Selalu suka dengan mereka yang gemar berbagi meskipun ‘hanya’ lewat serangkaian kalimat sederhana. Dan rupanya, hal itu menginspirasi seorang Hajiah, sampai pernah ada yang mngatakan ‘Jiah, bisa aja curhatnya, lewat tulisan’, ya begitulah . Banyak hal terjadi dalam kehidupan kita, bukan? Tentu banyak pula pelajaran yang terselip di dalamnya.

Seperti yang lalu, Kamis (18 Juni 2015) sekitar pukul 8 malam, saya periksa kandungan. Dari catatan dokter, usia kehamilan sudah melewati perkiraan lahir, tapi saya tak kunjung merasakan kontraksi yang rutin. Dan akhirnya diputuskan untuk induksi malam itu juga atau paling telat, besok paginya. Setelah berdiskusi dengan suami dan dokter, kami putuskan untuk induksi esok paginya. Kami pulang dengan keheningan, mungkin sama-sama berpikiran tentang proses induksi yang disarankan dokter, terkenang persalinan pertama saya yang juga dengan proses induksi. Sesampainya di rumah, kami masih berdiskusi dengan berbagai kemungkinan esok hari.

Pukul 2.00 dini hari, kontraksi semakin rutin meskipun masih sekitar 20 menit sekali. Tapi saya tak segera mengabarkan ke suami, hanya merasakanya sendiri dan ternyata tak mampu memejamkan mata sampai akhirnya saya siapkan sajian untuk sahur. Mulai merasakan ritme kontraksi yang semakin teratur, sekitar jam 6 kami menuju rumah sakit. Berbekal dzikir pagi saya siapkan diri.

Di rumah sakit, tepatnya setelah memasuki ruang bersalin dan dilakukan pemeriksaan dalam oleh bidan, kami dikabarkan bahwa sudah pembukaan dua. Seperangkat alat disiapkan untuk cek detak jantung janin. Dari hasil pengecekan tersebut, diputuskan proses induksi dibatalkan seiring dengan ritme kontraksi yang saya rasakan.

Pukul 11.00, dilakukan kembali pengecekan dalam, sudah pembukan empat. Bidan kabarkan mungkin pembukaan lengkap sekitar pukul 3 sore.Tapi qadarullah, di tengah-tengah kontraksi yang semakin membuat saya payah, setelah suami kembali dari masjid menunaikan shalat jum’at, sudah memasuki pembukaan sepuluh, lengkap!

Dengan dibantu bidan dan beberapa asistennya, tangis bayi mungil nan suci memecah rasa sakit yang luar biasa. Allahu akbar! Tak henti hati berdzikir, berterima kasih pada Allah, laa hawla walaa quwwata illa billaah. Bayi lelaki itu pun diletakan di atas perut saya untuk proses IMD. Sepanjang IMD, bidan menyelesaikan tugasnya.

Alhamdulillah, karena Allah saya mampu. Anak kedua kami lahir di Jum’at pertama di bulan Ramadhan (2 Ramadhan 1436 H/ 19 Juni 2015), dengan segenap harap yang kami sematkan pada namanya, Adelard Uwais Binaardi. Semoga ia menjadi pemilik kebaikan yang mendapatkan anugerah untuk menegakan kalimatullah, aamiin.

Terima kasih kami sampaikan kepada karib kerabat, kawan-kawan yang mendoakan, semoga keberkahan Allah meliputi kita senantiasa. Semoga kami mampu menjadi orang tua yang amanah dengan amanah baru ini, aamiin.

Sepenuh cinta,
Depok, 27 Juni 2015
Hajiah M. Muhammad

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s