangga yang akan kita bangun, karena diakui atau tidak, lingkungan punya pengaruh besar terhadap pola pikir, kebiasaan bahkan karakter manusia.
  5. Semangat belajar. Bisa juga dikatakan semangat menuntut ilmu. Apakah semangat belajar ini berpatokan pada tingkat pendidikan seseorang? Bisa iya, bisa juga tidak. Untuk yang menjawab iya, wajar saja. Bagi yang berkeyakinan bahwa semangat belajar adalah mereka yang punya gelar akademis bla bla bla di deretan namanya, sah saja. Pun yang menjawab tidak, keduanya adalah hak masing-masing. Karena setiap orang memiliki kriteria yang berbeda, punya pemahaman dan pengalaman yang tentu berbeda. Namun izinkan saya (yang bukan siapa-siapa ini), menyampaikan bahwa menikah adalah pembelajaran, perbaikan dan pengembangan diri. Pembelajaran karena setiap waktunya dimanfaatkan untuk belajar, membaca dan memahami hikmah dalam hidup untuk dijadikan bekal perjalanan menuju kehidupan akhirat. Bukankah pernikahan dibangun juga untuk kehidupan setelah mati? Perbaikan, pernikahan adalah ladang garapan perbaikan dan kebaikan. Tidak mengenal istilah berhenti membenahi diri karena sudah mendapat pendamping hidup, sama sekali tidak. Baik suami maupun istri diharuskan untuk selalu memperbaiki diri, meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Pengembangan diri, hal ini terkait tanggung jawab sosial kepada masyarakat dimana kita tinggal agar rumah tangga yang kita bangun, dapat memberikan manfaat bagi orang-orang sekitar. Maka dengan ini saya sampaikan, semangat belajar yang dimaksudkan bukan sebatas semangat menempuh pendidikan jalur formal untuk mendapatkan segudang ilmu pengetahuan, melainkan lebih ditekankan kepada semangat belajar dan menuntut ilmu di berbagai kesempatan, baik formal maupun non formal. Sekarang ini, sudah tersebar banyak ruang belajar dengan berbagai disiplin ilmu, semoga kita bijak melibatkan diri di dalamnya.

Masyaallah, udah lama gak nulis panjang gini, ahahahah. Semoga bermanfaat ya! Baarokallahufiikum. 🙂

Hajiah M. Muhammad

Depok, 8 November 2016

Advertisements

2 thoughts on “Kenalan #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s