Mencari

Sebelum lebih jauh, saya ingin memohon maaf kepada kaum pria dimana pun berada, tulisan ini hanya ungkapan dari fenomena yang sering saya dapati dari kehidupan sehari-hari. Tentang kesiapan menikah, kaum adam mungkin memang butuh lebih banyak persiapan daripada kaum hawa. Akan tetapi, bukankah kepastian janji Allah berlaku untuk laki-laki dan perempuan? Setidaknya, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan kaum adam belum siap menikah, atau sudah siap tapi terhalang sebab-sebab lainnya. Mari kita diskusikan.

1. Finansial, apakah ini yang menjadi sebab utama ketidaksiapan kaum pria untuk menikah? Mengingat, laki-laki berkewajiban menafkahi keluarga yang dipimpinnya, belum lagi jika mereka masih ada ‘tanggungan’ seperti adik yang masih butuh biaya pendidikan atau karena hal lainnya.

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut (menikah) dari hamba- hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur [24]:32).

Mengutip ungkapan Ustadz Yusuf Mansur di salah satu tausiyahnya, ‘Umpamanya lubang pintu dan kunci, laki-laki sebagai kunci dan perempuan adalah lubang pintunya. Maka rezeki Allah semakin terbuka dengan menikah’ (kurang lebih, begitulah intinya, saya lupa bagaimana redaksi aslinya). Juga ungkapan Umar Ibn Khaththab yang menjadi sindiran mereka yang ragu menikah karena masalah rezeki, “Aku heran dengan orang yang tidak mau mencari kekayaan dengan cara menikah. Padahal Allah berfirman : Jika mereka miskin, maka Allah akan membuat mereka kaya dengan Keutamaan-Nya.”

Ada serangkaian kata sederhana terkait kondisi finansial kaum adam untuk menikah, bukanlah memiliki pekerjaan tetap sehingga tercukupi kebutuhan keluarga, karena tetap bekerja itulah yang menjadikan keluarga tercukupi kebutuhannya. Dan yakin Allah akan memudahkan segala urusan, insyaallah.

2. Kriteria pasangan, wajar memang jika kaum adam berharap mendapatkan istri yang cantik, meskipun kecantikan pun sangat relatif. Perlu sekiranya kita mengingat kembali pesan Rasulullah dalam haditsnya, dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda , “Nikahilah seorang wanita karena empat hal, hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Pilihlah yang baik agamanya sehingga kamu mudah mengasuhnya” (HR. Bukhari)

Kita bukanlah makhluk sempurna, maka sangat mungkin pendamping hidup pun jauh dari kesempurnaan. Kita berhak meminta pendamping hidup yang sesuai dengan harapan, tetapi Allah jauh lebih berkah menentukan dengan siapa kita berdampingan mengarungi bahtera rumah tangga. Terkait kriteria pasangan, saya tak ingin berpanjang kalam karena memang setiap kita memiliki kecenderungan masing-masing, hanya saja saran saya, selama kriteria-kriteria tersebut masih bisa dikompromikan, meminimalisir kriteria akan memudahkan jalan menggenapkan setengah agama yang mulia.

3. Restu orang tua, Masih ada kakak yang belum menikah, jadi saya belum mempersiapkan diri, orang tua gak kasih izin’. Barangkali ini adalah sebab paling berat bagi sebagian orang karena tak jarang yang orang tuanya sampai sumpah serapah ketika ada anaknya yang melangkahi anaknya yang lebih tua. Atau ada kakak yang meminta ‘uang pelangkah’ jika adiknya ingin mendahuluinya menikah. Islam begitu indah dan memudahkan umat dalam beribadah dan bermuamalah. Menikah adalah bagian dari ibadah. Ada rukun yang harus dipenuhi dan perihal ‘pelangkah’ bukan termasuk dalam rukun nikah. – Rukun nikah; mempelai laki-laki dan perempuan, wali perempuan, saksi, mahar, ijab dan qabul -. Jadi jangan ditambahkan dengan sekelumit syarat yang membuat rumit.

