Semakin Cinta

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Segala puji bagi Allah Maha Kuasa atas segalanya, Dzat pengatur skenario kehidupan manusia, Dzat hebat! Ah! Betapa saya yang hina ini begitu terkagum dengan segala episode kehidupan yang Allah amanahkan untuk saya perankan dengan sebaik-baik penghambaan, meski tersadar bahwa keimanan mungkin baru sampai di ujung lisan, astaghfirullah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada manusia mulia, idola sepanjang masa, pemimpin terbaik, pejuang heroik, Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wa sallam, beserta keluarga, para sahabat dan para pengikut sunna-sunnahnya, semoga kita ada di dalamnya dan mendapatkan panggilan penuh cinta di yaumil akhirat kelak darinya.

Sepekan, setelah hari menegangkan sekaligus membahagiakan itu, kini tengah menikmati penunaian amanah baru sebagai orang tua. Ya, kini amanah itu semakin jelas tersematkan pada kami. Seorang putri mungil nan menggemaskan kini menemani hari-hari kami, menambah ‘kesibukan’ dan kebahagiaan dalam pelayaran kami, semoga pun barokah-Nya senantiasa terlimpah pada keluarga kecil yang tengah kami bangun.

Siapa yang mengira bahwa persalinan yang diprediksi masih sekitar dua pekan dari hari itu, ternyata Allah berkehendak lain. Sedikit share tentang kronologi persalinan saya sepekan lalu, percayalah, melahirkan itu menguatkan!  Saya mengungkapkan hal tersebut dengan penuh kesadaran dan memang begitulah yang saya rasakan. Meskipun rasa sakit menahan mulas demi mulas fase pembukaan sebelum persalinan itu tak dapat dipungkiri, akan tetapi disanalah letak kekuatannya.

Sabtu, 9 November 2013

20.30 WIB

Sepulang dari berbelanja di minimarket, saya buang air kecil dan mendapati bercak warna kecoklatan yang menempel pada celana dalam, ditambah dengan cairan bening seperti air seni tapi tidak berbau. Segera saya ingat buku kehamian bab fase persalinan, dan pikiran menyimpulkan bahwa ini adalah tanda persalinan semakin dekat di hadapan. Segera saya kabari suami, beliau yang semula ingin berangkat agenda pekanan menunda keberangkatannya. Sekitar lima belas menit, tidak ada tanda-tanda selain itu, alhasil suami tetap berangkat. Sepulang dari agendanya, suami kembali menanyakan apakah ada tanda-tanda persalinan lainnya. Dikarenakan memang tidak ada tanda-tanda lainnya, maka kami putuskan untuk tetap di rumah dan mengagendakan esok pagi cek ke rumah sakit.

Ahad, 10 November 2013

10.00 WIB

Menanti panggilan dari perawat di rumah sakit sambil harap-harap cemas karena peristiwa di hari kemarin. Dan tiba giliran saya yang masuk ruangan, bismillah. Setelah cek tensi darah dan timbang berat badan, juga pemeriksaan dalam, hasilnya adalah cairan yang keluar dan flek kecoklatan itu adalah keputihan berlebihan. Saya ingat perkataan bidan ketika itu, “Itu tanda persalinan yang jarang dialami, tapi prediksi saya, bisa jadi nanti malam atau besok persalinannya”. Keluar dari ruang periksa bersama suami dan sepanjang perjalanan menuju rumah, sedikit gugup karena mengingat sejauh mana persiapan saya untuk menyambut buah hati kami. Alhamdulillah, gugup pun berlalu seiring dengan tilawah qur’an ba’da zuhur.

16.30 WIB

Selepas buang air kecil, ada perasaan untuk kembali mengecek apakah ada flek yang tertinggal atau tidak. Ada warna merah cerah seperti darah haid yang segar, semakin yakin bahwa persalinan semakin dekat. Saya pun segera memberi kabar tersebut kepada suami, agar beliau pun lebih mempersiapkan dirinya jika sewaktu-waktu harus ke rumah sakit untuk persalinan. Mengisi waktu sore menjelang maghrib, saya semakin bersyukur, dianugerahkan suami yang siaga jelang persalinan.

18.15 WIB

Selesai menyiapkan makanan malam, segera saya ambil wudhu’ untuk tunaikan shalat maghrib. Raka’at pertama, tak ada hal apapun yang berkenaan dengan tanda persalinan. Memasuki raka’at kedua, tepatnya ketika bangkit dari sujud, terasa ada alirian di sela-sela kaki. Deras! Konsentrasi mulai terganggu, seketika saya terpikir aliran tersebut adalah ketuban, entah sudah pecah atau sekedar rembes. Membatalkan shalat dan segera saya panggil suami untuk bergegas menuju rumah sakit. Dengan membawa sebotol air minum, mengambil mushaf, mengenakan jaket tebal, juga jas hujan, karena masih gerimis ketika itu, mengendarai motor kami berangkat ke rumah sakit.

