Tinggal Dimana?

Tinggal dimana setelah menikah? Ada dalam penjelasan di buku Kado Pernikahan Untuk Istriku karya Mohammad Fauzil Adhim, berulang kali saya membaca di bab tersebut ketika calon suami (ketika itu) menyampaikan bahwa setelah menikah akan tinggal bersama orang tuanya, yang tidak lain akan menjadi mertua saya. Takut dan ingin mundur berta’aruf, dua hal yang ketika itu begitu membayangi pikiran saya, sampai pada satu titik bahwa jauh lebih banyak maslahat ketika saya melanjutkan proses ketika itu.

Jika ada yang berpikir bahwa ketakutan saya tersebab drama sinetron yang seringkali menayangkan ketidakharmonisan menantu dengan mertuanya, maka saya katakan itu adalah keliru. Sebab, ketakutan saya lebih kepada bayang-bayang menyedihkan dan menyakitkan yang memang nyata saya saksikan di kehidupan yang dijalani. Terlepas dari apapun yang menyebabkan trauma tentang hubungan menantu dan mertua yang tidak harmonis, saya tetap melanjutkan proses ta’aruf dan alhamdulillah berlanjut sampai pernikahan hingga saat ini. Ohya, mertua tak izinkan jika kami tinggal pisah dengan beliau, karena suami adalah anak bungsu dan mertua tinggal seorang, ibu. Ayah mertua sudah meninggal sebelum saya bertemu dengan suami.

Ketakutan yang saya rasakan semakin meluap pasca pernikahan, saat saya mulai tinggal bersama mertua. Ya, Allah mau mendidik saya agar menjadi pribadi yang tangguh dengan kesabaran yang tak berbatas. Tinggal bersama mertua yang saya jalani, mungkin tak semua orang merasakan. Ada kawan-kawan yang tetap harmonis hubungannya dengan mertua, tetapi memang tidak tinggal satu atap, heheheh. 

Dan kali ini, saya ingin sharing bagaimana mencairkan suasana agar tercipta hubungan yang harmonis antara menantu dan mertua; tetapi karena posisi saya sebagai menantu maka poin-poin berikut adalah yang dapat dilakukan para menantu.

1. Cari informasi terkait hal-hal yang disukai dan tidak disukai mertua, kita bisa bertanya kepada suami atau saudara ipar terkait hal ini sehingga bisa melakukan hal-hal yang disukai dan menghindari hal-hal yang tidak disukai mertua. Mungkin terkesan sepele, tapi perihal makanan kesukaan pun bisa menjadi sarana ampuh untuk pendekatan ke mertua.

2. Tetap santun dan berlaku baik, berbuat baik kepada orang yang berbaik hati kepada kita adalah hal yang biasa, tetapi tetap berlaku baik kepada mereka yang sikapnya kurang menyenangkan adalah hal luar biasa. Disini, komunikasi menjadi amatlah penting, terutama membangun komunikasi yang baik antara suami dan istri. Jika tinggal di rumah orang tua suami, maka suami harus menjadi penengah. Pun sebaliknya, jika tinggal di rumah orang tua istri, maka istrilah yang menjadi penengah. Adapun penengah yang saya maksudkan bukan hanya jika terjadi masalah antara menantu dengan mertua, tetapi juga menjadi penengah untuk mengharmoniskan hubungan. Wajar jika kita merasa sedih dan sakit hati jika ada hal-hal yang sekiranya melukai, tetapi memaafkan dan melapangkan hati insyaallah adalah dua hal yang harus selalu kita lakukan jika ingin memperbaiki hubungan dengan siapapun, termasuk dengan mertua yang sikapnya membuat kita tak nyaman. Ada nasehat dari seorang kawan terkait hal ini, “Tetaplah berbuat baik meskipun tak dianggap, tak dihargai. Karena Allah Maha Melihat dan biar Allah yang berikan penghargaan atas kebaikan-kebaikan yang kita lakukan”. Masyaallah, meskipun memang sangat berat tapi yakinlah selalu ada hadiah untuk tiap kebaikan, Allah sebaik-baik pemberi balasan.

3. Sabar, mungkin terkesan klise tapi sungguh, kesabaran adalah salah satu pakaian keimanan yang harus kita miliki. Sabar jika masakan yang kita sajikan tak dimakan, atau malah mendapat hinaan. Sabar jika ucapan, pendapat kita tak didengarkan. Sabar jika kebaikan-kebaikan kita malah mendapat cemoohan. Biarlah, biar Allah yang melembutkan hati-hati kita agar tak pernah lelah untuk bersabar.

Bagaimana pun, sebaiknya pasangan suami istri tinggal terpisah dari orang tua. Jika pun harus tinggal satu atap dengan orang tua, komunikasi menjadi kunci dan kesabaran itu kesemestian. Tak melulu tinggal bersama orang tua setelah menikah menjadi ceritakan yang mencekam, sebab pasti ada manis kehidupan yang Allah selipkan. Wallahu a’lam.

Depok, 8 Juli 2015

Hajiah M. Muhammad.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s