Manajer Divisi Keuangan

Terinspirasi dari obrolan santai dengan suami tempo hari ketika saya mengutarakan keinginan untuk memulai usaha, menjual risol, heheheh. Beliau tak terlalu menanggapi, entah apa yang ketika itu sebenarnya beliau pikirkan. Tetapi, saya coba memahami ketidaktanggapannya saat itu. Alhasil, saya tetap berjualan risol. Awalnya, hanya ke tetangga dan teman-teman saja, sampai ada kawan yang merekomendasikan untuk memperluas pasaran melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram.

Ada sebagian orang yang bertanya, “Kenapa mau jualan risol? Emang uang dari suami gak cukup?”. Alhamdulillah, saya selalu mensyukuri seberapapun uang pemberian suami. Hanya saja, saya ingat nasihat seorang kawan bahwa perempuan ketika sudah menikah (sebaiknya dari sebelum menikah) juga perlu ada penghasilan meskipun tidak seberapa jika dinominalkan. Sebelum menikah, saya ada usaha jasa ketik dan cetak dokumen di kos sebagai upaya untuk meringankan orang tua membiayai hidup saya dan adik. Oleh karena itu, setelah menikah meskipun hanya sebagai ibu rumah tangga, keinginan untuk tetap memiliki penghasilan masih melekat dalam diri.

Bisa dikatakan, keinginan tetap memiliki penghasilan itulah yang mendorong saya untuk berbagi disini. Istri adalah manajer keluarga, tak terkecuali tentang kondisi finansial. Lalu, bagaimana Islam mengatur keuangan dalam rumah tangga? Berikut uraian yang saya dapat dari buku Bunda Manajer Keluarga (Irawati Istadi, Pustaka Inti 2011).

Konsep Keuangan

Kita meyakini bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki, tetapi apakah rezeki tersebut bisa datang dengan sendirinya? Tentu ada usaha yang perlu dilakukan dan doa yang perlu dipanjatkan. Pun terkait keuangan. Muslim harus kaya! Inilah yang menjadi penyulut semangat saya untuk berwirausaha. Benar, jika ada yang mengatakan jangan sampai uang melenakan kita dari mengingat Allah. Akan tetapi, jika kita ubah paradigma tentang uang semoga itu menjadi wasilah kita untuk lebih dekat dengan Allah. Seperti membiayai kebutuhan rumah tangga misalnya. Kebutuhan sandang, pangan dan papan membutuhkan uang untuk terpenuhi, pendidikan anak bahkan sedekah untuk mereka yang membutuhkan pun perlu uang.

Mengapa keuangan rumah tangga perlu dikonsep? Biarkan saja mengalir sebagaimana adanya. Membangun rumah tangga tidak berbeda seperti membangun perusahaan. Perlu manajemen yang rapi, sumber daya manusia yang mumpuni dan banyak hal lainnya. Pun terkait keuangan. Konsep keuangan rumah tangga yang perlu kita perhatikan bukan hanya kebutuhan jangka pendek seperti terpenuhinya kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk kebutuhan jangka panjang seperti dana darurat untuk kesehatan atau pendidikan anak di masa yang akan datang.

Dalam hal ini, fokus saya adalah bentuk investasi. Allah memang telah menjamin segala sesuatu untuk tiap-tiap hamba-Nya, termasuk perihal rezeki. Akan tetapi, kita pun kiranya mengupayakan agar rezeki yang sudah ditentukan kadarnya itu dengan upaya yang optimal. Sekali lagi, bukan karena cinta dunia kita mengejar keping-keping rupiah tetapi karena muslim harus kaya untuk memberikan maslahat lebih banyak kepada sesama. Insyaallah

Kaya dan cukup, bukan kaya dan miskin, adalah masalah hati. Hati yang selalu merasa cukup dan bersyukur maka akan Allah tambahkan nikmat-Nya.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

(QS. Ibrahim (14):7)

Konsep finansial yang tidak boleh hilang sama sekali adalah tentang bagaimana kita memandang uang. Halal dan haram dalam Islam adalah dua hal yang sudah ditentukan. Dalam membina keluarga, kita tentu berharap keberkahan yang Allah berikan. Oleh karena itu, menjadi sesuatu yang mutlak untuk mencari rezeki yang halal agar mendatangkan barokah. Ini adalah konsep spiritual finansial yang harus selalu kita ingat agar keberkahan Allah selalu meliputi keluarga kita dan anak-anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarga pun menjadi anak-anak sholeh penyejuk mata, aamiin.

