Korelasi

kamu membaca, kamu menulis

kamu jarang membaca, kamu jarang menulis

kamu tidak membaca, kamu tidak menulis

pun jika dipaksa…

…tulisanmu bakal jelek

(Ardi, 2015)

Ketika membaca status tersebut pada laman beranda Facebook, saya seketika tertegun. Merasa terpukul, tertampar dan sebutan lain yang serupa dengan itu. Mengingat-ingat kapan terakhir kali saya membaca buku dan melihat catatan-catatan di blog atau ruang lain yang ternyata sepi! Apa yang sebenarnya saya lakukan sehingga hal tersebut menjadi hal yang begitu memilukan dan memalukan? Kurang membaca. Dan itu adalah alasan mengapa pada tahun 2015, blog ini sepi dari postingan. Pun jika dicermati, tulisan-tulisan ini berputar pada hal yang itu-itu saja. Monoton, membosankan. Meskipun bagi sebagian orang mungkin menjadi hal yang mengesankan, paling tidak untuk dijadikan bacaan mengisi waktu luang di antrian.

Seorang guru Bahasa Inggris ketika di Madrasah Tsanawiyah (setingkat SLTP) pernah berpesan, “Kalo kalian baca buku, bagian sebelum daftar isi juga dibaca. Kata pengantar atau sambutan dari penerbit juga penting untuk diperhatikan. Tau kenapa? Karena pasti ada hal baru yang akan kalian dapatkan, atau minimal mengingatkan pada hal-hal yang pernah kalian ketahui”.  Dan malam ini, saya memulainya. Membuka buku karya Said Hawwa yang merupakan intisari dari kitab Ihya Ulumuddin Al-Ghazali.

Ada sambutan yang ditulis oleh Al-Mustasyar Abdullah Al-Aqiel yang merupakan mantan wakil sekretaris jenderal Rabithah ‘Alam Islami. Dalam sambutan itu, Al-Aqiel menyampaikan sanjungannya terhadap Said Hawwa, tokoh Islam yang memiliki pengetahuan dan karya-karya luar biasa. Said Hawa meninggalkan karya yang cukup banyak dan dikenal sebagai penulis kontemporer yang produktif. Ada beberapa hal yang membuat saya membacanya berulang dengan harapan tertanam dan menjadi semangat ketika hasrat untuk membaca perlahan hilang.

  1. Said Hawwa merupakan pecandu membaca dan menulis tentang berbagai tema dakwah, pergerakan, fiqh, dan ruhiyah. Hal ini mengingatkan saya akan nasehat seorang dosen ketika masa awal kuliah. Beliau menyampaikan bahwa sebagai seorang muslim, belajar adalah kewajiban dan kamu silakan belajar dari berbagai disiplin ilmu. Tapi ingat, minimal ada satu disiplin ilmu yang kamu menjadi ahli di dalamnya. Masyaallah! 
  2. Said Hawwa memiliki kecenderungan ruhiyah yang kuat, menjadikannya pribadi yang mempunyai potensi besar untuk berkarya. Kepiawaiannya dalam kepenulisan dibuktikannya dengan karya-karya yang menyejarah. Beliau mampu menyelesaikan satu buku dalam beberapa hari. Bahkan ketika dipenjara (1973-1981) ia menulis Al-Asas fii At-Tafsir (11 jilid) dan beberapa buku dakwah lainnya.
  3. Said Hawwa memanfaatkan potensi kebaikan yang ada pada diri setiap manusia dan berbicara kepada hati yang merupakan kunci hidayah agar Allah memberikan taufiq kepada kita untuk meningkatkan potensi kebaikan. Dengan demikian diharapkan kita telah mengurangi potensi keburukan yang juga ada dalam diri manusia. Hal ini merupakan upaya pembersihan jiwa yang merupakan kunci untuk meluruskan suluk (perilaku).
  4. Said Hawwa adalah seorang pembaca yang kecanduan. Dalam waktu dua jam, beliau mampu mencapai sekitar enam puluh halaman. Hal tersebut ia sampaikan dalam bukunya, Hadzihi Tajribati, yang dalam buku tersebut pun beliau menyebutkan keikutsertaannya dengan peran penting dalam demonstrasi mahasiswa juga partisipasinya dalam berbagai ceramah-ceramah yang diisi oleh Dr. Musthafa As-Siba’i yang membuatnya sangat tertarik sampai merasakan sedang terhipnotis. Masyaallah, sampai sedalam itu kehausan seorang ulama terhadap ilmu.

Semoga Allah merahmati dan memberkahi Said Hawwa karena menjadikan potensi kebaikan yang ada dalam dirinya untuk diberikan kepada masyarakat luas. Semoga Allah menjadikan jerih payahnya, kesabarannya, dan karya-karyanya sebagai timbangan kebaikan di yaumil hisab. Dan semoga Allah membimbing, menguatkan dan meneguhkan hati-hati kita untuk bersabar menuntut ilmu serta mampu membagikannya kepada orang lain agar menjadi ilmu yang bermanfaat.

Jika kamu tidak mampu menanggung lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan – Imam Syafi’i

556821_534344773282972_142687853_n

Hajiah M. Muhammad

Depok, 23 Juli 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s