Teruskanlah Melangkah

​Salah satu alasan terbesar yang kemudian membuat saya lebih senang di rumah adalah menjaga diri dari obrolan-obrolan negatif dengan warga sekitar. Tapi menjadi renungan, bagaimana bisa dakwah ini sampai ke orang lain jika hanya mengurung diri?
Saya tak menutup diri dari lingkungan, keluar dan berbaur dengan masyarakat pun sekadarnya saja. Bertemu di warung, ketika berbelanja di tukang sayur atau saling sapa jika berpapasan di jalan. Tak dapat dipungkiri, menjadi orang yang terlibat di lembaga sosial masyarakat memang tak mudah. Telinga harus tebal, hati harus kuat untuk terus melakukan perbaikan dan kebaikan. Meskipun selama perjalanannya mendapat hal-hal yang tak menyenangkan, tak jarang menerima hal-hal yang menyakitkan. 
Kami, di Rumah Iqro berdiri karena hati dan sungguh, ketika ada yang mengatakan kami berorientasi pada materi, hati kami teriris. Perih sekali. Jika boleh kami menjelaskan, segala biaya yang dibebankan kepada peserta didik (baik PAUD maupun TPA) semata untuk upah guru yang mendidik putra-putri tercinta. Dan itu pun tak seberapa jika dibandingkan dengan kesungguhan dan semangat mereka membagikan ilmunya. Jika boleh kami menangis dalam pertemuan dengan orang tua siswa, mungkin kami akan meneteskan air mata. Air mata yang menjadi saksi perjuangan mengambil peran dalam upaya mencerdaskan anak bangsa, mendidik putra-putri menjadi pribadi yang berbudi pekerti.

Tapi mungkin, segala kepahitan ini memang harus kami telan. Agar dapat kami reguk manis di surga nanti. Aamiin.
Hajiah M. Muhammad

Depok, 3 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s