Tak Sekedar Belajar

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saat Allah mengizinkan kalimat suci itu terucap, saat banyak pasang mata menatap, menjadi saksi janji yang agung juga mulia, mitsaqan ghalidzo.. Ketika segala yang haram berubah jadi halal, ketika segala yang terhitung dosa justru berpahala dan semoga mendatangkan barakahNya. Di saat itulah, ya…, di masa itulah aku mengubah segala yang mungkin tak kau suka. Aku menjadi seorang yang menyenangkan pandangan, insyaallah. Akan aku ikhtiarkan…, segala yang menjadi ketidaksukaanku untukku lawan, dengan harapan semoga itu menyenangkan, bagimu.

Aku adalah pilihan Allah untukmu, dan kau adalah pilihanNya untukku. Ridhalah aku dan dirimu atas pilihanNya itu, yakinlah…, ini yang terbaik, bagi kita, dan semoga bagi orang-orang di sekeliling kita. Inilah aku, dengan segala yang ada padaku. Kelemahan yang mungkin tak kau suka, dan keterbatasan yang kan membuatmu harus berusaha. Bersabarlah menemaniku nanti. Aku pun akan bersabar mendampingimu, menerima kekuranganmu, ya…, bersabar menjalani kewajibanku yang menjadi hakmu. Ini bukanlah janjiku, namun ialah kesungguhanku tuk menaati titah Rabbku. Semoga beroleh keberkahan bagiku, juga bagimu.

Aku belajar untuk menjadi Khadijah bagimu, yang menyemangati perjuanganmu, menemani liku perjalanan hidupmu. Aku yang kan mendekapmu dalam lelahmu, menunaikan titah Rabb untuk menjadi sebaik-baik pemimpin bagi keluargamu. Aku yang kan mengenggam erat jemarimu, saat kau rasakan perih mengusik lembut hatimu. Namun, aku bukanlah Khadijah, aku hanya berusaha untuk meneladaninya, maka maafkan aku jika kau dapati aku mengecewakanmu, atau malah menambah beban hidupmu. Sungguh, sempurna jauh dari diriku.

Aku pun belajar untuk menjadi Aisyah bagimu, yang menghibur tiap sedihmu. Aku yang kan menyeka air matamu, meski kau menyembunyikannya dariku. Aku yang kan menemanimu berlari-lari kecil kala pagi, menjadi kawan setia yang kan memanjakanmu. Namun, aku bukanlah Aisyah, aku hanyalah perempuan akhir zaman yang belajar untuk meneladaninya. Inilah aku, dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Semoga kau bersabar dengan segala yang ada padaku.

Aku belajar dari Hafshah yang tegas di balik keanggunannya, yang kan menegur khilafmu, meluruskan jika langkahmu tak lagi dalam kelurusan syariatNya. Aku yang kan mengingatkan lupamu, yang kan memberikan catatan-catatan agendamu yang mungkin kau khilaf menunaikannya. Semoga Allah mampukan aku tetap menghormatimu meski dalam teguran dan ketegasanku.

Aku belajar dari Saudah dengan semangat jihadnya, menjadi bagian orang-orang yang awal hijrah ke Madinah. Aku kan belajar bagaimana mengatur ritme kobaran semangat juangku mendampingi perjuanganmu. Aku sadar dengan sepenuhnya jika aku bukanlah Saudah, aku hanya wanita biasa yang tak sebaik ia, namun tekadku mantap untuk menemani perjalanan hidupmu, di jalanNya. Sebab itulah jalan yang mempertemukanku denganmu, wahai suamiku. Semoga Allah menjaga semangatku tetap dalam keimanan dan semoga Ia berkenan curahkan kepada kita kekuatan dan keistiqomahan untuk tetap di jalanNya.

Aku belajar dari Ummu Salamah yang merawat dan menjaga suaminya dalam kesakitan, aku yang kan mendekapmu erat tuk hangatkan dingin malam yang mencekam. Aku yang kan mengusap dan mencium lembut keningmu sebelum kau terlelap. Akan tetapi, aku bukanlah Ummu Salamah, aku hanya belajar untuk meneladaninya. Semoga engkau bersabar dengan segala sikapku yang tak menyenangkan hatimu, doakanku yang masih berusaha membahagiakanmu dengan segala yang ada padaku.

Aku belajar dari Juwairiyah yang menjaga ibadahnya setelah Islam ia peluk. Aku bukanlah seorang terjaga dari dosa, bukan pula orang yang terjaga dari lupa. Itulah sebab aku butuh nutrisi untuk hati, menjadi penguat langkahku mendampingimu di jalan ini. Menjaga setiap bacaan qur’anku, menjaga shalat-shalat malamku. Semoga ia menjadi cahaya bagi rumah biru kita ya sayang, betapa bahagianya berada di belakang sisi kirimu saat takbiratul ihram itu terucap dari lisanmu, ketika kau mengimamiku dalam shalat menghadapkan jiwa raga kepada Sang Pencipta.

Aku belajar dari mereka para istri Rasulullah untuk menjadi mar’atush shalihah bagimu. Tak banyak kata yang dapat kuungkap, tak banyak pinta yang ingin kusampaikan. Hanya ingin menjadi sebaik-baik perhiasan bagimu, menjadi istri shalihah yang menyejukkan pandangan, menjaga harta dan kehormatanmu. Hanya ingin menggenapkan setengah agama yang sisa setelah kau getarkan penghuni langit di hadapan ayahku, para undangan, juga penghulu kala itu. Mencintaimu dengan segenap keterbatasan dan kekuranganku, karenaNya. Uhibbuka fillah yaa zawjiy, billah…, lillah…, semoga hingga jannahNya.

Hajiah M. Muhammad

Sabtu, 24 Agustus 2013/17 Syawal 1434 H

Dalam kerinduan yang dalam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s