pUJIAN

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang mendapat gelar ash shiddiq dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, mengajarkan kita untuk memohon ampun kepada Allah ketika mnedapatkan pujian. Abu Bakar berdoa,

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka.( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25: 145, Asy Syamilah)

Siapa yang tak senang jika mendapat pujian? Barangkali sebagian besar orang senang mendapatkannya. Tapi tidak semua dari yang sebagian itu mampu mengendalikan hati ketika dipuji. Pun diri ini, seakan terbuai pada sanjung puji sehingga lupa bahwa segala puji hanya untuk Allah. Maka dari itu, yang perlu dilakukan ketika mendapat pujian agar hati ini tidak terbuai adalah sebagai berikut:

  1. Mengucap hamdallah, alhamdulillah, ini adalah cara paling ringan yang dapat dilakukan agar ketika dipuji segera tersadar bahwa segala pujian sejatinya untuk Allah, untuk Dzat yang Maha Tinggi.
  2. Perbanyak istighfar, hal ini dilakukan untuk mengingatkan diri bahwa masih banyak dosa sehingga ketika dipuji tidak membuat besar hati dan merasa aman dari penyakit hati padahal sebenarnya dosa masih menyelimuti.
  3. Lebih ikhlas melakukan kebaikan, tidak lagi menjadikan pujian sebagai parameter melakukan kebaikan sehingga dengan atau tanpa pujian dari orang lain, kebaikan yang dilakukan menjadi kewajiban. Menyadari sepenuhnya bahwa kebaikan yang dilakukan adalah semata untuk Allah agar tidak sakit hati ketika tidak mendapat pujian manusia.
  4. Menyadari sepenuhnya bahwa ketika dipuji orang lain semata karena Allah menutupi aib-aib kita, dengan demikian diharapkan dapat membuat hati tetap tawadhu meskipun mendapatkan banyak pujian.
  5. Memahami bahwa di balik pujian terdapat lebih banyak ujian, bagaimana tidak? Ujian ketulusan melakukan kebaikan, ujian pengendalian diri agar tidak tinggi hati, ujian agar terhindar dari sifat ujub (berbangga diri) dan sombong (merasa paling benar dan merendahkan orang lain)

Masyaallah, semoga Allah menjaga kita dari hal-hal yang menimbulkan penyakit hati karena dipuji. Cukuplah Allah yang menjadi alasan kita untuk selalu berbuat kebaikan sehingga tak peduli dengan anggapan orang. Lima huruf dari pujian adalah ujian, semoga dengan mengingat ini kita terhindar dari segala sifat ujub, sombong dan penyakit hati lainnya.

Hajiah M. Muhammad

Depok, 16 Juni 2016//11 Ramadhan 1437 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s