Separuh Sisa

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)

 

Saya ingat ketika dalam sebuah kesempatan silaturahim ke rumah salah seorang ummahat, beliau adalah salah seorang yang menginspirasi saya untuk senantiasa memberi meski dalam keadaan ‘kurang’. Akan tetapi, ketika itu silaturahim saya untuk mengabarkan tanggal pernikahan saya bulan Januari lalu. Satu pesannya yang sangat saya ingat hingga kini, “Jiah, menikah itu sempurnakan setengah agama, insyaallah Jiah sebentar lagi menyempurnakannya. Tapi jangan lupa, masih ada setengah sisanya yang lebih harus diperjuangkan. Insyaallah, doa saya, Jiah mampu sempurnakan setengah sisanya dengan iman dan takwa”. Saya hanya senyum, terdiam.

 

Dan memang begitulah adanya, untuk menyempurnakan setengah agama sisanya itulah yang lebih berat, jika tak menurut kalian yang membacanya, setidaknya untuk beberapa orang di sekitar kita. Seumpama sebuah pelayaran, pernikahan tak luput dari gelombang kehidupan. Insyaallah saya yang fakir ilmu ini akan sedikit berbagi, dari pengalaman pribadi juga dari cerita kawan yang lain. Semoga bermanfaat.

 

Setidaknya, ada beberapa hal yang akan menjadi ujian selama pelayaran yang kita tempuh, baik dari diri sendiri maupun pihak lain. Gelombang-gelombang selama pelayaran dapat muncul dari arah mana saja, bahkan dalam satu waktu akan ada terjangan badai dari berbagai arah dan kita dididik untuk selalu siap menghadapinya. Dari suami/istri, mertua, ipar, tak terkecuali tetangga dan orang-orang yang ada di sekitar tempat tinggal kita.

 

Saya akan mulai dari ujian yang berasal dari pasangan, suami atau istri. Ini akan menjadi sangat berpengaruh dalam sebuah kehidupan rumah tangga, sebab dua sosok inilah yang akan menentukan kemana arah pelayaran mereka. Salah satu hikmah dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam untuk memilih pasangan berdasarkan agamanya adalah, agar penyempurnaan setengah agama yang sisanya dengan iman dan takwa. Tak sedikit pasangan suami-istri yang saya dapati banyak diributkan dengan hal-hal sepele, semisal suami tak suka masakan istri dan dengan ringannya mencaci istrinya dengan mengatakan, “Kamu bisa masak gak sih?“, atau hal kecil lainnya yang sebenarnya bisa dibicarakan baik-baik dengan kepala dingin.

 

Hal yang paling krusial dari ujian yang berasal dari pasangan ini jika salah satu atau bahkan keduanya jauh dari nilai-nilai agama, sekalipun ia dikenal sebagai seorang yang ‘paham agama’. Ini tentu saja bukan lagi urusan ringan yang semudah telapak tangan menyikapi dan menanganinya. Perlu kesabaran ekstra jika kita dihadapkan pada pasangan seperti ini. Boleh jadi pasangan kita dikenal sebelumnya sebagai orang shalih, baik pemahaman agamanya, akan tetapi setelah menikah malah jauh dari nilai-nilai ajaran Islam. Terlebih jika yang ada di pihak ini adalah seorang suami. Sebagai kepala keluarga dan nahkoda di kapal pelayaran rumah tangganya, suami menjadi pemimpin, yang akan mempertanggungjawabkan anak dan istrinya kelak di yaumul hisab.

 

Kita bergeser ke persoalan keuangan rumah tangga, dalam hal ini lebih ditekankan *lagi* kepada para suami. Mengapa? Sebab salah satu kewajiban seorang suami adalah menafkahi anak dan istrinya, menjamin kehalalan dan kebaikan dari rizki yang ia bawa ke rumah untuk ia dan keluarga kecilnya.

 

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath-Thaalaq (65):7)

 
“Dan kawinkanlah orang orang yang sendirian di antara kamu, dan orang orang yang layak (berkawin) dari hamba hamba sahayamu yang lelaki dan hamba hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nuur (24):32)

 

Dari dua ayat tersebut di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa Allah telah menjamin rizki atas tiap orang yang mau berusaha menafkahi keluarganya. Mengapa saya membahas hal ini? Sebab, di beberapa kesempatan menyimak kisah dari kawan, mereka mengeluhkan pendapatan suaminya yang dianggap tak mencukupi kebutuhan rumah tangga. Saudaraku, dalam hal ini, kita sebagai istri harus banyak merenungi, sudahkah kita bersyukur atas pemberian suami yang mungkin memang tak seberapa, hingga akhirnya tercetus ungkapan bahwa pemberiannya tak mencukupi kebutuhan.

 

Istri, adalah seorang multi-talented, tak terkecuali menyoal keuangan keluarga yang dibina bersama suaminya. Pertama, hal yang perlu dilakukan agar kita, para istri, senantiasa merasa cukup dengan pemberian suami adalah dengan rasa syukur dan tak banyak menuntut agar suami memenuhi keinginan yang mungkin tak terbendung. Ada kawan yang ia mengeluhkan pendapatan suaminya, bukan karena suaminya tak bekerja, akan tetapi karena nominal yang ia dapat dari suaminya dianggap kecil. Padahal menurut saya, uang senilai 1,5 juta dalam sebulan untuk urusan dapur lebih dari cukup, sebab suaminya menganggarkan biaya lain untuk kebutuhan istrinya ‘belanja’, termasuk biaya perawatan salon! Astaghfirullah, semoga kita, para istri terhindar dari golongan kufur terhadap suami.