Tentang restu orang tua, insyaallah  bisa didiskusikan dengan hati dan pikiran yang tenang tanpa urat saraf yang menegang. Atau orang tua belum merestui karena menganggap kita masih kekanak-kanakan? Belum dewasa dan jauh dari kesiapan menikah? Buktikan saja dengan perbuatan ya, karena dewasa bukan hanya berpikiran matang, jauh ke depan, tetapi juga teraplikasi melalui ucap dan sikap. Tunjukan bahwa anak gadis atau lajang orang tua sudah siap menikah. Cara paling mudah adalah dengan memiliki penghasilan sendiri, minimal sudah tidak lagi meminta uang saku ke orang tua, tapi kalau masih diberikan, ya alhamdulillah heheheh.

4. Fikriyah, menikah dan membangun rumah tangga bukan untuk waktu yang sebentar, bukan hanya untuk kehidupan dunia melainkan juga untuk kehidupan akhirat kelak. Oleh karena itu, menikah pun perlu ilmu. Ilmu tentang hak dan kewajiban suami-istri, ilmu tentang keuangan rumah tangga, ilmu tentang bagaimana mendidik anak dan sederet ilmu lainnya yang saling melengkapi satu dengan yang lain. Ilmu tentang pernikahan dan pernak-perniknya saat ini sangat mudah didapatkan, sudah banyak seminar pra nikah sampai dengan seminar parenting. Buku-buku pun bertebaran jika kita meluangkan waktu untuk membacanya, tak perlu membeli jika memang keterbatasan pendanaan, bisa pinjam ke kawan atau mengunduh dari laman internet, hehehe. Pernah satu waktu mendapatkan cerita seorang kawan, beliau menyampaikan maksudnya untuk menikah pada seorang senior, ‘Ka, saya mau minta tolong dicarikan ikhwan, insyaallah saya sudah siap menikah’, lalu sang kakak senior pun bertanya, ‘Sudah berapa banyak buku tentang pernikahan dan rumah tangga yang kamu baca?’

Ya, menikah bukan sekedar ingin atau malah ikut-ikutan karena sudah banyak kawan yang menikah. Pernikahan butuh perbekalan yang perlu disiapkan dan ilmu adalah perbekalan yang harus dibawa bahkan ketika sudah menikah pun, ilmu menjadi kebutuhan yang harus selalu dipenuhi. Mari renungkan pesan Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam Miftah Daarus Sa’adah, “Orang yang beribadah tanpa adanya ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun”.

5. Ruhiyah, seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya dalam tulisan ini, menikah bukan hanya untuk kehidupan dunia melainkan juga untuk kehidupan akhirat. Sebab itulah, pernikahan juga perlukan kesiapan ruhiyah. “Laki-laki (suami) pelindung bagi perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) karena telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan yang shalihah adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga mereka. Dan perempuan yang kami khawatirkan akan nusyuz hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka ditempat tidur (pisah ranjang) dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alas an untuk menyusahkannya. Sungguh Allah Maha Tinggi, Maha Besar. (QS. Annisa’ [4]: 34).

Agaknya, kesiapan ruhiyah ini pun menjadi sebabnya kaum pria tak kunjung menikah. Ada amanah besar yang harus diemban ketika sudah menikah, menjadi pemimpin di keluarga. Mencari nafkah yang halal, memastikan hanya makanan dan minuman yang halal lagi baik untuk tiap anggota keluarganya. Menjadi imam bukan hanya dalam menunaikan shalat berjama’ah, melainkan di tiap hal yang memerlukan kepemimpinannya.

Berharap poin-poin tersebut di atas pun dipersiapkan kaum hawa sebagai bentuk ikhtiar menuju gerbang pernikahan. Karena bagaimana pun, pernikahan di bangun bukan hanya oleh satu pihak, melainkan kesatuan dari laki-laki dan perempuan. Ohya, tulisan ini terinspirasi dari satu pertanyaan yang terangkum dari banyak redaksi dan sekian banyak kawan yang menanyakan, ‘Jiah, ada ikhwan siap nikah gak?’, atau ‘Jiah, bisa tolong carikan ikhwan untuk kawan saya?’. Ya begitulah, kalau kata seorang kawan, saya ini mak comblang berlisensi 😀 Apalah saya ini, hanya ingin membantu kawan-kawan yang hendak genapkan setengah agama dengan menikah.

Semoga Allah mudahkan segala urusan.

Depok, 1 Juli 2015

Hajiah M. Muhammad

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s