Amunisi

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kita singgah dan berjuang agar tetap hidup untuk kemudian kembali ke kampung halaman. Pun dengan perjalanan hidup di dunia ini, layaknya sebuah perantauan. Kita tidak pernah benar-benar memiliki apapun selain perbekalan yang kita siapkan dan usahakan selama masa perantauan.

“Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Al Bukhari no. 6053)

Manusia mulia, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam hadits tersebut di atas mengingatkan kepada kita bahwa sejatinya perjalanan di dunia hanyalah persinggahan karena akhirat adalah tempat kembali pulang. Sungguh, kematian adalah nasehat terdalam yang dengan diamnya terasa begitu menggetarkan dan mengingatkan kita bahwa ada kehidupan selanjutnya pasca dunia yang berkekalan, akhirat. Seperti juga yang Allah firmankan agar setiap kita mempersiapkan berbekalan untuk kehidupan di akhirat kelak.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18)

Pada beberapa kesempatan mengunjungi karib kerabat yang telah lebih dulu berpulang, menyaksikan jasad terbujur kaku dibalut kafan dan membayangkan jika jasad itu adalah saya. Sungguh Allah, hamba memohon ampunan dan kemurahan-Mu. Entah bagaimana ketika ajal menjelang sedangkan hamba masih berlumur dosa dan ketaatan tak seberapa.

Dunia ini panggung sandiwara, begitu tulis Taufik Ismail dalam syair puisi yang kemudian dipadukan dengan melodi oleh Ian Antono. Tapi kita tak perlu bersandiwara untuk menjadi hamba yang tunduk patuh menghamba pada Allah. Terlebih, bersandiwara di hadapan manusia agar mendapat pujian dan sebagainya. Sungguh, bukan untuk itu manusia diciptakan. Manusia Allah ciptakan untuk beribadah kepada-Nya.

Bilal bin Rabbah punya amalan unggulan, menjaga wudhunya. Abdurrahman bin ‘Auf dengan kedermawanannya. Mushab bin Umair dengan kegigihan tauhidnya. Lantas kita? Adakah amalan unggulan yang dapat menghantarkan langkah-langkah di dunia ini sebagai bekal pulang ke kampung akhirat? Mempersiapkan perbekalan sebelum melakukan perjalanan jauh semisal mudik ke kampung halaman ketika lebaran biasa dilakukan banyak orang. Menyiapkan bekal-bekal terbaik yang dapat dibawa untuk dapat dinikmati bersama orang-orang tersayang. Semoga kembali ruh ini kepada pemiliknya pun dipersiapkan perbekalannya sehingga dapat mereguk segarnya sungai-sungai di firdaus yang melepaskan lapar dahaga.

Hajiah M. Muhammad.

Depok, 22 Juli 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s