 

Ada ungkapan yang sangat saya suka, bedakan antara bekerja tetap dan tetap bekerja. Kebanyakan orang terjebak pada sempitnya istilah ‘bekerja tetap’, misalkan ia telah resmi bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta milik asing. Mari sejenak kita ‘kuliti’ dua istilah berbeda tadi, bekerja tetap dan tetap bekerja. Orang yang bekerja tetap, atau dengan kata lain telah memiliki pekerjaan yang tetap seperti menjadi karyawan di perusahaan swasta tadi, tak menjamin ia mampu menafkahi keluarganya. Akan tetapi, orang yang tetap bekerja biasanya memiliki tekad dan semangat yang kuat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, meski ia seorang ‘pengangguran’. Mereka yang tetap bekerja, meskipun mungkin ia seorang pengangguran, bukan berarti ia menutup dirinya dari berbagai usaha agar keluarganya tercukupi kebutuhannya.

 

Hal kedua yang juga menjadi ujian dalam rumah tangga adalah mertua, orang tua dari pasangan kita. Tak semua hubungan mertua dan menantu seperti harmonisnya hubungan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq, ayah dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha. Akan tetapi, juga tak melulu hubungan mertua dan menantu seperti air dan minyak yang mustahil bersatu. Sebagai menantu, kita memang perlu kesabaran dan kekuatan hati yang mantap. Dengan begitu, diharapkan bagaimana pun hubungan kita dengan mertua semoga dapat terjalin harmonis. Kita, sebagai anak, meski hanya menantu harus tetap menghormati mereka, mertua, sebagaimana orang tua kita sendiri. Mungkin tak mudah, akan tetapi bukan menjadi alasan untuk berlepas diri dari kesabaran, dan semoga Allah limpahkan berkah.

 

Bersyukurlah jika kini kita dianugerahkan mertua yang baik tutur kata dan sikapnya, kebersamaan dengannya nyaman, seperti bersama kedua orang tua kita. Dan bersabarlah jika ada di antara kita yang Allah uji dengan mertua yang mungkin tak seperti mertua yang diharapkan, mertua yang galak dan pelit misalnya. Ya, lagi-lagi, kesyukuran dan kesabaran menjadi pakaian keimanan di segala keadaan, insyaallah. Yakinlah bahwa segala sesuatunya akan berujung pada keberkahan jika dijalani dengan keimanan.

 

Selanjutnya, kita pun akan dihadapkan pada ipar, entah kakak ipar atau adik ipar. Sama halnya dengan saudara kandung, ipar pun menjadi bagian dari keluarga baru yang tak dapat dielakan kehadirannya. Baik dan buruknya sikap ipar terhadap kita, senantiasalah kita berbuat kebaikan, insyaallah kebaikan pula yang akan kita dapatkan dari Allah sebagai balasan. Tak sedikit orang yang berseteru dengan iparnya karena beragam alasan, akan tetapi, mengalah bukan berarti kalah. Maksud saya menyampaikan hal tersebut bukan karena ada persaingan antara ipar dengan kita, akan tetapi untuk meminimalisir perseteruan, sebaiknya kita mengalah daripada emosi menguasa.

 

Selain mertua, ipar, tak lupa ada tetangga yang perlu dijaga silaturahimnya dengan mereka. Ada pihak-pihak yang juga membutuhkan kehadiran kita di tengah-tengah mereka. Misalkan, setelah menikah dan menempati rumah bersama suami, tentunya kita akan hidup bertetangga. Sebagai makhluk sosial, manusia tentu tak dapat hidup sendiri. Kita membutuhkan peran tetangga sebagai rekanan, sebagai kawan perjuangan, atau sebagai lahan dakwah untuk berlomba dalam kebaikan. Inilah sebab kita pun perlu memperhatikan dimana lingkungan tempat tinggal setelah menikah.

 

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jibril masih saja terus mewasiatkan kepadaku (untuk menjaga hak) tetangga, hingga hampir aku menyangka bahwa ia akan menjadikannya sabagai ahli warisku.” (HR. Bukhari, Muslim,Abu Dawud, dan Tirmidzi)

 

Setidaknya, itulah beberapa hal yang akan mewarnai perjalanan rumah tangga yang kita bina. Adakah iman dan takwa menyertainya ataukah sebaliknya? Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan dalam penulisan, sungguh apa yang saya sampaikan di sini semata sebagai pengingat diri, untuk senantiasa menempa diri dari beragam uji. Semoga Allah berkenan limpahkan ampunan atas tiap kealpaan diri. Al haqqu min rabbik falaa takuunanna minal mumtariin.

 

Hajiah M. Muhammad

Jum’at, 2 Agustus 2013/24 Ramadhan 1434 H

Saling mengingatkan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s