Tetap Bertahan

Engkau tak mendapatkan rahasia perjuangan dari buku-buku dan kata orang, tapi dari pahit getir perjuangan (@pkspiyungan)

Beberapa pekan terakhir, jejaring sosial semisal Facebook dan Twitter semakin ramai memperbincangkan kasus suap daging sapi impor yang dituduhkan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) kepada mantan presiden PKS (Partai Keadilan Sejahtera), Luthfi Hasan Ishaaq (LHI).

 

Ada sebagian orang yang semakin bersorak-sorai atas munculnya berbagai tuduhan *tanpa bukti* itu, mereka sepertinya sangat bergembira banyak media yang memberitakan tuduhan tindak korupsi dan pencucian uang yang dilakukan oleh LHI. Tanpa peduli bagaimana kondisi media saat ini yang banyak dikuasai oknum-oknum di luar PKS yang ingin citra PKS semakin hancur di tengah masyarakat. Kebanyakan mereka adalah segolongan orang yang antipati dengan PKS, lebih dikarenakan ketidaksukaan mereka terhadap sistem demokrasi yang ditunggangi PKS untuk mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur, mengikhtiarkan Indonesia menjadi sepenggal firdaus. Ya, mereka yang antipati ini semakin menunjukkan kebenciannya dengan berbagai cara, bahkan yang miris adalah sikap dan ucapan mereka yang begitu menyakitkan. Pernah satu waktu saya mendapati kuliah Twitter (kultwit) dari beberapa akun andem (sebutan untuk mereka yang anti demokrasi), yang mengatakan bahwa PKS sama saja dengan partai politik lain yang tergiur kekuasaan di parlemen dan memanfaatkan kekuasaannya untuk korupsi. Mereka seolah menutup mata untuk melihat bagaimana kiprah PKS di parlemen. Dan hanya melihat keburukan yang mereka anggap buah dari keturutsertaan PKS di sistem kufur demokrasi. Ah, saya sedang tak selera membahas mereka, karena menyakitkan jika mengingat kata-kata yang dilontarkan tanpa mau melihat kebaikan yang telah PKS lakukan. Jika memang PKS hanya mengejar kekuasaan di parlemen, mengapa banyak kader baik di pemerintah tingkat daerah enggan namanya dicantumkan sebagai calon anggota legislatif? Inilah uniknya, disaat kebanyakan partai politik membuka kesempatan bagi siapa saja mencalonkan dirinya untuk menjadi anggota legislatif di Pemilu 2014 nanti, tapi tidak dengan PKS. Tak sembarang orang bisa direkomendasikan menjadi caleg (calon legislatif), bahkan menjadi ketua tingkat ranting saja banyak yang menolak. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui kader PKS jika ingin mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, mutaba’ah yaumiyah (laporan amalan harian) yang paling mendasar. Jika baik kualitas dan kuantitas ibadahnya, baru melihat kemampuan masing-masing individu yang akan dicalonkan.

Di samping itu, ada pula sebagian orang yang semula simpati dengan PKS menjadi apatis hanya karena melihat pemberitaan di televisi atau artikel di internet. Banyak di antara mereka yang menjadi golongan pembaca judul, sebab belum membaca isi tulisan sudah berkomentar, jika komentar itu cerdas mungkin tak jadi soal, sudah tak membaca isi tulisan, berkomentar seenaknya, dan caci maki yang menjadi hasil dari sempitnya pikiran. Kelompok yang menjadi apatis ini cenderung menuruti ketidaktahuannya. Komentar yang mereka lontarkan ketika mendapati berita hampir serupa dengan mereka yang antipati. Akan tetapi, pada dasarnya mereka masih menaruh harapan pada PKS untuk kembali seperti citranya ketika di awal perjuangan dengan jargon bersih, peduli, dan profesional. Saya jadi ingat ketika di sebuah perjalanan selepas menghadiri pernikahan kawan suami di daerah Bogor. Di dalam perjalanan itu, salah seorang kawan menyampaikan kekecewaannya terhadap PKS. Saya hanya tersenyum mendengarnya, sambil menyimak perbincangan kaum adam di mobil itu. Kawan tadi bilang, ‘Waktu Pilkada Jabar (Jawa Barat) yang lalu, Gw pilih Ahmad Heryawan dari PKS. Tapi, setelah kasus LHI jadi males lagi pilih PKS di Pemilu 2014 nanti”. Kami terdiam beberapa saat, hingga akhirnya saya memberanikan diri untuk menanyakan apakah kawan tadi mengikuti perkembangan berita LHI sampai sekarang? Beliau menjawab bahwa ketika berita kasus suap daging sapi impor dituduhkan kepada LHI sudah tak sreg lagi mengikuti perkembangan beritanya. Nah, disinilah letak koreksi bagi kelompok yang menjadi apatis. Mereka menjadi kelompok yang menutup mata setelah mengetahui berita itu tanpa mengikuti perkembangannya. Akan tetapi, saya percaya, pada diri mereka masih selalu ada harapan kepada PKS untuk menjadi partai yang berbeda dari kebanyakan partai politik di Indonesia. In syaa allah, harapan itu masih (akan selalu) ada.

