Akan Tiba Masa

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sambil menanti kelahiran buah hati kami yang pertama ini, rasanya segala bentuk kerinduan tak terbendung. Saya maupun suami kadang seperti anak kecil yang ingin segera dituruti keinginannya, yaitu ingin segera mendengar tangisan bayi mungil kami. Akan tetapi, di sisi lain seperti terbentur satu kenyataan besar bahwa itu artinya akan tiba masa amanah kami sebagai orang tua, Allah embankan pada kami. Seketika kami tertunduk dalam perenungan, ya, sebab bagaimana pun keadaannya, orang tua yang diamanahi anak miliki tanggung jawab besar sebagai investor pendidikan anak hingga mereka tumbuh dewasa. Apakah mereka dididik dalam iman dan takwa ataukah justru sebaliknya, terdidik dalam ketiadaan iman dari orang tuanya.

Iman tak dapat diwarisi, begitu ungkapan yang kiranya sering kami dengar. Ya, kami menyepakatinya. Justru karena iman tak dapat diwariskan, maka kami pun bertanya dalam diam, mampukah kami mendidik anak-anak kelak dengan keimanan kami yang tak seberapa? Yakin kami, Allah takkan menguji hamba di luar kesanggupan mereka. Bukankah hadirnya anak-anak dalam keluarga pun menjadi ujian bagi orang tuanya? Apakah mereka tetap dalam syariat ataukah berpaling pada maksiat?

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. At-Taghaabun (64):15)

“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka Mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” (QS. An-Nahl (16):72)

Betapa tidak? Kehadiran anak-anak adalah karunia, namun di sisi lain bisa jadi bencana bagi orang tuanya jika mereka  tak terdidik dalam keimanan dan ketakwaan. Disinilah peran orang tua menjadi sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Bagaimana mereka dapat mengenal Allah sebagai Rabb-nya, sebagai Dzat Pencipta? Bagaimana mereka meneladai Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam sebagai idola sepanjang masa? Bagaimana mereka mengamalkan ajaran-ajaran Islam? Orang tualah yang miliki banyak peran dalam hal ini.

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. : Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya-lah yang menjadikan dia seorang Yahudi atau Nasrani atau Majusi sebagaimana seekor hewan melahirkan seekor hewan yang sempurna. Apakah kau melihatnya buntung?” (HR. Bukhari). Kemudian Abu Hurairah membacakan ayat suci ini: (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. (Hukum-hukum) ciptaan Allah tidak dapat diubah. Itulah agama yang benar. Tapi sebagian besar manusia tidak mengetahui (QS. Ar-Rum (30):30).

Tak dapat dipungkiri jika saat ini semakin “berjamur” lembaga pendidikan, baik formal maupun non-formal yang menawarkan pendidikan berbasis Islam bagi peserta didik, akan tetapi tetap saja pendidikan anak bermula dari rumahnya, dari orang tuanya, utamanya adalah ibunya. Kemudian saya kembali bertanya, siapkah? Allah, mampukan hamba yang lemah ini menjadi sebaik-baik sekolah pertama bagi anak-anak yang lahir dari rahim ini, sebagai penunaian amanah-Mu kepadaku. Mampukan kami, sebagai orang tua mendidik anak-anak kami dengan iman dan takwa, dengan penghambaan kami pada-Mu yang tertatih ini. Hasbunalah wa ni’mal wakiil ni’mal mawla wa ni’mannashiir, laa hawla walaa quwwata illa billahil’aliyyil ‘azhiim. 

Hajiah M. Muhammad

Sabtu, 2 November 2013/28 Dzulhijjah 1434 H

Kontemplasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s