Bukan Sinopsis

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Hampir setengah tahun, mungkin lebih lama dari itu, saya tidak menulis. Oh, ralat. Bukan tidak menulis, hanya saja tidak membuat tulisan di luar tugas kuliah atau sebatas but status Facebook. Yak! Sebagai seorang yang keisengan menulis, maka saat ini adalah waktu yang tepat untuk memulai, sambil nikmati gemericik air hujan ditambah lagu Melly Goeslaw, Denting. *ciyeeee..

Seperti sebelum-sebelumnya, saya adalah tipe orang yang bingung ketika berhadapan dengan penjaga tiket bioskop, karena bingung mau nonton apa. Duh! Ini mungkin memalukan atau bahkan memilukan, hiks :'(. Tapi da aku mah apa atuh, butiran terigu. Oke lanjut! 

Jadi ceritanya, saya mau nonton bioskop, sendirian, iya sendirian karena suami kerja dan bingung mau ajak siapa. *banyakbingungnya*. Hmm, sebenarnya beberapa kali ya memang begitu, ujug-ujug aja nonton. Hehehe. Sampai berhadapan dengan mba penjaga tiket, saya tanya, “Ada rekomendasi film apa hari ini?”. Disebutkanlah dua judul dan keduanya film dari luar negeri. Well, may be it’s chance for me to get more listening English conversation before get TOEFL exam >.< *padahalbelajarbisakapanaja* :3

Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, saya putuskan untuk nonton Before I Go to Sleep, Nicole Kidman. Namanya gak asing, tapi tetap saya gak kebayang yang mana orangnya -_-. Bodohnya, saya gak baca sinopsis sebelum pesan tiket, alhasil setelah duduk linglung di ruang bioskop, baru searching sinopsis filmnya. Not bad, menurut saya. Tadinya kalo gak seru, mau tidur aja deh. Tapi karena sayang udah beli tiket dan duduk manis, jadi nonton juga akhirnya.

Ini prolog sebelum nontonnya, jangan harap saya akan menceritakan ulang, karena saya cuma mau ambil beberapa pelajaran dari film itu. Oke, semoga bermanfaat ya.

Pelajaran pertama, bahwa ada amanah luar biasa dalam mengarungi kehidupan berumah tangga. Ada penjagaan, ada ketulusan, ada kejujuran, ada perjuangan dan pengorbanan, yang kesemuanya itu bukan hanya dilakukan seorang, tapi berjama’ah, suami dan istri. Dan juga anak sebagai titipan yang juga menjadi bagian dari keutuhan rumah tangga.

Kedua, tentang kesyukuran seorang istri terhadap segala sesuatu yang ada pada suaminya, imam keluarga. Tentu ini menjadi fokus saya, betapa tidak? Mungkin selama ini, tanpa sadar atau dengan sadar, saya menjadi istri yang tak pandai bersyukur. Astaghfirullah, jadikan kami golongan yang pandai bersyukur Ya Allah. Di film tersebut, ada perselingkuhan yang dilakukan oleh istri, gak ngeh kenapa selingkuh -_- Dan suaminya jadi pergi deh, dengan membawa anaknya.

Ketiga, tentang ketulusan suami yang mungkin sering luput dari perhatian istri, adalah tentang bagaimana para suami dengan segenap jiwa raganya, menjaga makmum yang dipimpin agar senantiasa terjaga, terlindungi. Masyaallah, di scene ini saya jadi kangen suami, eh maksudnya jadi nangis tanpa sadar karena keinget sama kebaikan-kebaikan suami, hiks 😥

Dan terakhir, tentang ikatan batin antara ibu dan anak. Betapa Allah dengan segala kuasa-Nya menautkan hati anak dengan ibunya lebih lekat daripada prangko dan amplop *lho o_O. Dan lagi, saya menitikkan air mata. Kali ini kebayang shalihah, Ayeesha. Si mungil nan menggemaskan yang selalu menyambut saya pulang kuliah dengan sumringah, dengan teriakan cerianya, meskipun terkadang dengan rengek manjanya. Alhamdulillah ‘ala kulli haal.

Udahan ah, semoga bermanfaat dari tulisan random ini.

Hajiah M. Muhammad
Jum’at, 5 Desember 2014/10 Safar 1436 H
*lapairmata*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s