Di perjalanan, beberapa kali suami menanyakan apakah masih ada aliran yang tadi atau tidak. Dengan polos saya jawab bahwa saya tak tahu apakah masih mengalir ataukah tidak, karena saya rasakan gerimisnya perlahan menderas.

Sesampainya di rumah sakit, sejenak saya perhatikan jok motor yang basah, mungkin karena sisa aliran air tadi. Segera saya menuju receptionist untuk melakukan pendaftaran dengan menjelaskan keadaan saya tentunya, alhasil saya langsung diantar ke ruang bersalin.

19.00 WIB

Memasuki ruang bersalin dengan perasaan tegang, tapi saya masih mampu berdzikir dan berharap ketenangan, alhamdulillah setelah itu lebih tenang. Bidan yang bertugas segera memeriksa tensi darah dan mengambil darah untuk uji laboratorium. “Setelah keluar hasil lab, akan kami laporkan ke dokter Dian untuk segera diambil tindakan ya, Bu”, begitu kira-kira kalimat yang disampaikan bidan. Saya dan suami saling pandang, “Bismillah, doakan aku kuat ya…”, suami mengangguk pelan dan lemparkan senyuman, tanpa kata namun penuh makna. *Alhamdulillah, terima kasih duhai zawjiy <3* “Bidan meminta izin untuk melakukan pemeriksaan dalam, dan kami tentu persilakan. “Sudah pembukaan satu, Bu”, bidan mengabarkan hasil pemeriksaannya. “Tolong kabari ibu ya…”, pintaku pada suami. Setelah mengabari ibu, suami sampaikn bahwa ibu tak bisa ke rumah sakit ketika itu. Saya pun memaklumi karena jarak yang cukup jauh dari rumah ibu ke rumah sakit, ditambah malam dan gerimis, rasanya saya tak tega jika ibu tetap datang. Akan tetapi, begitulah seorang ibu, bagaimana pun keadaannya, akan tetap juangkan cinta pada anaknya. Ah, ibu, kau buatku semakin mencintaimu. Ibu dan Bapak datang malam itu, dan tentu aku merasa lebih kuat menghadapi persalinan, insyaallah.

20.30 WIB

Saya meminta suami untuk putar murottal dari handphone, suara Syaikh Mishaari Rasyid mulai terdengar, surat Al-Fatihah. Sengaja saya putar Al-Fatihah sebagai pembuka. Playlist saya atur putarannya mengacak, surat kedua yang terdengar adalah Ar-Rahmaan, dilanjutkan dengan Luqman. Allah…, betapa bersyukurnya aku dengan skenario-Mu. Semakin yakin bahwa Allah sebaik-baik pengatur cerita.

Kami terima hasil lab, dan bidan sampaikan bahwa dokter menyarankan untuk dilakukan induksi, untuk merangsang rasa mulas karena khawatir simpanan ketuban semakin tiris sedangkan mulas tak kunjung saya rasakan. Setelah mengisi form persetujuan dari suami, bidan pun mulai persiapkan segala perlengkapan untuk induksi. Dan tak lama setelah diberikan suntikan antibody dan semacam obat perangsang mulas, saya pun mulai rasakan mulas yang rutin meski jaraknya masih sekitar tiga puluh menit sekali.

Jarak antara pembukaan satu ke pembukaan dua sekitar 5,5 jam (lima setengah jam), dan mulai pembukaan dua, rasa mulas semakin rutin saya rasakan.

01.00 WIB

Mata sesekali terpejam, tak dapat saya pungkiri bahwa rasa kantuk pun sebenarnya sudah sejak tadi menghampiri. Maka saya pun tidur beberapa menit sebelum akhirnya kembali disapa rasa mulas dan bidan sampaikan, satu jam kemudian akan dilakukan cek denyut jantun janin dan keaktifannya (saya lupa apa istilah medisnya). Dan setelah ini, saya mulai tak hiraukan waktu, karena semakin merasakan sakit dari mulas yang semakin rutin dirasa. Memasuki ketiga dan keempat, rasanya ingin mengeluh kesakitan pada orang-orang, mengabarkan pada mereka betapa diri ini payah. Perasaan itu hadir setelah saya lirih bersuara, “Allah…laa hawla walaa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘adziim”. Meskipun mulas semakin mendera, tapi ketenangan hati yang utama. Saya pun sesekali meminta suami menggenggam tangan saya lebih erat, padahal sebelumnya pun beliau menggenggam tangan saya.

