SILAKAN GOLPUT :D

Percaya atau tidak, saya sangat jarang memberikan judul tulisan di blog dengan huruf kapital dari awal sampai akhir judul. *cumakasihinfo*

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Bermohon ampun atas segala khilaf kata, mohon ampun atas segala prasangka, dan mohon ampun atas segala sesuatunya kepada Allah Sang Penguasa jiwa. Segala puji bagi Rabb semesta alam, Rabb Maha Kuasa. Shalawat dan salam kepada baginda Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wa sallam, beserta keluarga, sahabat dan pengikut sunnah-sunnahnya, semoga saya, anda, dia, mereka termasuk di dalamnya. KITA.

Beberapa hari belakangan saya tetiba ingin sedikit angkat bicara *ceileh* mengenai pro dan kontra golput, ya…, golput. Awalnya, iseng saja membuat ‘kicauan’ di Twitter, silakan golput, begitulah singkatnya. Disambung kemarin sore, saya memberanikan diri posting hal serupa di laman Facebook. Dan sesuai dugaan, masih ada saja yang membahas soal sistem pemerintahan kufur, D-E-M-O-K-R-A-S-I. Saya hanya tersenyum ketika membacanya, bolehlah saya katakan lucu *mohon maaf jika ada pihak yang tersinggung*.

Malas dan jenuh dengan pembahasan demokrasi, karena sudah tentu akan ada pihak-pihak yang berkomentar dan bertanya, “Bagaimana mungkin syariat Islam diterapkan dalam sistem pemerintahan kapitalis?”. Sebelum saya lanjutkan, mau ngunyah biskuit dulu. *Oke abaikan!*

Saya sampaikan, bahwa saya bukanlah seorang pengamat politik, bukan juga kader dari partai, hanya seorang warga negara yang mengharapkan di parlemen sana diduduki orang-orang shalih, apapun partainya. Saya ulangi, orang-orang shalih, apapun partainya. Buang jauh kebencian Anda terhadap keruh dan kisruh parpol (partai politik) Islam, biarkan saya lanjutkan tulisan ini dan sampaikan hal-hal yang mungkin perlu kita pahami bersama.

1. Politik Itu KOTOR

Baiklah, saya terima jika ada yang menganggap demikian. Politik itu kotor. Kalau Anda termasuk yang beranggapan bahwa hal tersebut adalah benar, bantulah kami yang sedang berlumur lumpur ini untuk bersih. Bersih seperti kalian yang memandang jijik kepada kami.

Saudaraku, ketika kita melihat sesuatu itu kotor, apakah kita akan membiarkannya tetap kotor atau berusaha membersihkannya? Seperti mencuci piring atau baju, apakah ketika kita ingin membersihkannya tangan dan kaki terbebas dari kotoran? Apakah pakaian kita tak terkena percikann air keran? Analogi yang sangat sederhana bukan?

2. Demokrasi Sistem Kapitalis!

Siapapun yang pertama kali mencetuskan demokrasi di Indonesia, menurut saya adalah hal yang lumrah. Mungkin ini contoh kecil, “Gak mungkin syariat Islam bisa diterapkan dalam sistem pemerintahan kapitalis!”. Dan biarkan sekarang pun saya sedikit tertawa, heheheheh… Kita mungkin terlalu cinta terhadap syariat Islam itu sendiri sehingga membutakan mata hati bahwa saat ini, demokrasi menjadi satu SARANA untuk penerapan syariat-syariat itu. Kita, tanpa terkecuali, saya yakin bahwa semua mengharapkan, memimpikan syariat Islam tegak di negara ini, negara dengan mayoritas penduduk memeluk Islam, Indonesia. Akan tetapi, apakah cukup dengan mencaci-maki demokrasi, lantas syariat Islam itu diterapkan? Mengutip ungkapan seorang kawan, TOA hanya akan terus mengeluarkan suaranya, tapi KERJA NYATA dapat mengubah prahara menjadi anugrah, insyaallah. 

3. Parpol Islam GAK BECUS!

Apa bedanya partai Islam dengan partai sekuler kalau mereka menjadikan non-muslim pemimpin? Apa bedanya partai Islam dengan partai sekuler kalau kampanye mereka menjual agama? Apa bedanya partai Islam dengan partai sekuler kalau gak becus nerapin syariat di pemerintahan? Semua sama aja!

Eits, tunggu dulu. Sepertinya kamu yang bertanya seperti itu terlalu benci dengan parpol apapun yang melatarbelakanginya. Ketika orang-orang non-muslim diajukan sebagai calon pemimpin dari partai Islam, itu karena di wilayahnya mayoritas penduduknya beragama selain Islam. Boleh jadi, dengan mengajukan mereka sebagai caleg (calon legislatif.red) akan semakin menyuburkan syiar Islam di wilayah yang mayoritas penduduknya non-muslim, di Papua misalnya.

Partai yang menjual agama itu yang bagaimana ya? *serius tanya* :O

Begini, mari kita bedakan antara islamisasi politik dan politik islamisasi. Partai yang jualan agama adalah mereka yang menjalankan politik islamisasi, artinya, mereka menggunakan simbol-simbol agama untuk kampanye dan meraup suara rakyat sebanyak-banyaknya. Contoh, caleg perempuan yang kesehariannya tidak menutup aurat tapi ketika kampanye mengenakan hijab, meski tak menjulurkannya ke dada. Beda dengan caleg yang memang kesehariannya menutup aurat, tentu kita bisa membedakannya dengan sangat jelas.

4. Pokoknya Saya GOLPUT!

Ya sudahlah… Saya menulis ini bukan untuk memaksa siapapunyang golput mengubah pilihannya, hanya ingin berbagi sedikit kerisauan terkait maraknya golput. Tapi ya sangat disayangkan kalau ternyata di parlemen nanti justru diisi oleh mereka yang dzolim, mereka yang tak berpihak kepada rakyat, mereka yang menjual agama untuk pemenangan suara. Jangan heran ketika nantinya, menteri agama dijabat oleh perwakilan tokoh JIL (Jaringan Islam Liberal) atau Syiah. Dan mereka tentunya punya kebijakan semakin jauh dari nilai-nilai ajaran Islam. Syariat Islam akan semakin dianggap tidak relevan jika diterapkan dalam pemerintahan sebuah negara. Mau begitu? Dan sekarang pilihan ada pada masing-masing kita. Mau berpartisipasi dalam pemilu nanti ataukah masih sibuk mencaci-maci demokrasi?

Sepenuh Cinta

Hajiah M. Muhammad

Ahad, 23 Februari 2014/23 Rabiul Akhir 1435 H

Advertisements

2 thoughts on “SILAKAN GOLPUT :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s