Menikmati Jamuan #1

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kita kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan tahun ini, 1437 H. Semoga kesempatan ini dapat kita gunakan dengan sebaik-baiknya, menjadikan Ramadhan sebagai santapan iman untuk mendapat derajat takwa. ‘ala kulli haal, semoga dengan itu kita menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menikmati jamuan Allah dengan beragam limpahan kasih sayang-Nya, ampunan-Nya juga penjagaan-Nya.

Memasuki hari ketujuh di Ramadhan tahun ini, menyadarkanku bahwa begitu banyak hal yang patut disyukuri dan direnungkan. Apakah hanya mendapat lapar dahaga ataukah mendapatkan kesucian jiwa? Rabb, sungguh hamba bermohon ampun jika puasa ini hanyalah lapar dahaga tanpa menjaga iman dari hal-hal yang membatalkan puasa.

Di era kemajuan teknologi seperti sekarang, rasanya Ramadhan menjadi lebih berat. Bagaimana tidak? Kita juga dituntut untuk menjaga jemari dari mengetik hal-hal mudharat, menjaga jari-jari ini untuk tidak menuliskan hal-hal yang merusak puasa karena segala yang tertuang di ruang maya. Social media, terasa begitu melenakan, begitu menjerumuskan. Bahkan tak jarang, prasangka hadir begitu saja ketika membaca postingan di beranda. Banyak hal yang membuat hati lalai, tapi juga tak jarang ada yang membuat hati terasa sejuk karena mendapat siraman nasehat.

Tapi, kita tidak sedang membicarakan bagaimana media sosial berdampak pada keimanan, semoga lain waktu dapat dituliskan. Kali ini, ingin mengingatkan diri pribadi dan juga berharap dapat menjadi pengingat untuk rekan sekalian bahwa malam-malam Ramadhan jangan dibiarkan berlalu. Mengapa? Karena di setiap Ramadhan, Allah suguhkan ragam jamuan untuk orang-orang beriman. Mari kita menikmatinya meski dengan keimanan yang tak seberapa, meski dengan dosa yang tak terkira. Faghfirlana Ya Rabb…

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa… (QS. Al Baqarah:183)

Perintahnya, untuk orang-orang beriman, berharap kita ada di dalam golongan tersebut. Oleh karenanya, puasa yang dijalani pun bukan sekadar menahan lapar dahaga, tapi juga menahan dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, menuruti amarah misalnya. Disinilah yang kadang diabaikan, mampu menahan lapar dahaga seharian tapi ketika amarah meluap, baru selesai sahur bisa saja ditumpahkan. Tapi kita bisa menghindarinya dengan pakaian iman, syukur dan sabar.

Bersyukur karena masih ada kesempatan untuk memohon ampun dan bersabar karena keimanan tak lepas dari ujian. Puasa adalah perisai, penjaga agar keimanan yang hanya sebelanga layak mendapat gelar takwa dari Allah. Puasa di bulan Ramadhan, lebih dari sekadar kewajiban karena ketika kita melakukannya hanya sebatas penggugur kewajiban, tidak ada bedanya dengan puasa orang-orang di luar Islam.

Jika diibaratkan rumah, dari rukun Islam, puasa adalah dindingnya. Bagaimana rumah yang sudah memiliki gerbang dan tiang (syahadat dan shalat) sebagai penyangga, mampu berdiri kokoh dengan dinding yang kuat. Begitulah puasa semestinya, menjadi dinding keimanan yang kuat, menjadi perisai yang mampu melindungi diri dari hal-hal yang menjauhkan diri dari Allah. Dengan demikian, kita tentu berharap puasa yang dijalani menjadi tameng untuk menjaga keimanan tetap terpatri dalam hati, memelihara penghambaan tetap tertanam dalam jiwa.

Selamat menikmati jamuan Ramadhan!

Depok, 12 Juni 2016

Hajiah M. Muhammad

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s