Prasangka

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Segala puji bagi Allah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui segala maksud isi hati bahkan lebih dari diri kita sendiri. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada qudwah hasanah, manusia santun yang menuntun, manusia penuh kasih sayang bahkan terhadap mereka yang memusuhinya, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam juga kepada keluarganya, sahabatnya, dan seluruh umat yang mencintai dan serta menjalankan sunnah-sunnahnya semoga kita ada di dalamnya.

Saudaraku yang dirahmati Allah, seringkali kita sakit bukan karena disakiti orang lain, seringkali kita terluka bukan karena dilukai orang lain. Melainkan, karena ulah tangan kita, karena hal-hal yang kita lakukan. Hati yang sempit bukan karena jasad yang sakit melainkan karena pikiran-pikiran negatif. Dalam firman-Nya, Allah pun melarang kita untuk mengikuti prasangka karena sebagian besar prasangka cenderung memperkeruh hati.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” [QS. Al-Hujurat : 12]

Sejenak mengingat dongeng tentang kera sumbang. Tahu tentang kera sumbang? Merupakan jenis hewan yang dikucilkan hewan-hewan yang lain karena tak mau bergaul, suka mencuri dan sifatnya yang sombong. Pada satu waktu, saat tupai mengundang seluruh penghuni hutan untuk hadir dalam kenduri, mereka melarang tupai untuk mengundang kera sumbang. Tapi, karena ketulusan hati tupai maka ia tetap mengundang kera sumbang tanpa diketahui penghuni hutan yang lainnya. Kera sumbang yang tadinya bersedih karena merasa tak dipedulikan, berubah menjadi sangat bersemangat untuk hadir kenduri yang digelar tupai.

Tupai mempersiapkan kenduri di tempat tinggalnya dengan dibantu oleh kancil. Rupanya, sang kera sudah tiba dan memperhatikan tupai dan kancil dari kejauhan. Kera sumbang tergiur atas sajian yang tengah dihidangkan sehingga ketika tupai dan kancil meninggalkan sajian, kera mencuri beberapa buah jambu dan pisang yang merupakan buah kesukaannya. Sekembalinya tupai dan kancil, mereka merasa ada keanehan karena satu alas sajian berkurang tapi tak ada seekor hewan pun yang terlihat sudah hadir.

Dengan kecerdikan kancil, ia menyusun siasat agar tupai menyemprotkan air tawar ke buah-buahan yang disajikan yang sebelumnya dimasukan seekor ular di buah mangga. Dari kejauhan, kera sumbang hanya melihat tupai menyemprotkan air tersebut dan melihat ada ulat yang keluar dari mangga. Melihat hal tersebut, kera sumbang panik dan menyebarkan berita itu seantero hutan. Para penghuni hutan pun khawatir tapi juga diliputi ketidakpercayaan atas apa yang sudah disampaikan oleh kera karena selama ini hanya kera yang tak mau bergaul dengan penghuni hutan.

Ketika kenduri dimulai, penghuni hutan diam dan saling pandang. Mereka terngiang-ngiang perkataan kera tentang ulat yang dilihatnya keluar dari dalam mangga. Padahal, mereka belum menanyakan kepada tupai selaku tuan rumah mengenai kebenaran hal tersebut. Kancil pun bertanya, “Kenapa kalian diam saja? Silakan dimakan sajiannya. Tupai sudah mempersiapkan ini semua untuk menjamu kalian”. “Kami takut, Kancil. Kera bilang, ada ulat di buah-buahan yang tupai sajikan”, sahut kelinci dan tikus. Mendengar hal itu, tupai dan kancil tertawa, penghuni hutan yang lain pun semakin kebingungan.

“Kenapa kalian percaya Kera? Sebenarnya, kami memang sengaja menaruh ulat di mangga karena melihat kera mencuri buah-buahan sebelum kalian datang. Tapi ternyata dia menyebarkan berita itu kepada kalian. Sudah, makanlah. Jangan takut, buah-buahan ini masih segar”, jelas kancil menenangkan. Dan seluruh hewan yang hadir dalam kenduri pun menikmati sajian buah-buahan yang beragam dengan suka cita. Sementara itu, kera hanya menyaksikan mereka dari atas pohon di kejauhan.

Begitulah prasangka, cenderung pada hal-hal yang membuat kita tergesa dalam menarik kesimpulan, membuat kita terburu-buru mengambil keputusan. Padahal, jika kita mau melakukan konfirmasi insyaallah kita akan lebih bijak bersikap dan tentu apa-apa yang kita kerjakan pun dapat dilakukan dengan tenang karena bersih dari hal-hal yang membuat gelisah seperti prasangka. Namun begitu, perlu kita ingat bahwa tidak semua prasangka itu buruk. Ada prasangka baik yang harus selalu kita kedepankan. Berprasangka baik kepada sesama manusia, terlebih berprasangka baik kepada Allah. Wallahu a’lam.

Hajiah M. Muhammad.

Depok, 24 Juli 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s