Padamu, Anakku

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Apa kabar sayang? Semoga baik-baik keadaanmu di rahim bunda ya, Nak. Malam ini, untuk ke sekian kali, bunda ingin tuliskan sepucuk surat untukmu, sayang. Entah apa yang membuatku begitu ragu untuk sekedar menarikan jemariku, merangkai kata demi kata untukmu buah hati. Maafkan bunda, karena masih terlalu polos mencintaimu. Bunda tengah belajar menjadi orang yang paling dekat denganmu, Nak.

Lama rasanya, bunda terpaku dalam perenungan. Siapkah aku dengan kelahiranmu? Sedangkan keimanan bunda tak seberapa, hanya sebelanga dan mungkin pun masih berlumur dosa. Anakku sayang, maafkan bunda yang tak sempurna, sebab kesempurnaan hanyalah milik Allah ta’ala, Rabb Maha Pencipta. Shalihah, iya, itulah panggilan sayang bunda untukmu, Nak. Sebagai panggilan penuh cinta dan doa dari seorang ibu kepada anaknya. Penuh harap, semoga Allah mampukan aku, juga ayahmu, mendidikmu agar menjadi golongan orang-orang shalih, Rabbanaa hablanaa minash shaalihiin… (Ya Rabb kami, anugerahkan kami keturunan dari orang-orang yang shalih).

Beberapa hari yang lalu, saat cek kabarmu lewat layar USG, kau tampak begitu menggemaskan, jemari tanganmu mungil, dan kami saksikan betapa kekuasaan Allah atas segala ciptaanNya dalam rahim, tempat segala bentuk kasih sayang bermuara. Tetes demi tetes cinta tersalurkan untukmu duhai anakku. Semoga kau tumbuh jadi insan yang taat lagi patuh kepada Rabb dan RasulNya. Agar baktimu pada ayah bundamu pun terangkum utuh.

Aku sedang bersabar menanti kehadiranmu, merasakan tiap fase pertumbuhanmu. Menikmati tiap sapaanmu, tendangan dan gelitik jemari tangan semakin menyadarkanku, bahwa kau terus tumbuh. Sayangku, tumbuhlah menjadi sebaik-baik bentukmu, bunda yakin akan hal itu, sebab Allah telah sampaikan dalam firmanNya, laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At-Tiin (95):4).

Dokter sampaikan, usiamu dalam kandungan belum cukup matang untuk terlahir, bunda dan ayah masih sabar menantimu sayang, semoga kau pun bersabar dalam perjalananmu mempersiapkan kematangan pertumbuhanmu dalam rahimku. Belajar bernafas, nikmati tiap helaan nafasmu ya sayang. Belajar mengedipkan mata kecilmu, nikmati tiap kedipan menatap gelap dan terang, semoga kelak tertunduk pandangan dari hal-hal yang meruntuhkan iman. Belajar menggenggam, mengepalkan tangan, jemari mungil tanganmu, ah…, bunda malu sayang, air mata ini mengalir dengan sendirinya, mengagumi betapa Allah Maha Kuasa atas segalanya. Pun dengan kehadiranmu dalam rahim bunda.

Duhai anakku sayang, selamat belajar, Nak. Nikmati proses pertumbuhanmu, insyaallah kami pun akan terus belajar menjadi orang tua yang baik untukmu. Mendidik kau dan putra-putri kami yang lainnya kelak dengan segenggam iman dan takwa. Semoga Allah mampukan kami mengemban amanah sebagai orang tua. Mendidik anak-anak kami penuh cinta, asa juga cita dengan ketaatan pada Allah ta’ala. Allahumma aamiin.

Hajiah M. Muhammad

Ahad, 13 Oktober 2013/8 Dzulhijjah 1434 H

Menikmati kontraksi palsu dan rindu padamu, anakku {} ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s