Pernah Marah?

Dari Sahl bin Mu’adz dari ayahnya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: Barangsiapa menahan amarah sedangkan dia mampu untuk menumpahkan (kemarahannya itu), niscaya Allah memanggilnya pada hari kiamat di hadapan sekalian makhluk, hingga Dia (menyuruhnya) memilih bidadari mana yang ia kehendaki” (HR. Abu Daud).

Masyaallah, menahan amarah adalah perjuangan. Perjuangan mengendalikan emosi, perjuangan menjaga lisan dari perkataan yang kasar dan menyakiti orang lain, perjuangan bersabar jika mendapat perilaku dzalim dari orang lain. Begitu berat menjadi orang-orang hebat yang mampu mengendalikan amarah karena di dalamnya manusia berjuang melawan dirinya sendiri untuk tetap bersabar dan tidak mengikuti amarahnya.

Lantas, apa yang dapat kita lakukan agar mampu mengendalikan marah?

Pertama, memohon perlindungan Allah dari godaan syetan. Dari Mu’adz, ia berkata: Dua orang saling mencela di sisi Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, maka yang satu (di antara keduanya) amat marah sehingga terbayang hidungnya pecah akibat marahnya yang hebat. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda; Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang jika membacanya niscaya sirnalah kemarahan. (Mu’adz) bertanya; Apakah kalimat itu Rasulullah? Beliau menjawab: allahumma inni a’udzubika minasy syaithaanirrajiim (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari godaan syetan yang terkutuk)” (HR. Abu Daud).

Kedua, memperhatikan posisi diri sendiri ketika marah. Dari Abu Dzar, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Jika tidak hilang, hendaklah ia berbaring” (HR. Abu Daud).

Ketiga, segera berwudhu. Abu Wail Al Qash berkata, “Kami menemui ‘Urwah bin Muhammad bin As-Sa’di, lalu seorang lelaki berbicara dengannya dan membuat ‘Urwah marah. Kemudian ‘Urwah bangun kemudian berwudhu, lalu kembali dalam keadaan berwudhu. Ia berkata, “Ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku, Athiyyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya marah itu dari syetan, sedangkan syetan diciptakan dari api dan api hanya dipadamkan dengan air. Apabila seorang di antara kamu marah, hendaklah ia berwudhu” (HR. Abu Daud).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam An Nihayah dikatakan bahwa menahan marah berarti menahan diri dari luapan amarah, mengekang penyebab kemarahan dan sabar mengatasinya. Semoga ini menjadi nasehat untuk kita agar mampu mengendalikan marah. Disarikan dari buku Akhlak Muslim karya Abu Thayib Muhammad Syamsul Haq Al Adhim (judul asli ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud).

Hajiah M. Muhammad

Depok, 18 Juni 2016//14 Ramadhan 1437 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s