Akan tetapi, jika ada yang membenci, menjauh dari PKS, ada pula yang semakin mendekat dan merapat, merekalah yang mampu membaca berita dengan hati yang penuh cinta. Tak dipungkiri, di kalangan kader PKS sekalipun, ada perasaan gamang antara tetap percaya pada para qiyadah ataukah media yang sangat gencar memberitakan perkembangan berita tentang LHI. Saya pribadi sempat khawatir jika memang LHI melakukan tindak korupsi, akan tetapi sampai saat ini, berbagai tuduhan KPK selalu jadi lelucon yang menggelikan sekaligus menjadi ironi. Bagaimana tidak? Andi Malarangeng yang menjadi tersangka (ditetapkan KPK tanggal 3 Desember 2012) dalam korupsi pembangunan proyek Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Bukit Hambalang, saat ini masih tak jelas kabar beritanya. Sedangkan LHI? Belum ada vonis tersangka, baru sebatas tuduhan sudah ditahan! Dimana keadilan yang selalu digaung-gaungkan KPK di pengadilan Tipikor (Tindak Pinada Korupsi)??? Atau mantan ketua DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum yang masih bisa berselancar di Twitter, sedangkan ia telah ditetapkan sebagai tersangka pencucian uang dalam kasus dugaan korupsi Hambalang. Lucunya negeri ini. Miris! Dan KPK, dengan jargonnya, Berani Jujur itu Hebat!, semakin menunjukkan ketidakjujurannya dalam penanganan kasus LHI. Seperti belum lama ini, tim penyidik KPK dengan sikap premanismenya menyegel mobil kader yang ada di halaman parkir kantor DPP PKS tanpa surat penyitaan! Malam ini, Johan Budi selaku juru bicara KPK pun tertangkap kamera melakukan kebohongan publik dengan mengatakan bahwa tim penyidik membawa surat penyitaan, padahal tidak sama sekali. Dalam kesempatan itu, Johan Budi berhadapan dengan Fahri Hamzah, dan ia gagap ketika Fahri Hamzah  dengan tegas mengatakan bahwa KPK melakukan premanisme karena telah menyita harta orang tanpa membawa kelengkapan surat. “Anda telah melakukan PEMBOHONGAN PUBLIK pak Johan, kami memiliki fakta valid berupa video penyitaan tersebut, silahkan jika KPK memiliki video juga, mari sama-sama kita buktikan di pengadilan” , tantang Fahri kepada Johan (sumber:Islamedia)

Disinilah kita dituntut untuk bijak membaca dan menilai, baru kemudian boleh berkomentar. Belajarlah untuk mengambil berita dari berbagai sumber yang bisa dipercaya. Jangan menjadi orang yang menelan mentah-mentah tiap informasi tanpa mengkaji pada mereka yang lebih mumpuni. Kita dididik menjadi orang yang paham sebelum segala sesuatunya ditunaikan. Saat ini, saat media begitu gencar menebar pencitraan negatif terkait PKS, jadilah kita golongan yang bijak dan cerdas mencerna informasi. Jika sebelumnya ada di antara kita yang apatis soal kasus yang menimpa LHI, mari sini buka mata hati. Beliau bukanlah sembarang pemimpin tanpa dedikasi pada jama’ah ini, terlepas dari kebenaran yang sebenar-benarnya, tetaplah di barisan ini. Saling menguatkan pijakan agar tak tercerai-berai sebab pemberitaan yang sebelah mata kita pandang.

 

Ikhwahfillah rahimallah, jika saat ini kita menutup mata dari berita di media, semoga hati kita tak tertutup untuk senantiasa melantunkan doa. Saat ini, saat begitu kencang badai menghempaskan terpaannya, perkokoh pijakan, tingkatkan amalan harian, perkuat doa-doa perekat iman. Allahumma innaka ta’lamu an hadziihil quluub..qadijtama’at ‘alaa mahabbatik, waltaqat ‘alaa thaa’atik, wata’ahadat ‘alaa nusyraati syarii’atik, fawatsiqillahumma raabithaataha…fawatsiqillahumma raabithaataha…fawatsiqillahumma raabithaataha…wa adimwuddahaa…wahdihaa subulaha…wamla’ha binuurikalladzii laayakhbuu wasyrah suduuraha…bifaydhil iimanibik, wajamilittawakkuli ‘alayk, wa ahyihaa bima’rifatik, wa amit haa ‘alaa syahadati fii sabiilik…innaka ni’mal mawla wani’mannashiir. allahumma aamiin… washallillahumma ‘alaa Muhammad wa’alaa aalihi washahbihi wasallam.

 

Hajiah M. Muhammad

Depok, Rabu, 8 Mei 2013/28 Jumadil Akhir 1434 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s