Dari Abu Hurairah radyhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam” (Muttafaq ‘alayh: Bukhari  No. 6018; Muslim No.47)

Berkata yang baik atau diam. Menjadi mutiara yang kian langka. Di masa perkembangan teknologi, di era media sosial yang semakin digandrungi. Perhiasan akhlak semakin tergusur, dimana etika seakan sirna termakan dunia maya yang penuh lena. Pernah terpikir menutup sekian banyak akun media sosial? Atau salah satunya, misalkan?

Di akhir tahun 2012, saya pernah mengasingkan diri dari laman Facebook karena merasa sudah semakin terbawa segala yang terpampang di beranda. Pun Twitter, bahkan sampai sekarang akun Twitter saya mungkin sudah usang, hehehhe. Ada kenyamanan tersendiri ketika kita lebih menikmati kehidupan di dunia nyata meskipun memang tak dapat dipungkiri, banyak juga hal-hal positif yang didapat dari dunia maya. Ada ketenangan yang lebih menentramkan ketika terlepas dari segala hal yang orang lain posting di masing-masing akun sosialnya. Memang, sepenuhnya menjadi hak mereka. Pun dengan kita, sangat berhak menuliskan status atau komentar apapun yang kita kehendaki.

Oleh karena itu, menjadi hal yang perlu diperhatikan agar tulisan (apapun bentuknya) dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum dibagikan. Pernahkah terlintas bahwa apa yang kita bagikan menjadi perhatian orang lain? Memang benar, kita sepenuhnya berhak menuliskan apapun dan orang lain memiliki kebebasan apakah akan menerima atau menolak atau bersikap biasa saja terhadap apa yang kita bagikan. Tapi ternyata, ketika segala sesuatunya itu sudah tersebar di dunia maya, tidak lantas menjadi apa yang kita harapkan.

Menulis status sesuai keadaan hati dan pikiran tapi ternyata menyinggung perasaan orang lain, berkomentar A tapi ditangkap B dan lain sebagainya. Bagaimana seharusnya kita berselancar di dunia maya agar lisan terjaga? Tidak banyak, karena bagi saya pribadi, beragam akun media sosial yang kita punya adalah untuk silaturahim. Sama halnya dengan silaturahim di dunia nyata, menjaga sikap dan ucap adalah keharusan. Kita perlu memilih dengan siapa kita berkawan agar apa yang kita baca di beranda, menambah wawasan terlebih menambah keimanan.

Sudah sebulan terakhir saya melakukannya, membersihkan friendlist yang ada di Facebook dan Instagram. Melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan. Ada beberapa orang yang memang saya rasa mengganggu, terutama berkaitan dengan postingan yang mereka bagikan. Sambil sesekali menyempatkan diri melihat mutual friend yang terhubung antara siapa dengan siapa, kadang saya flash back atas apa-apa yang sudah saya bagikan, entah status atau komentar. Karena boleh jadi, saya adalah orang yang mengganggu beranda orang lain.

‘Ala kulli haal, saya bukan termasuk orang yang kaku karena saya bukan kanebo kering *abaikan kegaringan ini*. Dunia maya adalah sarana belajar, ini yang selalu saya ingat sehingga ketika sudah mulai terlena, memutuskan untuk meninggalkannya dan kembali ke dunia nyata. Segala sesuatu yang melalaikan kita dari Allah, baik dunia nyata atau maya sebaiknya dihindari dan sebaliknya. Segala sesuatu yang mendekatkan kita kepada Allah, maka peliharalah, jaga dan selalu ingat bahwa Allah Maha Melihat dan malaikat mencatat segala apapun yang kita lakukan.

Hajiah M. Muhammad.

Depok, 20 Juli 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s