Provokasi Media

Diakui atau tidak, dewasa ini media menjadi kawan setiap orang untuk mengakses informasi, baik dari media cetak maupun media elektronik, dan tambahan media sosial seperti Facebook dan Twitter atau portal berita. Mulai dari media wilayah, nasional maupun internasional, tanpa kita sadari telah menjadi bagian dari kebutuhan hidup akan informasi.

Jika pada masa reformasi pers diberikan kebebasan berpendapat, membuat opini dan beragam reportasi dari segala macam berita, maka kini pers dan media seolah lepas kendali sehingga mereka dapat mengemas berita atau opini dalam media yang cenderung mengintimidasi suatu kelompok atau golongan. Dalam hal ini, agama Islam yang paling menjadi incaran.

Tak banyak orang yang menyadari betapa lihainya media dan terutama pemilik media itu memanfaatkan kehausan masyarakat akan informasi. Kondisi ini dijadikan kesempatan mendulang emas untuk menjauhkan muslim dari agamanya atau memuat informasi yang gamang sehingga masyarakat justru antipati dengan sumber informasi yang valid mengenai dunia Islam.

Semakin maraknya pertumbuhan media, setidaknya kami dapat menarik sebuah konklusi tentang paradigma kritis masyarakat terhadap informasi yang mereka dapatkan. Paradigma tersebut merupakan pandangan bagaimana media, sampai pada akhirnya berita harus dipahami dalam keseluruhan proses produksi dan struktur sosial. Paradigma kritis ini seringkali terbentur pada satu tradisi, yaitu liberalis. Media yang disetir oleh kaum liberalis meyakini bahwa siapapun dapat bertarung secara bebas karena menganggap kebebasan adalah bagian dari hak asasi manusia, termasuk juga dalam membuat berita. Lain halnya dengan paradigma kritis yang lebih mempertanggungjawabkan kebebasan hak asasi berpendapat tanpa memanipulasi atau memarginalkan kelompok lain.

Paradigma liberalis beranggapan bahwa profesionalitas, sistem kerja, dan pembagian job description dalam media dapat menciptakan kebenarannya sendiri karena bagi mereka kebenaran itu relatif. Sedangkan paradigma kritis bertentangan dengan anggapan tersebut. Wartawan bekerja bukan sebagai tenaga otonom, bukan pula bagian dari sistem yang stabil sebab sistem kerja perlu disesuaikan dengan kebutuhan informasi masyarakat yang objektif dan edukatif.

Kaum liberalis percaya bahwa media memainkan peranan dalam membentuk konsensus dalam masyarakat, melalui konsensus tersebut secara fungsional menempatkan dirinya di tengah masyarakat. Di sinilah umat Islam dituntut untuk lebih cerdas memilah dan memilih media yang dijadikan rujukan informasi. Jangan sampai kita sebagai umat Islam terbawa pemberitaan media-media liberalis ini untuk meruntuhkan Islam. Tentu kita tidak ingin jika robohnya Islam justru karena ulah tangan kita sendiri.

Media pada dasarnya dapat membentuk kesadaran masyarakat, akan tetapi pandangan kritis seringkali dijadikan dalih untuk membenarkan opini atau berita yang disajikan media liberalis, yang saat ini mendominasi dunia pers. Konsensus tidak tumbuh secara alami dan spontan, tetapi melalui proses yang kompleks melibatkan konstruksi sosial dan legitimasi. Dalam hal ini media memainkan peranan penting untuk mereproduksi dan memapankan definisi dari situasi yang mendukung dan melegitimasi suatu tindakan. Tentunya dalam reportase yang disuguhkan kepada masyarakat.

Paradigma kritis memiliki pandangan tersendiri terhadap berita, yang bersumber pada bagaimana berita tersebut diproduksi dan bagaimana kedudukan wartawan dan media bersangkutan dalam keseluruhan produksi berita. Masyarakat yang kritis saat ini perlu menajamkan pikirnya.

Media adalah sarana yang bebas dan netral, tempat semua kelompok masyarakat dapat bersuara, saling berdiskusi, dan bukan saling mengintimidasi. Nilai ideologi wartawan dan tenaga kerja lainnya yang terlibat berada di luar proses peliputan berita karena berusaha menyajikan informasi yang objektif, menyingkirkan opini dan pandangan subjektif dari pemberitaan. Inilah gambaran paradigma kritis yang dibutuhkan. Perlu peran serta masyarakat untuk melihat lebih dekat pada substansi berita tidak hanya dari kepopularitasan media yang menyajikannya, tetapi dari kevalidan sumber berita dan tentunya mereka yang berpandangan kritis, bukan liberalis.

Jika pun saat ini lebih dominan media liberalis, maka umat Islam dituntut untuk lebih sigap untuk menjadi bagian dari media kritis. Sehingga ketika ada intimidasi dari media liberalis terhadap Islam, dapat mengimbanginya dengan pemberitaan yang objektif. Wajar saja jika berita itu memuat informasi yang provokatif, tetapi tentu saja bukan untuk menyudutkan suatu kelompok lain. Semoga kita adalah orang-orang berpandangan kritis yang menjadikan kejujuran sikap di berbagai bidang, termasuk dalam dunia jurnalis.

Hajiah M. Muhammad

Ahad, 29 September 2013/25 Dzulqa’dah 1434 H

Salam pena!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s