Menjejak, Bijak

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dengan segala kerendahan hati dan keterbatasan mampuku, semoga tulisan ini tak sekedar menambah kuantitas dari tulisanku di bulan ini. Ada harapan yang jauh tersimpan, semoga kebaikan dan kebermanfaatan tetap terselip dari segala kekurangan. Semoga Allah mampukan.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl (16):125)
Selalu ingat dalil tersebut di atas ketika mengingatkan orang lain yang sebenarnya mengingatkan diri sendiri. Selalu ingat dalil tersebut di atas ketika menegur kesalahan yang dilakukan orang lain. Selalu ingat dalil tersebut di atas ketika mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan. Ya, selalu ingat dalil tersebut di atas pada tiap ikhtiar dakwah kita!
Pertanyaan yang kemudian hadir adalah, sudahkah sepenuhnya kita memahami hakikat dakwah? Jika ketika mengingatkan orang lain seolah diri inilah yang paling mengetahui. Jika ketika mengajak orang lain melakukan kebaikan sedangkan mereka masih enggan dan memvonis mereka kepala batu? Pernahkah Rasulullah mencaci kafir Quraisy dengan kata-kata kasar? Sedangkan dengan penduduk Thaif yang melempari beliau dengan batu saja beliau doakan? Lalu, siapa yang sebenarnya dijadikan teladan?
Sejenak kita kembali pada definisi dakwah itu sendiri. Setidaknya untuk mengingatkan diri pribadi untuk lebih memahami dan menyelami jalan para nabi ini. Secara harfiyah, dakwah artinya menyeru, mengajak. Dan dalam terminologinya dapat kita pahami bahwa dakwah adalah mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Seperti yang tertulis dalam ayat tersebut di atas, ud’uu ilaa sabiili rabbika…, serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu…
Setelah kita mengingat kembali arti dakwah itu sendiri, maka izinkan saya yang fakir ilmu ini melanjutkan untuk berbagi. Dakwah itu menyeru bukan menuduh, dakwah itu mengajak bukan menginjak, dakwah itu merangkul bukan memukul, dakwah itu membina bukan menghina, dakwah itu cinta! Ya, dakwah adalah cinta.
“Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai”
(Rahmat Abdullah allahuyarham).
Inilah yang mungkin luput dari perhatian kita, ah tidak! Mungkin hanya saya, bahwa dalam berdakwah ada aturannya, tak asal mengajak, tidak asal menyeru, tidak asal mengingatkan. Telah jelas Allah firmankan, dengan hikmah, dengan pengajaran yang baik, dan sampaikan dengan baik jika terdapat perbedaan, bantah dengan ketenangan. Hikmah, da’wah bil hikmah, perkataan yang disampaikan tegas dan benar, mampu membedakan antara yang haq dan mana yang bathil.  Ada pedoman yang menjadi rujukan dalam berdakwah, yaitu al-qur’an dan sunnah. Bukan sembarang argumentasi yang diungkapkan sang da’i apalagi sekedar ungkapan dari pendapat perseorangan yang tak jelas dalil mana yang ia jadikan rujukan. Inilah pentingnya kita mempelajari al-qur’an dan hadits-hadits, memahami ayat per ayat, menyelami tafsirnya, mentadaburi tiap rangkai hikmah yang tersebar di dalamnya. Tak ketinggalan hadits, seperti telah kita ketahui, minimal kita memahami hadits arba’in (hadits yang empat puluh), yang disusun An-Nawawi. Ya, minimal.
Dalam ayat 125 dari surat An-Nahl, cara kedua untuk menyeru orang lain pada jalan Allah adalah dengan pengajaran yang baik (maw’idzotil hasanah). Kita perlu memahami karakter objek dakwah karena tiap mereka memiliki latar belakang pemahaman yang jelas berbeda dengan orang lain. Da’wah bil hikmah juga meliputi bagaimana cara kita untuk melakukan pendekatan kepada objek dakwah (mad’u). Untuk memahami mad’u, seorang penyeru kebaikan (da’i) perlu menambah kemampuannya dalam berkomunikasi, memilih diksi yang digunakan agar target dakwah dapat memahami apa yang disampaikan. Tidak hanya itu, keberagaman bahasa dan perkembangan zaman yang mempengaruhi gaya bergaul seseorang pun perlu dipahami seorang da’i, sebab ia tengah di hadapkan pada orang lain, bukan dirinya.

Akan berbeda gaya bicara dan diksi yang kita gunakan untuk mengajak orang lain melakukan kebaikan dan mencegah dari hal yang mungkar. Akan berbeda cara kita mendekati objek dakwah berdasarkan usianya, sukunya, gaya bahasanya, bahkan tak terlepas dalam hal ini pun tentang sejauh mana kita mau memposisikan diri sebagai objek dakwah.  Dalam hal ini, Allah pun telah berfirman;

 

 

 

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ibrahim (14):4)

Pada cara ketiga dari surat An-Nahl ayat 125, pun ada aturan jika terdapat selisih pendapat dalam kegiatan dakwah yang dilakukan, wajaadilhum billaati hiya ahsan, bantahlah dengan cara yang baik. Biarkan saya menghela nafas lebih dalam setelah menuliskan ini, sebab memang tak mudah untuk menyingkirkan ego diri ketika terjadi perbedaan pendapat ataupun cara pandang terhadap sesuatu hal, entah itu berkenaan dengan ucapan maupun tindakan yang kita lakukan. Semoga Allah karuniakan diri kebijakan menyikapi perbedaan.

 

 

 

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri”. (QS. Al-‘Ankabut (29):46)

Saya berlepas diri dari perdebatan jika berujung pada saling menjatuhkan apalagi tanpa sadar menyakiti perasaan orang lain, sekalipun orang tersebut berbeda pandangan tentang sesuatu hal. Jika pun harus berdebat, saya berusaha untuk sebisa mungkin menggunakan logika dan dalil sesuai dengan kemampuan dan keilmuan yang dimiliki, lebih utama lagi menyesuaikan diri dengan lawan bicara. Akan tetapi, perlulah kita mengingat hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tentang perdebatan, sudilah kiranya kita memahaminya bersama.

“Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya” (HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits nomor 4167. Dihasankan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah [273] as-Syamilah)

Sekiranya saya sudah cukup banyak mengungkapkan apa yang saya pahami tentang bagaimana melakukan pendekatan kepada objek dakwah, semoga Allah selipkan kebaikan di dalam tulisan dari seroang fakir ilmu ini. Al-haqqu min rabbik fala takuunanna minal mumtariin.

Hajiah M. Muhammad

Sabtu, 22 Juni 2013/13 Sya’ban 1434 H

Belajar bijak agar dakwah kita menjejak.

//

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s