Petikan Hikmah #PutihkanIbuKota

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ahad (16/3) lalu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melangsungkan kampanye perdana di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta. Laman Facebook dan Twitter pun tak luput dari tagar #PutihkanIbuKota. Banyak yang sanksi bahwa PKS mampu memobilisasi kader dan simpatisannya ke GBK, akan tetapi itu terbantahkan. Pada kesempatan ini, saya tidak akan menyoroti euforia kader dan simpatisan juga para petinggi PKS di hari itu, ada beberapa poin yang mungkin dapat saya pelajari dari event meriah tersebut, seperti jargon PKS saat ini, cinta, kerja, dan harmoni.

1. Cinta

Apa yang menarik kader dan simpatisan berbondong-bondong menghadiri kampanye PKS?”. Jika Anda menjawab pertanyaan itu dengan iming-iming uang, maka jawaban Anda kurang tepat. Mengapa? Mari kita berhitung, hitungan sederhana jika mereka yang hadir diberikan uang. Ini hanya perumpamaan, katakan misalnya setiap orang yang hadir diberikan Rp 50.000 (Lima Puluh Ribu Rupiah), dikalikan dengan 100.000 orang kader, maka akan kita dapati hasil Rp 5.000.000.000 (Lima Milyar Rupiah) *mohon koreksi jika saya salah hitung*. Itu hanya untuk seratus ribu orang, sedangkan hari Ahad itu GBK ‘diputihkan’ oleh para kader dan simpatisan, bahkan sampai tak menampung mereka yang masih berada di luar stadion. 

2. Kerja
Inilah yang menjadi’magnet’ PKS bagi para peserta kampanye di GBK pertengahan Maret lalu, kerja. Ada atau tiada Pemilu (Pemilihan Umum), PKS terus bekerja, melayani masyarakat. Bakti sosial, pelayanan kesehatan, bantuan bencana, dan lain sebagainya. Kita mengenal istilah grass root, ini yang membuat PKS kokoh, solid! Membangun kepercayaan masyarakat dari akarnya. Apakah kerja-kerja para kader dilakukan untuk mendulang perolehan suara dalam Pemilu? Jika memang begitu, PKS tak perlu repot bekerja di luar masa kampanye. Tapi itu bukanlah gaya PKS. Dengan kerja, kita berkarya.

3. Harmoni.
Pada kesempatan ini saya tak ingin membahas tentang khilafiyah musik. Pada kampanye perdana PKS itu, juga menampilkan paduan suara gereja dari Ende, Nusa Tenggara Timur. Ada pula penampilan flash mob PKS dengan gerakan-gerakan sederhana. Terlepas dari segala bentuk kontroversi mengenai paduan suara dari gereja yang menyanyikan mars PKS, partai berlambang bulan sabit dan padi ini ingin menunjukkan bahwa partai itu terbuka untuk semua golongan, terbuka juga bagi sesama warga Indonesia muslim dan non-muslim.

Setidaknya, dari tiga hal tersebut di atas yang menjadikan PKS mampu ‘memutihkan’ ibu kota dan seperti orasi yang disampaikan Anis Matta pada kampanye perdana itu, bahwa PKS akan mengobarkan semangat Indonesia. Menjadi otaknya Indonesia, menjadi hatinya Indonesia, dan menjadi tulang punggungnya Indonesia.

Di akhir tulisan ini, saya teringat pesan dari Ustadz Hilmi, selaku ketua majlis syuro PKS, dalam orasi yang sarat nasihat itu beliau sampaikan agar kita tak riya dan sombong dengan jumlah peserta yang hadir dan berhasil memutihkan GBK. Ya, apalah PKS ini tanpa kekuasaan Allah. Mari kobarkan semangat Indonesia!
image

image

Hajiah M. Muhammad
Selasa, 1 April 2014//30 Jumadil Awal 1435 H
#PutihkanIndonesia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s