Biasakan Mencatat

Tidak perlu membuat jurnal keuangan yang lengkap jika memang tidak paham, cukup dengan catatan-catatan sederhana di buku agenda atau buku tulis biasa. Dengan membiasakan diri membuat catatan keuangan (cash flow) pemasukan dan pengeluaran secara telaten, akan membantu kita untuk mengetahui apakah sudah berhemat atau malah sebaliknya, boros. Dari pencatatan sederhana itu juga bisa diketahui apakah pengeluaran sudah sesuai dengan kebutuhan keluarga atau sekedar pembelanjaan tanpa perhitungan. Dengan melakukan pencatatan, akan memudahkan dalam evaluasi keuangan rumah tangga dari waktu ke waktu sehingga bisa membandingkan pemasukan dan pengeluaran dari bulan sebelumnya dengan bulan yang akan datang.

Menghindari Nafsu Belanja

Kebanyakan kaum perempuan adalah orang yang mudah tergiur jika melihat diskon! hehehe. Iya apa iya? 😀

Mengendalikan nafsu berbelanja bagi sebagian orang adalah hal yang sulit dilakukan, terlebih jika terbiasa hidup serba ada sejak sebelum menikah. Ada cerita seorang kawan, upah suaminya yang bekerja sebagai teknisi di salah satu perusahaan swasta di Jakarta terbilang besar (setidaknya menurut saya :D). Istrinya, tidak diizinkan bekerja agar fokus mengurus rumah tangga dan anak-anak mereka. Namun sayang, kebiasaan sang istri yang hobi berbelanja tas dan pakaian masih terbawa sehingga uang yang ia terima dari suaminya selalu kurang.

Bukan biaya hidup yang membuat kita kekurangan, tetapi gaya hiduplah yang membuat seberapapun besar bilangan selalu kurang. Ya, belanja boleh saja asalkan sesuai dengan kebutuhan bukan sekedar keinginan. Ada beberapa solusi untuk menyiasai hasrat belanja yang berlebihan, berikut mungkin bisa menjadi alternatif pengendalian nafsu belanja:

  • Buat catatan kebutuhan sebelum berangkat berbelanja. Jangan membeli barang yang tidak ada dalam daftar belanja, inilah salah satu pentingnya membuat catatan belanja agar barang-barang yang dibeli sudah sesuai dengan kebutuhan
  • Bawa uang secukupnya. Dari pengalaman pribadi, jika belanja membawa uang cukup banyak (lebih dari perkiraan belanja kebutuhan), saya cenderung ingin menghabiskan uang yang dibawa. Please, ini gak banget 😦 Perlahan saya belajar untuk membawa uang secukupnya jika ingin berbelanja terutama belanja kebutuhan selama sebulan di supermarket atau mini market 😀
  • HIndari kartu kredit. Kartu setan, begitu sebutan untuk kartu kredit yang pernah dilontarkan mertua, heheheh..agak menakutkan mungkin. Tapi, memang begitulah jika kita tergantung pada kartu kredit. Banyak kasus orang yang menjadi buronan debt collector karena tidak mampu melunasi tagihan dari kartu kredit. Beberapa bulan lalu, ada kawan yang suaminya kaget luar biasa ketika melihat jumlah tagihan dari bank tempatnya menabung. Ada tagihan kartu kredit yang jumlahnya fantastis! Mencapai puluhan juta sedangkan ia merasa hanya beberapa kali menggunakan kartu kredit dan itu pun hanya untuk belanja keperluan sehari-hari dalam sebulan. Ketika ia menyampaikan hal itu kepada istrinya, ternyata sang istri yang memakai kartu kredit itu untuk membeli gadget keluaran terbaru dan beberapa perangkat elektronik lain untuk menunjang penampilan, katanya. well, belanja memang menjadi hal yang mengasyikan bagi sebagian orang, tapi jangan sampai berlebihan apalagi sampai terlilit hutang hanya karena ingin mendapat pujian sebagai orang yang kaya. Na’udzubillahi min dzalik!

Sekiranya, cukup demikian yang bisa saya bagi pada kesempatan ini, mohon maaf jika banyak hal yang kurang berkenan.

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari penghasilan secara baik, membelanjakan harta secara hemat dan menyisihkan tabungan sebagai persediaan di saat kekurangan dan kebutuhannya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Menuju Kemandirian Finansial

Depok, 25 Juli 2015

Hajiah M. Muhammad

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s