Sajak Rindu

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Atas segala kesyukuran dari penghambaan seorang insan yang masih berlumur dosa dan acap kali melakukan kekhilafan. Atas segala keping cinta dan doa yang mengangkasa dalam sujud menundukkan jiwa raga pada Sang Pencipta. Sekeping hati yang rindu, pada jiwa-jiwa penyemangat penuh doa, ibu bapak yang tak pernah lelah mencintai kami anak-anaknya. Semoga Allah merahmati dan berkahi usia mereka, menjaga keduanya dalam lindunganNya.

Padamu ayah, insan yang sebab kegigihan dan kesungguhanmu mencari nafkah tuk penuhi kebutuhan kami anak-anak dan istrimu. Lelaki yang tak terlalu tegap perawakannya, namun mampu menghadang gelombang kehidupan yang menyapa kapal pelayaran yang kau sebagai nahkodanya. Padamu ayah, lelaki yang tak tampan rupanya, namun tatap pandangnya meneduhkan, menyejukkan. Mata yang selalu sembunyi di balik kemeja ketika air mata menetes membasahinya. Padamu ayah, lelaki yang mungkin biasa saja, namun kau tetaplah pahlawan bagi kami anak-anak yang masih lalai menjaga. Padamu ayah, lelaki yang semakin dimakan usia, rambut putih mulai menghiasai kepala, dinginmu adalah doa, tegasmu adalah wibawa.

Padamu ibu, insan yang tak kenal lelah dan jenuh untuk sekedar membangunkan kami dari lelap tidur di malam yang gelap. Padamu ibu, wanita juara yang mendidik kami, anak-anakmu menjadi pemenang mengalahkan kelemahan. Padamu ibu, wanita tangguh yang tak jemu ingatkan kami, anak-anakmu untuk merapikan baju, agar tak lusuh katamu. Padamu ibu, wanita hebat yang tak peduli kesakitan meski dilanda penat, peluhmu ajari kami untuk semangat meski dalam keterbatasan. Padamu ibu, wanita sahaja yang tak peduli pakaianmu berkali-kali diperbaiki sedang kami, anak-anakmu setidaknya saat idul fitri miliki satu baju baru. Padamu ibu, wanita mulia yang memang tak lepas dari salah dan lupa, namun kasih sayangmu ingatkan kami tuk senantiasa bersyukur dan bersabar menapaki waktu.

Inilah kami anakmu, menyampaikan pesan-pesan rindu. Sajak yang tak sempurna, syair yang tak berirama. Inilah doa kami sebagai insan yang takkan mampu balas segala jasa.

Duhai ayah ibu, kami sadari betapa matamu kini semakin sayu. Menatap kami pun mungkin semakin tak seperti dulu. Duhai ayah ibu, kami sadari betapa rambut putih semakin tumbuh hiasi kepala, menegaskan kepada kami bahwa usiamu semakin senja. Duhai ayah ibu, kami sadari betapa paras wajahmu kini semakin layu, keriput perlahan terbentuk di wajah yang senantiasa basah air mata kala mendoakan kami, anak-anakmu.

Betapa kami yang tersadar ini masih saja bergerutu kala teguran kasih sayangmu terasa mengganggu. Betapa kami yang tersadar ini masih saja acuh kala sapa di ujung telepon genggam memanggil-manggil penuh rindu. Betapa kami yang tersadar ini masih saja tak tahu malu kala nada bicara meninggi di hadapanmu. Duhai ayah ibu, kata maaf belumlah tentu menghapus luka di hatimu, namun semoga Allah masih berkenan kabulkan doa kami, anakmu.

Rabb, jaga ayah ibu dalam naungan cintaMu, agar kebaikan menyertai mereka senantiasa. Rabb, jaga ayah ibu dalam dekapan kasih sayangMu, agar kelembutan dan ketulusan meliputi mereka senantiasa. Rabb, jaga ayah ibu dalam keberlimpahan berkahMu, agar senantiasa segala ucap dan sikap hanya dalam kebaikan dan kebermanfaatan. Rabb, jaga ayah ibu dalam penjagaan terbaikMu, wahai Dzat sebaik-baik penjaga dan pelindung. 

Allahummaghfirliyy waliwaalidayya warhamhuma kamaa rabbayaanii shaghiira.

Hajiah M. Muhammad

Jum’at, 6 September 2013/2 Dzulqo’dah 1434 H

Titip air mata rindu untuk ayah ibu

//

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s