Pakaian Iman

Bismillahirrahmaanirrahiim.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb-mu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim (14):7).

Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667).

“Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kau dustakan?” (QS. Ar-Rahmaan (55):13). Tiada satu pun kenikmatan yang telah Allah berikan dapat didustakan. Bayangkan saja, ketika pagi kita membuka mata, udara begitu sejuk terasa. Gratis, tanpa biaya. Atau ketika jemari ini dapat dengan leluasa menari di atas keyboard menuliskan beragam rangkai kata, menjadikannya lebih bermakna, tentu sebab kenikmatan dan karunia-Nya yang tak dapat kita dustakan. Ya, inilah yang seringkali terabaikan. Hal-hal yang seakan dianggap kecil, sepele, dan mungkin tak berarti sejatinya tetap harus disyukuri. Sebab sesuai dengan janji-Nya, “…Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…”.

Saudaraku yang dirahmati Allah, adakah di antara kita yang hari ini masih diliputi perasaan gelisah sebab tak memiliki apa yang diinginkan? Atau adakah di antara kita yang hari ini gusar ketika melihat orang lain memiliki ini-itu sedangkan diri kita seolah kekurangan? Mari sejenak kita merenung. Jika hari ini masih ada sesuap nasi yang kita konsumsi, bersyukurlah, sebab di belahan bumi yang lain, ada anak-anak yang mencari sisa-sisa makanan orang lain dari tong sampah! Jika hari ini masih dapat kaki melangkah dengan gagah, maka beryukurlah meski tak berkendara. Sebab di wilayah yang lain, saudara-saudara kita harus merangkak untuk menjalankan aktivitas sehari-harinya. Jika hari ini, anggota badan kita masih lengkap bekerja sesuai dengan fungsinya, maka bersyukurlah. Sebab ada di antara mereka yang harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk sekedar menggerakkan jemarinya.

Astaghfirullah innahu kaana ghafaara. Kami mohon ampun Yaa Allah, jika masih saja mengingkari segala yang telah Kau beri. Kami mohon ampun atas tiap kelalaian kami menjaga amanah yang Kau sematkan di pundak-pundak lemah kami. Kami mohon ampun atas tiap kekhilafan dan kealpaan diri.

Saudaraku, tidakkah kita melihat dan menyaksikan betapa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Mengapa kita begitu sibuk mencaci pemberian-Nya yang sedikit? Bagaimana dapat kita syukuri pemberian-Nya yang banyak jika yang sedikit saja tak dapat disyukuri? Lantas kemanakah rasa malu pada-Nya? Pantaskah kenikmatan yang begitu banyaknya Ia berikan kita balas dengan pengingkaran?

Syukur, semestinya ia senantiasa dikenakan, digunakan, pada tiap keadaan. Seperti halnya kesabaran. Ya, sabar. Dua hal yang merupakan pakaian keimanan yang tak banyak orang memilikinya. “Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikit kamu bersyukur” (QS. Al-Mu’minuun (23):78).

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah (2) : 153). 

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah (2) : 155-157).

Saudaraku yang dirahmati Allah, perjalanan hidup selayaknya perjalanan yang kita tempuh di jalur pegunungan. Jalan berliku, menanjak dan menurun. Begitu pula ritme kehidupan yang kita jalani. Akan selalu ada ujian yang Allah berikan, sebagai tanda kasih sayangNya, dan kita melaluinya sebagai tahap peningkatan dan pendewasaan keimanan. Ujian yang Allah beri sudah sepaket dengan solusi, hanya saja tak banyak orang yang mau bersabar sehingga ketika ujian datang, mereka semakin menjauh dari Allah, Sang Penolong.

Banyak orang yang mampu bersabar di saat kekurangan, akan tetapi hanya sedikit di antara mereka atau bahkan adalah diri kita sendiri, yang tak mampu bersabar dalam kesenangan. Inilah yang juga perlu kita renungkan, bahwa kesyukuran dan kesabaran seharusnya memang mampu kita amalkan di tiap keadaan. Susah atau pun senang. Seorang salafush shalih, Yahya bin Mu’adz pernah mengungkapkan, “Ingatlah Allah di kala lapang, niscaya Ia kan mengingatmu di kala susah”.

Bersyukur dalam kesenangan dan kesusahan, bersabar pun dalam keadaan demikian, semoga dengan dua pakaian iman itulah menjadikan kita insan mulia dengan sebenar-benar takwa. Allahumma aamiin. Selamat  bermujahadah.

Hajiah M. Muhammad

Rabu, 14 Agustus 2013/7 Syawal 1434 H

Mampukan kami Yaa Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s