>.<

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Jika resiko itu hadir sebab keputusan yang diambil, maka wajar saja jika tiap keputusan itu miliki konsekuensi yang harus ditanggung, tak tanggung-tanggung. Pun ketika saya *pada akhirnya* memutuskan untuk non-aktif dari jadwal perkuliahan di semester ini (semester 7 heuheuheu).

Saya ingat, ketika itu, sebelum menikah, saya terpikir untuk menunda kehamilan ketika sudah menikah di masa kuliah. Akan tetapi, ada nasehat yang begitu lekat hingga saat ini, beliau katakan, “Jangan pernah menunda atau menyegerakan apa yang kita inginkan, karena Allah adalah sebaik-baik penentu jalan kehidupan”. Yap! Saya sepakat dengan nasehat itu meski pada awalnya semacam ada penolakan dalam hati. Oleh karenanya, ketika menikah pun saya tak jadi menunda kehamilan dan Maha Kuasa Allah atas segala skenarioNya, saya diberi kepercayaan berupa kehamilan ketika memasuki bulan ketiga pernikahan, Allahu akbar! 

Segera saya susun time schedule untuk mengatur kalender akademik di kampus dan perkiraan kelahiran sang buah hati. Pada tri semester awal, segala puji bagi Allah yang memberikan saya kekuatan untuk tetap menghadiri perkuliahan meski dengan keadaan payah. Morning sickness, membuat saya harus menyerah ketika ada jadwal kuliah pagi dan hadir telat ke ruang kuliah *hiks*. Di tri semester kedua, berlalu masa-masa payah seperti di masa sebelumnya karena sudah terlepas dari morning sickness. Alhamdulillah, rangkaian shaum Ramadhan 1434 H pun dapat dilalui tanpa hambatan. Memasuki pekan ke-25 masa kehamilan, harus menjalani masa pengabdian masyarakat di luar kota, cukup jauh dari tempat tinggal dan harus menetap disana  selama kurang lebih 30 (tiga puluh) hari.

Di tempat pengabdian itu, ujiannya lebih terasa, banyak kegiatan yang harus dilakukan, akan tetapi saya termasuk yang beruntung karena mendapat rekan-rekan kerja yang memahami kondisi hamil *terima kasih, kawan!*. Di akhir masa pengabdian itu, saya mulai gamang, apakah setelahnya saya tetap melanjutkan perkuliahan di kelas ataukah cuti kuliah? Dan dari sanalah saya seperti orang yang tak tahu arah. *sigh*

Dengan berbagai pertimbangan amanah akademis, saya putuskan untuk tetap mengambil SKS (Sistem Kredit Semester) dan mengikuti perkuliahan kurang lebih 4-5 pertemuan. Manusia hanya berencana sebab Allah-lah sebaik-baik pengatur cerita. Di pekan ke-33 kehamilan, rupanya kontraksi palsu semakin sering menemani aktivitas di rumah. Alhasil, dengan segenap perasaan yang tak tentu rasanya, saya kembali membuat keputusan, membatalkan semua SKS yang diambil pada semester ini dan otomatis harus mengulangnya tahun depan.

Memutuskan vakum dari kuliah untuk menyiapkan segala sesuatunya bagi buah hati. Apakah saya menyesal dengan keputusan tersebut? Maka saya katakan, tidak! Meskipun saya harus merelakan mimpi agar lulus dengan predikat cumlaude berlalu karena salah satu syaratnya tidak diperkenankan mengambil cuti kuliah.

Waktu terus berlalu, perkuliahan kini memasuki tengah semester dan sudah ada beberapa mata kuliah yang diujikan (Ujian Tengah Semester). Dan kehamilan saya pun semakin mendekati masa akhir, janin semakin aktif dalam rahim, dan ialah satu alasan yang membuat saya semakin bersyukur meskipun harus meninggalkan bangku kuliah untuk beberapa waktu.

Hajiah M. Muhammad

Senin, 28 Oktober 2013/24 Dzulhijjah 1434 H

Tiap keputusan miliki konsekuensi yang harus ditanggung tanpa tanggung-tanggung, heuheuheu >.<

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s