Bidan kabarkan bahwa janin dalam rahim kekurangan oksigen, tanpa komando, saya dan suami saling pandang, ada kekhawatiran. Dalam hati terus bertekad untuk persalinan normal, meskipun tak saya pungkiri sempat terbersit operasi jika memang harus demikian. Tabung oksigen pun disiapkan dan saya gunakan selang untuk bantu oksigen janin. Semakin merasa lemah tanpa Allah mulai detik itu. Memasuki pembukaan lima dan enam, mulas semakin rutin dan sakit pun akhirnya terkeluhkan kepada suami, “Sakiiiiiiit…”, lirihku pelan bersama air mata yang juga tak terbendungkan. Mata suami pun sudah berkaca-kaca, satu hal yang saya yakini bahwa ia hanya ingin segala sesuatunya sesuai yang direncanakan, diharapkan, persalinan normal. Sesekali beliau mengecup kening saya, menggenggam tangan lebih erat berikan semangat. Terima kasih sayang. {}

Pembukaan tujuh dan delapan, meminta ibu duduk di sisi kiriku, meminta maaf padanya, memohon doanya, dan mengecup khidmat punggung tangannya. Ibu berbisik pelan, “Kakak kuat! Emang sakit, tapi inilah kodrat wanita. Kakak bisa melaluinya”, kurang lebih itulah yang ibu sampaikan. Di sisi kananku, suami tak lepas menggenggam tangan, bahkan tanpa diminta beliau pun bantu menyeka keringat yang semakin menderas di wajah saya. Bidan menghubungi dokter bahwa saya telah memasuki pembukaan delapan dan sampaikan bahwa dokter akan tiba sekitar dua puluh menit. Dengan keadaan mulas yang semakin ‘akrab’, saya sesekali meminta, “Sama bidan aja lahirannya…”, tapi bidan sampaikan bahwa dokter sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Saya semakin tak tahan dengan rasa mulas, sedangkan dokter belum juga datang. Pembukaan sembilan, terasa kepala janin sudah bisa dilihat bidan, dan benar saja, bidan kabarkan bahwa kepala janin sudah terlihat. Tak lama, pembukaan sepuluh semakin terasa kepala janin sudah menyembul keluar, tapi saya masih harus menahannya hingga dokter datang. Saya tak ingat persis jam berapa ketika itu, yang  jelas selepas azan shubuh, setelah suami kembali dari mushallah, dokter datang, alhamdulillah. Dokter persiapkan diri sebelum mengeksekusi tugasnya, sambil berikan instruksi kepada saya agar dapat mengejan dengan kuat. “Bismillah, Allah, kuserahkan segalanya…”, lirih dalam hati saya bersuara. Sesuai instruksi dokter, saya mengejan sekuat tenaga dengan selang oksigen yang masih dikenakan. Dua kali mengejan, karena saya seperti kehabisan oksigen untuk mendorong janin keluar. Alhamdulillah, allahu akbar! Bayi mungil terdengar tangisannya, menderaslah air mata yang tadi tertahan deruan nafas untuk mengejan.

Suami berikan kecup hangat, tangannya masih erat menggenggam. Dokter lakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini), bayi pun bergerak perlahan mencari puting susu, masyaallah, betapa luar biasa kuasa-Mu Ya Allah. Betapa tidak? Bayi yang baru dilahirkan dapat mengenali puting susu ibunya tanpa diarahkan siapapun, tentu itu adalah kuasa-Nya. Suami dengan air mata yang mulai menetes pun segera melantunkan azan dan iqomah di telinga anak kami. Dalam hati saya berdoa, rabbana hablana minashshalihiin (Ya Rabb kami, anungerahkanlah kami keturunan dari golongan orang-orang yang shalih).

Ada hal yang lumrah orang tanyakan pada mereka yang baru saja melahirkan, “Berapa banyak jahitan?”, saya pun mendapati pertanyaan serupa. Jujur, saya tak terlalu mempermasalahkan hal itu, setelah mendengar tangisan pertama bayi yang saya lahirkan, fokus saya hanya kesyukuran. Sakit dan segala rasa hilang. Alhamdulillah bi ni’matillah. Terima kasih Allah, semakin aku cinta. ❤

Ayeesha Nakhwah Binaardi <3
Ayeesha Nakhwah Binaardi ❤

Hajiah M. Muhammad

Selasa, 19 November 2013/16 Muharram 1435 H

Mencintai cara-Mu mencintaiku ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s