Bukan Tujuan Kami

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Lagi, saya yang fakir ilmu ini agaknya memang masih jauh dari kepahaman. Saudaraku yang dirahmati Allah, semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa akan selalu ada kebijaksanaan dari tiap keputusan. Akan selalu ada pro dan kontra dari tiap ucapan, tindakan, bahkan lebih jauh lagi dari pemikiran. Semoga berkenan membaca hingga akhir. Dan semoga Allah menjernihkan pikiran, hati dan segala prasangka yang mungkin hadir setelah membacanya.

Saudaraku, kita sama tahu bahwa ada perbedaan yang seringkali muncul ketika kita membahas satu kata itu, demokrasi! Ah, sangat malas menuliskannya di ruang ini. Bahkan ketika ada yang mengajak berdiskusi tentang beberapa persoalan umat pun, entah mengapa saya sangat enggan membawanya meski hanya satu kata.

Ya, kita berbeda. Kali ini saya tak akan membahas perbedaan itu. Sebab hanya akan menyisakan sesak yang tak berujung. Akan tetapi, izinkanlah saya menuliskan hal lain yang mungkin luput dari perhatian kalian. Semoga masih berkenan menyimak tulisanku ini, kawan.

Ada sesak ketika kalian mengatakan bahwa kami adalah penyembah bilik suara, menjadikan demokrasi jalan yang ditempuh untuk berkuasa. Ada geram ketika kalian mengatakan bahwa kami menjadi berbeda, lupa agama, menjadi terbawa arus demokrasi buatan manusia, sistem kufur! Baiklah, biarkan kami yang telah bercampur lumpur demokrasi ini mengungkapkan beberapa realita yang mungkin tak kalian pedulikan.

Pertama, kami tak pernah menganggap bahwa demokrasi adalah tujuan kami, seperti halnya kita berkendara. Jika ingin mencapai suatu tempat yang dituju, maka ada kendaraan yang kita butuhkan. Kita bisa saja berjalan kaki menuju tempat itu, akan tetapi tak semua orang mau bersabar dalam kepayahan dan kesusahan, itulah sebabnya kami memilih untuk menaiki kendaraan, dan dalam hal ini, kendaraan yang tersedia hanyalah demokrasi.

Silakan jika kalian memilih jalan dan kendaraan lain yang hendak dipergunakan untuk mencapai tujuan, tapi bagi kami, kendaraan ini tak ubahnya sarana, alat yang kami gunakan untuk mencapai tujuan kita bersama, tegaknya syariat Islam yang menyeluruh ke setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kami tak pernah menjadikan demokrasi, sistem kufur itu, sebagai tujuan kami. Sebab, tujuan kami adalah keridhaan Allah. Kami tak pernah tahu apakah Allah ridha dengan perjuangan kami, kami hanya bermohon semoga Ia berkenan mencurahkan berkah dan rahmatNya dalam perjuangan kami.

Saudaraku, kami pun rindu tegaknya khilafah yang sering kalian pekikan ke telinga kami, tapi kini tiada jalan lain selain demokrasi. Jika kalian miliki jalan lain untuk tegakan khilafah, kami akan dengan senang hati meninggalkan jalan yang penuh rintangan ini. Di sini, tak banyak yang membersamai langkah, justru lebih banyak mereka yang tak senang jika kami melangkah. Di sini, tak banyak yang mendukung perjuangan kami, justru banyak yang menyalahkan dan menyudutkan kami hanya karena kami berdemokrasi.

Saudaraku, sungguh tujuan kami bukanlah semata untuk berkuasa, jauh lebih dari itu. Kami berjuang dalam ketertatihan dan kepayahan langkah untuk umat, mereka yang hak-haknya direnggut para penguasa di negara kita, Indonesia. Kami tengah perjuangkan apa yang kalian teriakan, khilafah Islamiyah. Namun dengan jalan yang berbeda.

Kami tak bermaksud mengumbar kebaikan yang telah kami lakukan, tapi lihatlah sejenak saja. Kami turun ke rumah-rumah warga dengan atau tanpa ada pemilihan umum, kami bekerja dengan atau tanpa ada pemilihan wali kota. Kami bekerja tak berharap sepeser rupiah, sebab kami percaya Allah membalas tiap peluh dan keping-keping rupiah yang kami infakan untuk tiap agenda-agenda pelayanan umat. Tiap pekan, tiap bulan, saku kami tak lepas dari infak untuk memudahkan perjuangan. Beginilah kawan, kami mengumpulkan keping-keping rupiah dari saku kami untuk pelayanan umat, memang tak seberapa, tapi kami berikan dengan suka rela tanpa paksa. Semua berlomba memberikan infak terbaiknya, tak hanya untuk Indonesia, tapi juga Palestina, Suriah, Somalia, Rohingya. Sebab kami paham betapa negara-negara muslim lainnya pun butuh bantuan kita yang lebih dari sekedar doa.

Jika kalian mengatakan bahwa kami menjadi berubah, menjadi terwarnai sebab demokrasi, ketahuilah wahai saudaraku. Ketahuilah bahwa kami berusaha sekuat daya dan upaya, dengan keimanan kami yang tak seberapa, untuk tetap istiqomah berpegang pada qur’an dan sunnah. Para qiyadah kami di sana pun tak luput dari hal serupa, bahkan mereka beramal lebih dari kami yang ada di ‘bawah’. Mereka, para qiyadah kami di parlemen sana, tilawahnya tak lepas meski berbagai rapat dewan cukup menguras tenaga dan pikiran. Mereka, para qiyadah kami di parlemen sana, infaknya tak luput meski banyak yang mengira kekayaan mereka dari hasil korupsi, sebagian besar dari mereka berwirausaha, seperti yang Rasulullah sampaikan bahwa 9 dari 10 pintu rizki melalui perniagaan.

Semakin tinggi jabatan yang diamanahkan bagi seorang da’i, maka ibadahnya, hubungan vertikal dengan Penciptanya, adalah kebutuhan. Di Mesir sana, Moursi, yang kepemimpinannya dikudeta militer Mesir, menjaga hapalannya meski dalam penjara. Pidato kepresidenannya menggetarkan musuh-musuh Islam, sehingga mereka (dan kelompok liberalis), melalui militer Mesir, menggulingkan kepemimpinan Moursi melalui kudeta!

Maka saudaraku, jika setelah ini kalian masih menganggap kami tersalah, kami terkotori, kami tak akan pernah memaksa agar kalian melihat kerja-kerja kami. Sebab bukan untuk itu kami bekerja, bukan untuk mendapat penghargaan dari manusia kami berjuang. Biarkanlah kami yang tersalah dan terkotori ini, kami mohon doa dari kalian saudara-saudara kami, agar kami istiqomah dalam keimanan.

Dan ketika suatu hari nanti, ketika nilai-nilai Islam dapat diterapkan pada perundang-undangan negara, kita akan nikmati bersama. Semoga kami yang lemah ini tetap dikuatkan pijakan dalam kebaikan, dan Allah berkenan limpahkan keberkahan.

Hajiah M. Muhammad

Rabu, 31 Juli 2013/22 Ramadhan 1434 H

Sekedar meluapkan perasaan

//

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s