Lebih Baik Bagimu

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim).

“Jadilah engkau pemaaf dan perintahkan orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS Al-A’raaf (7) : 199).

Memang tak mudah untuk tetap menjalin hubungan dengan orang yang memusuhi, memberi kepada orang yang kikir dan memaafkan orang yang menganiaya. Akan tetapi, empat huruf, M-A-A-F menjadi begitu istimewa jika kita mampu mengamalkannya. Mungkin kita lupa, bahwa memaafkan adalah kemuliaan dan takkan menghinakan bagi mereka yang memiliki sifat ksatria untuk memaafkan.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imron (3) : 133-134)

Ya, betapa memaafkan pun dapat meninggikan derajat manusia. Seperti sabda manusia mulia, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, ““Tidaklah Allah memberi tambahan kepada
seseorang hamba yang suka memberi maaf melainkan kemuliaan.” (HR. Muslim).
Dengan memaafkan kita dididik untuk menjadi pribadi yang tangguh, kokoh berpijak, menjadi orang-orang hebat yang mampu mengendalikan amarah. Subhanallah, begitu terperinci Islam memuliakan penganutnya. Tiada satu pun ajaran dalam Islam yang menyengsarakan mereka kaum beriman. Lagi, mereka kaum beriman. Sebab dengan imanlah memaafkan dapat dilakukan, amarah dapat dikendalikan. Semoga Allah memampukan kita menunaikan amalan-amalan kebaikan, meski kebanyakan orang menganggap kecil urusan maaf-memaafkan.

Allahu ‘afuw, sungguh sebab keyakinan akan janjiNya kita mampu memaafkan kesalahan orang lain. Seringkali, kita sibuk mengurusi kesalahan orang lain sehingga hati menyempit untuk sekedar memaafkan. Akan tetapi, pernahkah kita bertanya pada hati-hati kita, untuk menengok kabarnya, adakah karat sebab maksiat? Ataukah mungkin ada lubang yang perlu diperbaiki sebab kekhilafan diri?

Memaafkan, sederhananya melapangkan hati dan menyibukkan diri untuk lebih giat berbuat kebaikan, sekalipun kepada orang yang menganiaya, membuat hati kita terluka. Memaafkan, sederhananya menjadi satu jembatan keimanan agar kita menjadi insan mulia, yang mampu mengendalikan amarahnya. Memaafkan, tak lepas dari keimanan. Ia adalah satu dari buah yang dihasilkan pohon iman yang kita pupuk, kita jaga hingga ia tumbuh subur mengangkasa.

Forgiven, but not forgotten. Itu adalah ungkapan yang seringkali dilontarkan. Satu sisi, kami menyadari betapa perih ketika hati disakiti, sulit untuk memaafkan kesalahan orang lain terlebih jika sampai melukai. Sehingga semakin berat rasanya untuk melupakan kesalahan dan luka tersebut. Akan tetapi, di sisi lain kami merenungi bahwa untuk menjadi insan mulia yang mengaku beriman tentu penuh aral melintang perjalanannya. Tak terkecuali ketika Allah hadapkan pada keadaan dimana ada orang-orang yang tak suka dengan ucap atau sikap kita, sehingga menjadikan alasan bagi mereka untuk melakukan kesalahan terhadap diri kita. Meneladani sang idola, manusia mulia sepanjang masa, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan maafnya. Semoga kita masih ingat ketika perjalanan dakwahnya di Thaif. Bagaimanakah? Meski dilempari batu hingga berdarah, beliau justru mendoakan kebaikan untuk mereka.

Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam dilempari dan dihina di Thaif, malaikat penjaga gunung datang, mengucap salam dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka”. Lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Jangan! Tetapi aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata-mata, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun”.

Subhanallah, ialah qudwah hasanah, teladan seluruh umat manusia. Ucapannya, sikapnya, dan segala tentangnya selayaknya kita jadikan teladan. Termasuk di dalamnya sifat pemaaf, semoga dengan sifat demikian dapat kita rasakan betapa manis perjuangan, menjadi insan mulia dengan memaafkan. Memaafkan tak membuat kita hina, meminta maaf atas kesalahan pun tak menjadikan kita seorang pecundang. Maka, mari kita belajar menjadi insan yang berhati lapang dengan memaafkan dan insan yang ksatria dengan mengakui kesalahan, meminta maaf kepada mereka yang tersakiti dan berusaha untuk senantiasa memperbaiki diri dari hari ke hari. Selamat bermujahadah.

Hajiah M. Muhammad

Kamis, 15 Agustus 2013/8 Syawal 1434 H

Maafkan 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s